
Di dalam sebuah kamar yang minim cahaya Cindy dan Ravino sedang memadu kasih melampiaskan kerinduan mereka dengan menyatukan tubuh yang akan membuat mereka seakan terbang sampai langit ke tujuh. Setelah empat puluh hari Cindy kembali ke ibukota. Sebenarnya ia masih ingin berada di kampung halamannya tetapi ia tidak mungkin mengabaikan tugasnya sebagai seorang istri, ia tidak mungkin meninggalkan suaminya terlalu lama.
Tubuh penuh keringat meski di dalam suhu dingin, menandakan betapa panasnya tubuh mereka yang terjebak hasrat satu sama lain. ******* panjang penuh kenikmatan menandakan keduanya telah mencapai kenikmatan yang mereka inginkan. Napas keduanya masih tersengal-sengal membuat mereka berlomba meraup udara sebanyak mungkin memasukannya ke dalam paru-paru mereka. Setelah napas keduanya mulai normal, Ravino berguling ke samping Cindy.
Ravino menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya dan Cindy. Setelah itu ia membawa Cindy masuk ke dalam dekapannya.
"Apa kamu lelah?" tanya Ravino seraya mengusap punggung polos Cindy.
Cindy menganggukkan kepalanya, masih dengan posisi nyaman menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.
"Aku sangat merindukan dirimu, Cind?" aku Ravino.
"Mas merindukan aku atau tubuhku saja?" tanya Cindy.
"Aku merindukan semua yang ada pada dirimu," jawab Ravino.
"Benarkah?" Wajah Cindy mendongak mempertemukan pandangannya dengan Ravino.
"Iya." Ravino menganggukkan kepalanya.
Ravino memang berkata jujur, ia mulai terbiasa hidup dengan Cindy. Ketika Cindy jauh darinya, maka rasanya ada yang kurang. Sama halnya dengan Cindy yang mulai terbiasa hidup dengan Ravino membuatnya tidak bisa jauh darinya apalagi dirinya sedang mengandung anaknya rasanya ia ingin selalu dekat dengan suaminya.
"Tidurlah!" Ravino memberikan kecupan di kening Cindy.
Lelah dengan kegiatan malam meraka, Cindy dan Ravino langsung tertidur dengan sangat pulas.
Pada esok harinya Cindy terbangun dari tidurnya, ia melepas dekapan suaminya dan beranjak ke kamar mandi. Beberapa saat kemudian Cindy keluar dari kamar mandi, dilihatnya suaminya masih tidur pulas di atas ranjang.
Bibir Cindy melengkung ke atas membentuk sebuah senyuman. Wajah suaminya saat tertidur amatlah polos seperti bayi yang sedang tertidur. Ia mengusap perutnya sendiri berharap wajah anaknya nanti mirip dengan ayahnya.
Cindy berjalan menuju lemari pakaian dan menyiapkan pakaian kerja suaminya sebelum keluar dari kamarnya. Cindy keluar dari kamar, ia berjalan menuruni anak tangga menuju dapur. Rasa mual sudah jarang datang. Awalnya ia sangat takut ketika di kampung rasa mual itu akan datang dan itu bisa menimbulkan kecurigaan semua orang, tetapi ia beruntung karena di kampung rasa mual itu tidak sering datang.
Cindy membuka lemari pendingin, hanya ada roti tawar dan telur saja. Ia memilih untuk membuat sandwich telur saja, kebetulan ia juga ingin makan makanan itu. Cindy mengeluarkan bahan-bahan yang ia butuhkan dari lemari pendingin. Saat sedang Cindy mulai membuat sarapan, ia merasakan tangan kekar melingkar di perutnya.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan? Lepaskan! Aku sedang memasak untukmu." Cindy merasa geli saat Ravino menciumi tengkuknya.
"Semalam kamu begitu agresif. Lalu kenapa sekarang kamu justru malu-malu," goda Ravino masih terus menciumi tengkuk Cindy.
Sontak Cindy membelalakkan matanya, wajahnya berubah merah seperti kepiting rebus mengingat apa yang terjadi semalam.
Ravino tertawa ketika melihat wajah Cindy yang merah menahan malu.
"Kenapa kamu masih malu-malu? Ini bukan pertama kali kita melakukannya," ucap Ravino masih dengan tawanya.
Cindy mengingat semalam, entah kenapa dia biasa begitu agresif di depan suaminya, bahkan dengan tidak malu-malu Cindy mengambil alih kendali permainan panas semalam. Entah kenapa semenjak dia hamil, dia menjadi begitu agresif saat berhubungan dengan suaminya.
