
Apa yang Ravino takutkan ternyata benar, Cindy sedang menonton acara di layar televisi dengan menitihkan air matanya. Acara infotainment yang sedang ia lihat sangat menyakiti hatinya. Masa lalu suaminya kembali, mungkin wanita itu akan merebut suaminya kembali.
Mungkin Ravino akan mempertahankan dirinya karena ia sedang mengandung anaknya, tetapi untuk mendapatkan hati Ravino itu pasti akan sangat sulit mengingat Gadis adalah cinta pertama dari suaminya.
Bunyi dering ponselnya membuyarkan lamunan Cindy. Ia mengambil ponselnya yang ada di atas meja. Ada nama Ravino muncul di layar. Tidak menunda lagi Cindy menekan tombol hijau untuk menerima panggilan dari Ravino.
"Halo," ucap Cindy.
"Cind, aku tidak akan pulang selama beberapa hari. Aku ada pekerjaan di luar kota," ucap Ravino.
"Iya, Mas," ucap Cindy.
Setelah itu sambungan telepon terputus. Cindy menurunkan tangannya perlahan. Suaminya tidak pulang?
Dalam hatinya Cindy mengira suaminya akan pergi menghabiskan waktu bersama dengan Gadis. Hatinya makin perih ketika mengingatnya.
*****
Dua hari sudah Ravino meninggalkan Cindy sendiri di apartemen, bahkan tanpa kabar. Ponsel Ravino juga sama sekali tidak bisa dihubungi. Cindy sempat bertanya kepada Doni. Namun, kakak angkatnya pun tidak tahu ke mana perginya Ravino. Hal itu membuat Cindy makin diterpa rasa gelisah.
Benarkah Ravino sedang menghabiskan waktu bersama Gadis? Jadi suaminya itu sengaja mematikan ponselnya.
Pertanyaan itu yang terus muncul di benak Cindy. Jika itu benar Cindy merasa tidak rela, ia tidak rela suaminya menghabiskan waktu bersama wanita lain. Apalagi sampai Ravino menghabiskan malam dengan wanita itu, Cindy sungguh sangat tidak rela.
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Cindy sudah berada di kamar dan siap untuk beristirahat. Baru Cindy akan merebahkan tubuhnya, bunyi bel apartemen mencegahnya untuk melakukan itu. Kening Cindy mengerut melihat waktu pada jam yang tergantung di dinding kamarnya.
Siapa yang datang malam-malam begini? Mungkinkah mas Ravino? Tapi ... itu tidak mungkin. Jika mas Ravi yang datang dia bisa langsung masuk dan tidak perlu repot-repot untuk menekan bel.
Merasa penasaran Cindy memutuskan untuk melihat siapa yang datang. Cindy beranjak dari tempat tidur, ia melangkah menuruni anak tangga dengan perasaan cemas. Cindy takut yang datang orang yang bermaksud jahat padanya.
"Aku buka tidakya?" batin Cindy.
Dalam kebingungannya suara bel mengejutkan Cindy.
Berulang kali bel terus berbunyi. Cindy makin merasa ketakutan. Awalnya Cindy tidak berniat untuk tidak membukanya, tetapi suara bel terus saja berbunyi. Cindy akhirnya memutuskan untuk membuka pintu dan melihat siapa yang datang.
Pintu terbuka, Cindy melihat dua orang wanita berdiri di hadapannya. Satu jelas sangat ia kenali, wanita itu tidak lain adalah Desi, wanita yang satunya lagi, meskipun baru pertama kali bertemu, tetapi sebelumnya Cindy sudah lebih dulu melihat di foto maupun layar televisi dan wanita itu adalah Gadis.
"I-ibu De-si." Leher Cindy seperti tercekik membuatnya kesulitan untuk bicara.
"Saya tidak mau basa-basi! Di Ravino?" tanya Desi.
"Mas Ravi ... tidak ada di sini, Bu ...," jawab Cindy.
"Kalau tidak di sini lalu di mana dia?" tanya Gadis.
Cindy melihat ke arah Gadis, ia diam dan tidak sudi untuk menjawab pertanyaan dari wanita yang merupakan mantan istri dari suaminya.
"Cindy! Di mana anak saya?" Teriakan dari Desi membuat Cindy tersentak.
__ADS_1
“Mas Ravi keluar kota, Bu,” jawab Cindy dengan gagap.
“Keluar kota? Kapan dia kembali?” tanya Gadis.
“Saya tidak tahu, Mba,” jawab Cindy sambil menunduk wajahnya. “Mas Ravi tidak mengatakannya.”
“Baiklah, kalau begitu kamu pergi dari sini sekarang juga!” usir Gadis.
“Kenapa saya harus pergi?” tanya Cindy.
“Karena aku sudah kembali dan Ravino tidak lagi membutuhkanmu,” jawab Gadis. “Sekarang kemasi barang-barangmu!”
“Tapi ... Bu Desi saya harus pergi ke mana malam-malam begini?” Cindy mencoba memohon kepada ibu Desi.
“Ke mana saja. Dan mulai besok kamu sudah bisa kembali bekerja di restoran saya lagi,” ucap Desi.
