
Happy reading
Cindy dan Mira selesai bersamaan. Segera keduanya menyusul teman-temannya yang lain ke pintu utama restoran itu. Cindy merasa penasaran seperti apa bos-nya.
Sudah hampir satu bulan dirinya bekerja di restoran itu, tetapi belum pernah bertemu dengan pemilik dari restoran itu. Maka dari itu Cindy sangat antusias ingin melihat seperti apa bos utamanya.
Cindy dan Mira sudah bergabung dengan yang lainnya. Meraka berdiri berjejer di pintu masuk restoran itu.
“Selamat datang, Ibu Desi,” sambut ibu Susi.
Cindy merasa terkejut saat melihat bos-nya. Ternyata orang yang sedang mereka sambut adalah wanita yang tadi pagi terserempet motor.
Dia 'kan ibu-ibu yang tadi pagi.
“Loh, Ibu Desi ... Anda kenapa? Itu tangan sama kaki semua pada lecet?” tanya ibu Susi.
Melihat kondisi atasannya segera ibu Susi menghampiri dan membantu ibu Desi berjalan.
“Apa yang terjadi, Ibu?” Ibu Susi mengulangi pertanyaannya.
“Hanya kecelakaan kecil,” jawab ibu Desi.
Cindy menunjukan senyumnya saat secara tidak sengaja pandangannya bertemu dengan ibu Desi.
Ibu Desi terlihat berbisik di telinga ibu Susi sebelum masuk ke sebuah ruangan yang ada di sudut restoran itu. Setelah itu ibu Susi menghampiri Cindy dan menyuruhnya untuk ke ruangan ibu Desi
“Kamu ke ruangan ibu Desi sekarang,” bisik ibu Susi.
“Ada apa ya, Bu Susi? Kok ibu Desi mau ketemu sama saya?” tanya Cindy.
“Saya tidak tahu,” jawab ibu Susi. “Tapi tadi ibu Desi sudah cerita kalau kamu yang sudah menolongnya tadi,” ucap ibu Susi.
“Sudah sana, temui ibu Desi. Jangan buat beliau menunggu lama,” suruh ibu Susi dan langsung dianggukki oleh Cindy.
“Ayo semuanya langsung ke pekerjaan masing-masing,” perintah ibu Susi pada karyawan lain di restoran itu.
Dag Dig Dug
Detak jantung Cindy berdetak begitu kencang saat ia melangkah menuju ruangan Ibu Desi. Cindy melangkah dengan begitu pelan seolah sedang menghitung langkahnya.
“Semoga saja gak ada yang dengar detak jantungku,” gumam Cindy dalam hati.
Cindy menghentikan langkahnya setelah sampai di depan ruangan ibu Desi. Dengan ragu Cindy mengetok pintu kayu berwarna cokelat yang ada di hadapannya.
Setelah Cindy mendengar sahutan dari dalam, Cindy perlahan membuka pintu dan melangkah masuk ke dalamnya.
“Per-misi, Nyo-nya ... Anda memanggil saya?” Cindy mendadak menjadi tergagap.
__ADS_1
“Hmm ... silahkan duduk!” Ibu Desi menunjuk kursi yang di depan mejanya.
Cindy kembali melangkah dan duduk di tempat yang ditunjuk oleh atasannya.
“Kita bertemu lagi,” ucap ibu Desi.
“Iya, Bu. Apa Anda baik-baik saja?” tanya Cindy.
“Ya saya baik-baik saja,” jawab ibu Desi.
“Maaf kalau saya boleh tahu ... ada apa Nyonya memanggil saya?” tanya Flora terbata-bata.
“Kamu karyawan baru di sini?” tanya Ibu Desi yang langsung diunggukki oleh Cindy. “Sudah berapa lama?”
“Baru mau satu bulan, Nyonya,” jawab Cindy.
“Siapa nama kamu?” tanya ibu Desi lagi
“Cindy Larasati,” jawab Cindy.
“Oke, silahkan kembali bekerja. Dan sekali lagi saya ucapkan terima kasih kepadamu,” ucap ibu Desi.
“Sama-sama, Nyonya,” balas Cindy.
“Eeeemm ... maaf, Nyonya ini ....” Cindy mengambil uang dari saku celananya, uang yang diberikan oleh ibu Desi.
Alis ibu Desi terangkat sebelah saat melihat Cindy menyerahkan uang yang sebelumnya ia berikan kepadanya.
“Itu uang saya berikan untuk kamu, sebagai tanda terima kasih karena kamu sudah menolong saya,” ucap ibu Desi.
