
Cindy keluar dari ruangan ibu Desi dengan wajah murung. Sandi yang melihat itu langsung menghampiri sahabatnya.
“Cind, kenapa murung?” tanya Sandi.
Cindy masih bungkam.
“Jangan nakut-nakutin aku deh.” Sandi mendesak Cindy untuk bicara.
Cindy hanya menggelengkan kepala. Matanya mulai berkaca-kaca sebelum akhirnya memeluk Sandi.
“Aku dipecat,” ucap Cindy.
“Seriusan?” tanya Sandi dibalas anggukan kepala oleh Cindy.
“Maafin aku ya kalau aku ada salah sama kamu selama aku kerja di sini,” ucap Cindy.
Sandi kembali memeluk sahabatnya itu. Ia merasa iba dengan apa yang menimpa sahabatnya.
“Terus sekarang kamu mau ke mana?” tanya Sandi. “Kamu gak akan pulang kampung 'kan? Di sini saja ya nanti aku coba bantu kamu buat cari kerjaan baru.”
Cindy menarik balas beratnya sebelum akhirnya menggelengkan kepalanya. “Gak usah, Sand. Setelah dari sini aku pindah ke tempatnya Mas Ravino.”
“Hah, maksud kamu?” tanya Sandi tidak mengerti.
“Mas Ravino nyuruh aku untuk kerja di apartemennya,” jawab Cindy.
“Syukur deh, Cind. Setidaknya kamu tidak jadi gelandangan di jalanan.”
Sandi dan Cindy menoleh ke asal suara. Mereka melihat Mira berdiri tidak jauh dari tempatnya mengobrol.
“Keterlaluan banget kamu, Mir. Teman lagi susah kamu malah kayaknya seneng,” ucap Sandi.
“Sand ... sudah. Jangan diladenin,” suruh Cindy.
Pandangan Cindy beralih pada Mira. “Ini yang kamu mau, 'kan?”
“Bagus kalau kamu sadar diri,” ucap Mira.
Mira begitu senang Cindy tidak lagi bekerja di restoran itu.
Cindy merapikan barang-barangnya yang di masih ada restoran. Kemudian berpamitan kepada teman-temannya yang lain.
Cindy melangkah ke luar dari restoran. Langkahnya terhenti saat telinganya mendengar ada yang memanggilnya. Cindy pun membalikan tubuhnya dan melihat Reno sedang berjalan dengan berlari kecil ke arahnya.
“Kamu gak kenapa-kenapa, 'kan?” tanya Reno.
“Gak apa-apa kok, Mas Reno,” jawab Cindy. “Maafin aku kalau selama aku kerja di sini aku punya salah ke kamu. Dan aku juga mau minta tolong ... tolong jagain Mira.”
Reno menjawab dengan senyuman hangatnya. “Iya, kamu tenang saja.”
“Kamu juga jaga diri kamu baik-baik,” pesan Reno.
__ADS_1
“Mas Reno juga jaga diri baik-baik,” balas Cindy.
Setelah beberapa menit berbincang dengan Cindy, Reno kembali masuk ke dalam restoran, karena resto sudah mulai ramai kembali. Sebelum kembali ke restoran, Reno mengusap lembut kedua sisi wajah Cindy. Pandangan Reno menunjukan rasa sayang pada Cindy.
“Ingat ya ... kamu harus jaga diri kamu baik-baik,” ucap Reno yang langsung dianggukki oleh Cindy.
Pemandangan romantis itu tidak luput dari tatapan mata Mira. Itu makin menambah rasa benci Mira pada diri Cindy.
Cindy kembali ke kosan-nya untuk mengemasi barang- barangnya. Untuk sehari itu Cindy berdiam diri di dalam tempat tinggalnya itu. Tidak lupa juga Cindy menghubungi keluarganya di kampung untuk mengabari mereka tentang pekerjaan barunya.
Ponsel Cindy berdering saat waktu menunjukan pukul tujuh malam. Cindy mengambil ponselnya dan melihat siapa orang menghubungi ponselnya. Mata Cindy melihat ada nama Ravino pada layar ponselnya.
Segera Cindy menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan dari majikannya.
“Halo,” ucap Cindy.
Aku menunggumu di dekat halte bus.
“Baik, saya jalan sekarang,” ucap Cindy.
Cindy berlalu dari kosan-nya setelah ia berpamitan kepada pemilik kosan. Cindy berjalan menuju ke arah jalan raya. Sesampainya di tempat yang di tuju, Cindy melihat ada sebuah mobil mewah yang pernah ia lempari dengan batu.
Cindy yakin itu mobil milik Ravino. Cindy melangkah menuju mobil itu, kemudian Cindy pun masuk ke dalam mobil.
“Kok kamu duduk di belakang? Memang aku ini supir kamu,” ucap Ravino.
“Terus saya mesti duduk di mana?” tanya Cindy.
“Depan sini,” suruh Ravino.