“Cepat! Jangan buang-buang waktu lagi!” ucap Gadis yang membuat Cindy tersentak.
******
Di tempat lain Ravino amatlah bingung dengan perasaannya. Kegundahan di dalam hatinya memaksa Ravino untuk pergi sesaat dari Cindy. Namun, Ravino sadar jika dirinya tidak bisa terus menghindar dari Cindy.
Ravino pulang ke apartemnya. Keadaan apartemennya gelap, Ravino mengira Cindy mengerjai dirinya lagi. Ravino memanggil Cindy beberapa kali. Namun tidak ada jawaban.
“Cindy!” Ravino kembali mencoba memanggil Cindy.
“Surprise!”
“Sayang.” Gadis menghampiri Ravino dan memeluknya. “Hai, Sayang. Apa kabar?”
“Lepas!” Ravino menjauhkan Gadis dengan kasar.
Cindy menyadari sikap kasar Ravino, tetapi Gadis mencoba untuk bersikap biasa saja.
“Kalian ngapain di sini?” tanya Ravino.
“Memberimu kejutan,” jawab Gadis. “Kamu terkejut, 'kan?”
Ravino melengos enggan untuk menjawab dan melihat Gadis.
“Ravi, kenapa tidak mengatakan kalau kamu sudah menikah dengan Gadis?” tanya Desi. “Kalau sama Gadis, Mama setuju sekali.”
Ravino masih tetap diam, tangannya mengepal menahan amarah yang bergejolak di dalam tubuhnya.
“Hubungan aku dan wanita ini sudah lama berakhir,” jawab Ravino.
“Gadis sudah menceritakan semuanya kepada Mama,” ucap Desi.
“Aku minta maaf, Rav. Kita bisa mulai ini dari awal,” ucap Gadis.
__ADS_1
“Jangan bermimpi!” tolak Ravino. “Sebaiknya kalian pergi!”
“Rav —” Ucapan Gadis dipotong oleh Ravino.
“Cukup!” sela Ravino.
“Cindy, Cindy!” Ravino berulang kali memanggil Cindy tanpa memeperdulikan ucapan Gadis dan mamanya. “Cindy! Apa kamu tidak dengar aku memanggilmu?”
“Cindy sudah Mama suruh keluar dari sini. Mama menyuruh Cindy untuk kembali bekerja ke restoran,” ucap Desi.
"Apa? Mama tidak bisa seenaknya begitu dong? Cindy sekarang kerja sama Ravi,” ucap Ravino.
“Memang kenapa? Sekarang sudah ada Gadis yang akan mengurus kamu, ’kan?” ucap Desi tanpa mau mendengarkan protes dari Ravino.
“Ya sudah, Mama tinggal dulu. Kalian baik-baik di sini. Mama ingin cepat-cepat meresmikan hubungan kalian.” Desi pergi dari meninggalkan Ravino dan Gadis.
“Ma ... Mama.” Ravino memanggil ibunya. Namun, ibunya tetap pergi.
“Sial!” Ravino meremas rambutnya dan berteriak. “Kacau semua!”
“Kenapa, Sayang? Aku di sini, aku sudah kembali untukmu. Kita akan mulai dari awal,” ucap Gadis bergelayut di tangan Ravino.
Dengan kasar Ravino menghempaskan tangan Gadis menatapnya dengan tajam. “Mau kamu apa? Apa kamu tidak punya rasa malu setelah apa yang sudah kamu lakukan padaku?”
Gadis tersenyum dan kembali memeluk Ravino. “Ayolah, Sayang. Itu sudah masa lalu. Maafkan aku. Aku menyesal melakukan itu padamu. Kita mulai lagi dari awal.”
Ravino menghempaskan tubuh Gadis dan mencengkram wajah Gadis. “Dimana urat malumu, Gadis! Jangankan kembali bersamamu, melihat mukamu saja aku merasa jijik.”
Ravino melepaskan cengkraman wajah Gadis dengan kasar. Seketika tubuh Gadis gemetar melihat tatapan mengerikan dari mantan suaminya itu.
Ravino pergi meninggalkan apartemennya meninggalkan Gadis untuk mencari Gadis.
“Aku pasti akan mendapatkanmu kembali, Ravino,” tekad Gadis.
Ravino melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Amarahnya menembus ubun-ubun saat kembali mengingat perselingkuhan Gadis dan Niko.
“Sial,” umpat Ravino sembari memukul setir mobilnya.
Ravino menghentikan mobilnya saat mengingat istrinya. Kenapa Cindy sekali tidak memberitahukan kalau ibunya menyuruhnya untuk pergi. Ravino mengambil ponsel di saku jas-nya untuk menghubungi Cindy.
Dua kali mencoba sambungan teleponnya tersambung dengan Cindy.
“Halo, Mas Ravi,” ucap Cindy.
Ravino tersenyum mendengar suara lembut Cindy dari seberang sana.
“Kamu dimana?” tanya Ravino.
“Saya ada di kos'an Mira,” jawab Cindy.
__ADS_1
“Kita harus bertemu! Ada yang ingin bicara denganmu,” pinta Ravino.
“Baik, Mas,” ucap Cindy.