
Cindy sangat terkejut saat mendengar jika Reno akan menggantikan Fajar sementara. Itu berarti dirinya dan Reno akan sering bertemu. Cindy merasa takut jika nantinya Reno tahu tentang perjanjian dirinya dan Ravino, Reno akan mengadukannya kepada Mira.
"Cind, kenapa kamu terkejut mendengarnya?" tanya Reno.
"Ti-dak apa-apa," gagap Cindy.
"Kamu tidak senang jika aku bekerja di sini? Kalau aku merasa senang karena bisa sering-sering bertemu denganmu," ucap Reno.
Cindy hanya merespon perkataan Reno dengan senyuman yang canggung. Beruntung Ravino segera keluar dari membuat pembicaraan dirinya dan Reno berhenti.
"Cindy, saya nanti pulang terlambat. Kamu jangan masak makan malam ya." Ravino bicara sambil berjalan menuruni anak tangga.
"Iya, Mas," sahut Cindy.
"Ayo, Reno kita berangkat," ajak Ravino.
"Baik, Pak." Reno membawa tas kerja milik Ravino.
Cindy mengantar Ravino sampai pintu. Setelah Ravino dan Reno pergi, Cindy kembali menutup pintu.
-
-
-
Hari sudah menjelang sore. Cindy duduk di ruang tengah sambil menonton acara di TV. Berulang kali Cindy mengganti channel TV tanpa tahu acara mana yang akan ia tonton. Merasa bosan Cindy memilih untuk mematikan TV.
Cindy duduk dengan menyenderkan kepalanya di punggung sofa yang ia duduki. Pandangannya melihat ke atas, menatap langit-langit ruangan itu. Cindy sedang dirundung kegelisahan karena Reno. Selama sehari itu bahkan Cindy tidak berminat untuk bekerja. Apartemen itu Cindy biarkan berantakan.
"Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan?" Cindy mengusap wajahnya secara kasar, terlihat sekali jika dirinya sangat frustrasi.
*****
Setelah sebulan dirinya merasa gelisah, Cindy merasa lega saat Reno sudah tidak lagi menjadi sopir Ravino. Fajar sudah kembali dan Reno juga sudah kembali bekerja di restoran. Namun, ada satu hal lagi yang membuat Cindy merasa bingung yaitu Ravino tiba-tiba mengajaknya pergi ke Singapura.
Ravino dan Cindy sudah berada di jet pribadi yang Ravino sewa. Cindy terkagum-kagum melihat kemewahan dari pesawat itu. Dan untuk pertama kalinya juga Cindy menaiki pesawat terbang.
"Mas Ravi, tumben mengajak aku pergi ke luar negeri." Cindy berucap tanpa berhenti mengedarkan pandangannya ke sekeliling pesawat itu.
"Tentu saja aku harus mengajakmu, karena kita akan menikah di sana," jawab Ravino.
__ADS_1
"Menikah? Secepat ini?" Jantung Cindy berdegup begitu kencang saat mendengar kata menikah.
"Iya, tentu saja. Kamu tidak lupa dengan perjanjian kita, 'kan? Aku ingin secepatnya mendapatkan apa yang aku mau darimu," ucap Ravino.
Cindy tenggelam dalam diam, raut wajahnya berubah sedih. Namun, kesedihan Cindy berubah tiba-tiba saja ia merasakan gejolak di dalam perutnya.
Cindy merasa mual, ia langsung menutup mulutnya agar isi perutnya tidak keluar.
"Kamu kenapa Cindy?" tanya Ravino.
Cindy hanya mampu menjawab dengan menggelengkan kepalanya.
"Hooek!" Cindy kembali merasa mual.
"Kamu mabuk udara?" tanya Ravino.
Cindy langsung menjawab dengan menganggukkan kepalanya.
"Ya Tuhan." Ravino mengusap wajahnya secara kasar. "Pergilah ke kamar mandi di belakang sana."
Rasa mual Cindy tidak berakhir begitu saja. Semuanya selesai saat pesawat itu mendarat di bandara Singapura. Ravino terpaksa harus menuntun Cindy keluar dari bandara karena wanita itu terlihat sangat lemas.
Hening mengambil alih suasana di sepanjang perjalanan mereka. Cindy bahkan sudah tertidur dengan begitu pulasnya. Ravino membiarkan itu. Setelah sampai ke tempat yang mereka tuju barulah Ravino membangunkan Cindy.
"Hai, bangun! Kita sudah sampai." Ravino membangunkan Cindy dengan cara menepuk-nepuk pipi Cindy.
Cindy mulai membuka matanya, beberapa kali Cindy juga mengedipkan matanya berulangkali agar bisa beradaptasi dengan cahaya di sekitanya.
