
Cindy duduk termenung di depan ruang rawat ibunya, bersama adik dan ayahnya. Cindy terkejut saat merasakan sesuatu yang bergetar di dalam tasnya. Ia membuka tas untuk mengambil ponselnya. Senyumnya mengembang saat melihat melihat nama Doni di layar ponselnya.
Cindy menekan tombol hijau untuk segera menerima panggilan dari kakak angkatnya.
"Halo, Assalamu'alaikum," sapa Cindy.
"Wallaikumsalam. Bagaimana kabar ibumu?" tanya Doni dari sebrang panggilan.
"Lagi ditangani Dokter, Mas," jawab Cindy.
Cindy menjelaskan soal keadaan ibunya kepada Doni. Dokter menyarankan untuk melakukan transplantasi ginjal. Ayah, adik serta dirinya sudah diperiksa dan tidak ada yang cocok dengan ginjal ibunya.
"Kamu yang sabar ya. Aku doakan semoga ibu kamu cepat sembuh," ucap Doni.
"Amin," ucap Cindy.
*****
Dua minggu kemudian
Dua minggu sudah Cindy berada di kampung halamannya. Selama dan dua minggu juga ibunya dirawat di rumah sakit. Dokter sudah mengizinkannya pulang dan melakukan perawatan jalan sembari menunggu donor ginjal yang cocok dengannya.
Cindy duduk termenung melihat rembulan di balik jendela kamarnya, sampai Cindy tidak menyadari ibunya datang menghampirinya.
"Ada apa? Kenapa melamun?" tanya Marni.
Ucapan Marni membuyarkan lamunan Cindy. Cindy menoleh ke asal suara, ia melihat ibunya berjalan menghampirinya.
"Eh Ibu, kenapa Ibu bangun?" Cindy beranjak dari tempat yang didudukinya, lalu membantu ibunya duduk di tepi tempat tidur.
"Badan ibu sudah enakan. Ibu kangen sama kamu. Sudah lama ibu gak ngobrol sama kamu." Marni mengusap rambut panjang Cindy.
"Cindy juga kangen sama ibu." Cindy memeluk ibunya.
Keduanya berbincang sampai tidak ingin waktu. Saat Cindy melihat ibunya terlihat lelah, Cindy menyuruh ibunya untuk beristirahat.
"Ayo, Bu. Cindy akan mengantar ibu ke kamar." Cindy lebih dulu beranjak dari tempat tidur, ia membantu ibunya berdiri dan menuntun ibunya sampai ke kamarnya.
Setelah itu Cindy kembali ke kamarnya, tidak lupa Cindy juga mengunci pintunya. Ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan posisi tengkurap. Isak tangisnya mulai terdengar Setelah besok dirinya kembali ke Kota, Cindy harus bersiap menyerahkan dirinya kepada Ravino.
*****
Cindy sampai di ibukota malam hari dan dijemput oleh Ravino di stasiun. Keduanya sudah dalam perjalanan pulang. Mereka duduk bersebelahan di dalam mobil dengan pikiran mereka masing-masing.
"Kamu sudah makan, Cind?" tanya Ravino, memecah keheningan di antara mereka. Cindy menjawab dengan menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu kita makan dulu ya." Ravino menghentikan mobilnya di depan tempat makan pinggir jalan.
"Ada apa? Kenapa berhenti?" tanya Cindy.
"Tadi aku sudah mengatakannya, 'kan? Kita makan dulu," jawab Ravino.
Ravino membuka sabuk pengaman yang melilit di tubuhnya lalu setelah itu Ravino keluar dari mobil. Cindy juga melakukan hal yang sama dengan Ravino.
__ADS_1
"Mas Ravi apa tidak salah mau makan di sini?" tanya Cindy.
"Kenapa? Apa kamu tidak suka makan di tempat seperti ini?" Ravino balik bertanya pada Cindy.
"Tidak kok, Mas. Saya hanya merasa heran saja, orang kaya Mas Ravi mau makan di tempat seperti ini," jawab Cindy.
Ravino hanya membalas perkataan Cindy dengan senyumannya.
"Mas Ravi kan bos besar. Biasanya bos besar sukanya makan di restoran yang mewah dan mahal," jawab Cindy dengan polosnya.
"Sudah jangan kebanyakan mikir. Ayo kita masuk! Aku sudah sangat kelaparan," ajak Ravino.
"Iya, Mas." Cindy melangkah mengikuti Ravino, seperti anak ayam mengikuti induknya.
Keduanya masuk ke warung makan itu. Mereka duduk di tempat duduk lesehan dan saling berhadapan.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Ravino.
"Samain saja sama Mas Ravi," jawab Cindy.
"Baiklah." Ravino mengangkat tangan memanggil pelayan di warung itu.
"Mas, saya pesan ayam goreng dua porsi ya," ucap Ravino. "Untuk minumnya ea jeruk saja."
