
Ravino membaca chat dari sahabatnya, Doni. Dia hanya menggelengkan kepalanya melihat isi pesan dari sahabatnya itu.
Jangan ucapkan ijab kabul sebelum gue atau Sandra datang.
Maksud nya apa coba!
Besok pagi adalah hari paling mengerikan dalam hidupnya. Setelah dirinya mengucapakan Ijab kobul maka dalam sekejab dia akan menjadikan Gadis istinya keduanya.
Sengaja malam ini dia tak menemui Cindy, karena hatinya tak akan kuat melihat air mata yang turun dari mata Cindy.
"Maafkan aku Cindy" gumannya
-
-
-
"Saya terima nikah dan kawinnya Gadis..........."
BERHENTIII!!!!!
Sontak seluruh tamu undangan yang menyaksikan acara pernikahan Ravino dan Gadis menoleh ke sumber suara. Sepasang suami isti mendekati sang mempelai.
"Udah gue bilang jangan ngucapin ijab kobul sebelum gue atau istri gue dateng lo buru buru amat, pengin nikahin cewek busuk kaya dia" tunjuk Doni kepada Gadis.
Gadis yang tak terima Doni mengatai dirinya cewek busuk, langsung mendorong Doni. "Jaga ucapan lo".
__ADS_1
Doni hanya tersenyum sinis. "Rav, gue akuin dalam berbisnis lo emang jago, tapi sayang dalam urusan hati lo ****".
Ravino tak mengerti apa yang akan dikatakan sahabatnya. Gadis makin kesal karena Ravino menunda acara ijab kabul dan ingin mendengar penjelsan dari Doni.
"Tanya sama Gadis berapa usia kehamilannya sekarang''. Semua mata memandang Gadis. Gadis mengatakan kalau usia kandungannya baru menginjak dua bulan. Doni yang mendengarnya langsung menyunggingkan senyum sinis. Lalu mengambil selembar kertas dari tas istinya.
" Nih bukti kalau lo di bohongin sama Gadis" Doni menyodorkan selembar kertas putih yang di bawa Doni.
Ravino membaca dengan seksama apa yang tertulis di kertas yang ada ditangannya. Tangannya mengepal dan sorot matanya tajam, lalu mandang Gadis penuh kebencian.
"Jelaskan ini Gadis, kenapa disini tertulis usia kandungan lo sudah menginjak delapan belas bulan. Jadi saat lo tidur sama gue lo sudah dalam keadaan hamil" bentak Ravino.
"Itu fitnah sayang, mereka pasti sudah memalsukan semua itu" ucap Gadis menangkup wajah Ravino memaksanya untuk melihat dirinya.
Doni dan Sandra masih dengan senyum sinisnya. Sudah ketahuan masih saja berkilah dan menyebut Gadis sebagai wanita ular. Bukti nyata yang memperlihatkan perut yang mulai membesar, masih saja tak bisa membuat Gadis mengakuinya.
"Udah deh Dis, lo gak usah ngeles lagi. Niko udah jelasin semua ke gue"
"Dan lo pasti terkejut siapa ayah dari bayi itu." Doni menunjuk perut Gadis. "Om Romy, papah nya Niko".
Semua orang berbisik bisik setelah mengetahui kebenaran yang sudah terungkap. Rasa malu orang tua Gadis tak bisa di sembunyilan lagi, mereka tak mengetahui sikap asli anak perempuannya itu. Dengan tegas Ravino meminta semua tamu undangan untuk pulang.
Segera Ravino mencengkram kedua sisi wajah Gadis. Ditatapnya tajam wanita dihadapannya, ingin sekali rasanya ia melenyapkannya.
Ravino menghempaskan tubuh Gadis lalu pandangannya beralih ke mamahnya. "Ini wajah asli perempuan yang mama idam idamkan untuk menjadi menantu". Dan kalimat terakhir yang ia ucapkan menjadi kata telak untuk kesalahan ibunya. "Menjijikan"
Dengan segera Ravino masuk ke kamarnya, lalu keluar lagi setelah berganti pakainnya. Dengan santai Ravino melewati Mamahnya, Gadis dan orang tuannya. Dalam tangisnya Gadis menarik lengan Ravino dan memohon untuk tidak meninggalkannya. Perkataan Gadis yang akan membuang bayinya setelah dia melahirkan demi bersamanya, semakin membuat Ravino memandang randah dirinya.
__ADS_1
Ibu Desi terdiam, sudah tidak ada alasan lagi untuk mencegah anaknya pergi. Kebenaran sudah didepan matanya, helaan nafas panjang di keluarkan dari dalam mulutnya. Dengan berat hati dan rasa kecewa mendalam, dirinya mempersilahkan kedua sahabatnya untuk membawa anaknya pergi dari rumahnya.
*******
Perasaan bahagia kini dirasakan Ravino, baginya sudah tidak ada halangan lagi untuk memperkenalkan Cindy kepada dunia kalau dia lah istrinya. Sesampainya di apartemen Ravino langsung menekan tombol passcode. Di bukanya pintu itu dan langsung memanggil nama Cindy, berulang kali namun tak ada sahutan.
Ravino mencari ke kamar , kekamar mandi namun tak menemukannya. Pandangannya berhenti di pintu lemari yang sedikit terbuka. Ravino membuka lemari tersebut dan mendapati pakaian Cindy tak ada.
Dimeja rias ada selembar kertas, di ambilnya secarik kertas bertulisan 1milyar, lalu dia merobeknya.
"Siaaaal". Ravino bergegas keluar dan mendapati Bi sumi baru saja masuk ke dalam apertemen.
" Bi sumi dari mana!" tanya Ravino. "Cindy, dimana!"
Bi sumi kebingungan. "Loh mas Ravi, mba Cindy meminta saya ke pasar beli buah" bi Sumi menunjukan berbagai buah yang ada di tangannya.
Ravino menduga Cindy sengaja menyuruh bi Sumi pergi, agar tak mengetahui kalau ia akan pergi.
"Bi Cindy pergi, Cindy pergi" ucapnya penuh kecemasan.
Ravino berusaha menghubungi Cindy, namun ponselnya mati. Ravino menghubungi Doni dan memberitahukan kepadanya kalau Cindy pergi. Kecemasan terdengar di seberang telepon. Ravino memutus panggilannya lalu menjatuhkan diri di sofa ruang tengah.
Ravino meremas rambutnya, dia tak menyangka Cindy pergi. Padahal mereka sudah sepakat untuk bertahan bersama. Dia mengingat selembar cek di meja kamar yang tadi dia temukan. Pasti ibunya sudah mengatakan sesuatu ke Cindy, sehingga dia memilih pergi meninggalkannya.
Ravino mengumpat lalu membuang bantal di sebelahnya. Pandangannya berhenti melihat benda di sebrang matanya. Diambilnya benda itu, lalu terukir senyum dibibirnya.
"Dasar bodoh" gumannya seraya mengembangkan senyumnya.
__ADS_1
Halooo terima kasih buat yang sudah mempir dan like nya. Dukungan kalian menambah semangatku.😘😘😘😘😘
Selamat membaca........