Karya Gagal Kontrak

Karya Gagal Kontrak
Dua Puluh Sembilan


__ADS_3

Malam gelap nampak indah dengan kehadiran bulan dan bintang. Cahaya dari dua benda langit itu seolah memberikan bisa ketenangan pada setiap orang yang melihatnya.


Seperti yang sedang dirasakan oleh Cindy, kegelisahan dalam hatinya memudar setelah lama memandangi dua benda langit itu. Setelah terjadi kekacauan di pesta pernikahan Doni, Cindy merasa sudah tidak pantas berada ditempat itu. Cindy akhirnya meminta pada Ravino untuk segera mengajaknya pergi dari tempat itu.


Kebingungan terjadi pada Cindy saat Ravino membelokan mobilnya masuk ke sebuah tempat yang mungkin sebuah vila.


“Kenapa kita ke sini Mas? Dan tempat siapa ini?” tanya Cindy heran.


"Ini Villa pribadi milik keluargaku," jawab Ravino.


Ravino memberhentikan laju mobilnya di tempat yang lapang di samping vila. Setelah itu Ravino melepas sabuk pengaman yang melingkar di tubuhnya sebelum turun dari mobil.


"Turun yuk!" ajak Ravino.


"Iya, Mas." Cindy menganggukkan kepalanya lalu melepas sabuk pengaman yang terpasang di tubuhnya.


Cindy turun dari mobil melangkah mengikuti suaminya. Sambil melangkah Cindy mengedarkan pandangannya melihat-lihat sekeliling tempat itu.


Villa itu tidak terlalu besar. Namun memiliki halaman yang sangat luas. Jantung Cindy berdegup kencang saat Ravino menggandeng tangannya dan masuk ke dalam Villa bersama. Villa itu terawat baik, ada tukang kebun yang khusus merawat kebun, serta satu keluarga yang ditugaskan untuk merawat villa.


Ravino masih menggandeng Cindy membawanya ke lantai atas. Keduanya masuk ke salah satu kamar yang ada di lantai atas, kamar yang cukup besar dan terlihat nyaman.


"Cind, malam ini kita menginap di sini ya. Lagipula ini juga sudah malem banget," ucap Ravino merebahkan dirinya di ranjang besar.


Ravino merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan menjadikan tangannya sebagai bantal. Matanya melihat ke arah Cindy yang masih berdiri tidak jauh darinya.


"Kenapa masih berdiri? Duduk sini!" Ravino menepuk sisi kanannya meminta Cindy untuk duduk.


Cindy menganggukkan kepalanya lalu melangkah ke tempat yang Ravino tunjukkan.


"Kamu baik-baik saja, 'kan?" tanya Ravino yang langsung dianggukki oleh Cindy.


"Maaf ya. Mungkin secara tidak sengaja saya sudah membuat Mas Ravi malu," cicit Cindy.


Ravino bangun dan mengambil posisi duduk. Ia genggam tangan Cindy menatapnya penuh arti.

__ADS_1


"Jangan dipikirkan. Aku tahu memang wanita itu sangat menjengkelkan," ucap Ravino.


"Lebih baik sekarang kita istirahat," ajak Ravino yang langsung dianggukki oleh Cindy.


Keduanya sama-sama merebahkan tubuh mereka di atas tempat tidur. Mereka tidur bersebelahan sambil memandang ke atas melihat langit-langit kamar itu. Beberapa saat kemudian keduanya menoleh mempertemukan pandangan mereka. Pandangan keduanya bertemu pada satu titik yang sama. Jantungnya berdetak sangat cepat, ia gugup setiap kali melihat Ravino.


Ravino sendiri merasa ada yang aneh dengan dirinya. Tidak pernah ia merasa gugup saat bersama dengan wanita di atas ranjang. Bersama Cindy Ravino merasa lain, bahkan jantungnya juga ikut bicara dengan berdetak lebih kencang dari Biasanya.


"Cindy ...." Tangan Ravino bergerak untuk mengusap sisi wajah Cindy.


Saat tangannya menempel di kulit Cindy, Ravino bisa merasakan kelembutannya.


"Iya, Mas. Ada apa?" tanya Cindy tanpa mengalihkan pandangannya dari Ravino.


Ravino tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Tidak ada."


Hanya saja celanaku mendadak terasa sesak dan tenggorokanku juga mengering. Aku sangat haus dan aku sangat menginginkan dirimu.


Ravino merasa sudah tidak bisa menahan hasratnya. Ravino bangun dan berpindah ke atas tubuh Cindy. Ravino menindih tubuh Cindy dengan menopang berat tubuhnya dengan kedua tangannya agar tidak terlalu menekan tubuh Cindy.


