
**Aku tidak pernah tau kapan tepatnya aku mencintaimu, Tetaplah datang walau dalam bayang semu di mataku*
_Srayu*
Sepuluh hari sudah sepeninggal istrinya, swan sudah mulai memulai aktivitasnya, swan sudah pergi ke kantornya walaupun tidak sepenuhnya pikirannya kembali berfungsi, swan tetap pergi ke kantornya. Swan ingin menyibukkan diri untuk membunuh rasa sepinya.
Pagi ini seperti biasa swan akan menyempatkan diri mampir ke divisi humas di lantai lima. Di sudut pojok Divisi humas, di situlah meja kerja ayu dulu. Cukup lama swan berdiri di depan divisi Humas dan akhirnya Swan berjalan menuju lift menuju lantai teratas. Sean sudah duduk di mejanya, melihat bosnya datang sean berdiri dan memberi hormat "Selamat pagi Ceo"
Swan nampak acuh, semenjak istrinya meninggal, sikap swan semakin dingin.
Swan berjalan menuju pintu ruangannya, dan tiba tiba langkahnya terhenti "Sean, apa ada perkembangan?"
Sean blingsatan mendapat pertanyaan dari bosnya, sean menggaruk kepalanya yang tak gatal itu "Ceo, polisi sudah menetapkan kasus ini murni kecelakaan, dan polisi juga sudah menutup kasus ini"
Swan menghembuskan nafas kesal kemudian dia masuk ke ruangannya.
Swan menghempaskan tubuhnya ke sofa, tiba tiba ada yang membelai pipinya mesra
"Mas"?
Swan menoleh ke samping "Sayangku"?
"Jangan marah marah, nanti mas cepat keriput" ayu tersenyum menggoda swan
"Sayang, aku merindukanmu" swan merengkuh tubuh ayu ke dalam pelukannya, tapi tubuhnya menghilang dan berubah menjadi udara kosong.
Swan menarik rambutnya kasar, kemudian dia menuju meja kerjanya. Membuka beberapa berkas di sana.
Otaknya tak bisa berkonsentrasi bekerja, swan memutuskan untuk pergi dari kantornya.
Swan membawa mobilnya melaju dengan kencang menuju tempat kecelakaan istrinya. kebetulan jalanan lengan pada jam jam kerja kantor.
Swan berharap bisa menyusul istrinya ke surga sana.
"Mas hentikan mobilnya!!!! Apa yang mas lakukan? Mas mau putri kita bahkan tidak bisa merasakan kasih sayang papinya"?
Swan tak memperdulikan bisikan bayangan ayu. Dia semakin menambah kecepatan mobilnya.
"Baik !!! aku bahkan tidak akan datang menampakkan diri ke hadapan mas lagi"!!!
Mendengar ancaman ayu swan mengerem dadakan mobilnya "Sayang kenapa kau senang sekali meninggalkanku"?
Bayang tubuh ayu lenyap tak berbekas. Swan semakin frustasi. "Bahkan bayangnya saja aku tak bisa memiliki"
Swan memutar arah mobilnya ke arah pemakaman Bergota, Dia membeli sekranjang bunga mawar segar, dia berjalan menyusuri anak tangga menuju makan istrinya.
Langkah kakinya berhenti, Matanya menatap ke arah makam istrinya, di sana ada seseorang yang sedang membawakan bunga Lyli putih. Seseorang yang cukup familiar untuk swan, Dia mengenakan kacamata hitam . Dia nampak mengusap pusaran makan ayu. Swan semakin mendekat untuk memastikan dugaannya, dan ternyata benar Itu adalah Arik, Sepertinya arik sama terpukulnya seperti dirinya. Swan tak melanjutkan langkah kakinya lagi. dia bersembunyi di balik pohon mengawasi gerak gerik arik. Cukup lama mengawasi sepertinya Arik bukan orang yang terlibat di dalam kecelakaan ayu.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Arik berdiri dan melangkah pergi meninggalkan makam ayu.
Setelah arik cukup jauh, swan berjalan mendekat ke arah makam istrinya.
"Sayang aku datang"
"Apa kau masih marah perihal aku membawa mobil tadi" swan berbicara sendiri, meluapkan rasa rindu terhadap istrinya.
