Karya Gagal Kontrak

Karya Gagal Kontrak
Sebelas


__ADS_3

Hari-hari penuh suka cita Cindy lewati selama bekerja di apartemen Ravino. Awalnya Cindy merasa takut jika Ravino akan bersikap kejam terhadap dirinya. Ternyata tidak! Bos mudanya itu justru sangat baik terhadap dirinya.


Pagi itu Cindy sedang membereskan kamar Ravino. Secara tidak sengaja, Cindy menemukan sebuah bingkai foto tergeletak di atas tempat tidur.


“Foto siapa ya? Kok ada di sini?” batin Cindy.


Cindy membalik bingkai foto itu. Keningnya berkerut saat melihat foto bos-nya dengan seorang wanita. Di dalam foto itu terlihat jelas Ravino berfoto dengan seorang perempuan dengan memakai pakaian pengantin.


“Siapa perempuan ini?” batin Cindy. “Apa ini istrinya Mas Ravi? Tapi kok Mas Ravi gak pernah bilang kalau dia sudah menikah ya.”


“Cindy! Apa yang kamu lakukan?” tanya Ravino.


Cindy terkejut saat tiba-tiba suara Ravino masuk ke dalam indra pendengarannya.


“Maaf, Mas Ravi ... saya lagi beres.” Nada bicara Cindy terdengar sangat gugup.


Ravino tidak sengaja melihat Cindy memegang bingkai foto pernikahan nya dengan Gadis. Segera Ravino merebut bingkai foto itu dari tangan Cindy lalu menyembunyikannya kembali.


“Saya menemukan foto itu di atas tempat tidur, waktu saya beres-beres,” ucap Cindy.


“Saya permisi dulu, Mas,” ucap Cindy.


Cindy melangkah melewati Ravino. Namun langkahnya berhenti saat Ravino memanggilnya.


“Cindy, tunggu!“


Cindy menghentikan langkahnya dan berbaik ke arah Ravino.


“Ada apa, Mas?” tanya Cindy.


“Jangan beritahu pada siapapun tentang foto tadi. Terutama pada mamahku,” pinta Ravino.


“Jadi maksudnya, Mas Ravi sudah menikah?” Cindy bertanya lagi.


“Iya,” jawab Ravino.


“Wah, itu bagus dong,” seru Cindy. “Tapi kenapa ibu Desi gak boleh tahu soal ini?” tanya Cindy.


“Panjang ceritanya. Kapan-kapan saya ceritakan. Tapi untuk saat ini saya mohon jangan beritahukan ini pada siapapun,” pinta Ravino.


“Baik, Mas,” ucap Cindy.


“Terima kasih, Cindy. Sekarang tolong siapkan sarapan untuk saya. Saya harus segera pergi ke kantor,” suruh Ravino.


Cindy mengangguk sebelum kembali melangkah keluar dari kamar Ravino.


*****


Ravino sedang sibuk memeriksa berkas saat ponselnya berdering. Senyum Ravino mengembang saat melihat ada nama Gadis pada layar ponselnya. Tidak menunggu waktu lama Ravino segera menerima panggilan telepon dari istri sirinya.


“Halo, Sayang,” ucap Ravino saat benda pipih itu sudah menempel di telinganya.


Kamu sedang apa?


“Aku sedang bekerja?” jawab Ravino.

__ADS_1


Apa aku mengganggumu?


“Tidak, sayangku,” ucap Ravino.


“Apa kamu sedang tidak sibuk, Jadi bisa meneleponku?” tanya Ravino.


Ayolah Sayang ... aku minta maaf. Kemarin aku mengabaikanmu, aku sibuk sekali.


“Hmmmm, ayolah Sayang aku cuma bercanda. Kenapa kamu serius begitu,” ucap Ravino.


Emmmm, Sayang kamu masih ingat kalau minggu depan itu ulang tahunku?


“Ya tentu saja. Aku tidak akan melupakan itu,” jawab Ravino.


Boleh aku minta sesuatu padamu? Sebagai hadiah ulang tahunku?


“Tentu saja. Anything for you,” ucap Ravino.


Aku sudah mengirim email ke kamu.


Ravino membuka email dari Gadis melalui layar laptopnya. Mata Ravino melihat sebuah kalung berlian.


Kamu sudah melihatnya?


“Ya,” jawab Ravino. “Aku pasti akan membelikan ini untukmu,” ucap Ravino.


Sungguh?


“Tentu saja,” ucap Ravino.


“Sama-sama,” balas Ravino.


Kamu bisa mengirimnya ke alamat apartemen yang aku berikan tadi.


“Baiklah.”


Begitu lama Ravino dan Gadis berbincang di sambungan telepon. Sampai akhirnya Ravino mengakhiri pembicaraannya dengan Gadis dengan senyuman manis.


