Karya Gagal Kontrak

Karya Gagal Kontrak
Sembilan


__ADS_3

Cindy dan Reno sampai di pusat perbelanjaan. Setelah memarkirkan mobilnya keduanya turun dari dalam mobil.


“Ayo masuk,” ajak Reno.


“Eh, iya.” Cindy nampak gugup.


Cindy jelas gugup, itu karena Cindy baru pertama kali masuk ke tempat seperti itu.


Cindy tersentak kaget saat tiba-tiba Reno menggenggam tangannya.


“Eh? Mas Reno ... tangannya. Malu Mas dilihat banyak orang,” ucap Cindy.


“Maaf ya aku hanya takut kamu ilang,” ucap Reno diikuti dengan senyumannya.


“Iya, gak apa-apa.” Sebenarnya Cindy merasa tidak nyaman dengan tindakan Reno. Namun, Cindy juga takut dirinya tersesat di tempat ramai dan besar itu.


Keduanya masuk ke dalam pusat perbelanjaan dengan tangan yang menyatu. Cindy yakin seratus persen, jika Mira melihat itu pasti kemarahan sahabatnya akan semakin bertambah.


Cindy mengikuti Reno saat berada di dalam pusat perbelanjaan. Cindy mendorong troli dan mengambil barang-barang yang ia butuhkan dengan dibantu oleh Reno.


Cindy bingung harus membeli apa dan mau masak apa. Cindy pun berinisiatif untuk mengirim pesan kepada Ravino.


Nanti mau dimasakin apa nanti malam?


Cindy begitu senang saat membaca balasan pesan dari Ravino. Ternyata bos mudanya itu tidak membuatnya susah.


Hampir dua jam Cindy dan Reno berbelanja. Troli juga sudah terisi oleh belanjaan. Mereka langung pergi ke kasir untuk membayarnya.


*****


Sementara di kantor mood Ravino hari itu terlihat sangat bagus. Terlihat dari raut wajahnya yang bersinar, senyum yang selalu dia lemparkan ke setiap orang yang menyapanya.


Bagaimana tidak, hari itu Ravino berangkat ke kantor tidak dengan perut kosong.


Doni yang melihat itu turut senang. Meski dia tidak tahu apa yang membuat sahabatnya begitu senang hari itu.


“Wah ada apa nih, Rav? Aku lihat hari ini kamu bahagia banget?” tanya Doni.


Ravino beranjak dari kursi di balik meja kerjanya. Lalu bergabung dengan sahabatnya yang tengah duduk di sofa di ruangnya.


Mereka melanjutkan obrolan di tempat itu. Hingga bunyi ponsel Ravino menghentikan obrolan mereka sejenak.


Ravino mengambil ponsel dari mejanya untuk membaca pesan yang masuk ke dalam ponselnya.


Ternyata pesan dari Cindy.


Mas nanti malam mau dimasakin apa?


Ravino mengetikkan jarinya pada layar ponselnya untuk membalas pesan dari Cindy.


Apa saja aku bukan pemilih makanan.


Setelah selesai menulis pesan balasan untuk Cindy, Ravino menekan tombol send.


Doni yang penasaran dengan sang sahabat tiba-tiba merebut ponsel Ravino. Doni langsung mengerutkan keningnya.

__ADS_1


“Siapa Cindy?” tanya Doni.


“Asisten rumah tangga baru di apartemenku. Perempuan yang kerja di restoran mamah. Aku suruh kerja di apartemenku,” jawab Ravino.


“Maksudmu perempuan yang kemarin ngataian kamu mau makan gratis?” tanya Doni.


Doni mendapatkan jawaban dari anggukan kepala Ravino.


“Kok mesra banget manggilnya?” ledek Doni.


Doni langsung berubah menjadi seorang wartawan, bertanya ini dan itu kepada Ravino.


“Dia itu cantik juga loh, Rav. Bisa tuh kami jadiin dia selingkuhan,” ucap Ravino.


“Sembarangan.” Ravino melempar bantal sofa tepat mengenai wajah Doni.


Doni senang dengan keadaan sahabatnya itu, setidaknya Ravino tidak murung karena terus memikirkan tentang Gadis.


*****


Waktu sudah menunjukan pukul lima sore. Ravino dan Doni sudah keluar dari kantor. Keduanya melesat bersama menuju ke apartemennya.


Ravino mengajak Doni untuk makan malam bersama. Sebenarnya Doni 'lah yang memaksa untuk ikut.


Jalanan sudah mulai padat. Hampir tidak ada ruang untuk mobil melaju.


“Macet banget,” keluh Doni.


“Harusnya kamu tidak terkejut. Ini jam pulang kerja,” ucap Ravino.