“Maaf, Nyonya ... tapi saya tidak bisa menerima uang itu. Nyonya menerima saya bekerja di sini saja itu sudah cukup,” ucap Cindy.
Cindy beranjak dari kursi yang sedang ia duduki. Niatnya untuk pergi dengan meninggalkan uang itu di atas meja dicegah oleh ibu Desi.
“Tunggu!” cegah ibu Desi. “Ambil uang ini kembali. Anggap saja itu rezeki untuk kamu. Lagi pula saya tidak bisa mengambil kembali apa yang sudah saya berikan kepada orang,” ucap ibu Desi.
“Ayo ambil. Saya yakin kamu sedang membutuhkan uang itu,” ucap ibu Desi.
Cindy nampak ragu-ragu untuk kembali mengambil uang itu. Namun, Cindy juga tidak bisa menolak perkataan ibu Desi yang merupakan atasannya.
“Baiklah, Nyonya. Saya terima uang ini. Sekali lagi terima kasih,” ucap Cindy.
“Hmmm, kembalilah bekerja,” suruh ibu Desi.
“Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu, Nyonya.” Cindy langsung keluar dari ruangan ibu Desi dan kembali bekerja seperti biasa.
*****
__ADS_1
Waktu berlalu begitu cepat. Tidak terasa sudah dua bulan Cindy berkerja di restoran itu. Malam itu tepatnya pukul 10 malam, Cindy berjalan kaki menuju tempat tinggal barunya.
Cindy memutuskan untuk pindah kosan yang tidak terlalu jauh dari restoran dan dekat dengan sahabatnya, Sandi. Jalanan malam itu terlihat sepi dan sedikit basah. Mungkin karena habis di guyur hujan.
Cindy berjalan sendiri karena Sandi
sedang jadwalnya masuk pagi. Cindy berjalan santai tanpa menyadari ada sebuah mobil yang melaju kencang.
Byur
Sebuah mobil melaju kencang dan melintasi genangan air di pinggir jalan. Cindy terkejut karena air itu mengenai dirinya. Cindy pun meneriaki mobil yang baru saja melintas itu.
“Hei, dasar! Apa kamu tidak bisa menyetir dengan benar?” teriak Cindy.
Bug
Cindy melempar mobil itu dengan batu yang ia lihat di dekatnya. Lemparannya tepat mengenai bagian belakang mobil itu.
Seketika mobil itu pun berhenti. Tidak lama seseorang keluar dari mobil berwarna hitam itu.
Tubuh Cindy membeku saat melihat seorang laki-laki tampan keluar dari mobil itu. Laki-laki itu berjalan mendekat ke arahnya.
“Woow, ganteng banget,” seru Cindy dalam hatinya.
Laki-laki itu sampai di hadapan Cindy lalu tiba-tiba laki-laki membentak Cindy.
“Apa kamu sudah gila?” bentak laki-laki itu.
“Kamu tuh yang gila,” balas Cindy.
“Kamu gak liat ada air di situ?” Cindy menunjuk genangan air di jalanan yang ada di sampingnya. “Lihat nih ulah kamu. Pakaianku basah.”
“Terus apa kabar dengan mobilku yang kamu timpuk. Kalau mobilku lecet memangnya kamu bisa ganti?” Laki-laki itu balas memaki Cindy.
“Aku tidak peduli dengan mobilmu,” ucap Cindy.
Laki-laki itu tidak lagi membalas perkataan Cindy, tetapi justru membalikkan badan dan kembali ke mobilnya.
“Kamu itu orang apa kulkas sih? Dingin banget!” maki Cindy. “Segitu susahnya kamu buat minta maaf,” ucap Cindy dengan berteriak.
Laki-laki itu kembali menghentikan langkahnya. Lalu berbalik menatap Cindy. Tatapan laki-laki itu seolah ingin memangsanya.
Mendapat tatapan tajam dari laki-laki itu, Cindy langsung melemah.
Tanpa mengucapkan kata-kata apapun, laki laki itu kembali masuk ke mobil sport-nya dan pergi begitu saja.
Cindy kembali melanjutkan perjalannya. Sepanjang perjalanan Cindy terus mengucapkan sumpah serapah untuk laki-laki itu. Rasa kesal dalam dirinya membuat Cindy tidak peduli dengan tatapan orang yang melihatnya aneh.
__ADS_1
“Awas saja kalau ketemu dia lagi. Aku akan mencincangnya,” gerutu Flora.