Karya Gagal Kontrak

Karya Gagal Kontrak
Dua Puluh Empat


__ADS_3

Pada esok harinya.


Tidak biasanya Cindy tertidur begitu pulas. Namun suara alarm membangunkan Cindy dari tidurnya yang begitu indah.


Mata Cindy yang awalnya tertutup perlahan membuka. Yang pertama kali Cindy lihat adalah dada polos Ravino. Cindy mengusap dada bidang milik Ravino dengan senyum di bibirnya. Rona muncul di kedua sisi wajahnya mengingat apa yang sudah mereka lakukan semalam.


Cindy masih merasa tidak percaya dengan apa yang sudah dilakukannya semalam. Ada penyesalan, tetapi tidak dipungkiri dirinya sangat menikmatinya.


Ya sudahlah, untuk memenuhi janjiku aku harus melakukan ini.


Cindy menarik napasnya dalam-dalam, memberikan semangat untuk dirinya sendiri.


"Ini sudah jam berapa ya? Kenapa rasanya sudah sangat siang?" batin Cindy.


Cindy melebarkan matanya saat melihat jam di dinding sudah menunjukan pukul sembilan pagi. Cindy menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya dan segera beranjak dari ranjang. Belum kakinya menyentuh lantai Cindy merasakan sakit di bagian pusat dari inti tubuhnya.


"Argh!" Cindy merintih, merasakan sakit di pusat intinya.


Rintihan Cindy tidak sengaja mengusik tidur Ravino. Pria itu membuka matanya dan melihat langsung pada Cindy.


"Ada apa, Cind?" tanya Ravino.


"Sudah jam sembilan. Aku ingin bangun. Tapi ... rasanya sakit sekali," jawab Cindy


Meskipun Cindy tidak menjelaskan bagian mana yang sakit, Ravino jelas tahu. Ravino menyibakkan selimut yang menutupi tubuh polosnya. Diambilnya celana pendek dari dalam lemari kemudian memakainya.


"Apa yang mau kamu lakukan, Mas." Cindy gugup saat Ravino menyibak selimutnya yang langsung memperlihatkan tubuhnya yang polos.


"Kamu ingin ke kamar mandi, 'kan? Aku akan membantumu," jawab Ravino.


"Tapi ...." Cindy menyilangkan kedua tangannya di depan dada, serta merapatkan kakinya dengan wajah yang tertunduk malu.


"Kenapa mesti malu? Aku juga sudah melihatnya semalam." Diangkatnya tubuh Cindy dan membawanya ke kamar mandi.


Ravino menyiapkan air mandi di bak ukuran besar untuk berendam mereka berdua. Tak lupa juga sabun aromaterapi ia masukan ke dalam air mandi.


"Berendam berdua sepertinya lebih menyenangkan," ucap Ravino.


"Berendam ... berdua?" Cindy merasa gugup saat Ravino mengajaknya berendam.


"Ayolah, ini bisa membuatmu merasa nyaman," bujuk Ravino.


Iya, nyaman. Yang tidak membuatnya nyaman itu karena harus berendam bersama dengan seorang laki-laki.


Setelah air siap Ravino membantu Cindy masuk ke bak mandi berukuran besar itu. Berendam di pagi hari itu menjadi mandi panas yang dipenuhi oleh hasrat.


Satu jam waktu yang mereka habiskan untuk mandi panas. Setelah menyiapkan keperluan suaminya Cindy keluar dari kamar untuk menyiapkan sarapan. Cindy berjalan menuruni anak tangga, dia dikejutkan oleh keberadaan Doni dan Sandra yang tengah duduk di ruang tengah


"Mas Doni, Mba Sandra?" Cindy melangkah dengan sedikit ragu. Ia merasa malu karena hanya memakai milik kemeja Ravino yang membuatnya terlihat seperti wanita nakal.

__ADS_1


Sementara itu Ravino yang siap untuk pergi ke kantor keluar dari kamar. Ia berjalan menuruni anak tangga sambil mengancing lengan kemejanya. Ravino terus melangkah tanpa melihat tatapan tajam Doni.


"Cindy, apa sarapannya sudah siap?" Ravino menghentikan langkahnya saat ia baru menyadari akan keberadaan Doni.


Ravino bergantian melihat ke arah Doni dan Cindy. Dari raut wajah Doni jelas dia terlihat marah.


"Ada apa? Tumben pagi-pagi datang kemari?" Ravino menyadari akan tatapan tajam Doni. Namun, Ravino mencoba untuk bersikap biasa saja.


"Aku ingin meminta penjelasan dari kalian," jawab Doni.


"Tentang apa?" Ravino mendaratkan bokongnya di kursi meja makan sambil menikmati sarapan yang dibuat oleh Cindy.


"Jadi ... apa yang kalian sudah lakukan?" tanya Doni melipat tangan di dadanya, wajahnya nampak sangat tidak bersahabat.


"Sabar, Mas." Sandra mengusap punggung Doni untuk menenangkannya.


Ravino melihat mata tajam Doni yang suah bersiap menerkam dirinya, sedangkan Cindy melesat masuk ke kamarnya sendiri untuk mengganti pakaiannya. Dengan penampilannya Cindy sungguh merasa malu pada Doni dan Sandra.


Suasana di ruang tengah di apartemen Ravino cukup dingin dengan adanya pendingin ruangan. Namun suasana saat itu berubah begitu panas dengan api kemarahan yang muncul dari dalam mata Doni. Cindy hanya bisa menundukkan kepalanya, tidak sanggup menatap Doni.


"Rav, aku sudah pernah bilang untuk jangan pernah bermain-main dengan perempuan, tapi kenapa sekarang kamu mempermainkan Cindy?" Doni bertanya dengan nada yang meninggi dan memecah keheningan.


