
Ravino berdiri di samping mobilnya menunggu kedatangan Cindy. Dari kejauhan Ravino melihat Cindy sedang berjalan menghampirinya. Ravino menarik Cindy ke pelukannya saat Cindy berada di hadapannya.
“Kenapa kamu tidak memberitahukan kepadaku jika Mama memintamu pergi dari apartemen?”
“Maaf,” ucap Cindy. “Aku hanya tidak mau mengganggu pekerjaanmu,” jawab Cindy.
Cindy menarik dirinya lebih dulu meskipun tidak ingin. “Mas baik-baik saja? Mba Gadis ....”
“Aku tidak ingin membahasnya. Ayo ikut aku!” ajak Ravino.
“Kita mau ke mana?” tanya Cindy.
“Ke mana saja,” jawab Ravino menarik Cindy masuk ke mobilnya.
Setelah Cindy berada di mobil Ravino berjalan memutar ke sisi lain. Ia lalu masuk ke mobil dan duduk di bangku kemudi. Ravino melajukan mobilnya tidak tahu ke mana tujuannya. Ravino hanya ingin menghabiskan waktu bersama Cindy.
Cindy sendiri pasrah Ravino membawanya entah ke mana. Karena sesungguhnya Cindy juga ingin bersama Ravino lebih lama.
“Kamu mengantuk?” tanya Ravino saat melihat Cindy terus menguap.
“Iya, Mas.” Cindy menganggukkan kepalanya.
“Kamu tidurlah lebih dulu. Jika sudah sampai aku akan membangunkanmu!” ucap Ravino yang langsung dianggukki oleh Cindy.
*****
Cindy terbangun saat ia merasakan usapan lembut di pipinya. Mata yang tadinya terpejam mulai membuka. Wajah Ravino adalah yang pertama kali Cindy lihat.
“Mas ...,” ucap Cindy.
“Kita sudah sampai,” ucap Ravino seraya mengusap sisi wajah Cindy.
“Kita di mana, Mas?” Cindy melihat sekelilingnya dan melihat yang merupakan vila milik Ravino. “Kenapa kita ke sini?”
“Setidaknya tempat ini yang bisa membuat pikiranku lebih tenang,” jelas Ravino. “Kita turun dan kamu bisa melanjutkan tidurmu.”
“Iya, Mas,” sahut Cindy.
Keduanya turun dari mobil melalui pintu yang berbeda. Ravino berjalan menuju tempat Cindy. Mereka masuk ke vila dengan tangan yang mereka satukan.
Malam itu Ravino membawa Cindy ke vila pribadinya. Rencananya mereka akan menginap di tempat itu beberapa hari. Cindy keluar dari kamar mandi melihat Ravino berdiri di balkon kamar. Dan ... sejak kapan dia merokok?
''Mas ...,” panggil Cindy. “Apa Mas baik baik saja? Sepertinya ada yang sedang Mas pikirkan?”
“Apa aku terlihat baik baik saja?” tanya balik Ravino disambut gelengan kepala oleh Cindy.
“Apa Mas sedang memikirkan mba Gadis?” tanya Cindy.
“Ya,” jawab Ravino. “Kenapa dia kembali!”
“Apa Mas masih mencintai mba Gadis?” tanya Cindy.
__ADS_1
Ravino mematikan rokok nya lalu membuangnya. “Jangan bercanda, Cind? Melihatnya saja aku sudah merasa jijik!”
“Lalu kenapa Mas begitu khawatir dengan kedatangan mba Gadis?” tanya Cindy.
“Apa kamu tidak khawatir dia datang lagi dalam hidupku?” tanya balik Ravino.
Jujur aku sangat takut. Wanita yang pernah Mas cintai hadir lagi di antara kita. Tapi ... apa artinya aku baginya? Aku sadar jika aku hanyalah istri kontak. Sebentar lagi, setelah bayi ini lahir, aku harus rela melepas gelar sebagai istri Ravino Arga Wijaya.
“Cind, aku bertanya padamu,” ucap Ravino.
“Anggap saja ini sebagai latihan untukku agar terbiasa hidup tanpa mu,” jawab Cindy.
Ravino sepertinya tidak merasa senang. Pria itu melangkah menghampiri Cindy, membalik tubuhnya, lalu mendorongnya ke tembok. Ravino mengunci pergerakan tubuh Cindy dengan menaruh kedua tangannya di samping Cindy. “Apa maksud dari perkataanmu?”
Cindy sudah tidak bisa menahan rasa sakitnya. Buliran air mata menetes dari mata Cindy. Cindy menangkup kedua pipi Ravino menatapnya lurus ke bola matanya. “Karena aku mulai mencintaimu, Mas.”
Ravino tenggelam dalam diam setelah mendengar pengakuan Cindy.
“Mas tanya apa aku khawatir dia datang lagi? Tentu saja aku khawatir. Tapi ... aku juga harus sadar kalau hubungan kita hanya sebatas perjanjian,” jelas Cindy.
Cindy sudah tidak bisa menahan air mataku lagi, air mata yang aku tahan sekarang mengalir deras membanjiri pipiku.
