
"Mas, aku ingin melihat ibu," pinta Cindy di sela Isak tangisnya.
"Ibumu mungkin sudah dibawa pulang," ucap Ravino.
Cindy langsung menarik dirinya dari dekapan Ravino memohon kepada suaminya untuk membawanya pulang.
"Tolong, Mas, bawa aku pulang. Aku ingin melihat ibu untuk yang terakhir kalinya. Tolong, Mas. Aku mohon." Cindy menyatukan tangannya memohon kepada suaminya untuk membawanya pulang.
Sebenarnya Ravino tidak bisa mengambil resiko dengan keadaan Cindy. Namun, dirinya juga merasa kasihan melihat Cindy yang terus menerus memohon untuk dipertemukan dengan ibunya untuk yang terakhir kalinya.
"Baiklah, ayo kita pulang dan mengurus pemakaman ibu dulu," ucap Ravino.
*****
Acara tahlilan hari ke-tujuh kematian ibunya Cindy sudah selesai. Cindy duduk terdiam di jendela kamarnya ditemani Mira oleh Mira. Sedangkan Doni dan Sandra sudah pulang dari dua hari yang lalu. Sudah dari pagi Cindy tidak ingin makan dan Mira sedang berusaha untuk membujuknya.
"Cind, makan ya. Kami belum makan dari tadi pagi loh," bujuk Mira.
"Aku tidak lapar, Mir," tolak Cindy.
Mira menghela napasnya karena Cindy terus saja menolak untuk makan. Pandangan Mira terarah ke depan pintu kamar Cindy, ada Ravino di depan sana.
"Mas —" Mira diam setelah Ravino mengisyaratkan kepada dirinya untuk diam.
Ravino berjalan menghampiri Cindy dan Mira, ia mengambil piring di tangan Mira dan berusaha untuk membujuk Cindy untuk makan.
"Mira, bisa tolong tinggalkan aku dan Cindy berdua," ucap Ravino.
"Baik, Mas Ravi." Mira keluar dari kamar Cindy meninggalkan Ravino dan Cindy berdua.
Ravino ikut duduk di jendela tepat di hadapan Cindy.
"Apa kamu masih mual?" tanya Ravino.
Cindy hanya menggelengkan kepalanya tanpa mengatakan apapun.
"Kamu boleh marah padaku. Tapi tolong jangan siksa anak kita. Dia juga butuh makan dan dia makan dengan mengandalkan dirimu," ucap Ravino.
"Please, makan ya," bujuk Ravino.
Ravino menyodorkan sendok ke mulut Cindy. Usahanya tidak sia-sia Cindy akhirnya mau membuka mulutnya. Ravino merasa lega, walaupun cuma beberapa suap saja yang terpenting ada makanan masuk ke dalam perut Cindy.
Ravino meletakan piring sisa makanan di meja kamar Cindy lalu kembali duduk di jendela.
"Besok aku harus kembali ke Jakarta. Ada meeting penting dengan klien dan harus aku yang datang," ucap Ravino.
__ADS_1
Tidak ada tanggapan dari Cindy, Ravino menghela napasnya dan berniat keluar dari kamar Cindy untuk memberi ruang pada istrinya itu untuk sendiri.
Cindy menahan lengan suaminya dan berkata, "Bolehkah aku tetap di sini sampai hari ke 40 saja?"
Ravino tersenyum lalu mengangguk.
"Dengan satu syarat, jaga kondisimu serta anak di dalam perutmu," ucap Ravino seraya mengusap perut Cindy yang masih rata itu.
Cindy tersenyum sambil mengusap perutnya. "Maaf untuk perkataanku waktu di rumah sakit. Aku egois dengan mengatakan hal seperti itu padamu."
"Lupakan saja." Ravino mengusap pipi Cindy dan mencium keningnya.
Suara ketukan pintu di depan kamarnya membuat Cindy dan Ravino terkejut, dengan cepat mereka melepaskan genggaman tangan mereka.
"Mba Cindy." Adiknya Cindy Aryo mengisyaratkan pada Cindy untuk mendekat.
Aryo membisikan sesuatu ke telinga Cindy, sesekali mata Cindy melirik ke arah Ravino yang masih duduk di jendela kamarnya. Aryo keluar dari kamar Cindy, dan Cindy menghampiri suaminya.
"Jadi kamu juga belum dari tadi pagi?" tanya Cindy.
"Bagaimana aku bisa makan kalau kamu juga tidak mau makan," jawab Ravino.
"Ayo keluar. Aku akan menyiapkan makanan untukmu," ajak Cindy.
Cindy keluar kamar bersama Ravino, orang yang berada di sana berbisik-bisik mengenai kedekatan Cindy dengan bosnya, bahkan ada yang bilang secara terang terangan kalau Cindy mungkin sudah menjadi simpanan bosnya itu. Cindy dan Ravino bisa sedikit mendengar ucapan para tetangganya. Namun keduanya seolah tidak terpengaruh oleh ucapan tetangga usil itu.
"Apa kamu kerasukan?" ejek Ravino.
