Karya Gagal Kontrak

Karya Gagal Kontrak
Tujuh Belas


__ADS_3

Dari sisi lain apartemen, tidak jauh dari tempat Cindy dan Reno berada, Ravino duduk di dalam mobil. Pandangan pria itu fokus pada Cindy dan juga Reno. Ravino merasa penasaran dengan apa yang sedang Cindy lakukan bersama adik dari sopir pribadinya. Beberapa saat kemudian matanya terbelalak saat melihat Reno mengecup kening Cindy.


Entah kenapa saat melihat Cindy disentuh oleh pria lain lain, dirinya merasa kesal. Ravino menggenggam gagang setir untuk menahan amarahnya. Tidak menunggu lagi Ravino kembali melajukan mobilnya, melesat menuju basemen.


*****


Cindy berjalan kembali ke apartemen setelah urusannya dengan Reno selesai. Masih ada rasa tidak percaya saat Reno datang untuk melamar dirinya. Meskipun sempat merasa tidak enak hati sudah menolak lamaran Reno, tetapi menutur Cindy itu adalah keputusan yang terbaik.


"Hufff, semoga Reno baik-baik saja. Dan setelah ini semoga Reno bisa menerima Mira," harap Cindy.


Berulang kali Cindy menarik napasnya, mencoba melupakan apa yang baru saja terjadi. Cindy melihat waktu pada layar ponselnya, matanya melihat waktu sudah hampir pukul 10 malam.


"Ya Tuhan, sudah jam 10 malam." Mata Cindy terbelalak, ia berjalan dengan berlari, bergegas untuk kembali ke apartemen. Cindy takut Ravino sudah kembali.


Cindy masuk ke lift dengan terburu-buru, lalu menekan tombol dengan angka lima belas. Tidak berselang lama Cindy merasakan pergerakan lift. Di dalam lift Cindy masih merasa gelisah, ia berharap Ravino belum kembali.


Setelah lift menunjukkan angka 15, pintu lift terbuka. Cindy bergegas keluar dari lift meskipun pintu lift belum terbuka dengan sempurna.


"Ya Tuhan, semoga dia belum pulang." Cindy berlari masih dengan berharap.


Langkah Cindy berhenti di depan salah satu pintu di lantai itu. Napas Cindy tersengal-sengal, karena habis berlari. Sejenak Cindy menarik napasnya, menetralkan napasnya yang terputus-putus. Setelah napasnya normal, Cindy menekan tombol passcode untuk membuka pintu.


Pintu terbuka, Cindy langsung berlari masuk ke apartemen. Ia terkejut melihat Ravino duduk di meja makan dan sedang menikmati makan malamnya.


Glek


Cindy menelan air liurnya untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak terasa kering.


''Mas Ravi, sudah pulang?" tanya Cindy dengan ragu-ragu.


''Hmmmm," jawab Ravino datar.


Cindy mengerutkan keningnya, merasa ada yang aneh dengan sikap Ravino. Mungkin karena dirinya pulang terlambat, Ravino menjadi marah.


"Maaf, Mas. Saya pulang terlambat," ucap Cindy dengan wajahnya yang tertunduk.


"Lebih bagus kamu tidak pulang saja sekalian," ucap Ravino.


"Aku sudah selesai makan. Bereskan meja makan ini!" Setelah selesai makan malam, Ravino langsung pergi ke kamarnya tanpa berkata sedikitpun kepada Cindy.

__ADS_1


Ravino menutup pintu kamarnya dengan keras, membuat Cindy yang melihatnya merasa terkejut. Ia menggelengkan kepalanya, merasa heran dengan sikap majikannya.


"Kumat lagi," gumam Cindy.


Sementara itu di dalam kamar, Ravino berjalan mondar-mandir tidak jelas. Pria itu memikirkan kenapa dirinya bisa semarah itu. Ravino mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur dengan menyangga dagunya dengan telapak tangannya.


"Masa iya aku menyukai Cindy?" batin Ravino.


Lamunan Ravino buyar saat mendengar dering pada ponselnya. Diambilnya benda pipih di sampingnya untuk melihat siapa yang menghubunginya malam-malam.


"Rena." Ravino melihat nama Rena muncul di layar ponselnya.


Ravino menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan dari Rena. Beberapa saat bicara dengan Rena di sambungan telepon, Ravino mengakhirinya.


