Karya Gagal Kontrak

Karya Gagal Kontrak
Dua Puluh Tujuh


__ADS_3

Cindy merasa sangat terkejut mendengar jika ibu Desi sudah memilihkan calon istri untuk Ravino. Rasa terkejut yang Cindy rasakan membuatnya tidak sengaja menjatuhkan piring. Suara nyaring yang ditimbulkan membuat Ravino juga ibu Desi terkejut. Keduanya beranjak dari meja makan melangkah menuju dapur.


"Ya Tuhan, Cindy! Bagaimana kamu bisa ceroboh seperti ini?" bentak Ibu Desi.


"Maaf, Bu. Piringnya licin." Cindy menundukkan wajah bersamaan dengan jatuhnya air matanya.


"Jika kamu bekerja seperti ini terus, kamu bisa menghancurkan semua barang-barang yang ada di sini," omel Ibu Desi.


"Mam, sudahlah! Ini hanya piring, Kenapa harus meributkan hal sepele," bela Ravino.


"Mama bingung kenapa kamu terus membela wanita ini. Atau jangan-jangan kamu benar-benar menyukai dia," duga Ibu Desi.


"Mam, sudah cukup! Sebaiknya kita pergi, aku harus segera ke kantor," ucap Ravino.


"Kamu belum menjawab pertanyaan Mama, Ravi." Ibu Desi mendesak Ravino untuk menjawab pertanyaan yang sebelumnya ia lontarkan.


"Tidak ada pertanyaan yang harus Ravi jawab." Ravino menolak untuk menjawab.


"Ravi, tunggu!" Ibu Desi menghentikan langkah Ravino.


"Mam, aku tidak ingin meributkan hal yang sepele di pagi hari. Ini bisa membuat buruk suasana hatiku," ucap Ravino.


"Bukankah Mama juga harus mengurus bisnis Mama. Jadi ... lebih Mama pulang," ucap Ravino.


"Ayo kita berangkat bersama." Ravino mengajak ibunya pergi dari apartemen agar ibunya tidak terus membentak Cindy.


Ravino masih berjalan dengan tetap menggandeng tangan ibunya. Keduanya berjalan memasuki lift. Sampai di dalam lift ibu Desi tetap menduga jika anaknya memiliki hubungan dengan dengan Cindy dan ibu Desi tetap mendadak anaknya untuk mengakuinya.


Ravino tidak memberikan jawaban yang pasti kepada ibunya dan meminta ibunya untuk tidak berpikir yang macam-macam. Keduanya keluar dari lift mereka berjalan menuju ke lobi. Di depan sana sudah ada sopir keluarga mereka dan juga Fajar yang siap mengantar Ravino ke kantor.


"Mama naiklah ke mobil Mama. Aku akan berangkat bersama Fajar," ucap Ravino.


"Kenapa tidak naik mobil yang sama Mama?" Ibu Desi menatap slavina dengan rasa curiga.


"Mama lupa kita beda arah," ucap Ravino.

__ADS_1


"Tapi Mama masih ingin bersamamu," ucap Ibu Desi.


"Ravi janji, sepulang kerja nanti Ravi akan pulang ke rumah," janji Ravino.


"Janji ya. Dan kamu juga harus menginap," pinta Ibu Desi yang langsung dianggukki oleh Ravino.


"Ya sudah, Mama pergi dulu. Kamu hati-hati di jalan." Ibu Desi mencium pipi kanan dan kiri Ravino secara bergantian.


"Mama juga hati-hati di jalan," ucap Ravino.


Ravino membuka pintu mobil untuk ibunya. Setelah ibunya berada di dalam mobil Ravino menutup pintu mobil itu kembali. ia berjalan ke mobilnya yang tidak jauh dari mobil ibunya.


Kedua mobil itu berjalan bersama. Ravino terus memerhatikan mobil ibunya. Setelah mobil ibunya menjauh Ravino meminta Fajar untuk memutar arah kembali ke apartemen. Ravino merasa sedikit emas dengan keadaan Cindy.


Sementara itu, setelah Ravino dan Ibu Desi pergi tubuh Cindy merosot ke bawah terduduk di lantai dekat pecahan piring dan menangis tersedu-sedu. Cindy tidak bisa membayangkan jika Ravino benar-benar menikah dengan wanita lain. Bukan merasa cemburu, tetapi Cindy tidak bisa membayangkan nasibnya nanti.


Namun setelah berpikir Cindy menyadari ia tidak ada hak untuk menghalangi Ravino menikah. Karena dirinya bukan siapa-siapa. Dirinya hanya berstatus sebagai istri kontrak.


