Karya Gagal Kontrak

Karya Gagal Kontrak
Tiga Puluh Satu


__ADS_3

Ravino bergegas keluar dari ruangannya. Dan meminta pada sekertarisnya untuk mengatur ulang jadwalnya selama satu minggu.


"Diana, kosongkan jadwalku untuk seminggu ini," perintah Ravino kepada sekertarisnya.


"Baik, Pak," sahut Diana.


Dengan tergesa-gesa, Ravino berjalan keluar kantor. Doni yang baru saja keluar dari ruangannya merasa bingung saat melihat Ravino berjalan terburu-buru dengan wajah khawatir dan tegang.


Doni pun menghentikan langkah Ravino dan bertanya, "Rav, ada apa? Kenapa kamu terburu-buru seperti ini? Semuanya baik-baik saja?"


Ravino berhenti melangkah sambil mengatur napasnya yang tersengal-sengal.


"Ibunya Cindy sakit lagi, Don," jawab Ravino.


"Aku harus pergi menemani Cindy pulang ke kampungnya," jawab Ravino.


Doni mengangguk-anggukkan kepalanya, mengerti apa yang dikatakan oleh Ravino.


"Oh ya, Aku minta tolong, sementara kamu handle perusahaan ini. Kalau ada apa-apa segera kabari aku!" ucap Ravino dan segera berlalu meninggalkan kartornya.


"Rav, tunggu!" Doni berdecak saat sahabatnya tidak menghiraukan panggilannya.


Ravino masuk ke mobil yang terparkir di depan kantornya dan segera meminta Fajar untuk kembali ke apartemennya. Jarak kantor yang tidak jauh dari apartemen membuat Ravino sampai dengan cepat.


"Jar, kamu tunggu di sini dan tolong telepon seseorang di bandara untuk menyiapkan pesawat. Aku dan Cindy akan pergi ke Jogja," perintah Ravino.


"Baik, Pak," sahut Fajar.


Ravino bergegas masuk ke gedung apartemen. Ia melangkah dengan tergesa-gesa untuk sampai di unit apartemen. Setelah menekan tombol passcode Ravino masuk ke apartemennya dan langsung mencari keberadaan Cindy.


"Cindy, kamu di mana?" Ravino berjalan sambil terus memanggil Cindy.


Beberapa kali Ravino memanggil Cindy, tetapi belum ada sahutan. Ravino melangkah menuju anak tangga. Namun langkahnya terhenti saat mendengar suara Cindy.


"Mas Ravi," panggil Cindy.


Ravino menoleh ke asal suara dan mendapati Cindy baru saja keluar dari kamar mandi. Ravino mengurungkan niatnya untuk naik ke lantai atas. Ia berbelok ke arah dapur untuk menghampiri Cindy.


"Kamu mual lagi?" tanya Ravino yang langsung dianggukki oleh Cindy.


Ravino menarik tangan Cindy mengajaknya duduk di meja makan dengan posisi saling berhadapan. Digenggamnya tangan Cindy lalu ia kecup punggung tangannya.

__ADS_1


"Tahan ya. Aku baca di artikel ini hanya berlangsung sementara," ucap Ravino yang langsung dianggukki oleh Cindy.


"Mas ... ibu ...." Cindy menitihkan air matanya saat teringat akan ibunya.


"Jangan menangis! Sekarang kita berangkat ke kampung kamu," ucap Ravino.


"Mas Ravi ikut?" tanya Cindy.


"Tentu saja. Aku tidak mungkin membiarkanmu pergi sendiri," jawab Ravino.


"Sekarang bereskan barang-barangnya dan kita akan langsung berangkat," ucap Ravino.


"Iya, Mas." Cindy menganggukkan kepalanya dengan semangat, ia merasa bahagia karena suaminya akan ikut pulang ke kampung halamannya.


Setelah membereskan barang-barang dan memasukannya ke dalam koper, keduanya keluar dari apartemen dan langsung melesat menuju bandara bersama mobil yang Fajar kendarai.


*****


Pesawat jet pribadi milik Ravino sudah mendarat di bandara kota yang cukup jauh dari Desa Cindy. Sebuah mobil jemputan yang sudah dipesan Cindy untuk menjemputnya sudah menunggu di depan bandara.


Setelah menempuh perjalan hampir empat jam akhirnya mereka tiba di rumah sakit yang mereka tuju. Setelah mobil yang ia naiki terparkir, Cindy dan Ravino turun dari mobil. Keduanya segera masuk rumah sakit dan mencari ruangan tempat ibunya Cindy dirawat.


Segala upaya sudah Cindy lakukan untuk perawatan ibunya, tetapi ternyata itu belum cukup karena yang ibunya butuhkan adalah transplantasi ginjal. Namun ia belum juga menemukan ginjal yang cocok.


Cindy dan keluarganya sangat terkejut mendengar kabar itu. Mereka menangis untuk mengutarakan rasa sedih mereka. Cindy terdiam dengan perasaan sedih yang teramat dalam.