"Sayang maafkan aku, aku selalu membuatmu marah, aku janji akan menjaga putri kita dengan baik"
"Haruskah aku menerima kepergianmu yang terlalu cepat? dan benarkah mayat yang ku lihat kemarin adalah dirimu?" swan takut mendengar jawaban dari pertanyaannya sendiri.
Swan akhirnya diam, dia menatap nanar pusaran makam istrinya, kemudian dia menabur bunga yang sudah dia beli tadi.
Tak terasa waktu sudah siang
"Sayang aku pulang dulu, aku akan sering datang kemari" swan berdiri dan melangkahkan kakinya meninggalkan area pemakaman.
Swan tak kembali lagi ke kantornya, mobilnya di arahkan menuju Citra Sun Garden.
Swan memasuki rumahnya, swan sangat merindukan putri kecilnya.
Seketika bola matanya terbuka lebar, dia melihat rara yang sedang memangku sesil dan tasya yang sedang menyuapkan botol susu ke mulut sesil.
Rara menoleh karena merasa ada yang memperhatikan dirinya "Kakak"
Swan diam saja tak menjawab pertanyaan tasya, kemudian swan menjulurkan tangannya "Ra, berikan sesil kepada kakak"
Rara berdiri dan menyerahkan sesil kepada kakaknya.
"Kak, dari pagi kak tasya sudah kemari membatu rara dan ibu mengurus sesil" sambung rara.
Swan hanya melirik ke arah tasya yang sedang menatapnya. Kemudian swan berjalan meninggalkan ruang tamu menuju kamar utama.
"Sayang datanglah, aku sudah pulang dan membawa putri kita" mata swan melirik ke beberapa sudut kamarnya, berharap bayangan ayu bisa muncul kembali.
Lama swan menunggu tetapi bayang ayu tak muncul kembali
"Sayang, apa kau masih marah denganku"?
swan sudah seperti orang yang kadar kewarasannya tinggal setengah saja.
Tak ada jawaban, swan duduk di tempat tidurnya memangku putrinya.
Mata swan kembali berkaca kaca "Sayang,bahkan hanya bayangmu saja aku tidak boleh memilikinya? Sayang datanglah, lihat putri kita dia juga merindukanmu" swan mencium pipi kanan sesil, dan tak di duga ayu juga ikut mencium pipi kiri sesil "Mas harus bangkit dan lanjutkan kehidupan mas" Ayu tersenyum manis dan mengecup kening swan "Mas juga harus janji, jaga dan rawat sesil. Ikhlaskan takdir mas. Yakinlah akan ada pelangi setelah badai"
Swan diam mendengarkan apapun yang ayu katakan, swan tak mau membantahnya lagi. Swan takut ayu marah dan tak mau menemuinya lagi.
__ADS_1
Terdengar suara ketukan pintu dari luar, swan berdiri dan meletakkan sesil di ranjangnya "Sayang jaga putri kita, aku akan membuka pintu dulu"
Swan membuka pintu dan nampak tasya berdiri di sana "Ada apa"?
"Lebih baik kau mandi dulu, aku yang akan menjaga sesil. Kebetulan rara sedang membeli keperluan sesil di supermarket sedangkan ibu sedang mencari baby sitter untuk membantu mengurus sesil" ucap tasya.
"Tidak perlu, sudah ada ay..." swan menoleh ke arah ranjang dan ayu tak lagi ada di sana.
Swan baru menyadari selama ini dia hanya berhalusinasi saja. Akhirnya swan menyetujui permintaan tasya.
"Masuklah"
Swan berjalan mendahului tasya sedangkan tasya mengekor di belakang.
Swan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tasya menemani sesil yang terlelap di kasur "Cepat atau lambat aku lah yang akan menjadi MAMI mu bayi kecil Dan akan aku pastikan kau juga akan merasakan apa yang aku rasakan saat mamimu merebut swan dari tanganku. Tasya tersenyum penuh kemenangan. Akhirnya semua tujuannya berjalan dengan lancar dan mulus.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
BEBERAPA CHAPTER KE DEPAN SEPERTINYA AKAN MENGUPAS TENTANG KEGALAUAN SWAN DAN USAHA TASYA MENDAPATKAN SWAN KEMBALI.
SEMOGA KALIAN TIDAK BOSEN DENGAN ALUR CERITANYA YA😘
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTARNYA🙏
DUKUNG TERUS KARYAKU KAKAK KARENA AKU IKUT CONTEST🙏MINTA DOANYA YA🙏😘
SALAM SAYANG _srayu
__ADS_1