
Usia kehamilan Cindy sudah memasuki bulan ke tujuh. Sudah tak ada alasan lagi untuk menyembunyikan dari pak Rohim ayah Cindy. Jet pribadi milik Ravino sudah mendarat di bandara kota, yang tak terlalu jauh dari desa Cindy. Selain untuk menghadiri pernikahan Reno dan Mira, Cindy akan menadakan acara Mitoni atau tujuh bulanan.
Fajar sudah menunggu di luar pesawat, untuk menjemput kedua bosnya. Cindy menuruni anak tangga di pintu pesawat, perut yang semakin membesar membuatnya sedikit kesulitan.
"Makasih jar."
"Sama sama Cind, eh maksudnya Mba.''
"Ah, mas Fajar kaya sama siapa aja. Panggil aku seperti biasa aja", pinta Cindy.
Fajar merasa tak enak.Karena sekarang dirinya tahu kalau Cindy adalah istri dari Bosnya. "Gak lah Cind, aku gak enak. Sekarang kamu kan istrinya mas Ravi."
"Terserah Mas Fajar aja lah."
-
-
-
Mobil sudah memasuki halaman umah Cindy, Rohim ayahnya dan juga Aryo adiknya. Jantung Cindy berdebar ada rasa ragu dan takut untuk bertemu dengan ayahnya. Ravino menggenggam tangan istri.
"Ada aku", ucapnya seraya tersenyum pada sang istri.
Faja membukakan pintu mobil untuk Cindy, perlahan kaki Cindy keluar dar Mobil. Saat Fajar menutup mobil, Rohim terkejut melihat bentuk tubuh anaknya. Melihat Ravino merangkul anaknya serta meminta untuk berbicara di dalam rumah, Rohim sudah menduga sudah terjadi sesuatu antara anak dan bosnya.
"Nak Ravi, pasti nak Ravi sudah tahu apa yang akan bapak tanyakan..!'' Ravino langsung mengangguk.
" Sebelumnya saya minta maaf, menyembunyikan dari bapak. Anak yang Cindy kandung, itu darah daging saya.'' Ravino terdiam sejenak. "Tapi saya bersumpah, Cindy hamil setelah saya menikahinya.''
Ravino melihat keterkejutan dari bapak mertuanya, tapi Ravino sudah menyiapkan diri untuk segala hal buruk yang akan ia terima dari Mertuanya.
"Bapak kecewa sama kalian berdua, kenapa kalian tidak memberitahu pada bapak", ucap Rohim sendu. Namun ada kelegaan dihatinya, mereka tidak melakukan tindakan dilarang agama, meski kecewa dia tidak bisa menjadi wali saat Cindy menikah, namun rasa sayang kepada anaknya sangatlah besar.
*****
__ADS_1
Setelah semua selesai dan Rohim ayah Cindy sudah mengiklaskan semuanya. Baginya asalkan anaknya bahagia dia pun turut bahagia. Para sanak saudara Cindy sedang memasak berbagai masakan untuk acara Mitoni / Tujuh bulanan.
Ravino menghampiri Aryo yang sedang menghambar sesuatu di kulit kelapa Gading (Kelapa berwarna kuning).
"Kamu lagi ngapain yo", tanya Ravino.
"Oh ini mas lagi gambar."
Sontak Ravino mengerutkan keningnya lalu melihat kelapa yang dipegang Aryo. Dilihatnya ada gambar yang dia tahu itu semacam wayang.
"Kamu gambar ko dikelapa!"
"Oh ini mas, kalo di sini memang begini. Ini katanya buat tempat duduk mba Cindy sama Mas Ravi nanti."
Ravino masih tak mengerti dengan acara tujuh bulanan yang akan dia lakukan bersama Cindy. Ravino melihat seksama gambar yang Aryo buat dikulit kelapa, katanya ini gambar tokoh wayang Srikandi dan Arjuna, pernah denger tapi gak tahu gimana alur ceritanya.
Ravino dan Cindy sedang dimandikan oleh seorang wanita tua, yang biasa merek sebut Dukun bayi. Dukun bayi itu mulai memandikan keduanya, dan banar saja mereka duduk diatas kelapa yang tadi digambar Aryo. Setelah selesai Dukun bayi tersebut meminta Ravino untuk memasukan kelapa gading kedalam kemben yang istrinya pakai.
