Karya Gagal Kontrak

Karya Gagal Kontrak
Dua Puluh Satu


__ADS_3

Keesokan harinya Cindy bangun dari tidurnya. Ia sempat terkejut saat melihat Ravino tidur dengan memeluknya dari belakang. Cindy ingin berteriak, tetapi tertahan saat ia ingat jika Ravino sudah menjadi suaminya.


Perlahan Cindy memindahkan tangan Ravino yang melingkar di perutnya. Setelah itu Cindy beranjak dari tempat tidur. Hawa dingin langsung terasa saat kakinya menyentuh lantai marmer kamar itu. Hawa dinginnya sama seperti desa tempat ia dilahirkan.


"Di sini dingin sekali," gumam Cindy.


Cindy melangkah ke kamar mandi. Ia sudah tidak sabar untuk pergi. Ravino berjanji akan mengajaknya jalan-jalan berkeliling Singapore. Cindy sangat antusias, mengingat dirinya baru pertama kali menginjakkan kakinya di Singapore. Cindy juga menganggap jika perjalanannya nanti sebagai acara honeymoon.


Selesai mandi Cindy terkejut saat melihat Ravino sudah membuka matanya. Ia merasa malu saat keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang melilit di tubuhnya.


"Mas Ravi, sudah bangun?" gagap Cindy.


"Aku mendengar bebek bernyanyi tadi. Makanya aku bangun," sindir Ravino.


Cindy menyadari perkataan Ravino untuk menyindirnya. Ia lupa jika dirinya tidak sendiri di tepat itu.


"Maaf, saya membuatmu terbangun." Cindy bicara dengan wajah yang terduduk.


"Lupakan! Aku mau mandi." Ravino bergegas turun dari tempat tidur. Ia berjalan cepat menuju kamar mandi.


Brak


Cindy terkejut saat melihat Ravino menutup pintu kamar mandi dengan sangat keras.


"Dia pasti marah karena aku mengganggu tidurnya," gumam Cindy.


Padahal bukan itu masalahnya. Ravino merasa kesal karena melihat Cindy yang hanya memakai handuk. Ravino merasakan celananya mendadak sesak saat itu. Ia kesal karena tidak bisa menyalurkan hasratnya pada Cindy.


"Ya Tuhan berapa lama aku harus selalu menahan rasa sakit ini," gerutu Ravino.


Tidak ada pilihan lain bagi Ravino selain mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Selesai mandi Ravino keluar dari kamar mandi. Ia melihat Cindy sudah siap untuk pergi.


"Saya sudah siapakah pakaian untuk Mas Ravi," ucap Cindy.


Ravino melihat satu setel pakaiannya sudah tertata rapi di atas tempat tidur.


"Saya keluar dulu. Mas Ravi silahkan ganti pakaiannya." Cindy beranjak dari tempat itu. Ia ingin keluar dari kamar, tetapi Ravino menahannya untuk pergi.


"Tidak perlu, tetaplah di sini!" suruh Ravino.


"Tapi, Mas —" Ucapan Cindy langsung dipotong oleh Ravino.


"Tidak perlu merasa malu. Saya ini sudah menjadi suamimu," ucap Ravino.


Ravino menyeringai licik. Ia sengaja menahan Cindy pergi untuk membalas apa yang sudah Cindy lakukan sebelumnya.

__ADS_1


Ravino melepaskan handuk yang melilit di pinggangnya. Jelas saja membaut Cindy berteriak dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Mas, sudah belum?" tanya Cindy.


"Lihat saja sendiri!" ucap Ravino.


Cindy mengintip dari sela-sela jarinya. Ia bisa melihat dada telanjang Ravino. Cindy menarik napas lega ternyata Ravino sudah memakai celana pendek.


Cindy menjatuhkan tubuhnya di atas sofa yang ada di dekatnya. Beberapa kali Cindy menarik napasnya dalam-dalam untuk menetralkan debaran jantungnya yang begitu hebat. Hampir saja dirinya kehilangan kesadarannya saat melihat Ravino telanjang.


Ravino sendiri terkikik geli melihat tingkah Cindy. Jika saja yang ada di depannya adalah Rena maka bisa dipastikan pagi yang dingin itu akan menjadi pagi yang sangat panas. Karena Ravino dan Rena akan bergulat di atas tempat tidur.


''Oke, kamu mau ke mana?" Ravino bertanya pada Cindy.


Cindy menoleh ke arah Ravino yang sudah selesai bersiap.


"Mau lihat singa Mas," jawab Cindy dengan polosnya.