Setelah menyadari keterpurukannya tidaklah benar Cindy mengusap air mata yang ada di pipinya. Kemudian membereskan pecahan kaca yang berserakan di hadapannya. Namun sebelum ia mengambil pecahan piring itu ada tangan lain yang lebih dulu mengambilnya.


Tidak ada jawaban dari Ravino, pria itu tetap membereskan pecahan kaca. Karena tidak hati-hati pecahan kaca itu mengenai tangan Ravino.


"Awww!" pekik Ravino.


Cindy menarik tangan Ravino menghisap darah yang ada di jari telunjuknya.


"Mas, tidak apa-apa?" tanya Cindy.


"Sudahlah, jangan dipikirkan! Ini hanyalah luka kecil." Ravino menarik tangannya yang digenggam oleh Cindy.


"Ayo sekarang bangun!" Ravino membantu Cindy berdiri. "Awas banyak pecahan kaca."


Keduanya berdiri bersandar pada meja dapur. Cindy mengambil kotak p3k yang ada di laci di sebelahnya. Ia mengobati luka di jari Ravino dan menutupnya dengan plaster.


Hening mengambil alih suasana di antara mereka. Keduanya masih berdiri di dapur tanpa mengeluarkan kata-kata. Tidak ada pembicaraan akhirnya Cindy lebih dulu berbicara untuk memecah keheningan.

__ADS_1


"Kenapa, Mas kembali lagi? Bagaimana jika ibu Desi sampai tahu?" tanya Cindy.


"Mama sudah pergi. Dia tidak akan tahu jika aku kembali ke sini," jawab Ravino.


Ravino melirik ke arah Cindy, melihat kesedihan dan kecemasan di wajahnya.


"Jangan pikirkan perkataan ibuku! Turuti saja perintahku! Dan kamu jangan khawatir, aku tidak akan menikah sebelum aku mendapatkan anak darimu," ucap Ravino.


"Kenapa harus menunggu sampai saya memberikan anak untuk Mas. Perkataan ibu Desi benar adanya. Jika Mas ingin menikah dengan wanita pilihan Ibu Desi, kenapa tidak? Kita menikah secara diam-diam, dan kita juga bisa berpisah secara diam-diam," ucap Cindy.


"Mas bisa mendapatkan anak dari wanita yang akan Mas nikahi," lanjut Cindy.


"Kamu mengatakan semua ini karena ingin keluar dari perjanjian kita, hah!" Ravino memajukan tubuhnya membuat Cindy mencondongkan tubuhnya ke belakang.


"Bu-kan be-gi-tu, Mas," gagap Cindy.


"Lalu apa kalau bukan karena ini?" Ravino terus memajukan tubuhnya menatap Cindy seolah sedang mengintimidasi dirinya.


"Saya rasa itu yang terbaik untuk, Mas." Cindy mencengkram kemeja Ravino karena dirinya akan terjatuh.


"Jangan kamu mencoba menguji kesabaranku, Cindy. Perjanjian tetaplah perjanjian. Aku sudah memutuskan setelah aku mendapatkan anak darimu barulah kita akan berpisah," ucap Ravino.


"Tapi ... Mas —" Ucapan Sindir langsung dipotong oleh Ravino.


"Tidak ada perdebatan," potong Ravino.


Tanpa diduga Ravino menarik tengkuk Cindy mencium bibir Cindy dengan begitu rakus. Cindy terkejut, tetapi ia juga tidak bisa menolak. Beberapa saat kemudian Cindy menepuk punggung Ravino ia merasa kehabisan oksigen karena Ravino mencium bibirnya.


Cindy terbatuk-batuk merasa kehabisan oksigen karena ulah Ravino.


"Aku berangkat ke kantor dulu."


Ravino mencium sisi kepala Cindy setelah itu Ravino beranjak dari dapur tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Cindy masih berdiri mematung sambil terus melihat ke arah Ravino sampai bayangannya menghilang di balik pintu apartemen. Hati Cindy menjadi bimbang, ia ingin mengakhiri pernikahan kontrak itu, tetapi dirinya tidak berdaya. Cindy kembali meneteskan air matanya dirinya bingung harus berbuat apa. Ada masalah besar yang Cindy takut tidak bisa ia hindari, Cindy takut jika rasa cinta datang untuk Ravino yang membuatnya tidak sanggup untuk meninggalkan pria itu.

__ADS_1


__ADS_2