Ravino menaruh ponselnya kembali ke meja di hadapannya. Matanya kembali menatap layar laptopnya, ia memperhatikan sebuah perhiasan yang istrinya minta.


“Apa aku berikan kalung ini secara langsung saja ya?” Ravino berpikir untuk memberikan kejutan untuk Gadis.


Jam menunjukan pukul lima sore. Ravino sudah keluar dari kantor dan bergegas untuk kembali ke apartemennya. Senyum Ravino sama sekali tidak luntur hingga ia sampai di apartemennya.


Cindy yang melihat kebahagian di wajah Ravino membuat Cindy ingin menggoda bos mudanya itu.


“Mas Ravi kayaknya lagi bahagia banget?” goda Ravino.


Ravino menoleh ke arah Cindy dengan menunjukan senyumnya.


“Minggu depan hari ulang tahun Gadis. Lusa aku berangkat ke Amerika. Aku ingin memberikan dia sebuah kejutan,” ucap Ravino.


“Jadi istri Mas Ravi namanya Gadis?” Cindy bertanya pada Ravino.


“Iya, dia seorang model,” ucap Ravino.

__ADS_1


“Ohw. Pantas istri Mas Ravi cantik sekali,” puji Cindy.


“Oh ya, Cind ... besok kamu siapin semua barang-barang aku. Aku mungkin sedikit lama di sana.” Ravino bicara tanpa melunturkan senyum di bibirnya.


“Beres, Mas. Tapi jangan lupa oleh-olehnya,” ucap Cindy.


Ravino merespon perkataan Cindy dengan anggukan kepalanya.


“Ya sudah, saya buatkan kopi untuk Mas Ravi ya.” Cindy beranjak dari ruang tengah menuju ke dapur.


Cindy membuatkan kopi untuk Ravino. Sambil menunggu air mendidih Cindy bersenandung kecil. Cindy menghentikan nyanyiannya saat melihat Ravino menyusunya ke dapur.


“Loh Mas Ravi kok ke sini? Sudah mandi saja nanti kalau kopinya sudah siap aku bawakan ke kamarnya Mas Ravi,” ucap Cindy.


“Andai Gadis bisa sepertimu, Cind.” Ravino melipat kedua tangannya di depan dadanya lalu bersandar pada pintu lemari pendingin yang ada di sampingnya.


Cindy menghentikan kegiatannya lalu menatap Ravino.


“Maksud, Mas Ravi?” tanya Cindy. Ia merasa tidak mengerti dengan perkataan Ravino.


“Andai Gadis bisa melayani kebutuhan sebagai istri. Seperti apa yang kamu lakukan untuk aku selama ini,” ucap Ravino.


Cindy menghela napasnya. “Ya tentu saja bedalah Mas Ravi. Mba Gadis itu 'kan model terkenal bukan pembantu kaya saya.”


“Ya aku tahu. Maka dari itu dia lebih memilih untuk menyembunyikan hubungan kami, meninggalkan aku demi karir modelnya dan pergi ke Amerika.” Wajah Ravino mendadak berubah menjadi sedih.


“Sabar, Mas Ravi. Nanti pasti Mba Gadis bisa berubah kok. Mungkin mba Gadis butuh waktu untuk menyesuaikan diri,” ucap Cindy.


“Ya mungkin apa yang dikatakan oleh kamu itu benar,” ucap Ravino.


“Nah, ini kopinya sudah jadi.” Cindy memberikan kopi yang ia buat kepada Ravino.


Ravino menerima secangkir kopi yang Cindy berikan untuk dirinya.


“Terima kasih, Cind,” ucap Ravino.


“Sama-sama, Mas. Awas panas,” ucap Cindy.


*****


Beberapa hari kemudian.


Ravino sudah mengudara satu jam lamanya di dalam pesawat yang akan membawanya ke Amerika. Hati Ravino begitu senang dan tidak sabar untuk memberikan kejutan kepada istrinya itu.


Sebenarnya sebelum Ravino berangkat hatinya merasa bimbang. Ravino merasakan ada hal buruk akan terjadi.


Doni pun sudah meminta kepada Ravino untuk mengurungkan niatnya menemui Gadis, tetapi cinta Ravino yang begitu besar terhadap Gadis membuatnya mengalahkan semuanya.


Setelah mengudara begitu lamanya akhirnya Ravino sampai di Amerika. Dari bandara Ravino langsung melesat menuju Hotel yang sudah ia pesan sebelumnya.


Rencananya Ravino akan menemui Gadis lusa, tepat pada hari ulang tahun Gadis. Tidak lama Ravino sampai di hotel tempat ia akan menginap selama berapa hari.


Setelah sampai di kamarnya Ravino masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Selesai mandi, Ravino berganti pakaian dan bersiap untuk tidur.


Ravino merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur seraya memandang foto Gadis pada ponselnya.

__ADS_1


“Aku sudah di sini. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu denganmu lusa,” ucap Ravino.


__ADS_2