
Usia Vincent sudah tiga bulan. Berat badannya pun sudah mencapai sembilan kilo. Ini berkat Desy, ia begitu sangat memperhatikan makanan Cindy. Wajah sang anak dengan suaminya pun sangatlah mirip bagai pinang dibelah dua.
Desy begitu memanjakan menantu dan cucunya. Setiap kali berpergian ke luar negri selalu yang dia ingat adalah Cindy dan Vincent. Desy pun menyiapkan ruangan khusus untuk bermain Vincent. Desy juga tak mau menggunakan jasa baby sitter karena khawatir sedang marak penculikan bayi oleh pengasuhnya. Cindy juga setuju denga Desy, dia ingin melihat serta merasakan sendiri perkembangan sang buah hati.
Ravino dan Desy sering berdebat masalah Vincent, Ravino tak suka ibunya terus memanjakan Vincent. Segala mainan mahal terus saja dia beli. Padahal Vincent belum bisa memainkannya.
"Mah!!!udah donk mama mau bikin rumah ini kaya toko mainan. Vincent juga belum bisa mainim itu semua."
"Biarin aja, nanti kalo udah bisa mainin kan jadi gak perlu beli lagi."
Ravino menggeram pelan. Ia merasa mamahnya benar benar menyebalkan. Sedang Cindy hanya menjadi pendengar setia mereka berdua ibu mertua dan suaminya.
"Mamah gak da niatan buat bikin taman bermain pribadi Vincent kan!"
Desy terdiam dan berfikir sejenak, "itu ide bagus nanti mama akan siapkan."
Ravino membelakkan matanya tak percaya. Cindy melipat bibirnya untuk menahan tawa. Ternyata sifat cuek Ravino menurun dari ibunya.
"Mah!!!!"
"Apa sih Rav, ini kan buat anak kamu juga. Lagian kita gak akan bangkrut cuma buat bikin taman bermain buat cucu kesayangan mama."
Cindy menghela nafas, Vincent memang cucu pertama ibu mertuanya. Ada rasa senang di hatinya, dulu ia ingat Desy tak mau mengakui Vincent sebagai cucunya, dan liat sekarang bahkan kasing sayang ke cucunya lebih besar dari siapapun.Tapi ada rasa cemas juga, Cindy takut anaknya akan tumbuh menjadi anak yang manja.
"Udah deh Rav, jangan ikut campur urusan mama sama Vincent. Yang ngurusin kamu dari bayi juga mamah. Tugas kalian itu cuma kasih cucu yang banyak buat mamah."
Ravino dan Cindy menghela nafas panjang, percuma juga berdebat dengan Ibunya. Mereka hanya takut anaknya akan tumbuh menjadi anak yang manja. Ravino ingin anaknya tumbuh menjadi anak yang mandiri dan menghargai sesama.
Dering ponsel Desy berbunyi beberapa kali, Desy mengangkat panggilannya dan ternyata dari teman sosialnya.
"Cindy."
"Ya mah."
__ADS_1
"Mamah bawa Vincent yah, temen mama pengin ketemu sama cucu mama ini."
"Ya udah Cindy siap siap dulu."
"Gak usah kamu dirumah aja."
"Mamah gak repot nanti!''
Desy tersenyum lalu mendekatkan tubuhnya ke menantunya. Cindy tersenyum mendengar bisikan mertuanya. Cindy pun mengangguk lalu mempersiapkan keperluan anaknya. Cindy juga meminta salah satu asisten rumah tangganya untuk menemani ibu mertuanya.
Cindy mengantar ibu mertuanya ke depan rumah. Lalu mencium kening putranya.
"Jangan rewel ya sama oma."
"Iya mama." ucap Siti asisten rumah tangga menirukan suara khas bayi.
Cindy mencium tangan ibu mertuanya. "Hati hati ya mah."
Ravino yang sedang mandi dan terkejut saatt ada yang memeluknya dari belakang yang tak lain adalah istrinya. Cindy mengusap tubuh polos suaminya, dari dada sang suaminya dan mulai turun ke bawah. Ravino benar benar menikmati sentuhan istrinya, tiga bulan mereka tak pernah berhubungan suami istri. Karena Cindy masih kadang mengeluh perutnya terasa sakit karena bekas operasinya. Ravino pun tak tega untuk meminta haknya kepada Cindy.
