Karya Gagal Kontrak

Karya Gagal Kontrak
Enam Belas


__ADS_3

Ravino terbangun dari tidurnya saat mendengar suara alarm. Tangannya bergerak untuk mematikan alarm pada jam waker yang ada di meja nakas.


Beberapa kali Ravino mengedipkan matanya. Dilihatnya waktu sudah menunjukkan pukul melihat jam tujuh pagi.


Ravino langsung beranjak dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi. Setelah beberapa menit di dalam kamar mandi Ravino keluar hanya dengan melilitkan handuk di pinggangnya.


Saat akan menuju lemari pakaian, Ravino mendengar suara ketukan pintu dari depan kamarnya.


Tok tok tok


Ravino membuka pintu kamarnya masih dengan handuk yang melilit di pinggangnya.


“Aaaaaaaaaaa!” Cindy berteriak sambil menutup matanya. Segera Cindy membalikan tubuhnya membelakangi Ravino.


Ravino memutar bola matanya jengah karena Cindy berteriak saat melihat dirinya bertelanjang dada. Ide jahil seketika melintas di benak Ravino. Ravino mendekati Cindy dan memeluknya dari belakang.


“Bukanya kamu sudah pernah melihat aku lebih dari ini.” Ravino berbisik di telinga Cindy masih dengan memeluk tubuh Cindy dari belakang.


“Mak-sud, Mas Ravi apa?” Cindy mencoba bertanya pada Ravino.


“Bukannya malam itu kamu sudah melihat aku dalam keadaan telanjang,” ucap Ravino.


“Hah! Kapan, Mas?" Mendadak Cindy merasa kalau dirinya hilang ingatan.


“Saat aku sedang bercinta dengan Rena.” Ravino mencium ujung kepala Cindy.


Entah apa yang dipikirkan Ravino saat ini. Dia senang sekali menggoda Cindy.


Ingatan Cindy pada malam itu datang kembali. “Itu aku tidak sengaja, Mas.”


Cindy terkejut dan terdiam sesaat lalu bergidik ngeri, mengingat apa yang dia lihat malam itu.


Seketika Cindy berteriak sambil menutup wajah dengan tangannya. Lalu berlari ke dapur membuat Ravino terkekeh ditempatnya.


“Lucu,” guman Ravino sebelum ia kembali masuk ke dalam kamarnya.


Jam sudah menunjukan pukul delapan pagi. Ravino memutuskan untuk berangkat ke kantor setelah ia selesai sarapan.


“Cindy aku berangkat dulu,” ucap Ravino.


“Iya, Mas.” Cindy masih merasa gugup saat berbicara dengan Ravino mengingat apa yang terjadi sebelumnya.


Cindy kembali melanjutkan pekerjaannya setelah Ravino pergi ke kantor. Saat akan merapikan kamar Ravino ponsel dalam sakunya bergetar.


Cindy merogoh saku celananya untuk melihat siapa yang menghubunginya. Ada nama Reno tertera di layar ponselnya.


“Halo,” ucap Cindy saat benda pipih itu sudah menempel di telinganya.


Halo, Cind. Ini aku Reno. Eeemmm ... bisa kita bertemu nanti malam?


“Ketemu? Ada apa ya?”


Aku hanya merasa merindukan dirimu.


Eh?


“Mas Reno suka bercanda deh,” ucap Cindy

__ADS_1


Jadi bisa kita bertemu?


Cindy berpikir sejenak.


“Oke, kita ketemu jam delapan malam, di taman dekat tempat kerja aku ya,” ucap Cindy.


Oke, dah. Sampai ketemu nanti malam. I love you


Panggilan langsung terputus.


Tut Tut Tut


I love you?


Cindy hanya bisa menghela napas panjang saat Reno mengatakan kata itu pada dirinya. Cindy merasa dirinya secepatnya harus mengungkapkan perasaannya ke Reno yang sebenarnya. Agar Reno tidak salah mengartikan perasaannya selama ini.


*****


Jam sudah menunjukan pukul delapan malam, Cindy bersiap untuk menemui Reno. Ravino kebetulan belum pulang, lalu Cindy mengirim pesan kepada bos-nya meminta ijin untuk keluar.


(Cindy)


Mas Ravi saya ijin keluar sebentar. Saya udah siapin makan malam di meja makan.


Cindy mengirimkan pesan itu kepada Ravino.


Cindy belum keluar dari apartemen sebelum pesannya dibalas oleh Ravino. Setelah menunggu beberapa saat ada pesan masuk dari bos-nya.


Silahkan. Tapi pulangnya jangan malam-malam.


