Karya Gagal Kontrak

Karya Gagal Kontrak
Lima


__ADS_3

Ravino baru saja keluar dari kamar mandi saat ponselnya berdering. Dengan segera Ravino mengambil ponselnya yang ada di meja nakas. Ada nama 'mamah' tertera pada layar ponselnya. Setalah menggeser tombol hijau, Ravino menempelkan benda pipih itu ke dekat telinganya.


“Halo, Mah,” ucap Ravino.


Kamu belum tidur?


“Belum, Mah. Ini aku baru selesai mandi. Tadi habis lembur,” ucap Ravino.


Besok ke tempat mamah ya. Mamah kangen sama kamu, Nak.


“Baiklah, Mah. Besok Ravi mampir ke restoran Mamah,” ucap Ravino.


Ravino menutup sambungan telefon dengan mamanya lalu menarik nafas beratnya. Ravino sampai lupa sudah lama tidak bertemu dengan ibunya, karena kesibukannya di kantor dan juga karena Gadis.


Ada rasa bersalah dalam diri Ravino kepada ibunya karena menyembunyikan statusnya dengan Gadis dari ibunya. Setelah meletakan kembali ponselnya, Ravino melangkah menuju ke lemari pakaian untuk mengambil pakaian tidurnya.


Selesai dengan itu Ravino memilih untuk merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Pandangannya Ravino arahkan pada langit-langit kamarnya. Bayangan Gadis seolah muncul di langit-langit kamarnya.


Rasa rindu pada istrinya rasanya sudah tidak bisa ia tahan lagi. Ravino melihat waktu menunjukan pukul 12 malam yang artinya di Amerika masih siang. Ravino memutuskan untuk menghubungi istrinya. Mungkin saja istrinya masih ada di apartemennya.


Tangan Ravino bergerak di layar ponselnya untuk mencari nama istrinya. Setelah menemukannya, segera Ravino menekan tombol panggil.


Ravino sangat mengharapkan jika Gadis menerima panggilannya. Do'anya terkabul, istrinya akhirnya menerima panggilannya.


“Halo, Sayang,” ucap Ravino saat panggilannya sudah tersambung.


Cepat katakan ada apa?


“Tidak ada apa-apa. Aku hanya sangat merindukanmu,” jawab Ravino.


Ya Tuhan, kamu menghubungiku hanya ingin mengatakan itu. Kamu tahu tidak? Kamu sudah menganggu tidurku.


“Mau bagaimana lagi, Gadis? Beberapa hari ini kamu susah sekali dihubungi. Kamu tidak pernah mengangkat teleponku atau pun membalas chat dariku? Ada apa sebenarnya?” tanya Ravino.


Aku sibuk.


“Sesibuk itu kah kamu? Atau kamu memang sudah tidak mencintaiku lagi?” tanya Ravino.


Ravino, stop! Jangan bahas ini lagi, oke! Aku sangat lelah.


“Tapi ....”


Dan panggilan pun terputus.


Tuuuuut Tuuuut


“Apa yang terjadi sebenarnya?” guman Ravino.


Ravino tidak putus asa. Ia kembali menelepon seseorang yang ada di negara yang sama dengan istrinya. Dia adalah Niko, sahabatnya. Enam bulan yang lalu Ravino meminta Niko untuk menjaga Gadis secara diam-diam.


Ravino masih terus mencoba menghubungi Niko sampai panggilannya tersambung. Rasa lega Ravino rasakan saat Niko menerima panggilan telepon darinya.

__ADS_1


“Halo, Niko,” ucap Ravino.


Halo, Vin. Ada apa?


“Halo, Nik. Apa aku mengganggumu?” tanya Ravino.


Hmm, sedikit.


Ravino menjadi tidak enak telah menganggu Niko, apalagi saat Ravino mendengar Niko sepertinya sedang malas bicara.


“Sorry, Nik. Aku menghubungimu hanya ingin tanya ... apa kamu beberapa hari ini melihat Gadis di sama? Maksud aku ... apa kamu bertemu dengan Gadis di sana?” tanya Ravino ragu.


Oh itu. Sorry, Vin aku sudah lama tidak bertemu dengan Gadis. Aku sibuk dengan urusanku sendiri.


“Maafkan aku jika aku sudah merepotkanmu,” ucap Ravino.


Oke, tidak masalah. Vin aku sedang sibuk. Bisa kita melanjutkan ini nanti.


Ravino merasa heran saat Niko memutuskan panggilannya. Bahkan tidak memberinya waktu untuk sekedar mengucapkan terima kasih padanya.


Pikiran-pikiran negatif mendadak muncul di benak Ravino. Namun, dengan segera Ravino membuangnya.


“Semoga itu tidak terjadi,” harap Ravino.


Ravino memutuskan untuk segera tidur. Rasa lelah di tubuhnya membawa Ravino dengan cepat ke alam mimpi.


