
**Kadang kita harus diam untuk mengalah karena rasa bersalah*
_Srayu*
Melihat pemandangan di sampingnya dyana merasa jijik, wanita jalang yang memeluk suami orang disaat kondisi sedang berkabung.
Arik tak kuasa menahan emosinya melihat tasya dengan swan, arik berjalan mendekat ke arah mereka kemudian menarik paksa tangan tasya dan mengempaskannya.
*Bukkkk* arik memukul swan hingga tersungkur. Sudut bibir swan mengeluarkan darah segar. Swan nampak diam tak merespon perlakuan arik terhadapnya.
"Bukkk" kembali arik menghantam muka swan hingga meninggalkan tanda memar di pipi sebelah kanan swan "Kau ! Lakilaki macam apa? bahkan istrimu saja belum di makamkan kau sudah bermesraan dengan wanita jalang ini"!!!! suara arik menarik orang orang di ruangan itu. Bahkan media tak luput meliput kejadian tersebut tapi berhasil di halau oleh aparat keamanan.
Dyana hanya menatap sinis ke arah swan yang terduduk di lantai "Dia memang pantas mendapatkannya"
Tangan arik terangkat ke atas hendak memberi pukulan lagi tapi teriakan seseorang menghentikan aksinya "Cukuuuupppp"!!! Rara menghampiri kakaknya yang diam saja tak melawan.
"Kamu siapa? kenapa buat keributan di saat yang tidak tepat !!! jika kau tak bisa menghormati keluarga kami lebih baik kau pergi" Rara berteriak dan menunjuk muka arik dengan jari telunjuknya.
"Honey ayu aku bantu" Tasya berusaha membantu swan bangun tapi tangannya di tepis oleh swan " jangan sentuh saya "!!!
"Kakak ayo bangun, proses pemakaman akan segera di lakukan" Rara membantu swan berdiri.
Iring iringan mobil jenazah menghantar ke TPU BERGOTA. Proses pemakaman berjalan dengan khidmat, arik tak lepas memandang jenazah itu terus menerus.
Bulir bulir air mata yang swan tahan akhirnya melewati batas kemampuannya dan tumpah sudah. Hatinya begitu pilu, swan berusaha membohongi dirinya sedari kemarin kalo mayat di hadapannya bukan istrinya, tapi jika memang benar itu ayu, lantas bagaimana swan akan melewati hari hari kedepannya.
Semua pelayat satu persatu meninggalkan area pemakaman begitu juga dengan kerabat dan sahabat.
Hanya swan yang masih bersimpuh di dekat pusaran makam istrinya.
Terdengar langkah kaki mendekat, swan masih tak bergeming.
Sean berjalan mendekati bosnya "Ceo semua sudah saya cek, Polisi juga sudah memastikan kalo kejadian ini murni laka lantas"
Swan masih tak bergeming, kini dunianya benar benar runtuh. Hatinya hancur menjadi serpihan debu mendengar penuturan sean.
"Sean berapa lama kau bekerja denganku? Apa kau tak cukup pintar untuk menelaah semuanya? jika memang benar kecelakaan mana mungkin bisa tersusun secara rapih?
Sean mencoba memahami arah pembicaraan swan akan kemana. Sean nampak berpikir.
__ADS_1
"Bagaimana mungkin tiba tiba proyek di bone di rusak orang? supir taxi yang tak meninggal di tempat ? Semua sungguh sulit untuk aku percaya"!
Sean menghela nafas berat, kali ini tugasnya benar benar sulit. Dia sudah menyelidiki semuanya dengan cermat, tapi memang tidak menemukan hal yang mencurigakan sama sekali.
"Sean, bahkan aku akan memutar balikkan dunia sampai aku bisa menemukannya kembali"!!!
Setelah mengatakan hal tersebut Swan bangkit dan berjalan menuju mobilnya. Sedangkan sean masih bengong di tempat, dia harus bagaimana bersikap di hadapan bosnya itu.
......
Setelah proses pemakaman itu, swan berhari hari mengurung diri di kamarnya, dia tak makan tak minum. Separuh nyawanya ikut pergi bersama ayu, Walaupun swan yakin ayu masih hidup tapi bagaimana dia bisa mencarinya?
Terdengar ketukan pintu dari luar kamar swan.
"kakak..."
Rara memanggil kakaknya tapi tak ada jawaban, rara berusaha membuka ganggang pintu dan pintu terbuka.
Rara masuk menggendong seorang bayi mungil yang tak lain adalah keponakannya.
Rara berjalan mendekati kakaknya yang terduduk di ranjang tempat tidurnya, kumis tipis mulai terlihat di wajah kakaknya, mukanya tampak sangat berantakan tak terurus.
Swan masih diam saja, pandangan matanya kosong. Seketika bayi yang di gendong rara menangis kencang. Suara tangisan bayi itu menyadarkan dari lamunannya. Swan menoleh ke arah bayi mungil yang di gendong adiknya.
Wajahnya sangat mirip dengan mendiang istrinya.
"Apa kakak mau menggendongnya"? tanya rara hatihati
Swan mengulurkan tangannya menggendong putri kecilnya. Dan seketika itu tangisnya pun berhenti. Swan menimang putri kecilnya, terlihat sangat lucu. Rara pergi meninggalkan kamar kakaknya, memberi waktu untuk kakaknya bersama putrinya.
"Sayang maafkan papi tak bisa menjaga mami" bulir air matanya tak terbendung lagi.
"Maafkan papi yang membuatmu akan tumbuh tanpa kasih sayang mami" swan mengecup kening putri kecilnya, seolah mengerti perasaan papinya, putrinya menangis kembali.
Tiba tiba ada tangan mengusap air mata swan "Mas sudah, kenapa terus menangis? kasian putri kita mas" Suara ayu terdengar lembut di telinga swan
"Mas harus menjadi papi yang baik, harus bangkit dan mengurus diri. Lihat wajah mas di tumbuhi kumis. Aku tak suka melihatnya. Kalo mas tidak merawat diri aku tidak mau di cium mas lagi" ayu nampak mengerucutkan bibirnya ke arah swan
"Sayang jangan begitu, lihat putri kita sangat mirip denganmu" swan mendekatkan bayinya ke arah ayu.
__ADS_1
"Sayang kita beri nama putri kita LISWA SESILIA CORNELIO" kata liswa di ambil dari nama belakangmu Prisilia dan tentu saja swa dari namaku. bagaimana apakah kamu setuju? Senyum swan mengembang ketika sudah menemukan nama yang cocok untuk putrinya.
Ayu hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya. Senyum ayu lama lama memudar, badan ayu perlahan menghilang dari hadapan swan. Swan panik melihat ayu tak lagi di hadapannya.
"Sayang come on, jangan pergi lagi" Swan memanggil nama ayu berkali kali tak ada jawaban. Tangis swan kembali pecah, dia memeluk erat tubuh mungil putrinya.
Sesil adalah harta yang paling berharga yang diberikan oleh ayu. Sesil juga sebagai pengingat kalo ayu pernah hadir di dalam kehidupannya.
Ayu pernah mengisi hariharinya, dan bukan hanya sebatas hanyalan yang tak berbekas.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
**SUKA SYEDIH DEH KALO YANG LIKE SAMA KOMENTAR CUMA SEDIKIT😭
PADAHAL KOMENTAR KALIAN ADALAH SPIRIT UNTUK AKU😑
__ADS_1
SALAM SAYANG _srayu**