"Kita di mana, Mas?" tanya Cindy.
"Ini rumah yang aku sewa selama kita tinggal di sini," jawab Ravino.
"Oh." Cindy manggut-manggut untuk merespon perkataan Ravino.
"Ayo, turun!" ajak Ravino yang langsung dianggukki oleh Cindy.
Ravino lebih dulu keluar dari mobil alu disusul oleh Cindy. Cindy melihat pemandangan malam di sekelilingnya. Tempatnya tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa pejalan kaki yang melintas di tempat itu. Mungkin karena sudah malam.
"Ayo, masuk!" ajak Ravino.
Cindy menganggukkan kepalanya lalu melangkah mengikuti Ravino. Sampai di dalam rumah, Cindy langsung menjatuhkan talak tubuhnya di sofa yang ada di ruang tamu. Kepalanya Cindy sandarkan ke punggung sofa sambil memijit pelipisnya.
__ADS_1
"Kamu payah sekali? Perjalanan dekat saja kamu sudah seperti ini. Bagaimana jika kita melakukan perjalanan yang lebih jauh dari ini? Mungkin kamu bisa pingsan di pesawat." Ravino memberikan teh hangat kepada Cindy. "Ini minumlah!"
"Terima kasih, Mas." Cindy menerima teh yang diberikan oleh Ravino.
Cindy meminum teh hangat yang diberikan oleh Ravino. Setelah meminumnya perasaanya jauh lebih baik. Cindy meletakan cangkir teh ke atas meja yang ada di hadapannya. Sejenak ia memandang Ravino yang sedang duduk di sampingnya. Ada keraguan untuk Cindy bertanya kepada Ravino. Akan tetapi Cindy harus meminta penjelasan pada Ravino akan pernikahan yang sebelumnya dia ucapkan.
"Mas Ravi ...," panggil Cindy.
"Hmmmmm, ada apa?" Ravino bertanya tanpa melihat ke arah Cindy. Ravino lebih fokus pada ponsel yang ada di tangannya.
"Mas Ravi beneran ... kita ke sini mau menikah?" tanya Cindy dengan ragu-ragu.
Ravino menoleh sekilas ke arah Cindy, menatapnya dalam-dalam. "Tentu saja, sesuai rencana."
"Kapan kita akan menikah?" tanya Cindy.
"Besok pagi," jawab Ravino.
"Apa? Besok pagi! Apa tidak terlalu cepat, Mas?" Cindy sangat terkejut mendengar jawab Ravino apalagi Cindy belum masih belum menyiapkan mentalnya.
"Kenapa? Lebih cepat lebih baik, 'kan?" ucap Ravino.
"Sudahlah cepat istirahat! Persiapkan dirimu untuk besok." Ravino berdiri dan meninggalkan Cindy yang sedang merasa gelisah.
Keesokan harinya di dalam rumah yang Ravino sewa ada beberapa orang dan seorang penghulu yang akan menikahkan mereka. Cindy dan Ravino duduk bersebelahan di hadapan penghulu. Ravino menjabat tangan penghulu itu dan siap untuk mengesahkan Cindy sebagai istrinya secara agama.
"Sah!"
Satu kata itu pertanda Ravino dan Cindy resmi menjadi suami-istri. Dengan disaksikan beberapa orang sebagai saksi pernikahan mereka berdua, Ravino memasangkan cincin di jari manis Cindy begitupun sebaliknya.
Malam pun tiba, Ravino dan Cindy berada di satu kamar yang sudah dihiasi dengan berbagai bunga. Perasaan Cindy berkecamuk saat itu. Dirinya sudah memakai pakaian tidur yang sangat tipis, tetapi hatinya masih belum siap untuk menyerahkan tubuhnya pada Ravino. Apa yang tengah dirasakan oleh Cindy terlihat jelas di mata Ravino. Laki-laki itu mengela napasnya sebelum mengeluarkan suaranya.
"Kalau kamu belum siap untuk melakukannya malam ini, aku tidak akan memaksa," ucap Ravino membuat Cindy menghembuskan napas lega.
"Kenapa Mas Ravi menginginkan anak dari saya? Teman-teman perempuan mas Ravi selama ini cantik-cantik," tanya Cindy.
"Karena ada kesempatan," jawab Ravino. Sebenarnya Ravino pun tidak tahu kenapa, ucapan itu meluncur saja dari pikirannya.
Cindy hanya berpikir dalam diam, semuanya sudah telanjur. Dirinya sudah menerima syarat dari bosnya dan tidak mungkin dirinya mengingkari janjinya.
"Berikan saya sedikit waktu, Mas. Setelah saya siap, saya tidak akan menundanya," ucap Cindy.
__ADS_1