
Hari yang ditunggu-tunggu oleh Ravino akhirnya datang. Ravino kini dalam perjalanan menuju ke apartemen Gadis. Senyumnya terus mengembang di bibirnya sepanjang perjalanan itu.
Ditatapnya sebuah kotak merah ditangannya. Di dalamnya ada sesuatu yang Gadis minta sebagai hadiah ulang tahunnya.
“Aku sudah tidak sabar untuk bertemu denganmu?” batin Ravino.
Ravino tiba di apartemen Gadis. Hatinya begitu senang saat akan berjumpa wanita yang sudah sangat dia rindukan. Ravino berjalan ke arah lift yang akan membawanya ke unit apartemen Gadis.
Ravino sudah berada di depan pintu apartemen milik Gadis. Alis Ravino terangkat sebelah, ia merasa heran saat pintu apartemen Gadis tidak tertutup rapat.
Tangan Ravino bergerak untuk membuka pintu. Sampai di dalam apartemen Ravino mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok Gadis.
“Ada di mana dia?” guman Ravino.
Langkah Ravino terhenti saat mendengar suara ******* dari salah satu kamar di apartemen itu. Ravino mengikuti arah dari asal suara itu. Ravino berjalan manaiki anak tangga yang ada di dalam apartemen itu.
“Sayang, aku sudah tidak tahan.” Ravino sangat mengenali suara wanita itu.
Jantung Ravino berdegup begitu kencang saat suara itu makin jelas di telinganya. Ravino sampai di depan sebuah kamar dengan pintu yang tidak tertutup rapat.
Dibukanya pintu itu perlahan agar tidak menimbulkan suara. Ravino sangat terkejut saat melihat dua sosok yang dia kenal sedang memadu kasih di atas ranjang. Mereka adalah Niko dan Gadis.
Tubuh keduanya polos tanpa sehelai benang. Hatinya hancur melihat pemandangan yang menyayat hatinya itu. Perlahan Ravino melangkah mundur dan tidak sengaja siku tangannya menyenggol vas bunga di meja. Vas bunga itu jatuh dan langsung menimbulkan suara yang nyaring.
Prank
“Siapa itu?”
Ravino terkejut saat suara Niko terdengar keluar dari kamar itu. Ravino ingin pergi dari tempat itu. Namun, Niko dan Gadis lebih dulu keluar dari kamar.
Niko dan Gadis keluar dari kamar. Mereka juga terkejut melihat siapa yang ada di hadapan mereka.
Niko tersenyum sinis saat melihat Ravino ada di hadapannya. “Jadi kamu sudah melihat semuanya, 'kan? Bagus jadi kami tidak perlu menjelaskan semuanya.”
“Sudah berapa lama kalian berhubungan?” tanya Ravino.
“Cukup lama,” jawab Niko. “Tepatnya ... tidak lama setelah kamu menyuruhku untuk menjaga Gadis di sini.”
Tangan Ravino mengepal di samping tubuhnya untuk menahan amarahnya. Sekarang Ravino tahu alasan kenapa Gadis jarang menghubunginya, itu karena Niko. Mereka menjalin hubungan di belakangnya.
“Kenapa kalian tega melakukan ini padaku?” Nada bicara Ravino terdengar begitu tersiksa.
“Kami saling mencintai,” jawab Niko.
Cinta?
Ravino mengarahkan pandangannya ke arah Gadis. Ravino menatap Gadis dengan tatapan nanar.
“Gadis ... apa itu benar? Kamu mencintai Niko?” tanya Ravino.
“Iya kami saling mencintai,” jawab Gadis.
Gadis memeluk Niko dari belakang dan itu makin membuat dada Ravino semakin terasa sesak.
__ADS_1
“Apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi?” Ravino bertanya lagi kepada Gadis.
“Ups ... Maaf Ravino.” Gadis tersenyum seolah sedang mengejek Ravino.
Niko dan Gadis bahkan tidak sungkan untuk bermesraan di hadapan Ravino.
Sudah cukup! Ravino sudah tidak tahan dengan pemandangan yang ada di hadapannya. Ravino memutuskan untuk meninggalkan tempat itu.
“Semoga kalian bahagia.”
Ravino berlalu pergi meninggalkan apartemen Gadis dengan sejuta kekecewaan dan kemarahan.
Di apartemen, Gadis melihat sesuatu yang tergeletak di lantai. Gadis mengambilnya dan tersenyum melihat kalung berlian yang dia minta kepada Ravino. Gadis sama sekali tidak pernah berpikir kalau Ravino datang untuk memberikan kalung itu sendiri.
“Sepertinya dia sangat mencintaimu, Sayang.” Niko menyunggingkan senyum sinisnya.
“Ayolah, Sayang. Tapi aku lebih mencintaimu,” ucap Gadis.