Ravino menaruh benda pipih itu ke tempat tidur, sementara itu dirinya bersiap-siap untuk pergi. Rena meminta untuk bertemu di club malam langganan mereka.


Selesai bersiap Ravino keluar dari kamar, ia melihat Cindy sedang menonton acara tv di ruang tengah. Tanpa berkata apapun Ravino melangkah melewati Cindy.


"Mas Ravi mau kemana? Ini udah malam," tanya Cindy.


"Bukan urusan kamu," jawab Ravino.


"Mas Ravino sebenarnya kenapa sih? Marah marah mulu. Apa aku membuat kesalahan yang tidak aku sengaja dan membuatnya marah?" gumam Cindy.


Cindy mengingat-ingat apa saja yang sudah dilakukannya selama sehari itu, tetapi Cindy merasa yakin jika dirinya tidak melakukan apapun yang membuat majikannya itu marah.


"Ya sudahlah, mungkin saja Mas Ravino sedang ada banyak masalah," ucap Cindy.


Ponsel Cindy berdering, membuat fokusnya teralihkan. Cindy melihat pada layar ponselnya. Ada nomor yang tidak dikenalinya.


"Nomor siapa ini?" batin Cindy.


Cindy merasa penasaran dengan nomor yang menghubunginya berulang kali, ia menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan itu setelah itu Cindy mulai bicara saat benda pipih itu menempel di dekat telinganya.


"Hallo, siapa ini?" tanya Cindy.


Entah siapa yang baru saja menghubungi Cindy, tiba-tiba saja tubuh Cindy merosot dan setelah itu Cindy menangis.


******

__ADS_1


Tengah malam Ravino kembali ke apartemennya, tetapi dengan wajah yang terlihat kesal. Saat sedang menyalurkan hasratnya bersama Rena, tiba-tiba bayangan Cindy disentuh laki-laki lain melintas. Pikirannya kacau hingga Ravino tidak berminat lagi untuk menyalurkan hasratnya dengan Rena.


Sesampainya di dalam apartemennya, Ravino mendengar suara isak tangis. Entah dari mana asal suaranya. Seketika Ravino merasa merinding, ia berpikir ada hantu di apartemennya.


"Masa iya ada hantu di sini? Itu tidak mungkin!" gumam Ravino.


Ravino mencari asal suara tangisan itu. Dihidupkan lampu ruangan depan, matanya melihat Cindy meringkuk di balik sofa ruang tengah sambil memeluk lututnya.


"Kenapa kamu menangis?" tanya Ravino.


Cindy tidak menjawab, ia kemudian mengangkat wajahnya, menatap lurus ke arah Ravino dengan mata sembabnya. Ravino memalingkan wajahnya menatap ke sisi lain, Ravino merasa ada sesuatu yang aneh saat dia menatap Cindy.


"Mas Ravi, tolongin aku Mas," ucap Cindy di sela isak tangisnya.


"Kamu mau minta tolong apa?" jawabnya dengan datar.


"Tapi sebelum itu, kamu duduklah di sofa. Jangan meringkuk seperti itu," suruh Ravino.


"Baiklah, Mas." Cindy berdiri dan berpindah duduk di sofa, tepat di hadapan Ravino.


"Cepat katakan! Kamu mau minta tolong apa?" tanya Ravino.


"Ibu aku sakit di kampung Mas dan butuh biaya banyak. Tapi uang tabunganku sudah habis untuk biaya perawatan ibu sebelumnya dan biaya sekolah adikku," ucap Cindy.


"Oh, kamu butuh uang," ucap Ravino yang langsung dianggukki oleh Cindy.


"Baiklah aku akan membantu biaya perawatan ibumu. Tapi ... dengan satu syarat," ucap Ravino.


"Apapun syaratnya akan aku lakukan, Mas," ucap Cindy.


"Kamu serius?" tanya Ravino.


"Serius Mas," jawab Cindy penuh keyakinan.


"Baiklah kalau begitu." Ravino berdiri lalu berbalik, berdiri membelakangi Cindy.


"Syaratnya adalah ... kamu harus memberikan aku seorang anak," ucap Ravino.


''Apa?" Cindy tidak bisa menahan rasa terkejutnya saat mendengar syarat yang diajukan oleh Ravino.

__ADS_1


"Itu syaratnya. Jika kamu tidak mau ya sudah." Ravino pergi ke kamarnya meninggalkan Cindy dalam dilema.


__ADS_2