
Masalah yang terjadi di dalam hidupnya sempat membuat pekerjaan di kantornya ikut bermasalah. Kini Ravino sedang kembali membenahinya. Secara perlahan masalah yang ada di perusahaannya akhirnya selesai.
“Oke, saya harap kalian paham dengan apa yang saya ucapkan tadi.” Doni yang memimpin rapat pada hari itu mengakhiri rapat itu.
“Kami mengerti, Pak Doni,” seru semua orang yang ikut dalam rapat hari itu.
''Oke, meeting ini cukup sampai di sini. Terima kasih untuk kalian semua dan selamat bekerja kembali,” ucap Doni.
Plok Plok Plok
Semua orang bertepuk tangan untuk Doni.
Satu persatu orang yang mengikuti meeting itu menjabat tangan Doni sebelum keluar dari ruangan itu. Kini tinggal Ravino dan Doni yang ada di ruangan itu. Doni menghela napas panjang dan duduk di samping Ravino.
“Kamu hebat. Gak salah aku memilihmu untuk mejadi wakilku,” ucap Ravino seraya menepuk pundak Doni.
“Thanks. Ini juga berkat kamu,” balas Doni.
Ravino dan Doni melanjutkan pembicaraan mengenai proyek- proyek yang akan mereka tangani. Setelah selesai mereka berdua kembali ke ruangan masing-masing.
Ravino sedang duduk di ruangnya sambil melihat berkas- berkas yang akan ia tandatangani.
Tok tok tok
“Masuk!” Ravino mempersilahkan orang yang baru saja mengetuk pintu ruangnya.
“Permisi, Pak. Ada paket untuk Bapak.”
Ravino mendongakkan kepalanya. Matanya melihat ada Karina, yang merupakan sekretarisnya.
“Dari Gadis, Pak,” jawab Karina.
Ravino menerima paket itu. Keningnya berkerut saat melihat nama yang pengirimnya.
“Gadis,” guman Ravino dalam hati.
Merasa penasaran Ravino membuka paket itu. Isi dari paket itu ternyata salah satu majalah terkenal di Amerika.
Ravino fokus pada salah satu foto yang ada di sampul majalah itu. Foto Gadis ( Top 5 Super model). Di balik majalah itu terdapat sepucuk surat. Ravino mengambil surat itu lalu membacanya.
Hai, Tuan Ravino Arga Wijaya, apa kabar? Aku mengirim paket ini untuk membuktikan, bahwa aku tidak akan pernah menyesal meninggalkanmu untuk karirku. Status kita pun sudah bukan suami-istri lagi. Aku di sini bahagia bersama kekasih ku Niko.
Ravino meremas surat itu dan membuang majalah itu ke tong sampah. Ravino menyandarkan kepala dan memijit keningnya. Rasanya dia tidak percaya sudah jatuh cinta kepada wanita tidak berperasaan seperti Gadis.
*****
“Rav, sudah hentikan! Kamu sudah terlalu minum banyak.” Doni merebut gelas di tangan Ravino.
“Minggir! Aku belum puas minum.” Ravino merebut gelas dari tangan Doni dan kembali menenggak isinya.
“Kamu mengatakan jika kamu sudah move on dari Gadis. Tapi ... liat sedang kamu lakukan sekarang? Ini belum jika kamu sudah move on dari perempuan sialan itu.” Doni tersenyum seolah sedang mengejek Ravino.
Seketika Ravino berhenti minum minuman beralkohol itu. Entah apa yang merasukinya, tiba-tiba gelas itu remuk di genggaman tangannya. Darah mengalir di meja bar dan membuat Doni terkejut setengah mati.
“Apa yang kamu lakukan, Rav?" Kepanikan jelas tergambar di wajah Doni.
Doni sudah mencoba menghentikan aliran darah di telapak tangan Ravino dengan peralatan P3K yang diberikan oleh salah satu pegawai di club malam itu. Namun, luka di telapak tangan Ravino sepertinya cukup dalam.
Doni segera membawa Ravino ke rumah sakit untuk menghentikan pendarahan di tangan Ravino. Sesampainya di rumah sakit, Doni langsung membawanya ke ruang IGD.
Setelah lukanya selesai dijahit, telapak tangan Ravino dibalut perban. Dokter pun mengizinkan Ravino untuk pulang.
“Ayo aku antar pulang,” ucap Doni.
__ADS_1
Di sepanjang jalan Ravino dan Doni berdiam diri, tidak ada satupun yang berniat membuka mulut. Doni prihatin terhadap Ravino. Entah bagaimana caranya membuat sahabatnya itu kembali seperti dulu.
Setelah sampai di apartemen Ravino, Doni membantu Ravino berjalan karena masih sedikit mabuk. Sampai di depan pintu apartemen Ravino, Doni pun menekan bel.
Ting Tong ...
Cindy berjalan ke arah pintu saat mendengar bel apartemen berbunyi. Cindy membuka pintu dan terkejut melihat siapa yang baru saja datang.
“Ya ampun, Mas Ravino ....”
Cindy terkejut melihat keadaan Ravino.
Cindy membantu Doni membawa Ravino ke kamarnya dan membaringkannya di atas ranjang.
“Mas Ravino kenapa lagi, Mas Doni?” tanya Cindy.
Cindy merasa bingung karena bos-nya kembali pulang dalam keadaan mabuk.
