
Acara tujuh bulanan sudah selesai dua hari yang lalu. Cindy masih disibukan oleh acara pernikahan Reno dan Mira yang akan di laksanakan tiga hari lagi. Banyak orang orang berbisik bisik perihal Cindy yang pulang dengan keadaan tengah berbadan dua. Tetapi Cindy menganggapnya biasa, anggap saja dirinya artis yang sedang naik daun.
Malam midodareni tiba, Mira merasakn debaran jantungnya sangat cepat. Cindy mencoba menenangkan sahabatnya. Besok adalah hari dimana Reno akan mengucapkan ijab kobul dan Mira akan sah menjadi istrinya.
"Cind lo kenapa gak sekalian aja ngadain resepsi disini..?" tanya mira tiba tiba.
Cindy bukannya tak mau, bagaimana bisa dia melaksanakan resepsi tanpa restu dari bu Desi.
"Gak bisa lah Mir, kamu kan tau bu Desi belum ngerustuin hubungan aku sama suamiku." ucap sendu Cindy.
" Iya ya Cind, lagian lo juga gak bakalan bisa ngikutin ritualnya. Perut lo udah gede, mana bisa lo jongkok trus basuh kaki suami lo, adanya lo keberatan perut, hahahhahaaaa." Celotehan Mira berhasil membuat Cindy tertawa. Benar juga kata Mira, gak mungkin ia bisa ngikutin ritual pernikahan dimana sang mempelai wanita harus membasuh kaki mempelai laki lakinya.
Tawa mereka terhenti saat saudara Mira mengatakan kalau ada temennya yang datang ingin menemuinya. Cindy dan Mira bergegas keluar dari kamar pengantin untuk menemuai sahabat sahabat lama mereka.
"Hay Mira selamat ya, semoga jadi keluarga yang samawa", ucap salah seorang teman Mira yang bernama Rini.
"Makasih ya udah pada mau datang", balas Mira.
Lalu Mira mempersilahkan ketiga sahabatnya untuk duduk. Mereka berlima duduk dan tertawa bersama di sela obrolan mereka.
"Cind aku denger kamu udah hamil tujuh bulan, kamu juga nikah sama bos mu, kaya apa sih orangnya jadi isti keberapa kamu'', tanya Rini dengam nada mengejek. Mira ingin sekali menjambak rambut Rini yang memang tidak suka sama Cindy dari dulu.
"Oh iya Cind, suami lo kemana", tanya Mira.
Cindy melihat kesana kemari untuk mencari suaminya. Seseorang menyetuh pundaknya mengejutkan Cindy.
''Eh, Mas Ravi dari mana..!"
"Habis ngobrol sama Reno ma Fajar juga".
__ADS_1
"Mas ini kenalin, temen temen Cindy"
Ravino tersenyum manis ke arah mereka, sontak membuat ketiga sahabat Cindy tersenyum kikuk. Mereka berfikir kalo suami Cindy itu om om, yang suka menyimpan banyak perempuan untuk di jadikan selingkuhannya.
"Serius ini suami kamu Cind..!"
Mira dan Cindy tersenyum lalu menganggukan kepalanya bersamaan, tetapi didalam hati keduanya mereka puas melihat ekspresi konyol ketiga temannya yang sebelumnya mengejek Cindy.
"Iya gue suami Cindy dan Cindy adalah satu satunya istri gue", ucap Ravino penuh penekanan kepada ketiga teman teman Cindy yang memang tadi sedikit mendengar ejekan mereka terhadap istrinya.
"Wah hebat kamu Cindy bisa dapat suami ganteng , kaya lagi", ucap salah Rini.
"Iya bener ini sih namanya Cinderlella zaman now ya", ucap Kiki.
Mira mempersilahkan Rini, Kiki dan Sari untuk menikmati makanan yang sudah di tersedia. Ravino mengajak Cindy untuk pulang karena sudah terlalu malam. Cindy mengangguk lalu berdiri di bantu oleh suaminya.
"Harus dong"
Mira dan Cindy cipika cipiki lalu saling melambaikan tangan. Setelah sampai di rumah, Cindy merebahkan badannya di ranjang bersandar bantal. Dilihatnya suaminya sedang duduk di jendela memandang langit malam. Cindy menghampiri suaminya lalu memeluknya dari belakang, membuat Ravino sedikit tersentak.
"Mas Ravi, lagi melamun ya", tanya Cindy
"Gak kok, cuma sedikit kepikiran sama mamah", jawab Ravino.
"Kenapa gak telepon..!"
"Sudah. Tapi mamah gak mau angkat"
Ravino menutup jendela kamar Cindy, lalu menarik istinya kedalam pelukannya.
__ADS_1
"Kamu bahagia sayang..?" Ravino menangkup kedua sisi wajah Cindy.
"Apa aku punya alasan untuk tidak bahagia"
Ravino tersenyum lalu mencium kening istinya dengan sedikit lama, lalu memeluk istrinya kembali. Cindy sekarang begitu manja padanya, mungkin bawaan bayi mereka.
"Mas, boleh aku tanya sesuatu..!"
"hmmm"
"Kenapa Mas Ravi milih aku..! Aku anak orang miskin gak bisa kasih kamu apa..?"
Ravi terkekeh. "Aku sudah punya banyak harta, status sosial yang tinggi, aku tak menginginkannya dari kamu. Yang aku butuh dari kamu adalah dirimu, ketulusanmu serta anak yang ada di dalam kandunganmu." ucap panjang lebar Ravino kepada istrinya.
Mendengar perkataan suaminya, Cindy sangat beruntung dipertemukan dengan laki laki dihadapannya sekarang. Air mata bahagia tak bisa dibendung lagi. Ravino tersenyum dan menghapus air mata istrinya. Lalu mengecup kening, pipi lalu menuju bibirnya.
Cukup lama mereka saling berbalas ciuman dibibir mereka. Ravino lalu melepas tautan bibirnya untuk memberi kan kesempatan istrinya untuk menarik nafas, sebelum dia kembali melumatnya.
"I love you my wife"
"I love you my hubby"
Ravino langsung menganggat tubuh istrinya menuju ranjang dan menghabiskan malam mereka dengan kegiatan panasnya.
*Terima kasih semua yang sudah berkenang hadir disini. Mohon like 👍, favorit ❤ rate ⭐⭐⭐⭐⭐ dan votenya juga boleh.
Mampir juga ke novel terbaru ku berjudul Raja dan Ratu.
Happy reading gaess*
__ADS_1