Karya Gagal Kontrak

Karya Gagal Kontrak
Dua puluh dua


__ADS_3

Hampir satu minggu Ravino dan Cindy berada di Singapura. Mereka sedang bersiap untuk kembali ke Indonesia. Ravino menghampiri Cindy yang sedang membereskan barang-barang dan memasukkannya ke dalam koper.


"Bagaimana? Saya harap setelah ini kamu siap dengan peran baru kamu nanti," ucap Ravino.


"Ba-ik, Mas." Cindy menjawab dengan gagap.


Ravino melepaskan cincin pernikahannya di jari manis Cindy. Lalu menjadikan cincin itu sebagai liontin. Lalu memasangkan kalung emas putih ke leher Cindy, begitu juga cincin di jari manisnya.


"Mas Ravi, bagaimana kalau ibu Desi sampai tahu? Beliau pasti akan sangat marah sama saya," ucap Cindy.


"Itu urusan nanti. Saya yang akan bertanggung jawab untuk itu," jawab Ravino dengan tenang.


"Sudah beres semua, 'kan? Ayo kita pergi," ajak Ravino.


"Iya, Mas. Semuanya sudah beres," jawab Cindy.


Ravino membantu Cindy membawa satu koper. Mereka segera masuk ke mobil yang akan mengantar mereka ke bandara.


-


-


-


Ravino dan Cindy sudah berada di sebuah jet mewah. Keduanya duduk dengan tenang saat pesawat bersiap naik ke udara. Hal serupa terjadi lagi pada Cindy, ketika pulang ia juga mengalami mabuk udara.


Ravino yang melihat itu sudah mulai terbiasa. Pria itu justru membantu memijat tengkuk Cindy saat istrinya itu sedang memuntahkan isi perutnya.


"Sudah merasa lebih baik?" tanya Ravino yang langsung dianggukki oleh Cindy.


"Sepertinya saya harus sering-sering mengajakmu naik pesawat. Agar kamu tidak mabuk udara seperti ini," ucap Ravino.


"Jangan, Mas. Saya tidak akan sanggup," tolak Cindy.


"Tidak boleh ada penolakan," ucap Ravino yang langsung membuat Cindy merasa lemas.


"Sudah ayo kita duduk, sebentar lagi kita akan mendarat," ucap Ravino.

__ADS_1


"Iya, Mas." Cindy berjalan mengikuti Ravino.


Setelah pesawat mendarat dengan sempurna Cindy dan Ravino turun. Keduanya melangkah keluar bandara menuju mobil yang sudah menjemput mereka. Mata Cindy seolah akan lepas dari tempatnya saat melihat siapa yang menjemput mereka.


"Mas, Reno," gumam Cindy.


Sesampainya di bandara, Reno sudah menanti mereka berdua. Rasa cemburu menyelimuti hati Reno, saat melihat Cindy berjalan dengan Ravino. Namun, dia masih bisa menahan rasa cemburunya. Reno pernah mendengar kedekatan Cindy dengan Ravino dari kakaknya, Fajar, dan Reno mencoba memahami itu.


"Hai, Mas Reno. Apa kabar?" tanya Cindy.


"Baik, Cind," jawab Reno.


"Cindy, berikan barang-barangnya ke Reno," suruh Ravino.


"Iya, Mas." Cindy menyerahkan kopernya kepada Reno.


"Ren, kamu masukkan semua barang-barang ini ke bagasi mobil," perintah Ravino.


"Baik, Pak." Reno mulai memasukan barang barang bawaan Cindy dan Ravino ke bagasi mobil.


Reno dan Cindy tidak menyadari ada pasang mata yang menatap tidak suka. Secara tidak sengaja Cindy melihat tatapan itu. Meskipun begitu Cindy tetap membantu Reno. Cindy tidak mau kalau statusnya yang sekarang di ketahui oleh orang lain.


Selesai memasukan barang-barang ke bagasi Cindy menyusul Ravino yang sudah lebih dulu masuk ke mobil. Cindy memilih untuk duduk di samping Reno. Ravino juga membiarkannya meskipun sebenarnya dia tidak suka.


*****


Hari berganti minggu, dan minggu berganti bulan. Sudah satu bulan Cindy menjadi istri Ravino. Selama satu bulan Ravino sama sekali tidak menyentuh Cindy, bahkan tidur pun mereka masih terpisah. Cindy masih belum bisa menyerahkan tubuhnya, meskipun dirinya adalah istri sah dari Ravino. Masih ada kecanggungan dalam dirinya yang belum bisa dia hilangkan.