Cindy melonggarkan kembennya lalu Ravino memasukan kelapa gading dari dada istrinya lalu perlahan turun kebawah. Dengan hati hati Ravino menurunkan kelapa itu sampai ke kaki istrinya. Setelah berada diantara kaki istrinya, kelapa itu dia ambil lalu di berikan ke sang dukun bayi.
" Mas mengko kelapanya di kepluk. Nek banyune muncrat set berari lanang nggih mas, nek banyune luber berarti wedok", Ravino tersenyum kaku, gak tahu apa yang harus dilakukan, karena dia gak tahu bahasa jawa. Untung saja Cindy tetangga Cindy memberitahu.
Ravino ber oh ria. Dengan segera Ravino membelah kelapa gading tersebut dan benar saja airnya langsung muncrat ke wajah Ravino. Cindy yang melihat itu langsung tertawa lepas.
Acara selanjutnya adalah rebutan welut /belut. Dua ember berisi belut dan uang receh sudah tersedia di depan rumah Cindy, setra orang orang yang ingin ikut berebut belut dan uang receh. Diantara orang orang tersebut kebanyakan anak anak.
Tepat pukul dua belas siang, setelah Cindy memberi bedak kepada beberapa anak, Cindy mengguyur air ke sumua orang yang sudah berkumpul dan Ravino langsung menumpahkan dua ember air yang berisi belut dan uang receh. Semua orang langsung berebut belut dan uang receh setelah melempar batu ke pagar rumah Cindy.
Semua orang antusias berebut belut dan uang Receh. Apalagi saat Ravino dan Cindy menyebar uang receh ke udara, tentu saja susana semakin ramai. Untung Sandi gak ikut rebutan welet ini, kalau tidak pasti akan sangat heboh, pikir Cindy.
Selesai berebut belut, di lanjutan acara dengan kepungan/selamatan serta bacaan doa dari para tetua di desa Cindy. Acara sudah selesai termasuk mengirim beberapa makanan ke rumah Dukun bayi.
******
Jam sudah menunjukan pukul tujuh malam. Cindy merebahkan diri di atas ranjangnya. Ravino mendekati istrinya yang sedang mengusap perutnya.
__ADS_1
"Ada apa!! apa perutmu sakit?" tanya Ravino lembut.
"Sedikit, anakmu menendang terlalu keras."
"Benarkan..?"
Ravino mengusap perut Cindy, dan benar saja, Ravino merasakan pergerakan dari dalam perut istrinya. Keduanya tertawa bahagia.
Suara ketukan pintu di luar kamar Cindy, memaksa keduanya untuk menghentikan tawa mereka. Ravino membuka pintu dan Rohim ayah mertuanya ada didepan sana. Rohim ingin berbicara dengan menantunya.
"Aku tinggal bertar ya, yang", ucap Ravi kepada istinya, yang di angguki oleh Cindy.
Diteras rumah Ravino da ayah mertuanya duduk di temani secangkir kopi.
"Bapak ingin tanya, apa pernikahan kalian ada hubungannya dengan Istri saya?" tanya Rohim
Deg deg deg
Seketika jantung Ravino berlari kencang, memang dia dan Cindy belum menceritakan soal perjanjian itu. Ravino gelagapan membuat Rohim semakin yakin atas apa yang dia rasakan.
''Maaf pak"
"Nak Ravi jujur saja, saya tidak akan marah."
Ravino menghembuskan nafas dalam dalam, lalu dia menceritakan tentang perjanjian yang dulu mereka sepakati. Raut wajah sedih tergambar di hati ayah mertuanya.
"Tapi sungguh pak, sungguh saat ini saya mencintai anak bapak Cindy'', tulus Ravi.
Bukannya tak percaya dengan ucapan menantunya, rasa sedih dia rasakan. Anaknya mau melakukan itu demi kesembuhan ibunya. Rohim merasa menjadi suami serta bapak yang kurang bertanggung jawab.
"Saya minta tolong nank Ravi, kalo memang nak Ravi sungguh sungguh mencintai anak saya. Tolong jaga dan jangan sakiti anak saya."
Tentu saja dengan cepat Ravino menganggukan kepalanya dengan sungguh sungguh.
"Pasti pak."
__ADS_1
Cindy mentihkan air matanya mendengar pembicaraan kedua laki laki yang amat dia cintai.
Happy reading gaess