Karya Gagal Kontrak

Karya Gagal Kontrak
Empat


__ADS_3

Cindy sampai di dalam tempat tinggalnya. Ia langsung melempar tasnya ke sembarang tempat dan langsung masuk ke kamar mandi. Cindy membersihkan tubuhnya yang sangat kotor itu.


Selesai mandi Cindy keluar dari kamar mandi dan langsung berganti pakaian. Cindy langsung merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Pandangannya menatap langit-langit kamarnya.


Sejenak Cindy memejamkan matanya untuk meredakan rasa lelah setelah seharian bekerja. Namun, baru beberapa detik Cindy memejamkan matanya, bayangan wajah laki-laki dingin itu melintas di pikirannya.


Cindy bangun lalu mengambil posisi duduk. “Tampan tapi sangat menyebalkan. Awas saja jika aku bertemu dengannya lagi.”


*****


Sementara di tempat lain.


“Sialan!”


Seorang laki-laki mengumpat kesal di dalam mobilnya yang sedang melaju. Laki-laki yang memiliki nama Ravino Arga Wijaya memukul gagang setir untuk melampiaskan amarahnya.


Kejadian beberapa menit yang lalu benar-benar membuat dirinya merasa kesal.


“Dia berani memakiku! Menyebutku dengan sebutan laki-laki kulkas?” Ravino menggenggam kuat gagang setir mobilnya.


“Awas saja jika aku bertemu dengannya lagi. Aku tidak akan mengampuni dirinya,” batin Ravino.


Ravino merasa hidupnya beberapa hari ini sungguh sangat berat. Hubungannya dengan Gadis, istri sirinya makin tidak jelas.


Setiap kali Ravino mencoba menghubunginya selalu saja Gadis beralasan sibuk. Sebenarnya apa istrinya sesibuk itu istrinya.


Ravino mengendarai mobilnya masuk ke gedung apartemennya. Mobilnya melaju menuju arah basemant. Setelah memarkirkan mobilnya di basemant, Ravino keluar dari mobilnya.


Ravino melangkahkan kakinya ke arah lift yang akan membawanya ke unit apartemennya. Sampai di depan apartemennya Ravino menekan tombol pascode yang ada di pintu.


Setelah pintu terbuka Ravino masuk ke dalam apartemennya. Ia menjatuhkan tubuhnya di sofa yang ada di ruang tamu apartemennya.


Pikirannya melayang mengingat memikirkan tentang Gadis, istri siri-nya. Masih terlihat jelas dibenaknya pernikahannya dengan Gadis beberapa bulan yang lalu.


Pernikahan adalah sebuah hal yang paling dinanti oleh setiap pasangan. Sebagai bukti keseriusan dan ketulusan satu sama lain untuk hidup bersama meski dengan sebuah kata perbedaan. Akan tetapi tidak dengan bernama gadis Hendrawan. Gadis memilih untuk menikah siri dengan kekasihnya, Ravino Arga Wijaya, karena takut karirnya akan hancur.


Sah!


Suara itu terdengar di dalam sebuah apartemen mewah. Sepasang kekasih sedang melakukan sebuah pernikahan. Namun, tidak seperti pernikahan pada umumnya, pernikahan itu hanya dihadiri oleh beberapa orang saja.


Seorang wanita cantik, seksi, putih tinggi, dan seorang pria tampan. Seorang model dan pengusaha muda, Gadis Hendrawan dan Ravino Arga Wijaya memilih untuk menyembunyikan pernikahan mereka dari publik.


“Selamat, Rav,” ucap Doni sahabat Ravino.


“Thanks,” balas Ravino.

__ADS_1


“Selamat juga buat kamu juga, Dis,” ucap Doni.


“Terima kasih juga karena kamu sudah mau menjadi saksi pada pernikahan kami,” ucap Ravino.


“Sama-sama,” ucap Doni.


Malam pun datang, semua orang yang sempat menghadiri pernikahan itu sudah pulang.


Sebenarnya Ravino tahu jika Gadis belum ingin menikah dengannya karena masih ingin berkarir. Namun, Ravino ingin kejelasan akan hubungannya dengan Gadis. Entah apa yang dipikirkan oleh Ravino, dia menyetujui ide gila Gadis dengan menikah siri dengannya.


“Sayang,” panggil Ravino sambil memeluk Gadis dari belakang.


“Hmmm,” guman Gadis.


“Kenapa kamu berdiri dan melamun di sini? Apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Ravino.


“Aku cuma sedikit khawatir,” jawab Gadis.