"Baik, Pak. Ditunggu pesanannya," ucap pelayan warung kaki lima itu.
Ravino dan Cindy mengobrol sambil menunggu makanan yang mereka pesan datang. Banyak hal yang mereka bicarakan. Pembicaraan mereka terpaksa harus terhenti saat makanan yang mereka pesan datang.
Tidak ada lagi pembicaraan setelah itu. Keduanya fokus dengan makanan mereka masing-masing.
Sudah hampir setengah jam Cindy dan Ravino berada di tempat itu untuk mengisi perut mereka. Cindy lebih dulu selesai makan. Ia menghabiskan es jeruk yang masih tersisa di gelasnya. Tidak sengaja matanya melihat ada sisa makanan menempel di sudut bibir Ravino. Cindy mengambil tisu yang ada di atas meja lalu membersihkan sisa makanan yang ada di sudut bibir Ravino.
"Maaf, Mas. Ada sisa makanan di sudut bibir Mas Ravi." Cindy merasa canggung saat pandangan matanya bertemu dengan Ravino.
"Tidak apa-apa, terimakasih banyak ya," ucap Ravino.
"Sama-sama, Mas," balas Cindy.
"Kamu sudah selesai makan?" tanya Ravino.
"Sudah, Mas." Cindy menunjukkan piringnya yang sudah kosong.
"Ya sudah, ayo kita pulang. Ini sudah malam," ajak Ravino.
"Ayo," sahut Cindy.
Cindy dan Ravino beranjak dari tempat duduk mereka. Setelah membayar makanan yang mereka pesan kedua keluar dari tempat itu.
Cindy dan Ravino masuk ke mobil yang sama dan pergi meninggalkan tempat makan itu. Hening mengambil alih suasana di dalam mobil. Cindy yang merasa lelah setelah menempuh perjalanan sehari penuh tertidur begitu saja.
Tidak lama setelah itu mobil mereka tiba di apartemen. Ravino memarkirkan mobilnya di basemen. Setelah itu ia membangunkan Cindy dengan menepuk-nepuk pipi Cindy.
"Cindy, bangun! Kita sudah sampai," ucap Ravino.
__ADS_1
Cindy terbangun dari tidurnya saat merasakan ada yang menepuk pipinya. Mata yang tadinya terpejam mulai membuka.
"Ayo turun! Kita sudah sampai," ucap Ravino.
"Iya, Mas," sahut Cindy dengan suaranya yang lirih.
Keduanya turun dari dalam mobil bersama-sama. Ravino lebih dulu menurunkan barang-barang Cindy dari dalam bagasi.
"Sini, Mas barang-barangnya. Biar saya yang bawa." Cindy meminta barang-barangnya dari Ravino.
"Biar aku yang membawanya. Kamu cepat jalan. Jangan sampai kamu tertidur di tempat parkir ini," perintah Ravino.
"Iya, baiklah." Cindy mengerucutkan bibirnya.
-
-
-
Keesokan harinya rutinitas harian Cindy kembali seperti biasa. Rasa canggung Cindy datang saat kembali mengingat kalau Ravino meminta anak dari dirinya.
"Apa bisa aku melakukannya?" Cindy yang sedang menyapu menghentikan aktivitasnya, memikirkan apa yang sebentar lagi akan terjadi.
Ting tong
Suara bel mengejutkan Cindy, membuat lamunannya menjadi buyar.
"Siapa pagi pagi sudah datang?" gerutu Cindy, yang melihat jam di dinding masih menunjukan pukul setengah tujuh.
Cindy membuka pintu dan terkejut melihat siapa yang berdiri di hadapannya.
''Mas Reno," ucap Cindy.
"Hai, Cind apa kabar?" tanya Reno.
"Ba-ik." Cindy tersenyum canggung mengingat saat mengingat beberapa hari yang lalu Reno mengungkapkan cinta padanya.
"Kamu ngapain ke sini?" tanya Cindy.
"Sampai kapan kamu akan terus bertanya padaku? Apa aku tidak boleh masuk?" Reno mengela napasnya dalam-dalam.
"Eh iya, Mas." Cindy membuka pintu lebar-lebar. Ia bergeser untuk memberikan jalan pada Reno.
"Silahkan duduk, Mas. Ada apa Mas ke sini pagi-pagi sekali?" tanya Cindy.
"Aku menggantikan Mas Fajar sementara waktu. Istri Mas Fajar akan melahirkan," jawab Reno.
"Apa?" Cindy terkejut mendengar ucapan Reno, begitu juga Reno terkejut mendengar teriakkan Cindy.
Reno mengangkat sebelah alisnya, dia berpikir apakah Cindy tidak suka kalau dirinya dekat dengannya.
Jelas Cindy merasa terkejut. Jika Reno bekerja sebagai sopir Ravino, Cindy takut jika Reno akan mengetahui apa yang akan terjadi antara dirinya dan Ravino.
__ADS_1