Karya Gagal Kontrak

Karya Gagal Kontrak
Dua Puluh Tiga


__ADS_3

Beberapa hari setelah kejadian itu, Reno terus menghubungi Cindy untuk minta maaf. Namun, Cindy sama sekali tidak ingin menjawab telepon ataupun membalas chat dari Reno, bahkan nomer Reno pun dia blokir. Cindy masih sangat membenci Reno dengan apa yang coba pria itu lakukan.


Fajar yang merupakan kakaknya, menjadi tidak enak hati saat bertemu Cindy. Dia tidak menyangka kalau adiknya sendiri yang dia kenal baik mampu melakukan hal sehina itu. Fajar tahu kalau adiknya memiliki perasaan terhadap Cindy, tetapi dia juga tahu kalau Cindy hanya menganggap Reno sebagai seorang teman. Beruntung hubungan Cindy dan Fajar masih baik-baik saja dan Fajar tidak dipecat oleh Ravino.


Jam menunjukan pukul Sebelas malam, Cindy masih duduk di depan ruang tengah menunggu suaminya pulang sambil menonton acara di layar televisi. Sebenarnya Cindy masih merasa takut untuk berada di apartemen sendiri mengingat apa yang pernah dilakukan oleh Reno beberapa hari yang lalu. Saat sedang fokus pada drama di layar televisi, Cindy mendengar suara pintu terbuka. Cindy memalingkan wajahnya, ia tersenyum melihat Ravino pulang.


"Capek ya, Mas?" tanya Cindy.


Cindy mengambil tas kerja yang dibawa oleh Ravino. Tas itu ia letakan di sofa ruang tengah sedangkan dirinya pergi ke dapur untuk mengambil air.


"Ini, Mas minumnya." Cindy memberikan segelas air putih kepada Ravino.


"Terima kasih." Ravino menerima air putih yang Cindy berikan kepadanya. Gelas di tangannya ia dekatkan ke bibirnya lalu meminumnya sampai habis setengahnya.


"Mas Ravi mau makan? Aku akan menyiapkannya dulu," ucap Cindy.


"Tidak usah, aku sudah makan," jawab Ravino.


"Aku mau mandi dan istirahat saja. Aku merasa sangat lelah." Ravino meletakan gelas ke meja yang ada di hadapannya sebelum ia beranjak pergi ke kamarnya.


Cindy masih berdiri di tempatnya memerhatikan tubuh belakang Ravino sampai bayangan suaminya menghilang di balik pintu. Cindy menyusul Ravino ke kamar, ia berjalan ke lemari pakaian. Diambilnya satu setel piyama tidur milik suaminya dan meletakkannya di atas tempat tidur.


Setelah itu Cindy berjalan ke dekat dinding besar yang terbuat dari kaca. Dari tempatnya berdiri Cindy bisa melihat hampir seluruh kota. Cahaya dari lampu berwarna-warni di luar sana bagaikan bintang yang bertaburan. Pemandangan yang sangat indah membuat Cindy enggan beranjak dari tempatnya. Karena fokus pada apa yang sedang dilihatnya Cindy sampai tidak menyadari jika Ravino keluar dari kamar mandi dan sedang memerhatikan dirinya.


Sekitar setengah jam Ravino berada di kamar mandi ia keluar hanya dengan handuk yang melingkar di pinggangnya. Keningnya mengerut melihat Cindy melamun dengan menatap keluar jendela. Sejenak Ravino memerhatikan Cindy, tenggorokannya mendadak mengering sehingga ia menelan air liurnya sendiri untuk membasahinya. Bukan hanya itu saja ia merasa miliknya di bawah sana mengeras. Ravino berdecak kesal, ia menggerutu saat hasrat laki-lakinya terpancing melihat Cindy.


"Apa yang harus aku lakukan?" batin Ravino.


Ravino menghembuskan napasnya kasar, ia memalingkan pandangannya ke arah lain agar fokusnya teralihkan. Namun, semakin Ravino menghindar justru keinginannya makin tidak terkendali.

__ADS_1


Kamu itu suaminya, tidak salah jika kamu menginginkan dirinya.


Begitulah kata-kata yang melintas di benaknya. Akhirnya Ravino menyerah pada keinginannya. Perlahan Ravino berjalan mendekati Cindy dan langsung memeluknya dari belakang. Apa yang dilakukannya membuat Cindy terkejut, reflek Cindy langsung melepaskan tangan Ravino yang melingkar di perutnya.


Cindy berbalik, matanya terbelalak, rona merah seketika muncul di kedua sisi wajahnya melihat dada telanjang Ravino. Segera Cindy memalingkan wajahnya menyembunyikan rasa malunya.


Ravino tersenyum melihat wajah Cindy yang begitu polos membuat Ravino tidak bisa lagi mengendalikan keinginannya. Diraihnya dagu Cindy memintanya untuk melihat ke arahnya. Namun, Cindy justru menundukkan wajahnya karena masih merasa malu.


"Kenapa kamu malu? Aku suamimu sekarang," ucap Ravino.