Cindy terisak dan entah dorongan darimana, Cindy menarik tengkuk Ravino dan mencium bibirnya. Awalnya Ravino merasa terkejut, tetapi akhirnya Ravino membalas ciuman Cindy. Kegelisahan Cindy bisa Ravino rasakan saat bibir mereka menyatu.
Beberapa saat Ravino menarik diri lebih dulu menghapus air mata di wajah Cindy berakhir dengan kecupan di kening Cindy.
“Tenanglah, Cindy! Aku pasti —”
“Kenapa tidak diangkat?” Cindy menghampiri Ravino yang tengah duduk di tepi tempat tidur.
“Dari rumah. Mama pasti menyuruhku untuk pulang,” jawab Ravino.
Cindy kembali melihat ponsel Ravino berdering. Berkali-kali Ravino juga mengabaikan panggilan itu.
“Angkat saja, Mas. Mungkin itu penting,” suruh Cindy.
“Aku malas, Cind,” tolak Ravino.
“Tapi bagaimana jika itu penting?” ucap Cindy. “Angkatlah!”
“Ck, baiklah.” Ravino mengambil ponselnya, ia menekan tombol hijau untuk menerima panggilan itu.
Raut wajah Ravino berubah menjadi tegang dan cemas. Hal itu terlihat oleh Cindy.
“Ada apa, Mas?” tanya Cindy Ravino mengakhiri sambungan teleponnya.
“Cindy, mama sakit. Aku harus pulang,” ucap Ravino.
“Kalau begitu pulanglah cepat,” suruh Cindy.
“Kamu tetaplah di sini! Besok aku akan datang dan menjemputmu,” ucap Ravino yang langsung dianggukki oleh Cindy.
__ADS_1
Ravino melihat Cindy sejenak sebelum membawa Cindy masuk ke pelukannya. “Semuanya akan baik-baik saja.”
“Iya, Mas.” Mendengar perkataan Ravino membuat Cindy lebih tenang. “Cepatlah pulang!”
“Oke ....” Ravino menarik diri lalu mengecup kening dan perut Cindy. “Papa pulang dulu. Jagain mama kamu ya.”
Ravino pergi meninggalkan Cindy di villa dan akan menjemputnya esok hari. Meskipun merasa kesal dengan sikap ibunya, tetapi tetap saja wanita itu adalah ibu kandungnya.
“Semoga Mama baik-baik saja.” Ravino memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Sesampainya di rumah Ravino bertanya pada asisten rumah tangganya. “Bibi, di mana Mama?”
“Ada di kamar, Den,” jawab Bibi.
Ravino melangkah ke kamar. Ravino membuka pintu kamar ibunya. Matanya membulat Ravino melihat ibunya sedang duduk bersama Gadis dan sedang melihat majalah fashion. Bukan hanya itu saja, keduanya nampak tertawa di sela obrolan mereka.
“Mam,” panggil Ravino.
“Kamu sudah pulang, Nak,” ucap Desi.
“Kata mba Yati Mama sakit, kenapa justru Mama melihat-lihat majalah?” tanya Ravino.
“Iya tadi Mama pusing waktu pulang dari restoran. Untung ada Gadis. Dia bawa Mama ke dokter,” jawab Gadis.
“Kalau begitu aku pulang saja. Lagipula Mama juga sudah baik-baik saja,” ucap Ravino.
“Ravi tunggu, Nak,” cegah Desi. “Mama mohon sama kamu. Menikahlah dengan Gadis! Dia sudah mengakui kesalahannya.”
“Mam, kenapa Mama terus memaksa aku untuk menikah dengan wanita seperti dia?” tanya Gadis. “Dia sudah mengkhianatiku.”
“Mama punya hutang budi dengan keluarganya Gadis. Anggap saja ini untuk membalas budi pada keluarga mereka,” ucap Desi.
“Apa?” Ravino menggeram. Ia ingin marah, tetapi tidak bisa. “Untuk membalas budi, Mama sampai tega mengorbankan kebahagiaaanku?”
Gadis menghampiri Ravino dan merangkul lengan mantan suaminya. “Sayang —”
“Diam! Jangan berani menyentuhku dengan tangan kotormu itu!” larang Ravino. “Mam ... please.”
“Mama tetap pada pendirian Mama. Lagipula Gadis wanita yang baik, Nak,” ucap Desi.
“Oh, ****!” umpat Ravino saat ibunya tidak mau mendengar ucapannya.
Desi menceritakan keluarga Gadis yang menolong perekonomian keluarganya dulu. Dulu suaminya merupakan karyawan biasa. Namun, dengan kegigihan dan dukungan dari keluarganya Gadis, suaminya bisa mencapai kesuksesan dan membangun perusahaanya sendiri.
“Ma ....” Ravino menundukkan kepalanya.
“Ini juga permintaan ayahmu sebelum beliau meninggal,” jelas Desi. “Kamu tidak akan membuat ayahmu kecewa, 'kan?”
Ravino menggelengkan kepalanya dengan wajah yang tertunduk. Ravino sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ravino hanya pasrah dengan semuannya.
“Aku pulang dulu. Berikan aku waktu untuk memikirkan semua ini.” Setelah itu Ravino pergi dari rumah itu.
__ADS_1