Kasih Terakhir

Kasih Terakhir
Jebakan


__ADS_3

Dyana beranjak dari sofa tempat dia duduk, Dyana sudah malas berbasa basi dengan Arik, dyana sudah muak.


"Jangan begitu bodoh dyn, kau tidak tau orang macam apa yang kau cari, hanya dengan satu tepukan kau bisa hilang dari muka bumi" arik mengetuk ngetukkan jari jemarinya di meja


Dyana hanya menatap tajam ke arah arik. Senyum di bibirnya tersungging dengan sempurna


"well, sepertinya swan harus turun tangan sediri" pengucapan dyana penuh penekanan


"Aku tidak yakin swan mampu melakukannya" suara arik nampak mengejek dyana


"hahahhahahaha" dyana tertawa sarkas


"Jangan bodoh rik, satu kali tepukan perusahaan mu akan lenyap dari industri hiburan, dan si tua bangka itu tentu saja akan langsung swan masukkan ke neraka" Dyana tersenyum mengejek


Arik mengepalkan tangannya, semua yang dyana katakan memang benar, kalau swan turun tangan sudah pasti angkasa entertainment tidak punya jalan kembali. Arik sejenak melirik ke arah ruang vvip, disana terlihat ayu sedang tertawa bersama anak dan suaminya, sepertinya sangat bahagia.


"Harusnya aku yang di posisi swan" gumam arik di dalam hatinya.


"Sudahlah jangan banyak bermimpi, ayu tak akan pernah kembali ke pelukanmu !!! Pikirkan saja tawaranku, aku beri waktu 3hari"


Dyana melenggang pergi dari hadapan arik. Tentu saja, walaupun arik memberitahu apa yang dyana inginkan, dyana tidak akan memberi arik jalan kembali. Arik harus merasakan apa yang ayu rasakan selama 4tahun.


Tapi dyana sedikit kuatir dengan si tua bangka itu, kuasanya cukup menakutkan. Dyana ingin meminta tolong swan, tapi apa swan akan sanggup membantunya?? Ada keraguan dalam diri dyana.


"Ah sudahlah, akan aku pikirkan nanti" dyana berjalan menuju parkiran mobil menemui james yang menunggu dengan setia di mobil.


"Sayang, bagaimana?" james sudah tak sabar mendengar jawaban kekasihnya


"Sesuai rencana" dyana nampak enggan menjawab pertanyaan james. Karena semua rencana dyana selalu berjalan sesuai rencana, tapi untuk perihal si tua bangka dyana sedikit ragu. Pasalnya si tua itu bukan tandingan dyana. DIa terlalu licik dan susah di kalahkan.


Malam yang menyenangkan untuk swan dan ayu, mereka kini sudah sampai di rumah dan sedang membaringkan diri di atas ranjang kamar utama. Sesil tak ketinggalan, dia ikut tidur bersama mami dan papinya.


Sesil terus mencari perhatian ayu, sehingga swan merasa jengkel tidak kebagian istrinya. Bahkan ketika terlelap sesil terus memeluk ayu dengan erat.


"Sayang" swan memanggil ayu dengan setengah berbisik


"hm" ayu hanya berdehem dan enggan membuka matanya


Swan turun dari ranjang dan berjalan ke tepian ranjang mendekati ayu, swan mengecup kening istrinya


Sontak ayu membuka matanya lebar "ada apa"?


Swan hanya tersenyum saja, senyum yang penuh makna.


Ayu hanya menggelengkan kepalanya saja "Tadi siang kan sudah, apa masih kurang? ada sesil disini"


"Kita ke kamar sebelah" swan berbisik mesra di telinga ayu, kemudian swan melepas pelan tangan sesil yang melingkar di perut istrinya, setelah berhasil, swan langsung membopong istrinya menuju kamar sebelah


"Kalo sesil bangun bagaimana" ayu nampak kuatir dengan putrinya


"Tidak akan" swan melangkahkan kakinya menuju kamar sebelah, lalu swan membaringkan tubuh ayu di ranjang. Swan langsung mengecup bibir ayu mesra, cukup lama mereka berciuman hingga ayu mendorong tubuh swan menjauh dari dirinya


"Ada apa?" swan menautkan alisnya


"Aku ke toilet sebentar" ayu bangkit dan berlari menuju kamar mandi

__ADS_1


Cukup lama swan menunggu, akhirnya ayu keluar dengan wajah yang muram


Swan bangkit menghampiri istrinya "Kenapa sayang"


"Maaf mas, aku hari ini sangat lelah, kita tunda dulu bagaimana?? ayu menundukan kepalanya dan menggigit bibir bawahnya


Swan hanya tersenyum merespon istrinya lalu swan mengecup kening istrinya dengan mesra " Tidak apa apa, masih banyak waktu"


Swan kembali menggendong ayu menuju kamar utama, swan membaringkan ayu di samping sesil dan swan juga ikut berbaring di sana, kemudian mereka sama sama terlelap hingga pagi


****


Pagi ini ayu sibuk mengurus keperluan sesil, hari ini ayu akan mengantar sesil ke sekolah sebagai maminya.