Cindy merasa kesal suaminya terus menggodanya. Cindy tersenyum, terlintas ide jail di kepalanya. Cindy menghentikan kegiatan masaknya, dilepasnya ikatan rambut serta membuka dua kancing atas kemejanya dan langsung memperlihatkan dua gundukan besar di dadanya. Dengan cepat Cindy berbalik dan meraih tengkuk Ravino, Cindy mendaratkan bertubi- tubi ciuman di bibir suaminya.
Ravino yang mendapat serangan dadakan dari Cindy sedikit kewalahan. Namun akhirnya bisa mengimbangi permainan Cindy.
"Kamu yang memulainya," bisik Ravino di sela ciuman mereka.
Cindy tersenyum, dia tahu hasrat suaminya mulai bergejolak. Namun dengan cepat Cindy mengambil langkah seribu, ia berlari secepat yang ia bisa dan masuk ke kamar mandi di dekat dapur, tidak lupa juga Cindy menguncinya.
"Cindy, buka! Kamu bisa membuatku kehilangan akal," rengek Ravino.
Ravino pasrah saat Cindy mengunci diri di dalam kamar mandi. Ravino hanya tersenyum menggelengkan kepalanya lalu kembali ke kamarnya untuk bersiap ke kantor.
*****
Di kantor Ravino duduk bersandar di kursi kebesarannya tersenyum mengingat kejahilan istrinya. Entah kenapa banyak perubahan pada diri istrinya setelah dia hamil.
"Jadi kamu masih bisa tersenyum, setelah semua ini terjadi?" tanya Doni yang tiba-tiba masuk ke ruangan kerja Ravino.
Ravino bingung mendengar perkataan sahabatnya yang beberapa hari sebelumnya pulang dari honeymoon.
"Maksud kamu?" Ravino mengerutkan keningnya, ia tidak mengerti apa maksud dari perkataan Doni.
__ADS_1
Doni meletakan surat kabar ke ata meja kerja Ravino dengan sedikit kasar.
"Baca surat kabar itu dan akan tahu jawabannya," ucap Doni.
Ravino membolak-balik lembaran surat kabar itu. Matanya membulat tajam saat melihat berita tentang pernikahan dirinya dengan mantan istri sirinnya, Gadis. Terlihat foto pernikahan sirinya dengan Gadis terpajang di sana.
"Siapa yang melakukan ini?" tanya Ravino sambil meremas surat kabar itu dan membuangnya begitu saja.
"Aku tidak tahu. Tapi yang tahu tentang pernikahan kamu dan Gadis hanya aku dan Alena, sahabat Gadis," ucap Doni.
"Dan dari yang aku dengar Gadis sudah kembali ke sini," lanjut Doni.
"Aku tidak peduli apakah dia kembali atau tidak," ucap Ravino.
"Tapi aku khawatir, kembalinya Gadis akan kembali mengacaukan hidupmu," ucap Doni.
Ravino merasa kesal, ia memilih untuk menonton acara di layar televisi. Ravino meminta Doni untuk menyalakan televisi, betapa terkejutnya Ravino melihat Gadis sedang melakukan wawancara. Gadis membenarkan hubungan dirinya dengan Ravino tanpa meminta konfirmasi dulu kepadanya.
Ravino terlihat sangat murka, ia mengambil remote yang ada di mejanya, ia matikan televisi lalu melempar remote TV ke sudut ruangan menjadi hancur dan tidak berbentuk.
"Apa yang aku cemaskan ini benar terjadi, 'kan? Bagaimana tanggapan orang-orang nanti terhadapmu," ucap Doni.
Ravino tidak mencemaskan orang-orang akan menilai dirinya seperti apa. Yang ia cemaskan hanyalah Cindy.
Bagaimana kalau Cindy tahu tentang ini?
Ravino meremas rambutnya, pikirannya menjadi kacau saat itu. Kecemasan tergambar di wajahnya.
"Don, bagaimana kalau Cindy tahu tentang ini?" tanya Ravino Cemas.
"Kenapa memang kalau Cindy tahu? Itu tidak ada artinya untukmu, 'kan?" ucap Doni.
Jelas ada artinya, hanya saja Ravino bingung untuk menjabarkannya. Yang jelas pertanyaan Doni bagai pisau yang menusuk jantungnya, dia takut kalau Cindy pergi meninggalkan dirinya.
__ADS_1
"Aku takut dia pergi dan meninggalkanku," lirih Ravino, Namun Doni masih bisa mendengarnya.
Mendengar ucapan Ravino, Doni menarik bibir ke atas menjadi sebuah senyuman. Ia tahu jika sahabatnya sudah mulai jatuh cinta kepada Cindy.