
Tanpa menunggu persetujuan Cindy, Ravino masuk ke kamarnya. Ravino melempar tubuhnya ke ranjangnya. Matanya memandang langit-langit kamarnya sambil memijit pangkal hidungnya. Ravino tidak habis pikir. Entah kenapa syarat itu meluncur begitu saja dari mulutnya.
Mungkin karena dirinya terpengaruh saat melihat anak kecil berteriak memanggil dirinya dengan sebutan ayah.
Setelah bertemu dengan Rena dan gagal menyalurkan hasratnya, Ravino kembali ke apartemen. Saat turun dari mobilnya ada seorang anak kecil yang berlari ke arahnya. Anak kecil itu memanggilnya dengan panggilan ayah. Ravino sempat terkejut, tetapi ternyata anak kecil itu mengira dirinya ayahnya.
"Maaf, Om. Aku kira Om ayahku," ucap anak kecil itu.
Anak kecil itu berlari meninggalkan Ravino dan berlari menghampiri ayahnya yang sesungguhnya. Ravino melihat sosok laki-laki yang menggendong anaknya penuh kehangatan. Melihat itu Ravino membayangkan dirinya yang sedang menggendong anak kecil.
Ravino mengela napas panjang. Sebelumnya Ravino sangat berharap bisa memiliki seorang anak dari Gadis. Namun, Ravino teringat akan Gadis yang sedang bercinta dengan Niko membuat harapannya hancur berkeping- keping.
"****." Ravino mengumpat setiap kali mengingat akan pengkhianatan yang Gadis dan Niko lakukan.
Suara ketokan pintu di depan kamarnya membuat Ravino tersadar dari lamunannya.
"Mas Ravino." Terdengar suara Cindy memanggilnya.
Ravino bergegas membuka pintu. Saat pintu terbuka Ravino melihat Cindy berdiri di depan kamarnya.
"Maaf, Mas. Aku ganggu tidak?" Cindy berucap dengan sedikit takut
"Ada apa?" tanya Ravino.
"Ada yang ingin aku bicarakan," jawab Cindy.
"Baiklah, ayo masuk." Ravino menyuruh Cindy masuk ke kamarnya.
"Duduklah." Arya mempersilahkan Cindy duduk di salah satu sofa yang ada di kamarnya.
Hening mengambil alih suasana di antara Ravino dan Cindy. Keadaannya begitu sunyi. Tidak ada satu pun yang berniat membuka suara. Mereka hanyut dalam pikiran masing-masing.
Beberapa saat kemudian Cindy mengeluarkan suaranya, bersamaan juga dengan Ravino.
"Cindy."
"Mas Ravi."
Keduanya saling memandang sebelum akhirnya saling membuang muka. Cindy merasa dalam kecemasan luar biasa, tetapi akhirnya ia memberanikan diri untuk berbicara.
"Aku terima syarat dari Mas Ravi. Tapi tolong izinkan aku bertemu dengan ibuku di kampung," pinta Cindy.
"Hanya itu?" tanya Ravino.
"Iya, Mas." Cindy menganggukkan kepalanya.
"Baiklah," ucap Ravino.
Ravino mendengarnya sedikit tidak percaya, sebenarnya terselip rasa bersalah memanfaatkan sakit ibunya Cindy demi kepentingan pribadinya.
*****
Satu minggu kemudian Cindy bersiap untuk pulang ke kampung halamannya. Ravino sendiri yang mengantar Cindy ke Stasiun. Sesampainya di Stasiun, Ravino memarkir mobilnya di tempat yang sudah disediakan.
__ADS_1
"Terima kasih, Mas sudah mau mengantarku," ucap Cindy.
"Sama-sama," balas Ravino.
Cindy akan membuka pintu mobilnya, tetapi Ravino menarik tangan Cindy membuat Cindy membalikan badannya menghadap Ravino, mempertemukan pandangannya dengan Ravino.
"Cindy, tunggu!" Ravino mencegah Cindy keluar dari mobil.
"Ad-a apa, Mas." Cindy bicara gagap karena merasa gugup.
"Cindy, hati-hati di jalan," ucap Ravino dengan menunjukkan senyum manisnya.
"I-ya, M-as." Cindy bertambah gugup saat melihat senyuman Ravino.
Ravino mendaratkan kecupan di kening Cindy, membuat jantungnya berdegup begitu kencang. Bahkan Cindy tidak bisa mengontrol debaran jantungnya sendiri.
Meskipun sempat terkejut. Namun, Cindy mulai merasa nyaman dengan perlakuan Ravino.
*****
Setelah melakukan perjalanan selama satu hari penuh, Cindy tiba di kampung halamannya. Cindy tidak langsung pulang ke rumahnya melainkan Cindy langsung pergi ke rumah sakit, tempat ibunya di rawat.
Sepanjang perjalanan pikiran Cindy melayang ke sana ke mari. Ia takut terjadi sesuatu dengan ibunya. Cindy sangat berharap ibunya dalam keadaan baik-baik saja.
Ibunya sudah lama sakit gagal ginjal. Setiap bulan juga harus cuci darah. Entah kenapa, kondisinya malah semakin menurun. Tetesan demi tetesan air mata mengiringi perjalanan Cindy. Air mata Cindy berhenti saat ia tiba di rumah sakit.
