
Cindy sedang sibuk di ruang kerjanya mengurus bisnis Restonya. Awalnya saat Desy memberinya wewenang penuh kepada atas Restorannya, Cindy nerasa pesimis untuk bisa menjalankannya. Namun dengan bantuan Desy dan juga Reno, Cindy berhasil menambah lima cabang lagi bahkan sampai ke luar kota.
Semenjak Cindy di vonis susah untuk memiliki keturunan lagi, waktu Cindy dia habiskan untuk mengurus Bisnisnya dan juga anak kesayangannya Vincent. Sudah tujuh belas tahun usia pernikahannya dengan Ravino dan sekarang Vincent sudah berumur 16 tahun dan sudah naik ke kelas 2 SMA.
Vincent datang ke resto bersama Rangga setelah pulang sekolah. Vincent masuk ke dalam ruang kerja Cindy.
"Siang Mah."
"Siang sayang, " jawab Cindy sambil memijat keningnya yang terasa pusing.
"Mamah kenapa? Capek ya." Tanya Vincent sambil memeluk pundak mamahnya dan mencium pipinya.
Cindy tersenyum dan mengusap wajah anaknya. "Tumben mampir pasti ada maunya!"
"Ah mama negatif thinking mulu sama aku, " jawabnya manja.
Beberapa hari belakangan ini Ravino terus saja merasa mual di pagi hari, bahkan suka minya yang aneh-aneh seperti mendadak minta mangga muda, tengah malam minta makan yang asam asam, yang lebih parah lagi Ravino selalu tak bisa menahan hasratnya. Cindy pun merasa heran dengan tingkah aneh suaminya dan membuatnya kurang beristirahat.
Cindy melangkah menuju sofa panjang di ruangannya, untuk sedikit beristrirahat. Mungkin aku hanya kurang tidur saja, pikirnya. Vincent dan Rangga duduk di sofa seberang Cindy. Mereka sedang memakan makan siangnya dan kemudian memainkan game online di handphone masing masing.
Vincent dan Rannga menoleh ketika ada yang membuka pintu, dari balik pintu muncul Mira.
Mira mengerutkan keningnya saat melihat Cindy sedang berbaring di sofa, lalu Mira pun menghampirinya.
"Loh Vint mamah kamu kenapa?"
"Pusing katanya, tante Mir, " jawab Vincent tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya.
Mira mendekati Cindy dan menempelkan pungggung tangannya ke kening Cindy. "Gak panas kok."
Cindy sedikit bergerak merasakan gejolak di dalam perutnya, segera Cindy melangkah cepat ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi Cindy sedang bergulat dengan rasa mualnya, cairan bening yang terasa sangat pahit seperti tersangkut di tenggorokannya.
Mira merasa sangat cemas melihat sahabatnya sedang merasakan mual hebat sampai mengeluarkan cairan bening dari sudut matanya.
"Vint tolong ambilin tante minyak angin di laci meja, " teriak Mira yang masih memijat pelan tengkuk Cindy.
__ADS_1
Vincent berlari menuju kamar mandi dan memberikan minyak angin kepada Mira.
"Mamah kenapa tan?"
"Tante gak tahu? Lebih baik kita bawa mamah kamu ke rumah sakit aja yah."
Vincent mengangguk dan membantu memapah Cindy berjalan menuju mobil mereka. Vincent melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat, dari kaca spion Vincent bisa melihat mamahnya sangatlah lemas.
Sesampainya di rumah sakit Cindy di bawa ke ruangan Dokter yang segera memeriksa keadaan Cindy. Hampir satu jam Cindy menunggu hasil pemeriksaannya rasa pusing di kepalanya pun sudah sedikit mereda. Seorang perawat membuka pintu ruangan Doktet tersebut dan memberikan hasil cek lab ke pada sang Dokter.
Dokter membuka dan membaca hasil lab yang di terimanya dari salah satu perawat, senyum mengembang di bibir sang Dokter.
"Selamat Ibu Cindy dari hasil lab anda dinyatakan positif hamil dan baru menginjak 3 minggu."