"A-ku ... aku ... hmmmp." Sebelum Cindy meneruskan kata-katanya Ravino lebih dulu menyambar bibir Cindy. Mata Cindy membulat sempurna saat ia merasakan bibir Ravino menempel di bibirnya.


Ravino mencium bibir Cindy dengan lembut, memberikan gigitan kecil yang menghanyutkan hati Cindy. Cindy ingin menepisnya. Namun ia tidak bisa melakukannya sebab laki-laki di hadapannya adalah suaminya.


Ravino menjeda ciumannya meminta Cindy untuk membalasnya. Cindy jelas merasa bingung karena dirinya belum berpengalaman dalam hal itu. Ravino menyeringai senang, wanita di hadapan masih begitu polos. Akan tetapi tidak masalah untuk Ravino.


Ravino kembali mencium bibir Cindy, ciuman yang sangat lembut. Ravino memperlakukan Cindy dengan begitu lembut, seolah bibir Cindy adalah barang yang sangat rapuh.


Ravino menyeringai saat usahanya memancing hasrat Cindy berhasil. Merasa sudah mendapat lampu hijau Ravino mulai bereaksi. Tangan Ravino bergerak masuk ke balik baju Cindy dan mengusap perutnya, merayap naik memaksa untuk menyentuh dua bongkahan besar yang ada di dada sang istri.


"Mas ...," desah Cindy.


Suara ******* Cindy makin membuat Ravino kehilangan akal sehatnya. Ciuman yang awalnya begitu lembut menjadi jauh lebih menuntut. Ravino mengakhiri ciumannya, ia mengangkat tubuh Cindy dan merebahkannya ke atas ranjang.


"Sudah siap?" tanya Ravino disambut anggukkan kepala Cindy.


Ravino menanggalkan satu persatu kain yang menempel di tubuh Cindy begitu dengan kain yang menempel di tubuhnya sendiri. Cindy begitu malu melihat pemandangan yang ada di hadapannya.


Cindy merapatkan kembali kakinya, tetapi Ravino menahannya. "Kita mulai dengan cepat, maka akan berakhir cepat pula."

__ADS_1


Cindy kembali membuka kakinya setelah mendengar kalimat yang Ravino ucapkan.


Jantung Cindy berdecak begitu cepat saat Ravino mulai menyatukan tubuh mereka. Tangan Cindy mencengkram kuat seprei saat ia merasakan benda keras mencoba masuk ke dalam tubuhnya.


"Sakit, Mas!" rintih Cindy.


Aku juga sakit.


Ravino juga merasakan sakit saat mencoba memasuki Cindy. Istrinya benar-benar masih suci. Rintihan Cindy terus terdengar di telinga Ravino. Bukan tidak merasa kasihan pada istrinya, tetapi Ravino juga sudah tidak bisa mundur lagi, hasratnya sudah menembus ubun-ubun, ia harus menuntaskannya.


Ravino terus mencoba memasuki Cindy menahan rasa sakit yang dirasakannya. Bersamaan dengan itu sesuatu yang hangat, berwarna merah mengalir di bawah sana.


"Mas, sakit! Tolong hentikan, Mas!" Cindy menjerit merasakan tubuhnya seolah terbagi menjadi dua.


Suara jeritan Cindy terdengar, saat Ravino berhasil merobek selaput daranya. Ravino meringis merasakan gorengan kuku Cindy yang terasa menembus kulitnya.


"Mas, sakit." Cindy kembali merintih.


"Maaf." Ravino mencium kening Cindy dalam jeda waktu yang lebih lama.


Ravino masih membenamkan miliknya di tubuh Cindy, menunggu istrinya lebih tenang. Setelah merasa Cindy tenang Ravino mulai menggerakkan tubuhnya, itupun atas izin dari Cindy.


"Aku mulai ya," izin Ravino yang langsung dianggukki oleh Cindy.


Perlahan Ravino mulai melanjutkan aksinya. Rasa sakit yang mereka rasakan awalnya berubah menjadi rasa yang begitu nikmat yang sulit untuk mereka jabarkan. Malam yang panjang itu terlewati dengan begitu indah ditemani suara laknat yang begitu menggairahkan. Mereka berdua menikmati penyatuan mereka, meskipun tanpa kata cinta yang mereka saling ucapkan, hanya napsu, status, dan sebuah perjanjian.


******* panjang keluar dari mulut mereka secara bersamaan menandakan berakhirnya pergulatan panas itu. Berulang kali Ravino menekan tubuhnya masuk ke dalam bagian terdalam Cindy, menyemburkan benih kehidupannya ke dalam rahim Cindy.


"Terima kasih untuk malam ini Cindy," ucap Ravino, berakhir dengan kecupan di kening Cindy.

__ADS_1


Ravino bangun dari atas tubuh Cindy, berpindah ke sampingnya. Ditariknya selimut untuk menutupi tubuh mereka yang sama-sama polos.


Cindy sudah terkulai lemas, begitu juga Ravino. Mereka tidur berpelukan melepas lelah hanya berbalut selimut menutupi tubuh mereka.


__ADS_2