“Iya, itu lebih baik dari pada kamu duduk di belakang,” jawab Ravino.
“Baik, Mas,” sahut Cindy.
Cindy kembali ke luar dari mobil itu untuk berpindah tempat duduk tepat di samping Ravino.
Ravino kembali melajukan mobilnya menuju ke apartemennya. Sepanjang perjalanan keduanya saling diam. Cindy yang awalnya menjadi singa betina di depan Ravino, kini berubah menjadi seekor kelinci.
Mobil yang Ravino kendarai masuk ke dalam gedung apartemen yang ia tinggali. Ravino lebih dulu memarkirkan mobilnya di basemant.
“Turun,” suruh Ravino setelah mobilnya berhenti.
Cindy mengedarkan pandangannya ke luar mobil.
“Mas Ravino tinggal di sini? Kenapa gak tinggal sama ibu Desi?” tanya Cindy.
“Harus ya aku jawab pertanyaan kamu?” Ravino balik bertanya kepada Cindy.
Cindy tersenyum dengan menunjukkan deretan giginya. Cindy merasa begitu bodoh bertanya hal itu pada Ravino. Apa urusannya?
“Jangan banyak bertanya lagi. Cepat turun!” perintah Ravino.
__ADS_1
“Baik, Mas?” Cindy mendadak menjadi gagap.
Cindy melangkah mengikuti Ravino, hingga mereka masuk ke dalam lift. Sejujurnya Cindy merasa asing di tempat itu. Cindy baru pertama kalinya masuk ke dalam tempat seperti itu.
Pintu lift terbuka, Cindy kembali mengikuti langkah Ravino. Langkahnya kembali terhenti saat Ravino juga menghentikan langkahnya.
“Ini apartemenku,” ucap Ravino.
Ravino menekan tombol passcode yang ada di pintu. Tidak lupa juga Ravino memberitahukan passcode itu kepada Cindy.
“Ayo masuk,” ajak Ravino setelah pintu terbuka.
Cindy mengangguk dan kembali mengikuti Ravino, karena memang dirinya tidak punya pilihan lain.
Cindy terperangah saat melihat bagian dalam apartemen itu. Dirinya tidak menyangka jika ternyata bagian dalam apartemen itu sangat besar.
“Oh iya, nama kamu siapa tadi?” tanya Ravino.
“Cin-cin-dy, Mas,” jawab Cindy.
“Baiklah, Cindy mulai sekarang dan seterusnya kamu akan bekerja di sini. Kamar kamu ada di dekat dapur. Dan kamar aku ada di atas,” ucap Ravino yang langsung dianggukki oleh Cindy.
Apartemen Ravino memang besar ada dua kamar di lantai atas dan satu di dekat dapur. Semenjak Gadis pergi ke luar negri, Ravino jarang memanggil jasa bersih- bersih. Dan untuk makan Ravino selalu membeli makanan di luar.
“Ya sudah kamu taruh barang-barang kamu di kamar kamu. Terus buatkan aku kopi dan antar ke ruangan kerjaku di sana.” Ravino menunjuk sebuah pintu yang ada di bawah anak tangga.
“Baik, Mas. Kalau begitu saya permisi dulu,” ucap Cindy.
Cindy melangkah ke arah kamar yang ditunjuk oleh Ravino. Tangan Cindy menarik gagang pintu untuk membuka pintu. Cindy terperangah saat melihat kamarnya, besar dan terlihat nyaman. Ada pendingin ruangannya juga.
Cindy segera menaruh tasnya ke
dalam lemari. Setelah itu Cindy keluar dari kamarnya, langkahnya menuju ke dapur yang tepat di sebelah kamarnya.
Cindy mulai meracik kopi ke dalam gelas sambil menunggu air yang ia masak mendidih. Setelah airnya mendidih, Cindy menuang air itu ke dalam cangkir. Cindy membawa kopi yang ia buat kepada Ravino setelah mengaduknya.
Langkah Cindy menyusuri bagian dalam apartemen. Rasa kagum masih menyelimuti diri Cindy pada apartemen itu.
“Mewah sekali,” batin Cindy.
Langkah Cindy berhenti tepat di depan pintu ruangan kerja Ravino. Sebelum masuk Cindy lebih dulu mengetuk pintu itu.
“Permisi, Mas ... ini kopinya,” ucap Cindy.
“Taruh di sini.” Ravino menunjuk meja yang ada di hadapannya.
Cindy melakukan apa yang diperintahkan oleh Ravino.
“Ada lagi yang Mas Ravino butuhkan?” tanya Cindy.
“Tidak ada. Kamu istirahat saja,” ucap Ravino.
__ADS_1
“Baiklah, kalau begitu saya permisi,” pamit Cindy.
Cindy keluar dari ruangan kerja Ravino dan kembali ke kamarnya. Meskipun merasa asing di tempat itu, Cindy akan tetap berusaha bekerja dengan baik agar dirinya tetap bisa membatu biaya pengobatan ibunya.