Sebelum melakukan aktivitas mereka sarapan bersama terlebih dahulu


"Mami jadi kan mengantar sesil sekolah" Sesil melirik mami ya yang sedan sarapan di sampingnya


Ayu hanya mengangguk karena mulutnya penuh dengan makanan.


"Horeeeeee" Sesil berteriak kegirangan


"Sesil lupa yang papi ajarkan nak" Swan melirik tajam ke arah sesil dan seketika sesil langsung membungkam dan melanjutkan sarapannya.


Setelah selesai sarapan swan berangkat ke kantor dan ayu di antar sopir menuju sekolah sesil.


Hari ini sesil nampak sangat gembira, untuk pertama kalinya sesil di antar oleh maminya, sesil bisa merasakan apa yang teman temannya rasakan. Bisa di temani maminya setiap pagi.


Sesil mencium tangan dan pipi ayu sebelum memasuki area sekolah


"Sekolah yang rajin ya sayang" Ayu mengusap kepala putrinya


"Iya mi" sesil berlari memasuki area sekolahnya


Ayu kembali ke rumah, dia harus menyusun rencana untuk membalas tasya dan arik. Bagaimanapun tasya dan arik sudah membuat ayu terpisah begitu lama dengan anak dan suaminya.


Sesampainya di rumah, ayu menghubungi dyana beberapa kali tapi dyana tak mengangkat panggilan dari ayu. Akhirnya ayu memutuskan untuk merapihkan kamarnya saja. Barang barangnya harus segera di kemas.


Lama ayu berkutat dengan lemari pakaian, tak terasa waktu sudah siang.


Ayu memutuskan untuk mandi terlebih dahulu.


setelah selesai mandi ayu mengganti pakaian dengan dress selutut tanpa lengan berwarna navy, Rambutnya di gerai dan ayu menambah sedikit polesan make di wajahnya


Sebelum menjemput sesil ke sekolah, ayu berencana mampir ke kantor swan terlebih dahulu, entah mengapa ayu tiba tiba merasa tidak enak.


****


Tasya berjalan memasuki kantor swan, hari ini sengaja tasya berkunjung ke kantor swan. Tasya ingin membujuk swan untuk kembali lagi dengannya.


"Sean , Ceo ada" tasya melirik ke arah pintu ruangan swan


"Ada di dalam nona, biar saya beritahu Ceo terlebih dahulu" Sean beranjak dari kursinya


"Tidak perlu, aku langsung masuk saja" Tasya melenggang masuk tanpa menghiraukan sean yang mengoceh di belakang sana

__ADS_1


"Sayang" tasya membuka pintu dan menerobos masuk


Sontak swan langsung menoleh ke arah sumber suara, swan memutar bola matanya malas kemudian swan kembali melihat dokumen yang menumpuk di meja kerjanya


"Maaf Ceo, saya sudah melarang tapi nona tasya memaksa masuk" Sean melirik tak suka ke arah tasya


"Sean, Minta salinan data klien dari divisi humas"


"Baim ceo" Sean membungkuk dan undur diri dari ruangan swan


Tasya memutar kursi kerja swan "Sayang aku merindukanmu" Tasya langsung duduk di pangkuan swan, tasya membuka dasi yang melilit di kerah baju swan


"Mau apa kau hah" swan mencekal tangan tasya


Tasya tak menghiraukan swan, tasya membuka kancing baju yang dia kenakan. dan menurutkan tali bra yang dia kenakan


buah dada tasya menyembul keluar di hadapan swan, dan tasya langsung duduk di pangkuan swan "Bahkan jika kau tidak bisa menjadikan aku satu satunya, aku rela menjadi yang kedua" Tasya mengalungkan kedua tangannya di leher swan


Sementara itu ayu berjalan menuju ruang kerja swan, ayu melihat meja sean kosong. Ayu takut swan tidak ada di dalam ruangannya.


Pasalnya ayu datang kemari tanpa memberi tahu swan terlebih dahulu.


Tangan ayu memegang knop pintu dan ayu membuka pintu perlahan, ketika pintu terbuka mata ayu seketika melebar, kedua tangannya mengepal.


Ayu membuka pintu lebar lebar dan menutupnya dengan keras, sontak swan dan tasya menoleh ke arah pintu. Ayu berjalan mendekati swan, dan tasya masih dengan posisinya duduk di pangkuan swan.


"Sayang aku bisa jelaskan" swan berusaha mendorong tasya dari pangkuannya


Tapi ayu masih diam tak bergeming menatap tajam ke arah swan dan tasya


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Id IG @novisetyaw


__ADS_2