Gadis tersenyum dan menghampiri Niko. Kedua tangannya Gadis kalungkan ke leher Niko. Gadis juga memberikan kecupan sekilas di bibir Niko. “Hanya mencintaimu.”
Cuuuup
Gadis mencium bibir Niko dan Niko pun membalasnya, lalu berbisik. "Kita lanjutkan yang tadi," bisikan Niko membuat Gadis tergoda.
*****
Di tempat lain.
Cindy sengaja pergi pagi-pagi supaya saat sampai di sana restoran belum ramai.
Cindy sampai restoran dan masih belum dibuka untuk umum. Cindy melangkahkan kakinya masuk ke dalam restoran. Ia mengedarkan pandangannya ke dalam restoran.
“Masih sama,” guman Cindy dalam hati.
Sandi yang pertama kali melihat Cindy. Sandi langsung berseru dan berlari menghampiri Cindy.
“Cindy.” Sandi langsung memeluk Cindy.
“Sandi apa kabar?” tanya Cindy.
“Aku baik,” jawab Sandi.
Sandi memutar tubuh Cindy. Ia melihat banyak perubahan pada temannya itu. “Kamu jadi cantik banget.”
Cindy memang banyak berubah semenjak kerja di apartemen Ravino. Tubuhnya bertambah gemuk, kulitnya juga bertambah putih dan juga mulus. Apalagi dengan pakaian yang diberikan Doni.
“Aku bawakan sarapan untuk kamu.” Cindy memberikan kotak makan kepada Sandi.
Sandi menerima kotak makan yang diberikan oleh Cindy. “Ini buat aku, 'kan? Bukan buat yang itu?”
“Itu siapa?” Cindy menaikan satu alisnya karena tidak mengerti dengan perkataan Sandi.
“Ck, si Reno,” ucap Sandi.
__ADS_1
“Bukanlah. Itu untuk kamu,” ucap Cindy.
Setelah bicara dengan Sandi, Cindy bergabung dengan teman-temannya yang lain untuk melepas rindu.
“Ibu Susi, apa kabar?” sapa Cindy kepada ibu Susi.
“Baik Cindy,” jawab ibu Susi. “Kamu sendiri apa kabar?” Ibu Susi balas bertanya kepada Cindy.
Saat sedang berbicara dengan ibu Susi Cindy melihat Mira baru masuk ke dalam restoran.
“Ibu Susi ... saya permisi dulu,” ucap Cindy yang langsung diangguki oleh ibu Susi.
Cindy melangkah menghampiri Mira. Cindy benar-benar merasa tidak enak jika terus berselisih dengan sahabatnya sendiri.
“Mir, kamu apa kabar?” sapa Cindy.
Mira diam tidak menjawab pertanyaan Cindy. Namun, Cindy tidak ingin menyerah.
“Mir ... kamu masih marah sama aku?” tanya Cindy. “Sumpah Mir .. aku gak ada perasaan apa-apa sama Reno.”
Mira masih tetap diam dan Cindy hanya bisa menghela napas beratnya.
“Aku bawa ini untukmu. Semoga kamu suka.” Cindy memberikan paper bag kepada Mira.
Cindy menaruh paper bag di dekat Mira karena Mira tidak mau menerimanya.
Meski Mira membenci dirinya, tetapi Mira tetaplah sahabatnya. Cindy tidak mau persahabatannya dengan Mira hancur karena seorang laki-laki.
“Hai, Cind ... kamu apa kabar?”
Suara itu membuat Mira dan Cindy mengalihkan pandangan mereka. Keduanya sama-sama melihat Reno sedang berjalan ke arah mereka.
Mira ingin pergi, tetapi Cindy mencegahnya. Cindy hanya ingin Mira tahu jika dirinya tidak memiliki perasaan apapun terhadap Reno.
“Baik, Mas,” jawab Cindy. “Mas Reno sendiri apa kabar?”
“Aku juga baik,” jawab Reno.
Cindy melihat sekilas ke arah Mira, Cindy bisa melihat Mira sangat kesal.
Mira menghempaskan tangan Cindy dan langsung pergi meninggalkan Cindy dan Reno.
Cindy tahu Mira pasti merasa cemburu.
“Mas, sebaiknya jauhin aku. Mira marah sama aku setiap kali dia melihat kita,” pinta Cindy.
“Aku sudah berulang kali mengatakan pada Mira jika aku hanya menganggapnya sebagai teman,” ucap Reno.
“Tapi —” Ucapan Cindy terpotong oleh Reno.
“Sudahlah, Cind. Tolong jangan paksa aku,” ucap Reno.
Cindy diam seketika. Jujur Cindy juga merasa tidak enak memaksakan perasaan seseorang. Akan tetapi dirinya juga merasa tidak enak kepada sahabatnya.
__ADS_1