Karya Gagal Kontrak

Karya Gagal Kontrak
Sedikit kemajuan


__ADS_3

Setelah mendengar kabar kehamilan Cindy, Vincent bukannya tak bahagia namun juga sangat cemas kalau kasih sayangnya akan terduakan. Apalagi setelah mendengar kata-kata Rangga kalau punya adik pasti bakalan repot.


Didalam sisi lain Vincent merasa bahagia melihat mamanya, ayahnya dan juga Omanya sangat lah bahagia menantikan kelahiran calon adiknya. "Aaaaaah pusing gue," racau Vincent mengusap wajahnya kasar.


Bertepatan dengan itu, terdengar suara ketukan dari luar kamarnya. Vincent berjalan ke arah pintu lalu membukanya. Terlihat Cindy membawa gelas susu di tangannya.


"Boleh mama masuk?" tanya Cindy yang kemudian diangguki boleh Vincent.


Cindy meletakan gelas susu di meja lalu menghampiri anaknya yang sedang duduk di tepi ranjang. "Kenapa nak?" tanya Cindy yang melihat tingkah aneh anaknya dari saat makan malam.


"Gak ada apa-apa ko mah."


Cindy tersenyum, lalu ikut duduk di samping anaknya. Vincent menaruh kepalanya di pangkuan Cindy, dengan senang Cindy mengusap-usap rambut anaknya.


"Vincent gak seneng yah mau punya adek?"


Vincent tak bisa menjawab, dia sedang berfikir mamahnya tahu kok bisa tahu apa yang sedang dia pikirkan, ini yang di namakan firasat seorang ibu.


"Mamah seneng mau punya anak lagi?" tanya balik Vincent dengan ragu-ragu.


"Seneng banget lah, ini yang mamah tunggu belasan tahun, Nak" jawab Cindy dengan mata berbinar-binar.


Cindy yang tahu akan sifat manja anaknya bisa menebak kalau Vincent sedikit tidak suka mendengar kalau dia akan punya seorang adik. Mungkin dia berfikir kalau kasih sayangnya kepadanya akan terbagi.


Masih dengan mengusap rambut Vincent, Cindy mencoba memberikan pengertian kepada anaknya kalau kasih sayang seorang ibu kepada anak-anaknya akan selalu sama meski memang adiknya akan membutuhkan lebih banyak perhatian karena dia masih anak-anak.


Vincent mencoba berfikir, melihat betapa bahagianya Cindy saat tahu kalau dia sedang hamil. Vincent mencoba membuang rasa egonya demi kebahagiaan seluruh keluarganya.


"Maaf ya mah, Vincent cuma takut kalau mamah akan lebih sayang sama dia dari pada Vincent."


"Kamu ini ada-ada saja. Kamu ini tetep jagoan mamah sama papa. Cepat minum susu kamu terus tidur, jangan manja. Gak malu sama pacar kalau manja sama mamah."


Vincent mendesis," iish mamah pacar yang mana lagi."


"Memang Vincent punya pacar berapa?" tanya Cindy menyelidik.


"Gak ada mah."

__ADS_1


Cindy merasa senang bisa menggoda anaknya, mudah mudahan dengan datangnya anak keduanya, Cindy berharap Vincent akan sedikit bisa lebih dewasa.


-


-


-


Vincent berangkat ke sekolah mengendarai motor gedenya pemberian dari Desy, Omanya. Setibanya di sekolah Rangga menghampiri Vincent lalu bertos ria.


"Widiiiih motor baru nih?" tanya Rangga.


"Oma yang kasih."


Rangga hanya manggut-manggut mendengar jawaban dari sahabatnya, keduanya pun beriringan berjalan menuju kelas mereka. Sepanjang perjalanan banyak siswi perempuan menyala Vincent dan Rangga yang baru masuk ke sekolah mereka sudah menjadi siswa populer karena wajah mereka yang sangat tampan.


Vincent Sebastian Wijaya



aw



Vincent meletakan tasnya di meja kelasnya tepat bel masuk kelas. Seorang guru datang dan mulai menjelaskan pelajaran. Seperti biasa Vincent sama sekali tak pernah berkonsentrasi dengan semua mata palajaran yang ada di sekolah, karena itu nilai pelajarannya di bawah rata rata.


Cindy dan Ravino sudah memasukan Vincent ke dalam kelas bimbingan namun hasilnya tetap sama. Kadang mereka berdua sangat frustasi melihat nilai bahkan keluhan-keluhan dari guru di sekolahnya.


Bell tanda istirahat berbunyi, segera Vincent keluar kelas tanpa menunggu Rangga.