“Gak tahu, Cind. Ini pasti ada hubungannya dengan Gadis,” tebak Doni.
“Kasihan ya mas Ravino,” ucap Cindy.
Dering ponsel Doni mengalihkan pandangan Doni dan juga Cindy.
“Dari mba Sandra ya?” tanya Cindy.
“Iya,” jawab Doni. “Aku angkat telepon dulu.”
“Iya, Mas,” sahut Cindy.
Doni sedikit menjauh dari Cindy untuk mengangkat telepon dari Sandra.
Tidak lama Doni kembali ie tempat Cindy.
Cindy membalas dengan senyuman dan anggukkan kepalanya. “Iya, Mas.”
Setelah Doni meninggalkan apartemen, Cindy berjalan kembali ke kamar Ravino. Cindy merasa prihatin dengan kondisi Ravino sekarang.
Cindy berjalan mendekati Ravino yang sedang tertidur. Dilihatnya wajah bos-nya yang seperti bayi saat sedang tidur. Cindy tersenyum seraya mengusap kening Ravino.
Eh?
Cindy terkejut saat tiba-tiba tangannya ditahan oleh tangan Ravino.
“Maaf, Mas Ravi,” ucap Cindy.
Cindy mencoba melepaskan tangannya, tetapi Ravino tidak membiarkan itu.
“Please ... di sini saja,” ucap Ravino.
Cindy mengangguk lalu duduk di samping Ravino. Kemudian Ravino memindahkan kepalanya di atas pangkuan Cindy.
Deg deg deg
“Duh, semoga saja mas Ravi gak dengar debaran jantungku,” batin Cindy.
Sentuhan lembut tangan Cindy di keningnya terasa sangat nyaman. Mata Ravino mulai terpejam di pangkuan Cindy.
Melihat Ravino sudah tertidur, Cindy memindahkan kepala Ravino ke atas bantal. Cindy turun dari ranjang dan berniat kembali ke kamarnya. Namun, langkahnya terhenti karena tangan Ravino menggenggam erat pergelangan tangannya.
Merasa tidak tega Cindy akhirnya duduk kembali di sisi tempat tidur dan tertidur di samping Ravino.
Keesokan harinya
__ADS_1
“Aarrgggh.” Ravino merasakan sakit pada kepalanya saat bangun dari tidurnya.
“Mas Ravi gak apa-apa?”
Suara itu langsung mengejutkan dirinya. Ravino melihat Cindy ada di tempat yang sama dengan dirinya.
“Kamu ngapain di sini?” tanya Ravino.
Cindy tidak menjawab malah bingung serta mengerutkan keningnya.
“Mas Ravi gak inget?” tanya Cindy.
Ravino menjawab pertanyaan Cindy dengan celengan kepala.
“Semalam Mas Ravi nyuruh saya untuk tidur di sini. Sampai narik- narik tangan saya,” jawab Cindy.
“Hah? Beneran?” tanya Ravino yang langsung dianggukki oleh Cindy.
Ravino terlihat masih bingung, apa iya dirinya menyuruh Cindy untuk tidur dengannya?
“Ah, mungkin karena semalem aku mabok,” batin Ravino.
Mendadak Ravino tersenyum jahil. Ingin rasanya dirinya menggoda asisten rumah tangganya.
Cindy bingung melihat bos mudanya mendekat ke arahnya. Apalagi saat Ravino menindih tubuhnya.
“Mas Ravino mau ngapain?” Nada bicara Cindy sangat gugup.
Ravino ingin tertawa melihat ekspresi ketakutan di wajah Cindy. “Menurut kamu aku mau ngapain?”
“Jangan macam-macam, Mas! Atau aku akan berteriak,” ancam Cindy.
“Silahkan tidak akan ada yang mendengarnya,” ucap Ravino.
Cindy sudan makin ketakutan saat Ravino benar-benar sudah sangat dekat. Hampir tidak ada celah sedikitpun.
Namun, entah apa yang terjadi beberapa saat kemudian Ravino memekik.
“Aggggrh!” Ravino berteriak saat Cindy tak sengaja menekan telapak tangannya yang terluka.
“Eh, Mas Ravi kenapa?” tanya Cindy.
Ravino bangun dari atas tubuh Cindy. Matanya melihat perban di telapak tangannya berubah warna menjadi merah.
Cindy panik saat melihat telapak tangan Ravino berdarah.
“Maaf, Mas. Mas Ravi gak kenapa-kenapa, 'kan?" tanya Cindy.
“Saya ambilkan obat dulu.” Cindy berlari keluar dari kamar Ravino untuk mengambil kotak P3K.
Beberapa saat kemudian Cindy kembali ke kamar Ravino dengan membawa kotak P3K di tangannya.
“Sini, Mas aku gantiin perbannya,” ucap Cindy.
Ravino meringis saat Cindy membersihkan luka dan mengganti perban telapak tangannya.
Ravino tersenyum miris saat melihat luka di telapak tangganya.
“Bodoh. Aku harus benar-benar bisa lupain Gadis.” Ravino memaki dirinya sendiri dalam hatinya.
“Makanya, Mas jangan suka isengin orang. Kena karma, 'kan,” ledek Cindy.
“Iya, bawel.” Ravino menarik hidung Cindy.
__ADS_1
Aneh sungguh aneh Ravino tidak habis pikir bisa sedekat ini dengan Cindy.