Sore hari sekitar pukul empat, Reno datang ke apartemen untuk menemui Cindy. Reno sudah kembali bekerja di restoran ibu Desi, karena kakaknya Fajar sudah kembali bekerja. Cindy sedikit canggung dengan Reno karena di apartemen hanya ada mereka berdua. Cindy mencoba untuk bersikap biasa saja. Dengan antusias Cindy bercerita saat dia berada di Singapore kecuali untuk pernikahannya dengan Ravino.


"Cindy, apa tidak ada air di apartemen ini?" Sebenarnya bukan suhu di apartemen itu yang panas, tetapi hatinya yang merasakan panas karena terbakar api cemburu. Reno sengaja meminta air pada Cindy untuk menghentikan Cindy bercerita tentang hubungannya dengan Ravino.


"Upps, maaf. Aku lupa, aku akan ambilkan air sekarang." Cindy menepuk keningnya sendiri lalu pergi menuju dapur mengambil minum untuk Reno.


Ketika sedang membuatkan es sirop Cindy terkejut saat merasa ada yang melingkar di perutnya, ternyata Reno memeluknya dari belakang. Bukan hanya itu saja tanpa izin Reno mencium tengkuk Cindy.


Cindy merasa tidak nyaman, ia berontak dan dengan sekuat tenaga melepas pelukan Reno.

__ADS_1


"Jaga sikapmu, Mas Reno!" pinta Cindy dengan nafas memburu.


"Kenapa Cindy? Jangan sok jual mahal. Kamu pasti melakukannya juga dengan Ravino selama ini! atau mungkin kamu sudah tidak perawan!" tuduh Reno.


Cindy hanya menggelengkan kepalanya mendengar tuduhan Reno. Reno yang sudah diliputi api cemburu langsung menarik tangan Cindy, memaksa untuk mencium bibir Cindy. Cindy menolak dan menampar pipi Reno dengan keras.


"Dengar Reno! Aku kira kamu orang baik. Ternyata kamu begini, kurang ajar. Kamu bilang aku sudah tidak perawan? Kamu salah! Mas Ravi sama sekali tidak pernah kurang ajar seperti kamu," bentak Cindy.


Perkataan Cindy bukannya membuat Reno menyadari kesalahannya, tetapi justru membuat Reno semakin tersulut amarahnya.


Reno mendekati Cindy dengan tatapan amarah. "Dengar Cindy! Kamu harus jadi milik aku, apapun caranya."


"Tidak, jangan! Tolong jangan lakukan itu! Pergilah dari sini, jangan ganggu aku!" Cindy memohon dengan menyatukan kedua tangannya. Rasa takutnya bahkan membuatnya menitikan air matanya.


Cindy melangkah mundur, lalu berbalik dan berlari masuk ke kamar. Saat akan menutup pintu Reno menahannya dengan pundaknya. Pintu terbuka dengan paksaan dan Cindy terpental ke atas ranjang.


"Pergi!" Cindy melempar bantal tepat mengenai Reno.


"Pergi atau aku akan berteriak!" teriak Cindy.


Reno tersenyum licik, "Berteriaklah! Tidak ada yang akan mendengarmu."


Reno terus berjalan menghampiri Cindy yang sedang ketakutan. Ia memaksa Cindy untuk melayani hasratnya.


Reno merobek pakaian Cindy, mencoba menodai perempuan yang dia cintai. Karena rasa cemburu dan penolakan Cindy yang terus-menerus membuat Reno menjadi gelap mata.


Cindy terus berontak dan akhirnya bisa lolos setelah menendang kejantanan Reno. Dengan cepat Cindy berlari ke luar dari apartemen itu. Saat membuka pintu, Cindy terkejut melihat Ravino. Cindy yang tidak bisa menahan rasa sedihnya langsung memeluk laki-laki berstatus suami.


Ravino tidak kalah terkejut melihat keadaan Cindy. Iya sempat bingung kenapa Cindy menangis jangan pakaiannya yang robek. belum sempat Ravino bertanya Cindy sudah lebih dulu menangis.


"Mas Ravi, tolong!" Tangisan Cindy pecah dipelukan Ravino.


"Ada apa sebenarnya Cindy kenapa kamu seperti ini?" Ravino mencoba menenangkan Cindy dengan mengusap usap punggung Cindy.


"Cindy mau kemana kamu!"


Ravino mengarahkan pandangannya ke asal suara. Ia melihat Reno yang sedang berlari dengan terpincang-pincang menahan sakit di kejantanannya. itu Ravino menyadari jika sudah terjadi sesuatu dengan sini.

__ADS_1


__ADS_2