Tidak ada tanggapan dari Cindy, dia lebih memilih untuk menikmati bakso di hadapannya. Merasa tidak dipedulikan Ravino merebut mangkok bakso di tangan istrinya dan langsung memakan sisa bakso yang ada di mangkok.
Cindy merasa kesal pada suaminya yang seenaknya mengambil makanannya.
"Lumayan bakso ini enak juga," guman Ravino dalam hati.
"Mas Ravi, ini punyaku. Kalau Mas mau beli sendiri sana," ucap Cindy.
Ravino menggelengkan kepalanya dan menggerakan jari telunjuknya di hadapan wajah Cindy.
"Kamu sudah makan tiga porsi bakso apa masih belum kenyang?" ucap Ravino dengan mulut penuh mie dan tanpa melihat ekpresi istrinya.
Ravino berhenti makan saat melihat ekpresi istrinya yang matanya sudah berkaca-kaca dan langsung menghela napas panjang. "Oke, kamu borong saja semua bakso yang masih tersisa!"
"Serius?" tanya Cindy yang langsung dianggukki oleh Ravino.
Cindy langsung mengubah ekpresinya tanpa sadar Cindy langsung memeluk suaminya itu.
__ADS_1
"Eheeeem, Eheeeem." Aryo berdehem menyadarkan apa yang tengah dilakukan oleh kakaknya.
Cindy langsung melepas pelukannya dan tersenyum canggung. "Maaf, Mas Ravi."
Apa salahnya kalau aku peluk suami sendiri.
Cindy berjalan cepat untuk menghampiri tukang bakso langganannya.
Tepat pukul 12 malam Ravino duduk di bangku depan rumah Cindy sambil melihat foto-foto Cindy saat di singapore. Senyum penuh ketulusan tergambar di wajah cantik alaminya.
"Eheem, eheeem." Pak Rohim berdehem dan menghampiri Ravino lalu duduk di sampingnya. "Pak Ravi belum tidur, ini sudah malam?"
"Saya belum mengantuk, Pak," jawab Ravino.
Ravino terbiasa tidur memeluk istrinya. Namun sekarang mereka tidur terpisah. Jadi bagaimana dia bisa tidur?
"Maafkan kelakuan anak saya Cindy. Dia seperti anak kecil dan sudah bersikap kurang ajar ke Anda." Pak Rohim yang sempat melihat Cindy memeluk Ravi membuatnya menjadi tidak enak hati kepada Ravino.
"Apa di sana Cindy seperti ini?" tanya Rohim.
Ravino tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Tidak Pak Rohim, Cindy di sana sangat dewasa. Bahkan bisa seperti seorang ibu."
"Benarkah? Jujur saya merasa tidak enak dengan sikap Cindy tadi," ucap Rohim.
"Jangan dipikirkan, Pak. Saya tidak masalah. Dan tolong Pak Rohim, saya lebih muda dari Bapak, Bapak cukup memanggil saya dengan nama saja," ucap Ravino.
Melihat betapa baiknya Bos anaknya itu, Rohim merasa hatinya tenang membiarkan Cindy di ibu kota sendiri.
"Baiklah, Nak Ravi. Saya berhutang banyak sama Nak Ravi, maaf saya belum bisa membayar hutang-hutang saya kepada Nak Ravi," ucap Pak Rohim.
"Tenanglah, Pak Rohim. Bapak tidak perlu khawatir Cindy sudah membayar semuanya dengan ...." Seketika Ravino menghentikan kata-katanya hampir saja Ravino kelepasan bicara.
"Maaf, Nak Ravi, tadi bilang Cindy sudah membayarnya dengan apa?" Rohim menatap Ravino dengan kecurigaan.
Ravino memutar otaknya untuk memberikan alasan yang tepat. "Dengan bekerja di tempat saya selama 10 tahun, dia bilang begitu," jawab Ravino asal.
Hampir saja aku kelepasan bicara. Aku tidak bisa membayangkan saat beliau tahu Cindy membayar semua hutannya dengan mengandung benihnya.
Meskipun Ravino sudah menjelaskan, tetapi tidak dipungkiri kebimbangan masih ada di dalam hati Rohim. Namun Pak Rohim menyimpan semua di dalam hatinya.
"Ya sudah saya tinggal masuk dulu Nak Ravi. Ini juga sudah malam, sebaiknya Nak Ravi juga istirahat," ucap Rohim.
"Baik, Pak. Sebentar lagi saya akan masuk," ucap Ravino.
Tidak lama setelah Rohim masuk, Ravino juga masuk. ******* napasnya terasa begitu berat saat melihat kamar Cindy yang tertutup. Ingin rasanya Ravino membelokan langkanya dan menyelinap masuk ke kamar Cindy. Namun Ravino mengurungkan niatnya mengingat keberadaan mereka sekarang.
__ADS_1
Di kamarnya Cindy masih duduk di ranjang bersandar bantal. Dia juga tidak bisa tidur tanpa pelukan hangat suaminya. Saat sedang melamun tiba-tiba saja ponselnya berdering. Dilihat ada chat dari suaminya, senyum mengembang di bibir Cindy dan segera membuka isi chat itu. Cukup lama Cindy dan Ravino berbalas saling berbalas pesan sampai keduanya tidur dengan sendirinya di kamar masing-masing.