
Ravino langsung pergi dari apartemen Gadis dengan membawa sejuta kekecewaan yang mendalam. Sakitnya tidak bisa diukur setelah dikhianati oleh istri dan sahabatnya sendiri.
Sesampainya di hotel Ravino langsung membereskan barang-barangnya. Ravino juga langsung memesan tiket kembali ke Indonesia.
Ravino merasa dirinya sudah menelan pil pahit. Niatnya ingin sekali memberi kejutan istimewa kepada Gadis, tetapi malah dirinya yang mendapat kejutan pahit darinya di sini.
Ravino sudah sampai di Bandara di negara Indonesia keesokan harinya, tepatnya malam hari. Ravino berjalan ke luar bandara dan langsung menghampiri Fajar yang memang sudah menunggunya.
“Jar, antarkan aku ke Club malam biasa,” pinta Ravino.
“Baik, Mas.” Sejujurnya Fajar heran mengapa bosnya tumben sekali memintanya untuk mengantarnya ke club malam.
Sesampainya di Club malam Ravino langsung masuk ke dalamnya. Ravino berjalan ke meja bar dan memesan minuman dengan kadar alkohol tinggi. Ravino berpikir dengan minum dirinya akan bisa melupakan sakit hati yang sedang ia alamani.
Ravino tidak tahu berapa banyak minuman yang sudah ia minum. Saat rasa sakit di kepalanya mulai terasa, Ravino memutuskan untuk keluar dari club.
Ravino berjalan sempoyongan, untung saja ada Fajar yang membantunya berjalan.
“Ayo, Pak ... sebaiknya kita pulang,” ajak Fajar.
*****
Cindy baru saja selesai makan malam saat bel apartemen tempatnya bekerja berbunyi. Setelah menaruh piring kotor ke tempat cuci piring, Cindy melangkah untuk membuka pintu.
“Siapa yang datang?” batin Cindy.
Cindy membuka pintu apartemennya. Matanya terbelalak saat melihat Fajar berdiri dengan memapah Ravino
“Mas Fajar ... mas Ravi kenapa?” tanya Cindy.
Cindy segera membantu Fajar untuk memapah Ravino. Cindy bisa melihat keadaan bos-nya begitu kacau. Cindy juga mencium aroma asing di tubuh Ravino.
“Mas Fajar .... ini mas Ravi kenapa?” Cindy bertanya lagi.
“Aku juga gak tahu, Cind? Tadi Pak Ravino meneleponku supaya menjemputnya di Bandara. Terus tadi dia memintaku untuk mengantarnya ke Club malam,” jawab Fajar.
Cindy dan Fajar membawa Ravino ke kamarnya. Keduanya merebahkan tubuh Ravino ke atas tempat tidur.
Cindy bisa melihat Ravino sangat kacau, seperti bukan Ravino yang biasa dia lihat.
“Pasti terjadi sesuatu dengan Mas Ravi,” batin Cindy.
*****
Keesokan harinya
Ravino bangun dari tidurnya dengan memegangi kepalanya yang terasa berat. Ia bangun dan mengambil posisi duduk.
Matanya perlahan membuka. Beberapa kali Ravino mengedipkan matanya agar bisa beradaptasi dengan cahaya yang ada di dalam ruangan itu.
Saat matanya sudah terbuka sempurna, Ravino mengedarkan pandangannya. Ia mengenali ruangan itu sebagai kamarnya.
“Bagaimana aku bisa di sini?” batin Ravino.
“Mungkin Fajar yang sudah membawa aku ke sini,” batin Ravino.
Ravino ingin beranjak dari tempat tidur, tetapi matanya tidak sengaja melihat foto dirinya bersama Gadis. Ravino mengambil foto itu dan melempar ke dinding.
Prank
Cindy yang ada di dapur terkejut setelah mendengar suara benda pecah.
__ADS_1
Prank
Cindy kembali mendengar suara yang sama. Tidak menunda lagi, Cindy berlari ke arah datangnya suara itu yang ternyata berasal dari kamar Ravino.
“Mas Ravi ... tolong berhenti!” pinta Cindy.
Cindy mencoba menghentikan Ravino yang sedang melempar semua benda-benda yang ada di dalam kamarnya.
“Keluar kamu!" bentak Ravino.
Cindy terjengit saat mendengar bentakkan dari Ravino. Cindy akhirnya memilih keluar dari kamar bos-nya.
Cindy merasa bingung harus bagaimana untuk menghadapi bos-nya. Cindy benar-benar merasa takut sendiri. Akhirnya Cindy memutuskan untuk menghubungi Doni untuk meminta bantuan dari kakak angkatnya.
Berkisar satu jam, Cindy menunggu kedatangan Doni. Hatinya merasa lega saat Doni sampai di apartemen itu. Akan tetapi Doni tidak datang sendiri, dia bersama seorang wanita yang sangat cantik.
“Mas Doni,” ucap Cindy.
“Di mana Ravino?” tanya Doni tampa basa-basi.
“Di kamarnya, Mas,” jawab Cindy.
Doni berjalan menaiki anak tangga menuju kamar Ravino meninggalkan Cindy dengan wanita cantik itu.
Dibukanya pintu kamar sahabatnya itu, rasa terkejut muncul pada diri Doni saat melihat keadaan sahabatnya.