“Apa yang kamu khawatirkan?” Ravino bertanya lagi.


“Kamu yakin, pernikahan ini tidak akan sampai ke media?” Nada bicara Gadis terdengar sangat khawatir.


Ravino melepas pelukannya kemudian membalik tubuh Gadis. Kini keduanya berdiri saling berhadapan.


“Hah, kamu jangan bercanda. Aku tidak mau karirku hancur.” Gadis terlihat sangat tidak suka dengan perkataan Ravino.


“Sepenting itu karirmu dari pada aku?” tanya Ravino. “Aku masih bisa memberimu kehidupan yang layak tanpa kamu harus bekerja.”


“Aku tidak mau membahas masalah ini. Sebelum kita menikah aku sudah mengatakannya dan kamu menyetujuinya,” balas Gadis tak mau kalah.


Ravino hanya bisa menghela nafasnya. Mungkin cintanya yang begitu besar pada Gadis membuatnya memilih untuk diam dan mengalah.


“Oke. Baiklah aku tidak akan mengungkitnya lagi. Aku akan menunggu sampai kamu benar-benar siap untuk mempublikasikan pernikahan kita,” ucap Ravino.


“Hmm.”


Setelah perdebatan, akhirnya mereka memilih untuk istirahat dan melakukan ritual malam pertama mereka. Mungkin untuk Ravino, tetapi tidak untuk Gadis dan Ravino tahu itu.


*****


Keesokan hari nya


Ravino terbangun dari tidurnya. Ia merasa sangat bahagia saat dirinya membuka mata ada wanita yang sangat dia cintai berada di hadapannya.


Ravino mencium kening Gadis yang masih terlelap dengan sangat lembut. Ravino perlahan turun dari ranjang agar tidak membangunkan istrinya.

__ADS_1


Ravino berjalan menuju kamar mandi. Sepuluh menit kemudian Ravino keluar dari kamar mandi dan melihat Gadis sudah bangun. Istrinya tengah duduk bersandar pada kepala ranjang.


“Morning, Sayang,” sapa Gadis sambil tersenyum ke arah Ravino.


Ravino membalas dengan senyumannya. “Morning juga, Sayang.”


Gadis turun dari ranjang berjalan menuju lemari pakaian. Gadis mengambil pakaian kerja untuk suaminya.


“Terima kasih, Sayang,” ucap Ravino.


“Sama sama, Sayang,” balas Gadis.


Gadis melangkah menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri, membiarkan suaminya untuk berganti pakaian.


Berapa saat kemudian Ravino sudah siap untuk berangkat ke kantornya, sedangkan Gadis masih berada di dalam kamar mandi.


Tok Tok Tok


“Sayang, kamu masih lama?” tanya Ravino.


“Ya, Sayang. Kamu sudah siap ke kantor?” tanya Gadis dari dalam kamar mandi.


“Ya,” jawab Ravino.


“Aku masih lama, Sayang. Kamu sarapan di kantor saja ya,” suruh Gadis.


Ravino hanya bisa menghela nafas panjang. “Oke. Aku berangkat dulu.”


Cinta memang buta.


Ravino keluar dari apartemennya, ia menuju ke arah lift. *Pintu lift terbuka, Ravino sampai di parkiran apartemen miliknya. Dia langsung melesat menuju kantor.


Biasanya Ravino diantar jemput oleh sopir pribadinya, tetapi kali ini Ravino mengemudikan mobilnya sendiri karena dia tidak ingin ada yang tahu tentang pernikahannya*.


Satu jam perjalanan akhirnya Ravino sampai di kantornya dan masuk ke dalam gedung tinggi itu. Di kantornya banyak karyawan yang menyapanya, Ravino membalas dengan senyuman.


“Eh, tumben si Bos senyum,” bisik salah satu karyawan.


“Hust, jangan keras-keras. Kalau bos dengar bisa kena masalah kamu,” balas karyawan yg lain.


Itulah saat-saat yang paling membuat Ravino bahagia. Sebelum akhirnya Gadis meminta izin untuk pergi ke luar negeri, melanjutkan karirnya sebagai model di sana.


Ravino bersandar pada bantalan sofa dan mencoba menutup mata, mencoba untuk membuang pikiran negatif tentang Gadis. Akan tetapi saat Ravino menutup matanya. Entah kenapa bayangan perempuan yang beberapa saat yang lalu berdebat dengannya melintas dipikirannya.


“Arrgh! Kenapa perempuan itu bisa datang di pikiranku?” Ravino mengusap wajahnya kasar.

__ADS_1


__ADS_2