Karya Gagal Kontrak

Karya Gagal Kontrak
Sepuluh


__ADS_3

Acara makan malam sederhana itu terasa menyenangkan. Cindy senang melihat mereka makan dengan lahap. Padahal yang ia masak hanya masakan biasa capcay, ayam semur dan udang balado.


“Aku tadi kelaparan karena terjebak berjam-jam di dalam kemacetan. Tapi sekarang aku sudah sangat kenyang,” ucap Ravino.


“Aku juga benar-benar kekenyangan,” imbuh Doni.


“Apa kalian ingin makan lagi?” tanya Cindy.


“Tidak, terima kasih. Aku sudah sangat kenyang,” tolak Ravino.


“Terima kasih untuk makan malamnya, ini sangat enak,” puji Doni.


“Sama-sama, Mas,” ucap Cindy.


Cindy merasa beruntung bertemu dengan orang yang baik seperti mereka di dalam hidupnya.


Setelah semua selesai dengan makan malamnya Cindy membereskan sisa makanan yang ada di meja dengan dibantu oleh Fajar. Sedangkan Doni dan Ravino melanjutkan obrolan mereka sambil nonton tv di ruang tengah apartemen itu.


“Eh, Mas Fajar gak usah. Biar saya saja,” cegah Cindy.


“Gak apa-apa. Anggap saja ini balasan karena kamu sudah menyiapkan makan malam tadi,” ucap Fajar.


“Tapi ....”


“Tapi kenapa?” tanya Fajar.


“Gak enak saja, Mas,” ucap Cindy.


“Kalau gak enak, kasih kucing saja,” gurau Fajar.


“Mas Fajar bisa saja,” ucap Cindy.


Akhirnya Cindy mengalah dan membiarkan Fajar membantunya.


Cindy dan Fajar langsung akrab. Mereka saling menceritakan kehidupan mereka. Fajar sudah berkeluarga dan ternyata Fajar adalah kakaknya Reno.


Wah! Kebetulan sekali.


Ravino dan Doni sedang asyik menonton sepak bola di TV saat Cindy datang membawa makanan penutup.


“Ini, Mas saya bawakan puding. Buat temen nonton TV,” ucap Cindy.


“Terima kasih, Cindy,” ucap Doni.


Setelah menaruh puding alpukat di meja di hadapan Ravino dan Doni, Cindy kembali ke dapur.


Jam sudah menunjukan pukul 10 malam, Doni pun pamit untuk pulang. Sebelum itu Doni memberikan sejumlah uang kepada Cindy sebagai tanda terima kasih.


“Ini buat kamu,” ucap Doni.


Cindy nampak bingung melihat sejumlah uang di tangan Doni. “Ini buat apa Mas Doni?”


“Anggap saja hadiah dari buat kamu,” jawab Doni.

__ADS_1


“Hadiah?” Cindy masih merasa bingung. Kenapa Doni memberikan hadiah untuk dirinya padahal hari itu bukan ulang tahunnya.


“Iya, hadiah buat kamu karena kamu sudah menyiapkan makanan yang enak tadi,” ucap Doni.


“Oh itu. Gak usah, Mas.” Cindy menolak uang pemberian dari Doni.


“Gak apa-apa. Terima saja," suruh Doni.


“Tapi, Mas ....”


“Tidak ada penolakan,” ucap Doni.


Doni menarik tangan Cindy dan menaruh uang yang ia pegang ke telapak tangan Cindy.


Cindy merasa tidak enak dengan hal itu. Apalagi saat Cindy tidak sengaja melihat Ravino. Cindy takut jika bosnya akan marah.


“Sudah terima saja. Anggap saja itu rezeki buat kamu,” ucap Ravino.


“Iya, Mas ...,” ucap Cindy.


Cindy akhirnya mau menerima uang itu setelah mendapat ijin dari Ravino. “Alhamdulillah.”


*****


Tidak terasa sudah satu bulan Cindy bekerja di apartemen Ravino. Sesuai janji Ravino benar-benar memberikan Cindy gaji tiga kali lipat dari gajinya di restoran.


Hubungan Ravino dan Cindy sudah jauh lebih baik. Mereka layaknya sahabat bukan seperti majikan dan asistennya.


Begitu juga hubungan Cindy dengan Doni. Doni sangat menyayangi Cindy. Sahabat Ravino itu bahkan menganggap Cindy layaknya seorang adik.


Ravino sempat bingung melihat sikap Doni yang tidak biasa kepada Cindy. Sampai akhirnya Ravino mengetahui alasannya.