"Vincent tunggu!!" Panggil Rangga.


"Buru buru amat Lo mau kemana?'' Tanya Rangga lagi.


Vincent sedang menyusul teman sekolahnya yang bernama Rania, namun gara gara Rangga memanggilnya Vincent kehilangan jejak Rania. Vincent mencari Rania cewek cupu namun mempunyai iQ di atas rata-rata.


"Gue mau cari Rania, gue lupa belum ngerjain tugas pak Tedy," jelas Vincent.

__ADS_1


"Ooooh, palingan dia lagi di perpustakaan."


Vincent berhenti sejenak, mendengar kata perpustakaan haruskah aku pergi ke sana, pikirnya. Dengan sangat terpaksa Vincent melangkahkan kakinya di koridor sekolah menuju perpustakaan. Vincent masuk kedalam perpustakaan dengan langkah berat, kalau tidak karena dia lupa mengerjakan tugas dari pak Tedy, dia takkan pernah masuk ke tempat yang selalu membuatnya merasa mual.


Dan benar saja, Vincent melihat Rania sedang membaca buku di pojok perpustakaan. Vincent menghampiri Rania dan duduk di hadapannya dan membuat Rania terkejut.


"Hay Ran," sapa Vincent.


Rania menghela nafas berat, "Hay juga Vint," sapa balik Rania. "Kenapa belum ngerjain tugas?" tanya Rania yang sudah hafal, setiap kali Vincent mencarinya hanya demi memintanya untuk mengerjakan tugas miliknya.


Vincent hanya nyengir kuda, lain halnya dengan Rania yang menghembuskan nafas berat. "Ayo donk bantuin gue, nanti gue traktir Lo makan deh." Rania tak bisa menolak permintaan Vincent, bukan karena sebuah traktiran makan, melainkan rasa kasihan pada Vincent yang mau mencarinya sampai ke perpustakaan. Juga Rania merasa aman karena Vincent tak akan membiarkan siapapun membully dirinya karena dia masuk ke sekolah elit itu karena sebuah beasiswa dan juga penampilannya yang biasa saja.


"Oke, aku bantuin tapi kita ngerjainnya sama sama yah," pinta Rania.


"Whaaaaaat!!!!"


Rania hanya menganggukkan kepalanya, sebenarnya ini adalah permintaan konyol, Rania tahu kalau Vincent tak bisa dengan mudah untuk berkonsentrasi masalah pelajaran, tapi kenapa gak dicoba saja.


Rania mulai menjelaskan pertanyaan yang tertulis di buku kemudian Vincent lah yang menulis jawabannya. Awalnya Rania kesulitan menghadapi sikap Vincent, namun dengan sedikit ancaman membuat Vincent menurut begitu saja. Rania tersenyum puas melihat Vincent mau sedikit berkonsentrasi, dan setelah selesai Rania memeriksa jawaban Vincent dan semuanya benar.


"Huffffffff, akhirnya selesai juga. Thanks Ran, gue cabut dulu." Vincent beranjak dari kursi dan dengan langkah terburu-buru Vincent segera keluar dari perpustakaan.


Jam pelajaran sudah di mulai kembali, pelajaran selanjutnya adalah matematika dan untung saja tugas Vincent sudah selesai tepat waktu. Pak Tedy menyuruh para siswa untuk mengumpulkan tugasnya. Setelah selesai pak Tedy memeriksa satu persatu. Pak Tedy melihat sekilas ke arah Vincent, tak percaya melihat hasil tugasnya.


"Vincent tumben jawaban kamu benar semua?" tanya Pak Tedy. Vincent tak percaya lalu melihat kearah Rania, yang sedang tersenyum ke arahnya.


"Paling Rania yang ngerjain tugas Vincent, pak," ucap Nita, siswa yang tak menyukai Rania karena bisa dekat dengan Vincent.


"Benar itu Rania?" tanya Pak Tedy dengan tegas.


"Bu---kan pak, bapak bisa lihat sendiri. Itu bukan tulisan saya pak."


Pak Tedy mengerutkan keningnya, lalu memeriksa tugas Rania dan memang berbeda tulisannya dengan tulisan milik Vincent.


"Nyontek paling Pak," tukas Nita lagi.


"Punya bukti Lo," sambar Vincent.

__ADS_1


Rania hanya bisa menghembuskan nafas berat, Pak Tedy hanya bisa menggelengkan kepalanya, mendengar perdebatan siswa siswi nya. Setelah mendengar penjelasan dari Rania pak Tedy bernafas lega.


"Ada kemajuan juga ini anak." Dan terlukis sedikit senyuman di bibirnya.


__ADS_2