"Sudah sampai, Mba," ucap sopir angkot yang ditumpangi oleh Cindy.
Setelah itu Cindy keluar dari angkot. Ia masuk ke rumah sakit dan langsung menuju ruang rawat ibunya. Cindy berjalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit dan tiba di kamar rawat ibunya. Di sana sudah ada adik dan juga ayahnya.
''Bapak, kenapa kondisi ibu bisa seperti ini?" tanya Cindy setelah sampai di kamar rawat ibunya.
''Bapak juga tidak tahu, Cindy," jawab pak Rohim, ayah Cindy.
"Keluarga ibu Murni."
Cindy menoleh saat mendengar seorang Dokter memanggil nama ibunya. Setelah itu Cindy, ayah dan juga adiknya menghampiri Dokter yang baru saja memeriksa Murni.
"Ya, Dokter saya anaknya," ucap Cindy.
"Bagaimana kondisi ibu saya?" tanya Cindy.
"Saya sarankan untuk memindahkan ibu Anda ke Rumah Sakit yang lebih besar agar ibu Murni bisa mendapatkan perawatan yang lebih baik," ucap Dokter.
Tanpa berpikir panjang lagi, Cindy langsung mengiyakan saran Dokter. Cindy meminta pada ayahnya untuk mengurus pemindahan ibunya.
Cindy berada di bagian informasi saat sedang membayar administrasi, ponselnya berdering. Ada nama Ravino muncul di layar ponselnya.
Cindy langsung menjawab panggilan dari majikannya.
"Halo, Mas Ravi," ucap Cindy.
"Kamu sudah sampai?" tanya Ravino dari seberang panggilan.
__ADS_1
"Ya Mas Ravi, aku sudah sampai" jawab Cindy.
"Bagaimana keadaan ibumu?" tanya Ravino dari sebrang telepon.
"Ibu masih belum stabil, Mas. Kata Dokter ibu harus dirawat di Rumah Sakit yang lebih besar. Aku juga sedang mengurus pemindahannya," jawab Cindy. Mengingat keadaan ibunya Cindy tidak kuasa menahan tangisnya.
"Baiklah, kamu baik-baik saja di sana. Jangan memikirkan biaya pengobatan ibu kamu, aku yang akan menanggung semuanya," ucap Ravino.
"Baik, Mas. Terima kasih untuk semuanya," ucap Cindy.
Setelah itu sambungan telepon berakhir.
Cindy kembali teringat akan syarat yang diajukan oleh majikannya. Sebenarnya Cindy merasa berat dengan syarat itu. Akan tetapi di pikirannya sekarang hanyalah ibunya. Segala cara akan Cindy lakukan untuk ibunya, meskipun harus menjual dirinya .
Setelah prosedur pemindahan ibunya ke rumah sakit lain selesai, Cindy langsung berangkat, membawa ibunya dengan menggunakan ambulans.
"Cindy Bapak bingung nyari biayanya untuk ibu kamu. Sawah sudah Bapak gadaikan untuk biaya ibu kamu sebelumnya," ucap Rohim.
"Bapak tidak usah mikirin itu. Cindy sudah pinjam sama majikan Cindy," ucap Cindy.
"Tapi pasti biayanya banyak Cind. Bagaimana caranya balikin ke bos kamu itu?" tanya Rohim.
"Bapak tenang saja. Mas Ravino itu orangnya baik. Dia pasti akan mengerti," ucap Cindy. "Sudahlah, Bapak tidak perlu mencemaskan lagi masalah biaya rumah sakit ibu. Cindy yang akan mengurusnya."
Ada sedikit rasa lega di hati pak Rohim. Namun, Rohim juga merasa kasian kepada putrinya yang harus bekerja keras untuk keluarganya.
*****
Sementara itu Ravino sedang ada di apartemen bersama sahabat baiknya. Doni sengaja datang untuk menanyakan kabar Cindy.
"Bagaimana kabar Cindy dan ibunya?" tanya Doni.
''Cindy bilang kalau ibunya akan di pindahkan ke Rumah Sakit yang lebih besar di desanya," jawab Ravino.
Doni mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kamu punya nomor rekening Cindy, 'kan?" tanya Doni yang langsung dianggukki oleh Ravino.
"Kirimin ke aku. Aku mau bantu sedikit buat dia," ucap Doni.
Ravino mengambil ponselnya, ia mencari nomor rekenin Cindy dan memberikan nomor rekening Cindy kepada Doni.
"Thank," ucap Doni.
Doni langsung mentransfer sejumlah uang ke nomor rekening Cindy. Doni sangat berharap Cindy yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri baik-baik saja.
"Ya sudah aku pulang dulu," pamit Doni.
"Hati-hati di jalan," ucap Ravino.
"Sampai jumpa besok di kantor," ucap Doni.
Ravino merespon ucapan Doni dengan anggukan kepalanya. Setelah Doni pergi dari apartemennya, Ravino kembali memikirkan Cindy, memikirkan persyaratan yang dia ajukan kepada Cindy. Rencananya dirinya akan menikahi Cindy setelah Cindy kembali ke Jakarta.
__ADS_1