Cindy juga bingung dengan sikap Doni kepada dirinya. Cindy bahkan sempat takut menerima barang-barang yang Doni berikan.


“Apa alasan Mas Doni begitu baik padaku?” batin Cindy.


Untuk menghilangkan rasa penasarannya Cindy pun memberanikan diri untuk bertanya.


Doni kembali datang ke apartemen. Secara kebetulan Cindy melihat Doni sedang berdiri sendiri di balkon. Cindy melangkah ke tempat Doni. Itu kesempatan baginya untuk bertanya alasan di balik sikap baik Doni terhadap dirinya.


“Mas Doni ...,” panggil Cindy.


Doni langsung menoleh ke asal suara dan melihat Cindy berada tepat dibelakangnya.


“Ada apa, Cindy?” tanya Doni.


“Aku boleh tanya gak?” ucap Cindy.


“Boleh saja. Apa yang ingin kamu tanyakan?” tanya Doni.


“Mas Doni kok baik banget sama saya?” tanya Cindy.


“Memang gak boleh aku baik sama kamu?” Doni balik bertanya kepada Cindy.

__ADS_1


“Eh, ya boleh, Mas. Tapi pasti ada alasannya, 'kan?” ucap Cindy.


“Menurut kamu apa alasan aku?” Doni berniat sekali untuk menggoda Cindy.


Cindy mengerutkan keningnya dan menghela napas panjang. “Kalau saya tahu ... saya gak akan bertanya sama Mas Doni.”


“Tapi ... Mas Doni gak mungkin suka sama saya, 'kan?” Cindy akhirnya menebak sendiri.


Mendengar ucapan Cindy, Doni langsung tertawa lepas dan itu makin membuat Cindy merasa bingung.


“Mas Doni kok malah ketawa? Emang ada yang lucu?” Cindy mengerucutkan bibirnya.


Doni menghentikan tawanya seketika saat melihat wajah Cindy yang sudah merah padam karena menahan malu.


“Cindy, aku memang sayang sama kamu,” aku Doni. “Tapi —”


“Tapi apa, Mas,” sela Cindy.


Lagi-lagi Cindy bingung dengan ucapan Doni.


“Tapi sayang aku sama kamu itu kaya sayang kakak ke adiknya. Karena kamu mengingatkan aku sama adikku,” ungkap Doni.


“Meski wajah kamu gak mirip, tapi sifat sama rasa masakan kamu mirip dengan adikku, Tiara,” jelas Doni.


Cindy manggut-manggut seolah mengerti dengan perkataan Doni.


“Syukurlah sayangnya cuma sebagai adik,” ucap Cindy.


“Kok kamu seneng banget kalau sayang sama cuma sebagai adik?” tanya Doni.


“Ya iyalah, Mas Doni. Saya 'kan jadi gak punya beban pikiran, karena saya gak bakalan bisa bales perasaan cinta, Mas Doni,” jelas Cindy.


“Memang kamu gak naksir gitu sama aku. Aku gak kalah ganteng dari bos kamu itu loh,” goda Doni.


“Mas Doni bisa saja,” ucap Cindy.


“Tapi memangnya adik Mas Doni sekarang di mana?” tanya Cindy.


Doni hanya menggelengkan kepalanya. Wajahnya juga mendadak menjadi sedih. “Dia udah gak ada, Cind.”


Wajah Doni berubah menjadi murung, mengingat adiknya mengalami kecelakaan dua tahun yang lalu.


“Maaf, Mas Doni. Cindy gak tahu.” Cindy mengusap pundak Doni untuk sedikit menguatkannya.


Doni menarik tangan Cindy dari pundaknya lalu mengusap punggung tangan Cindy.


“Gak apa- apa. Sekarang ada kamu, 'kan,” ucap Doni. “Kamu mau 'kan jadi adikku?” Cindy menganggukkan kepalanya. Mana mungkin dia menolak memiliki kakak angkat sebaik Doni.


“Ya maulah, Mas. Siapa sih yang gak mau dikasih uang dibeliin baju, tas, sepatu sama perhiasan,” ucap Cindy.


“Dasar matre.” Doni mencubit pipi Cindy karena merasa gemas.


“Bukanya matre, Mas. Tapi rezeki jangan ditolak,” balas Cindy seraya mengusap pipinya yang baru cubit oleh Doni.

__ADS_1


Doni menarik Cindy ke dalam pelukannya dan mencium kening Cindy. Mulai hari itu Doni mengangkat Cindy sebagai adiknya.


__ADS_2