''Apa? Singa?" Ravino mengerutkan keningnya ia merasa bingung dimana tempat bisa menemukan singa.


"Eh maksud saya, patung singa yang mulutnya bisa keluar air itu loh, Mas," jelas Cindy.


"Dasar kamu ini. Aku kira singa betulan. Jadi kamu ingin melihat patung singa?" Ravino mengacak-acak rambut Cindy.


"Ayo kita ke sana," ajak Ravino.


Sesampainya di sana Ravino dan Cindy turun dari taksi. Mata Cindy berbinar melihat pemandangan di sana. Cindy sangat antusias, ia merasa bermimpi bisa melihat icon negara Singapura.


Cindy berlari mendekat ke patung singa, tetapi Ravino menahannya.


"Jangan pergi sendiri ke sana. Aku tidak mau repot untuk mencarimu jika kamu hilang di tempat ini," ucap Ravino.


Jantung Cindy seakan ingin melompat dari tempatnya saat ia merasakan jemari Ravino mengisi setiap ruang di sela-sela jarinya. Cindy berjalan tanpa memalingkan pandangannya dari paras tampan Ravino.


"Cindy, halo ... Cindy ...." Ravino mengibaskan tangannya di depan wajah Cindy.


"Eh iya, Mas." Cindy memalingkan wajahnya menyembunyikan rona merah yang ada di wajahnya.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Ravino.


"Ya, saya baik-baik saja," jawab Cindy.


Cindy melepas genggaman tangan mereka. Ia berbalik dan berdiri membelakangi Ravino. Melihat pemandangan di depannya Cindy merasa begitu senang. Akhirnya ia bisa melihat langsung patung singa berbadan ikan itu.


Sedangkan Ravino mulai mengambil gambar di sekeliling tempat itu.

__ADS_1


"Mas Ravi, Mas Ravi," Panggil Cindy sambil melambaikan tangannya.


"Mas fotoin saya di sini ya."


Ravino menganggukkan kepalanya. lalu mengarahkan kameranya untuk memotret Cindy.


Dari kamera yang Ravino pegang, ia bisa membidik Cindy dengan berbagi pose. Ada senyum di bibirnya saat melihat Cindy.


"Cantik." Ravino terpana saat melihat wajah Cindy. Cantiknya begitu alami tanpa harus memoles wajahnya dengan make-up yang begitu tebal.


Entah apa yang Ravino pikirkan saat itu, hatinya merasakan ketenangan saat bersama Cindy.


"Mas Ravi." Setelah puas melihat-lihat Merlion Park, Cindy menghampiri Ravino.


"Hmm, ada apa?" tanya Ravino.


"Kita mau ke mana lagi?" tanya Cindy.


"Emmmm, bagaimana kalau kita jalan-jalan dan berburu kuliner?" usul Ravino.


"Aku ikut Mas Ravi saja," ujar Cindy.


"Baiklah, ayo kita berangkat," ajak Ravino.


Ravino kembali menggenggam tangan Cindy mengisi setiap ruang di sela jari-jarinya. Keduanya kembali menaiki sebuah taksi dan berkeliling kota.


Tiba saatnya untuk makan malam, Ravino dan Cindy kembali ke rumah yang Ravino sewa. Mereka memutuskan untuk makan malam di rumah saja.


Cindy berada di dapur ia sedang menata makanan yang sebelumnya mereka beli. Kaki dan tubuhnya sudah merasa lelah setelah berjalan-jalan seharian.


"Ini makanannya, Mas." Cindy meletakan makanan ke atas meja makan.


"Kamu juga makan," perintah Ravino.


"Saya sudah merasa kenyang, Mas. Seharian ini saya makan banyak," tolak Cindy.


"Mas yang seharian ini hanya memotret saja," ucap Cindy.


"Baiklah kalau kamu tidak mau makan, kamu suapin aku saja." Ravino meletakan sendok ke hadapan Cindy.


"Suapin? Mas, 'kan sudah besar bisa makan sendiri. Kenapa minta disuapin?" tanya Cindy.


"Lagi ingin saja," jawab Ravino. "Sudah jangan banyak tanya. Cepat lakukan," suruh Ravino.


"Tapi, Mas —" Ucapan Cindy langsung dipotong oleh Ravino.

__ADS_1


"Aku ini suamimu, dosa kalau menolak perintah suami," ucap Ravino.


Kalau sudah begitu Cindy sudah tidak bisa menolak lagi. Cindy mengambil sendok di hadapannya dan mulai menyuapkan makanan ke mulut Ravino.


__ADS_2