"APAAAAH"
Cindy dan Mira berteriak bersama dan membuat Dokter itu terkekeh. Cindy menerima hasil lab yang di berikan dokter dan membaca sendiri hasilnya. Ternyata benar ia hamil, sungguh ini adalah sebuah keajaiban. Sesuatu hal yang sangat dia inginkan selama belasan tahun akhirnya terwujud. Ternyata diusia 36 tahun Cindy masih di beri kepercayaan untuk memiliki momongan kembali. Rasa syukur terus saja meluncur dari bibir Cindy dan ingin segera pulang untuk memberitahukan kabar baik ini kepada ibu mertuanya dan juga sang suami.
Cindy dan Mira keluar dari ruangan Dokter dengan perasaan sangay bahagia. Senyum tak luntur dari bibir keduanya bahkan saat sampai ke parkiran menemui Vincent dan Rangga yang masih juga sibuk dengan ponselnya.
Bukannya menjawab malah Vincent hanya menyunggingkan senyumnya. "Vincent bosen mah, mamah sama tante lama." Lalu Vincent memasukan ponselnya kedalam saku jacket nya. "Mamah udah gak apa-apa kan?" lanjutnya.
Cindy mengusap pipi anak kesayangannya, "Gak sayang. Mamah udah gak apa-apa. Ayo cepat pulang mama udah gak sabar untuk kasih kabar gembira ke papa sama oma."
Cindy dan Mira masuk lebih dulu kedalam mobil, Rangga dan Vincent menyusul masuk kedalam mobil dan kini Rangga lah yang membawa mobil itu. Didalam mobil Cindy menceritakan kepada Mira saat Ravino sedikit manja padanya, suka minta yang aneh aneh dan ternyata Ravino lah yang merasakan nyidam, bagaimana bisa Cindy tak menyadari itu.
Tak henti-henti kedua ibu muda itu tertawa dan membuat dua anak muda di depannya merasa heran. Rangga dan Vincent keduanya saling pandang, Rangga memajukan dagunya memberi isyarat kepada sahabat di sampinganya seolah bertanya ada apa dengan kedua wanita di belakang mereka dan Vincent hanya mencibir dan manaikan kedua bahunya.
Sesampainya di kediamannya Cindy membuka pintu mobilnya dan pelahan keluar dari dalam mobilnya. Cindy berjalan sambil merangkul anaknya lalu berjalan beriringan masuk kedalam rumah. Mereka berdua sampai sedikit terlambat karena harus mengantar Mira dan juga Rangga.
"Mah Vincent mandi dulu ya."
"Iya nanti langsung turun ya, mamah siapin makam malam kesukaan kamu.''
Vincent mencium pipi kiri Cindy dan menghampiri Desy, omanya. "Hallo sexy, '' sapanya kepada omanya. Desy langsung memukul pelan pundak cucu kesayangannya lalu mencium kening Vincent.
__ADS_1
Vincent berlari kecil di tangga untuk menuju kamarnya. Cindy mendekati Desi dan duduk di sebelah ibu mertuanya itu lalu Desy tersenyum ke arah Cindy.
"Kata Reno kamu tadi di resto sakit!''
"Gak apa-apa mah. Tadi Cindy sudah periksa ke dokter kok."
"Trus kata Dokter apa!"
Cindy tersenyum lalu mengambil hasil lab dari dalam tasnya dan memberikannya kepada ibu mertuanya. Desy menaikan satu alisnya, lalu mulai membuka dan membaca isinya. Desy menutup mulutnya karena terkejut lalu menangis haru dan memeluk menantunya itu.
"Kamu hamil Cind?"
Cindy mengangguk, Ravino yang ikut terkejut lalu mengambil selemar kertas itu dari tangan ibunya lalu membacanya sendiri. Ravino pun tak bisa menyembunyikan air mata kebahagiannya, ini hal yang sangat ia tunggu tunggu selama belasan tahun.
Ravino dan Desy, keduanya memeluk erat Cindy dan tak henti hentinya mengucapkan rasa syukur.
-
-
-
-
Makan malam sudah tersedia di atas meja makan, Vincent heran melihat papa, ibu, dan omanya terlihat sangat bahagia.
"Mah ada kabar apa, kok mamah, papa, sama oma bahagia banget kayaknya." tanya Vincent yang masih menikmati makan malamnya.
Desy tersenyum lalu mengusap kepala Vincent, "Oma bahagia karena sebentar lagi kamu bakalan punya adik, "
UHUHUUUUK UUUUHUHHUUUUK
Vincent tersedak karena terkejut mendengar ucapan omanya. "Aaa--dik oma?''
Cindy, Ravino dan Desy mengangguk bersama-sama.
__ADS_1