“Fajar, kamu juga belum makan 'kan? Ayo kamu ikut sekalian ... kita makan bersama,” ajak Ravino pada asisten pribadinya.


“Iya, Pak,” sahut Fajar.


Fajar lalu turun dan mengikuti dua bos-nya.


Sebelumnya Ravino sudah memberitahukan kepada Cindy untuk masak sedikit lebih banyak, karena ada tamu pemaksa yaitu sahabatnya Doni.


Ravino, Doni, dan Fajar masuk ke dalam apartemen. Baru masuk beberapa langkah mereka sudah bisa mencium aroma masakan. Ketiga laki-laki itu bersama-sama melangkah ke meja makan.


“Kamu masak apa?” tanya Ravino yang langsung menolehkan pandangan Cindy.


“Eh, Mas sudah pulang. Selamat datang, Mas,” sapa Cindy seraya menata meja makan.


Ravino menyuruh Cindy untuk menambah piring untuk Fajar. Tidak lupa juga Ravino memperkenalkan Cindy kepada Doni dan Fajar.


Cindy mengulurkan tangannya kepada Doni lalu berganti dengan Fajar seraya memperkenalkan dirinya.


“Cindy,” ucap Cindy.


“Saya permisi ke dapur sebentar,” ucap Cindy.


Cindy kembali ke dapur untuk mengambil peralatan makan tambahan, juga makanan yang baru saja ia masak.


Tidak lama Cindy kembali berjalan ke arah meja makan. Mata Ravino melihat Cindy sepertinya kerepotan membawa peralatan makan. Laki-laki itu pun langsung membantunya. Ravino mengambil sebagian dari apa yang Cindy bawa.

__ADS_1


“Terima kasih, Mas Ravi,” ucap Cindy.


Setelah semua makanan siap di atas meja makan, Ravino, Doni, serta Fajar duduk bersama di meja makan.


Ravino melihat Cindy masih berdiri, ia pun langsung menyuruh Cindy untuk duduk dan bergabung bersama dirinya.


“Tidak, kalian makan saja dulu,” tolak Cindy.


“Ayolah, duduk saja,” suruh Ravino. “Kamu harus ingat ya perkataanku yang tadi pagi.”


“Eh, iya ... Mas.” Cindy akhirnya duduk bersama ketiga laki-laki itu.


Cindy melayani mereka bertiga bukan seperti seorang wanita dengan tiga suami, melainkan seorang ibu dengan tiga anak.


Saat tiga laki-laki akan memulai makan, tiba-tiba Cindy menghentikan mereka.


“Apa kalian sudah cuci tangan?” tanya Cindy.


Ravino, Doni, dan Fajar menggelengkan kepala mereka.


Cindy langsung memberikan tatapan tajam kepada ketiga laki-laki itu.


Seolah mengerti dengan tatapan mengerikan Cindy, ketiganya beranjak dari kursi dan segera mencuci tangan. Setelah mencuci tangan mereka duduk kembali di meja makan.


Ketiga laki-laki itu kembali menyendok makanan mereka masing-masing. Belum sempat makanan itu masuk ke dalam mulut, lagi-lagi Cindy menghentikannya.


“Ehemm.” Cindy berdehem.


“Ada apa lagi?” tanya Ravino.


“Berdoa dulu ... biar berkah,” ucap Cindy.


Ravino, Doni, dan Fajar menghela napas mereka. Meskipun kesal, tetapi mereka tetap saja mau melakukan apa yang Cindy perintahkan.


Cindy terkekeh sendiri melihat ekspresi ketiga laki-laki yang ada di hadapan mereka.


“Amin”


“Silahkan dimakan,” ucap Cindy. “Maaf cuma ini yang bisa saya masak.”


Cindy merasa cemas, dirinya takut jika bos dan kedua temannya itu tidak suka dengan makanan yang ia masak.


“Ini enak,” puji Ravino yang langsung diikuti anggukan oleh Doni dan juga Fajar.


Cindy langsung menarik napas lega dan berseru dalam hatinya. Ternyata mereka menyukai makana yang ia masak.


“Ayo kamu juga makan,” suruh Doni.


“Iya, Mas,” sahut Cindy.


Cindy mengisi piringnya sendiri dengan nasi dan beberapa lauk. Sejujurnya Cindy merasa tidak enak dan malu makan bersama mereka, tetapi Cindy masih ingat Ravino sudah mengatakan jika ucapannya adalah perintah untuk dirinya.


“Aku sudah kenyang,” ucap Cindy. “Kalian teruskan saja makannya.”


Cindy beranjak dari kursinya dengan membawa piringnya. Ia melanjutkan makannya di dapur.

__ADS_1


__ADS_2