"Sabar, Cind." Ravino mengusap pundak Cindy.


"Mas ... ibu ...." Cindy mulai lemas, pandangannya juga sudah mulai kabur. Cindy merasa pusing dan beberapa saat kemudian semua menjadi gelap.


"Cindy!" Ravino menahan tubuh Cindy agar tidak terjatuh ke lantai.


Ravino mengangkat Cindy yang sudah tidak sadarkan diri dan membawa ke ruang UGD. Ravino merasa sangat khawatir dengan kondisi Cindy yang sekarang sedang mengandung anaknya.


"Semoga semuanya baik baik saja," batin Ravino.


Sampai di ruang UGD Ravino merebahkan tubuh Cindy di atas brankar. Tidak berselang lama Dokter datang untuk memeriksa kondisi Cindy.


Selesai diperiksa Cindy dipindahkan ke ruangan rawat. Hanya ada Ravino di sana, sedangkan keluarga Cindy sedang mengurus kepulangan jenazah ibunya Cindy.


Ravino menutup pintu ruang rawat Cindy. Dilihatnya Cindy masih terbaring dan masih belum sadarkan diri. Ravino merasakan rasa cemas melihat keadaan Cindy apalagi dengan kondisinya yang tengah mengandung.

__ADS_1


Ravino mendaratkan bokongnya pada kursi yang tidak jauh dari tempat tidur. Ia raih tangan Cindy lalu menggenggamnya. Sebelumnya Ravino sudah meminta Dokter untuk merahasiakan tentang kehamilan Cindy dari keluarganya.


"Bangun, Cind! Tolong jangan membuat aku takut," batin Ravino.


Mata Ravino mulai berkaca-kaca. Dulu saat Gadis meninggalkan dirinya tidak pernah ia merasakan hatinya sesakit itu. Namun, saat itu hatinya ikut merasa sakit saat melihat Cindy terbaring tidak sadarkan diri.


Ravino beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menjauh dari Cindy. Ia menghubungi Doni dan memberitahukan tentang ibunya Cindy. Ravino menyuruh Doni untuk datang dan tidak lupa Ravino meminta pada Doni untuk membawa Mira yang merupakan sahabat Cindy.


"Argh!"


Ravino menoleh saat mendengar suara erangan Cindy. Ia merasa lega saat Cindy mulai sadar. Mata Cindy perlahan mulai membuka. Terlihat Cindy berusaha untuk bangun sambil memegangi kepalanya. Ravino langsung menghampiri Cindy dan membantunya untuk duduk.


"Istirahatlah dulu! Aku akan panggilkan Dokter," ucap Ravino.


"Tidak usah, Mas. Aku baik-baik saja," tolak Cindy.


"Kamu yakin?" tanya Ravino yang langsung dianggukki oleh Cindy.


Cindy duduk dengan memegangi kepalanya. Kondisinya masih lemas. Setelah merasa lebih baik, Cindy mengedarkan pandangannya melihat ke sekitarnya. Kebingungan terjadi saat Cindy bisa ada di tempat itu dengan jarum infus menempel di pergelangan tangannya.


"Mas, kenapa aku bisa ada di sini?" tanya Cindy.


"Kamu tidak ingat?" tanya balik Ravino disambut gelengan kepala Cindy.


Cindy memutar ruang waktu di kepalanya dan mengingat-ingat apa yang sebelumnya terjadi.


"Mas ... ibu? Aku mau ketemu ibu. Dan bagaimana kondisi ibu?" tanya Cindy.


"Cind, apa kamu lupa, kalau ibu kamu sudah tiada?" Ada rasa ragu dalam diri Ravino untuk mengatakan hal yang sebenarnya.


"Apa? Apa yang Mas katakan?" teriak Cindy.


"Itu memang benar, Cindy. Ibu kamu ... sudah tiada," ucap Ravino.


Cindy mengingat-ingat beberapa waktu yang lalu. Tubuhnya terasa lemas saat Dokter mengatakan jika ibunya telah meninggal dunia. Mengingat semua itu Cindy menjerit dan menangis hister.


Ravino berusa keras menenangkan Cindy. Namum Cindy terlalu terpukul sampai tidak bisa mengendalikan dirinya.


"Cind, tolong tenanglah! Ingat kamu sedang hamil," ucap Ravino sambil memegang kedua lengan Cindy.


Mendengar kata hamil Cindy semakin histeris dengan keras Cindy memukul berkali-kali tubuh Ravino. "Aku melakukan ini untuk ibuku. Tapi sekarang lihatlah! Ibuku sudah tiada. Apa gunanya aku melakukan ini? Aku membencimu, aku tidak ingin melihatmu kamu lagi!"

__ADS_1


Ravino tetap diam menerima pukulan Cindy. Linangan air mata tidak sanggup lagi ditahan oleh Ravino. Direngkuhnya tubuh Cindy yang bergetar sambil mengucapkan kata maaf.


__ADS_2