"Aku sama sekali tidak mempermainkan Cindy," kilah Ravino.


"Lalu, ini apa?" Doni melempar berkas berisi perjanjian Ravino dan Cindy ke meja yang ada di hadapan mereka.


Melihat itu Cindy terkejut dan merasa khawatir. Di dalam berkas itu tertulis setelah Cindy melahirkan anak untuk Ravino. Cindy harus menyerahkan kepada Ravino dan dia harus pergi meninggalkan anak itu bersama dengan Ravino. Dan Ravino berjanji akan membiayai semua biaya pengobatan ibunya. Terdengar miris memang, tetapi itulah kenyataannya.


"Apa? Kalian sudah menikah?" teriak Doni dan Sandra bersamaan.


"Serius?" Doni merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.


"Kalau kamu tidak percaya, tanya saja sama adik angkatmu ini," suruh Ravino.


"Iya, Mas ... kami menikah secara diam-diam," tutur Cindy.


Sebenarnya perasaan Doni lega setelah mendengar keduanya sudah menikah meskipun masih secara diam-diam. Namun, ada rasa cemas di dalam pikiran Doni, bagaimana kalau keluarga Ravino tahu?


Biarlah untuk saat ini mereka seperti ini. Semoga nantinya, seiring dengan berjalan waktu mereka bisa memiliki kejelasan hubungan di antara mereka.


Suara ponsel Doni memecah keheningan mereka berempat. Doni mengatakan ada rapat mendadak yang harus dihadiri oleh Ravino serta dirinya. Mereka pun sepakat untuk berhenti membahas masalah itu dan menutup rapat status Ravino dan Cindy.


"Baiklah, aku tidak akan ikut campur dalam urusan kalian," ucap Doni.


"Sebaiknya kita segera pergi atau kita akan terlambat," ajak Doni yang langsung dianggukki oleh Ravino.


Ravino dan Doni melesat ke tempat rapat yang ditunjukkan Doni, sedangkan Sandra masih berada di apartemen bersama Cindy.


"Ayolah, Cindy. Apa wajahku begitu menyeramkan, membuatmu tidak mau melihatku?" goda Sandra.

__ADS_1


"Bukan begitu, Mba. Saya sangat malu saat ini," jawab Cindy dengan wajahnya yang masih tertunduk.


"Malu kenapa?" tanya Sandra.


"Saat ini Mba Sandra dan mas Doni pasti berpikir jika saya perempuan murahan yang mau menjual tubuh saya demi uang," jawab Cindy.


"Yah, mungkin saja. Tapi


kamu dan Ravino sudah terikat di dalam sebuah pernikahan. Kenyataannya kamu istri Ravino," jawab Sandra.


"Apa bedanya? Setelah saya melahirkan dia akan menceraikan saya dan saya harus meninggalkan anak kami," ucap Cindy.


"Siapa yang akan tahu apa yang akan terjadi di masa depan Cindy. Mungkin saja setelah kehadiran anak kalian nanti, cinta akan tumbuh di dalam hati kalian," ucap Sandra.


"Itu tidak akan mungkin pernah terjadi," ucap Cindy.


"Jangan berpikir seperti itu. Kita lihat saja nanti," ucap Sandra.


"Sudahlah jangan bahas ini lagi. Seperti kata mas Doni saya tidak akan ikut campur dalam urusan kalian," ucap Sandra.


Setelah mereka berbicara panjang lebar, Sandra merasa sangat lapar. Cindy pun membuat sarapan untuk Sandra.


"Silahkan dimakan, Mba." Cindy menyiapkan roti bakar untuk Sandra dan juga dirinya sendiri.


Keduanya kembali duduk bersama di meja makan mereka makan sambil sesekali mengobrol. Cindy merasa beruntung bertemu dengan orang-orang baik seperti Doni dan juga Sandra, mereka sama sekali tidak melihat status seseorang. Sandra anak yatim, dia orang yang sangat baik, dia juga memiliki usaha butik sendiri.


"Cindy, boleh aku bertanya sesuatu padamu?" tanya Sandra.


"Silahkan, Mba," jawab Cindy.


"Apa kamu sudah melakukannya bersama Ravino?" tanya Sandra.


"Melakukan apa?" tanya balik Cindy.


"Malam pertama," jawab Sandra.


Cindy tersedak makanan yang dia makan. Wajah Cindy berubah merah seperti kepiting rebus. Melihat wajah Cindy, Sandra sudah bisa menebaknya. Cindy juga tidak bisa menyembunyikannya lagi, dengan polosnya Cindy menganggukan kepalanya.


"Benarkah bagaimana rasanya, apakah benar rasanya sangat sakit?" Sandra terus bertanya pada Cindy dengan antusias sampai Cindy benar-benar tak bisa menyembunyikan rasa malunya.


"Ayolah katakan aku penasaran," desak Sandra.


Cindy kembali mengingat malam pertamanya dengan Ravino. Awalnya memang rasanya sangat sakit. Namun semakin lama rasa sakit itu menghilang dan tergantikan oleh rasa yang begitu nikmat.


"Mba benar-benar ingin tahu?" tanya Cindy.


Sandra pun mengangguk. Sebenarnya Sandra sedikit merasa takut, saat malam pertamanya nanti besama Doni nanti.


"Mba bisa mencobanya nanti malam bersama Mas Doni," goda Cindy diikuti tawanya.

__ADS_1


Sandra membuka mulutnya lebar dan memukul pundak Cindy. Kini wajah Sandra yang berubah merah padam karena Cindy berhasil menggodanya. Tidak lama mereka pun tertawa besama sama.


__ADS_2