*****


Jam sudah menunjukan pukul 7 pagi dan Cindy sudah dalam perjalanan ke restoran tempatnya kerjanya. Saat ini Cindy masuk jam pagi.


Hatinya masih merasa kesal gara - gara laki-laki yang semalam bertemu dengannya. Cindy bahkan masih mengucapkan sumpah serapahnya sampai tiba di restoran. Teman-temannya yang melihat tingkah aneh Cindy merasa heran. Hal itu menarik diri Sandi untuk bertanya.


“Hai, Cindy ... kamu kenapa? Sakit? atau salah minum obat?” tanya Sandi dengan gaya khasnya yang lentik.


“Aku lagi kesel sama seseorang. Semalem aku bertemu dengan laki-laki yang sangat menyebalkan," jawab Cindy.


“Ganteng gak?” tanya Sandi dengan antusias.


Eh?


Cindy terdiam, dia mengingat jelas wajah laki-laki semalem. Sangat tampan, tetapi begitu dingin.


Sandi merasa heran melihat Cindy tidak menjawabnya, tetapi justru malah melamun. Sandi lalu menoyor kepala Cindy.


“Hei, bukannya jawab, malah ngelamun,” tegur Sandi.


Cindy tertawa dengan menunjukan deretan giginya.


“Maaf. Aku lagi bayangin laki-laki yang semalam,” jawab Cindy.


“Terus?” Sandi memicik tajam ke arah Cindy.

__ADS_1


“Dia ganteng banget malah,” terang Cindy.


Mendengar kata laki-laki tampan, Sandi langsung antusias. Seketika Sandi langsung menghentikan kegiatannya dan terus bertanya tentang laki-laki yang disebut oleh Cindy.


“Serius? Namanya siapa? Gantengnya kaya apa? Terus dia tinggal di mana?” Sandy sambil menggoyang-goyangkan tubuh Cindy.


Karyawan yang lain pun hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Sandi. Sedang Cindy memutar bola matanya karena merasa jengah.


Cindy akhirnya menceritakan kejadian semalam kepada Sandi. Sandi yang mendengar cerita Cindy heboh sendiri, bahkan Sandi ikut geram dan ikut menyumpahi laki-laki itu.


Cindy mengingat kembali kejadian semalam, dia berpikir bisa tidak ya bertemu dengannya lagi.


“Sudah, jangan gosip mulu. Kerja sudah siang.” Ucapan Mira memaksa Sandi dan Cindy menghentikan obrolan mereka.


“Iya, aku ganti baju dulu ya,” ucap Cindy yang langsung yang langsung diangguki oleh Sandi.


Semakin siang suasana di restoran semakin ramai, apalagi saat memasuki jam makan siang.


Sandi melihat seseorang yang sangat ia kenali masuk ke dalam restoran itu. Sandi langsung berjingkrak-jingkrak kegirangan sebelum menghampiri orang itu.


“Aduh, Tuan ganteng ... selamat datang,” sambut Sandi. “Mari silahkan duduk!”


Sandi mengedarkan pandangannya mencari tempat duduk yang masih kosong. Sandi melihat hanya ada tempat duduk di samping jendela. Sandi pun mengarahkan dua orang itu untuk duduk di sana.


“Maaf ya, Tuan ganteng, ruang VIP- nya full, jadi duduk di sini tidak apa-apa ya,” ucap Sandi. “Silahkan mau pesen makanan apa?” tanya Sandi sambil memberikan buku menu kepada dua orang laki-laki itu.


“Terima kasih,” ucapnya.


Laki-laki itu menerima buku menu sambil tersenyum, membuat Sandi menjadi salah tingkah.


“Oke, Tuan ganteng ... ditunggu pesenannya.” Sandi berucap setelah dua orang itu memberitahukan pesanannya pada dirinya.


Sandi kembali ke bagian pemesanan untuk memberikan daftar pesanan dua orang itu.


Tidak lama pesanan dua orang itu siap. Sandi meminta kepada Cindy mengantar makan itu ke meja tamu spesialnya, karena dirinya tengah sibuk melayani tamu yang lain.


“Cind, tolong kamu anterin itu makan ke meja nomor sepuluh. Aku lagi sibuk banget ini,” pinta Sandi.


“Oke, baiklah,” sahut Cindy.


Cindy membawa nampan berisikan pesanan tamu yang ada di meja nomor sepuluh.


“Permisi, Pak ... pesanan Anda,” ucap Cindy.


Secara tidak sengaja pandangan Cindy bertemu dengan salah seorang tamu itu. Matanya terbelalak saat melihat laki-laki yang ada di hadapannya.


Keterkejutan pun nampak di mata laki-laki yang ada di hadapan Cindy. Keduanya sama-sama tidak menyangka akan dipertemukan kembali.


“Kamu!”


“Kamu!”

__ADS_1


__ADS_2