“Kamu kenapa, Rav?” tanya Doni.
Ravino yang sedang duduk di atas tempat tidur menolehkan pandangannya ke arah Doni.
“Apa yang terjadi sebenarnya?” tanya Doni lagi.
Doni sangat yakin jika telah terjadi suatu sewaktu sahabatnya itu ada di Amerika.
“Hah? Kamu serius, Rav?” doni terlihat sangat terkejut.
Ravino hanya mampu mengangguk dengan wajah tertunduk. Dalam hati Ravino ada sebuah penyesalan sudah meminta bantuan kepada Niko untuk menjaga Gadis di sana.
Ravino benar-benar tidak menyangka jika mereka akan menjalin hubungan di belakangnya.
Bayangan saat Gadis dan Niko sedang bercinta di atas ranjang melintas di benak Ravino. Hal itu membuat air mata Ravino mengalir dari matanya.
“Aku gak menyangka jika mereka akan segila itu.” Nada bicara Doni terdengar sangat marah.
“Lihat 'kan? Sudah aku bilang jika Gadis itu bukan perempuan baik-baik,” ucap Doni.
Kini Ravino merasa menyesal telah menikah dengan Gadis dan juga menyesal tidak mau mendengarkan Doni yang sudah memberikan aku peringatan keras. Penyesalan memang selalu datang terlambat.
Doni berjalan mendekati Ravino yang masih duduk di atas tempat tidur dengan wajah tertunduk.
Doni menepuk pundak Ravino, mencoba memberikan semangat.
“Kamu harus sabar, Rav. Bagus kamu tahu sekarang sebelum hubunganmu terlalu jauh dengan Gadis,” ucap Doni.
“Thanks, Don. Kamu memang sahabat baikku,” ucap Ravino.
“Kamu istirahat saja, biar aku yang handle pekerjaan di kantor,” ucap Doni yang langsung diangguki oleh Ravino.
Doni berjalan ke luar dari kamar Ravino. Ia tahu jika Ravino butuh waktu untuk sendiri, untuk menenangkan dirinya. Doni berjalan menuruni anak tangga untuk menghampiri Cindy dan juga kekasihnya.
Cindy melihat Doni berjalan di anak tangga. Ia berharap jika Ravino sudah baik-baik saja.
__ADS_1
“Bagaimana keadaan Mas Ravi?” tanya Cindy.
“Ya, dia sudah lebih tenang sekarang,” jawab Doni.
Doni menarik salah satu kursi yang ada di meja makan sebagai tempat ia duduk.
“Aku akan buatkan Mas Doni kopi,” ucap Cindy.
Cindy beranjak dari meja makan dan melangkah menuju ke dapur. Cindy menyalakan kompor untuk memasak air. Namun, suara seseorang tiba-tiba mengejutkannya.
“Kamu suka bajunya?”
Eh?
Cindy menoleh dan melihat wanita yang datang bersama Doni ada di belakangnya.
“Su-su-ka, Mba,” jawab Cindy.
“Oh iya kita belum kenalan. Aku Sandra.” Sandra mengulurkan tangannya ke arah Cindy.
“Saya Cindy.” Cindy membalas uluran tangan Sandra.
“Aku yang pilihin baju, tas, sepatu dan perhiasan yang Doni kasih ke kamu,” ucapnya.
Hah?
“Mba Sandra pacarnya mas Doni?” Ada rasa tidak enak pada nada bicara Cindy.
Sandra tersenyum dan mengangguk.
“Maaf, Mba Sandra ... gak marah 'kan sama aku?” tanya Cindy.
“Awal-awalnya aku merasa cemburu. Tapi aku mencoba mengerti dan ternyata rasa cemburuku salah. Aku harusnya berterima kasih padamu karena kamu Doni-ku yang dulu kembali,” ucap Sandra.
“Aku juga terima kasih kepada Mba Sandra. Syukurlah mas Doni punya pacar sebaik Mba Sandra,” ucap Cindy.
Pembicaraan Cindy dengan Sandra terhenti saat air yang Cindy masak mendidih. Cindy menuang air panas ke dalam cangkir berisi racikan kopi.
“Ayo, Mba kita ke kembali ke ruang makan,” ajak Cindy.
“Ayo,” imbuh Sandra.
Cindy dan Sandra sama-sama melangkah ke meja makan. Mereka juga bisa melihat Doni dalam keadaan emosi.
“Ini kopinya, Mas." Cindy meletakan kopi tang ia buat ke hadapan Doni.
Sandra yang melihat kekasihnya sepertinya sangat marah memberanikan diri untuk bertanya.
“Mas, kamu kenapa?” tanya Sandra.
“Aku tidak menyangka jika Gadis dan Niko berselingkuh,” jawab Doni.
“Hah?”
Cindy dan Sandra sama-sama terkejut mendengar perkataan Doni.
“Jadi ini alasan kenapa mas Ravino jadi seperti ini?” tanya Cindy. “Istri mas Ravino berselingkuh?”
Kini Doni lah yang terkejut. Ternyata Cindy mengetahui tentang pernikahan Ravino dengan Gadis.
“Kamu tahu tentang status mereka, Cind?” tanya Doni.
__ADS_1
“Iya, Mas. Sebelum Mas Ravino pergi ke Amerika dia sudah menceritakan tentang mba Gadis pada saya,” jawab Cindy.