Cindy terus menciumi punggung sang suami dengan penuh kelembutan. Tak di pungkiri Cindy juga sangat merindukan sentuhan suaminya. Ravino berbalik menghadap istrinya dan menangkup kedua sisi wajah Cindy.
"Kau sedang menggodaku!"
Cindy tersenyum lalu melingkarkan tangannya ke leher sang suami. "Apa salahnya menggoda suami sendiri.''
Ravino tersenyum tipis lalu segera ******* bibir sang istri. Cindy pun tak tinggal diam, ia segera membalas ciuman suaminya. Ravino sudah tak bisa menahan hasrat nya, tapi ia ingat sang istri kadang masih mengeluh perutnya sakit.
"Cindy apa perutmu masih sakit." tanya nya sambil mengusap perut rata sang istri.
Cindy tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Dengan cepat Ravino kembali ******* bibir sang istri dan bersiap meluapkan hasratnya. Di bawah guyuran air dari shower mereka berdua meluapkan rasa rindu mereka akan kenikmatan duniawi. Ravino terus menjamah tubuh sang istri dengan lembut, ia takut akan menyakiti istrinya. Tak puas bergulat di dalam kamar mandi, mereka berdua melanjutkan di atas ranjang. Mereka benar benar menikmati itu semua.
Cindy masih betah merebahkan kepalanya di dada sang suami, apa lagi sang suami terus memeluk dan menguap rambut panjangnya. Andai saja Cindy tak ingat pesan sang mertua, mungkin kini ia sudah terlelap tidur dipelukan sang suami.
__ADS_1
-
-
-
Setelah memberiskan diri Ravino menanyakan keberadaan anak dan ibunya. Cindy mengatakan kalau mereka berdua sedang jalan jalan dan tak ingin di ganggu. Ravino tersenyum mendengar ucapan sang istri, Ravino begitu bahagia melihat kedekatan Cindy dan ibunya.
Cindy sedang mematut dirinya sendiri di cermin kamarnya. Ia memakai gaun merah maroon dengan belahan kaki sepanjang luturnya dan menapakan pundak polosnya.
Ravino mendekap tubuh sang istri dari belakang lalu mencium pundak polos sang istri.
"Happy unniversary sayang." bisiknya.
Ravino mengusap pipi suaminya. Tak disangka kini usia pernikahan mereka sudah satu tahun. Cindy dan Ravino sangat senang, di tak mengira kalau pernikahannya yang berawal dari sebuah perjanjian berlanjut sampai sekarang.
Keduanya sedang bersiap untul acara makan malam mereka, Ravino memakaikan kalung berlian ke leher sang istri sebagai hadiah ulang tahun pernikahan mereka. Setelah siap mereka langsunh menuju restauran yang Cindy tunjukan.
Sesampainya disana Cindy mengalungkan tangannya di lengan sang suami dan berjalan begitu anggun. Mereka berjalan masuk kedalam restouran yang berada di dalam hotel mewah. Dan saat Ravino dan Cindy memasuki pintu Restauran tiba tiba ada hujan bunga mawar merah dan putih mengguyur keduanya.
"HAPPY ANNIVERSARY."
Sorak semua orang yang ada didalam restauran tersebut dan ternyata ada Ibu dan juga sahabat sahabat mereka. Pesta kejutan yang sudah di siapkan oleh Desy untuk anak dan menantunya.
Keduanya menghampiri semua orang yang berada di dalam restauran, Desy menyambut keduanya dengan sangat gembira dan tangis haru. Ravino menghapus air mata ibunya lalu mencium kening sang ibu.
"Terima kasih mah. Mamah yang terbaik."
Desy mengangguk dan membawa keduanya ke tengah para tamu undangan untuk memotong kue yang sudah di siapkan. Di sana juga sudah ada Rohim dan Aryo, Cindy memeluk keduanya dan menangis terharu.
Cindy sangat merindukan sang ibu, Desy mengusap punggung Cindy dan menghapus air matanya. Desy tahu kalau menantunya pasti sangat merindukan sosok ibunya.
Ravino dan Cindy mulai memotong kue setinggi satu meter itu, diiringi tepuk tangan para tamu undangan. Ravino memberikan kue potongan pertama kepada Desy dan Cindy memberikan kepada Rohim. Cindy dan Ravino saling menyuapi kue di tangan mereka lalu sebuah kecupan mendarat di kening Cindy.
__ADS_1