Cindy sudah sampai di taman lalu mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok Reno. Pandangannya terhenti saat matanya melihat Reno sedang duduk di bangku taman. Cindy kembali melangkah untuk menghampiri Reno.


“Hai.” Cindy menepuk pundak Reno.


Reno sedikit tersentak, kemudian menyunggingkan senyumnya. Tanpa Cindy duga Reno menarik tangan Cindy yang ada pundak.


Reno membawa Cindy untuk duduk di sampingnya.


“Ini untukmu.” Reno memberikan satu ikat bunga mawar merah kepada Cindy.


“Terima kasih.” Cindy menerima bunga mawar itu dengan sedikit keraguan.


“Kamu apa kabar?” tanya Cindy.


“Aku baik,” jawab Reno. “Kamu sendiri apa kabar?” Reno balik bertanya kepada Cindy.


“Seperti yang kamu lihat,” jawab Cindy.


“Ya aku tahu, kamu pasti akan baik-baik saja dan kamu juga tambah cantik tentunya,” puji Reno.


“Mas Reno bisa saja.” Cindy salah tingkah saat Reno memberinya pujian.


“Kamu kayaknya betah kerja di sini,” kata Reno.


“Ya dong. Mas Ravi itu orangnya baik banget kok. Siapa yang gak betah kerja sama dia,” ucap Reno.


“Ya kamu benar. Mas Fajar juga sudah lama ikut Mas Ravino,” imbuh Reno.

__ADS_1


Hening mengambil alih suasana di antara Reno dan juga Cindy. Reno masih menggenggam erat tangan Cindy.


“Mas Reno ... bisa tolong lepaskan tanganku?” pinta Cindy.


Nampaknya Reno tidak ingin mendengarkan permintaan Cindy. Reno terus menggenggam tangan Cindy.


“Mas Reno, ada yang ingin aku katakan,” ucap Cindy.


“Cindy, ada yang ingin aku katakan,” ucap Reno.


Cindy dan Reno bertatapan dan saling menunjukkan senyum mereka.


“Kamu duluan,” ucap Reno.


“Gak, Mas Reno duluan,” balas Cindy.


“Baiklah, aku duluan,” ucap Reno.


Tiba-tiba Reno berpindah dan berlutut di hadapannya Cindy. Cindy terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Reno.


“Mas Reno ... mau ngapain?” gagal Cindy.


“Cind, kamu pasti sudah tahu 'kan, tentang perasaan aku ke kamu selama ini?” tanya Reno yang langsung dianggukki oleh Cindy.


“Dan malam ini aku ingin benar-benar menjalin hubungan yang serius denganmu,” ucap Reno.


Reno mengambil sesuatu dari saku jaketnya, sebuah kotak berwana merah. Reno membuka kotak itu yang ternyata isinya sebuah cincin emas.


“Cind, maukah kamu jadi pendamping hidup aku?” tanya Reno.


Cindy terkejut, ternyata Reno melamarnya. Bagaimana bisa, Reno berpikir untuk melamarnya?


Sudah berulang kali Cindy mengatakan kalau dirinya sama sekali tidak mempunyai perasaan apapun. Cindy pun melepaskan genggaman tangannya.


“Mas Reno ... maaf. Aku sudah pernah bilang ke kamu ... ku hanya menganggap kamu sahabat ... gak lebih dari itu. Aku juga gak mau nyakitin perasaan Mira, dia sayang banget sama kamu,” ucap Cindy.


“Tapi aku gak ada perasaan apapun ke Mira,” ucap Reno.


“Coba kamu sedikit buka hati kamu untuk Mira. Dia sayang banget sama kamu,” ucap Mira.


“Aku takut nantinya hanya akan nyakitin dia, aku takut gak bisa balas perasaannya dia,” ucap Reno. “Aku cinta sama kamu. Apa kamu tidak bisa memberikan aku kesempatan satu kali saja?”


“Maaf, Mas Reno ... aku tetep gak bisa,” ucap Cindy. “Tolong jangan paksa aku.”


“Kamu juga tolong jangan memaksaku untuk mencintai Mira,” balas Reno.


Reno berjalan mendekat lalu menggenggam tangan Cindy kembali.


“Aku gak akan maksa kamu buat balas perasaanku sekarang. Aku akan tetap menunggumu, sampai kamu bisa terima cintaku,” ucap Reno.


Cuup


Reno memberikan kecupan di kening Cindy sebelum ia pergi dari tempat itu.


Cindy menatap kepergian Reno. Ia tahu Reno pasti sangat kecewa. Namun, Cindy yakin jika suatu saat hati Reno yang patah akan kembali tertata.


“Maafin aku, mas Reno,” ucap Cindy.

__ADS_1


__ADS_2