"Mas ...." Cindy semakin gugup dengan posisi mereka saat itu.


Cindy menganggukkan kepalanya ia tahu tidak baik menolak keinginan suami.


"Iya, Mas," cicit Cindy.


Ravino tersenyum sumringah saat Cindy menerima ajakannya. Segera Ravino mencium bibir Cindy dengan sangat rakus. Cindy mulai terbiasa dengan semua itu dan tidak malu-malu untuk membalasnya.


Saat hasrat sudah memenuhi diri mereka, Ravino segera menanggalkan kain yang menempel di tubuhnya dan membuangnya ke sembarang tempat. Kerena tidak sabar Ravino sampai merobek pakaian dalam Cindy.


Setelah itu Ravino bersiap memasuki Cindy dan terbang sampai langit ke tujuh.


*****


Pagi hari Cindy sedang bergulat dengan rasa mualnya. Setelah pulang dari resepsi pernikahan Doni dan Sandra beberapa hari yang lalu, dirinya sering mual di pagi hari. Setiap malam Cindy merasa sangat lapar. Namun, makanan itu dikeluarkan lagi saat pagi hari.

__ADS_1


Ravino yang tidak mendapati keberadaan Cindy di sampingnya merasa terkejut. Ravino langsung bangun saat mendengar suara Cindy yang sepertinya sedang muntah di kamar mandinya.


Dia mual lagi?


Ravino beranjak dari tempat tidur dan berlari ke kamar mandi. Beruntung pintu kamar mandi tidak dikunci. Ravino langsung menghampiri Cindy yang sedang berdiri di depan wastafel.


"Cindy, kamu kenapa?" tanya Ravino menghampiri Cindy.


Cindy menggelengkan kepalanya dan kembali merasakan mual di perutnya. Cairan bening kekuningan yang rasanya sangat pahit keluar dari mulut Cindy. Rasa mual yang sangat tidak tertahankan membuat mata Cindy berair, membuat Ravino khawatir.


Ravino memijit tengkuk Cindy berharap bisa membuat Cindy merasa nyaman. "Sudah tiga hari kamu begini, sebaiknya kita ke Dokter saja untuk memeriksakan kondisimu."


Cindy menggelengkan kepalanya Beberapa saat Cindy terdiam sambil memikirkan sesuatu. Saat ia teringat sesuatu Cindy meminta pada Ravino untuk keluar.


"Mas Ravi keluar dulu ya." Cindy mendorong badan Ravino keluar kamar mandi dan langsung menutup serta mengunci pintu kamar mandi. Ravino menatap bingung. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu di kamar.


Beberapa menit Cindy membuka pintu kamar mandi, Ravino langsung berbalik ke arah kamar mandi dan menghampirinya.


"Kamu tidak apa-apa? Kenapa kamu menangis?" tanya Ravino sambil mengusap air mata yang jatuh di pipi Cindy.


Cindy memberikan sebuah benda kecil pipih dan panjang kepada Ravino. Dilihatnya benda yang diberikan oleh Cindy. Ravino mengerutkan keningnya tidak tahu apa maksud dari garis dua yang ditunjukkan oleh benda itu.


"Aku hamil, Mas," ucap Cindy.


Ravino terkejut merasa tidak percaya dengan apa yang baru dikatakan oleh Cindy. Namun tidak dipungkiri Ravino sangat senang mendengarnya. "Secepat ini?"


Ravino langsung mencium kening Cindy dan memeluknya. Ravino terlihat begitu bahagia, tanpa bisa merasa kesedihan Cindy. Di balik tubuh Ravino, Cindy hanya bisa menitihkan air mata, bukan tidak senang, tetapi dirinya bingung bagaimana kalau ibu Desi tahu. Cindy sangat takut mengingat perkataan ibu Desi tempo hari saat di restoran.


Ravino menarik dirinya baru saat itu ia sadar jika Cindy merasa sedih.


"Ada apa? Kenapa wajahmu terlihat tidak senang?" tanya Ravino.


"Aku hanya takut jika suatu saat ibu Desi tahu tentang ini," jawab Cindy.


Ravino menekuk kedua lututnya, mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan perut Cindy.

__ADS_1


"Itu urusan nanti. Dan jika ibuku sampai tahu, aku juga tidak peduli. Yang aku pedulikan adalah anak ini." Ravino mengecup perut Cindy lalu memeluknya.


Cindy menyunggingkan senyumnya seraya mengusap rambut Ravino. Sesungguhnya ada masalah lain yang membuat Cindy merasa gelisah, ia merasa tidak sanggup jika nantinya harus bisa dengan anak kandungnya sendiri.


__ADS_2