
Cukup panjang sambutan dari panitia dan juga kepala sekolah. Tiba saatnya persembahan dari anak anak TK dan SD PBIS.
Satu persatu para siswa mempersembahkan penampilannya. Ada yang menyanyi, menari, dan juga membaca pantun untuk ibu mereka.
Kini tiba giliran sesil. Ketika nama sesil di sebutkan , ayu menyalakan kameranya untuk mengambil foto sesil,. Ayu juga berencana untuk merekam ketika nanti sesil membacakan puisi. Ayu bernjak dari kursinya mencari tempat untuk lebih leluasa mengambil gambar.
Wajah mungil sesil muncul dari balik panggung, wajahnya terlihat sangat imut dengan pipi yang cuby dan rambut yang di gerai dipadukan dengan topi khas pilot nampak terlihat sangat menggemaskan.
Sesil melihat ke arah tantenya, dia juga melihat ke arah sisil yang beberapa kali mengambil gambarnya dengan kamera lampu flash uang menyala. Mata sesil mencari keberadaan papinya. Tapi papinya belum datang.
Ada rasa sedikit kecewa di raut wajah sesil, tapi sesil berusaha tersenyum. Sesil yakin papinya akan datang melihatnya.
Sesil memejamkan matanya dan menarik nafas panjang.
kemudian matanya terbuka dan sesil memulai membuka kertas yang dia bawa di tangannya.
Mami...
Dalam doa ku sebut engkau
Dalam diam sesil merindukanmu
Sesil ingin merasakan peluk hangat darimu
Tuhan..
Ijinkan Sesil memeluknya walau hanya sekali
Mengucapakan terimakasih karena sudah melahirkan Sesil
Walau hanya sekali tuhan, aku ingin melihat mamiku
Sesil ingin menyentuh wajahnya
Merasakan kasih sayangnya.
Mami..
Dimanakah engkau berada ?
Sesil dan papi mengharapkan mu kembali
Walau jarak memisahkan kita, Tapi hati selalu menyatukan kita.
LOVE
Liswa Sesilia Cornelio
Swan berdiri di ambang pintu, swan mendengar puisi yang di buat oleh putri kecilnya, hatinya terasa teriris. Matanya berkaca kaca, namu seketika swan mengucek matanya, dia tidak boleh terlihat lemah di hadapan putrinya.
Semua hadirin berdiri dan bertepuk tangan riuh. Bahkan ada beberapa dari mereka menitikkan air mata, tak terkecuali sisil. Dia juga hanyut dalam suasana. Dia tak menyangka anak sekecil sesil bisa menulis puisi yang begitu indah.
Sisil menyimpan rekaman video yang dia ambil, kemudian menuju ke arah rara yang nampak mengusap air matanya.
Swan melihat sosok yang sangat familiar untuknya. Apa mungkin mendiang istrinya datang untuk melihat putri mereka, Swan masih berpikir dirinya berhalusinasi. Mata swan mengikuti arah bayang ayu, seketika matanya terbelalak melihat dia mendekati rara.
"Aku sedang tidak bermimpi" swan berjalan mendekat ke arah tempat duduk ayu dan rara
__ADS_1
"Kau tidak apa apa"? sisil mengusap pundak rara mencoba menenangkan perasaan rara.
Rara mengangguk saja.
"Ra" swan memanggil adiknya
Rara terkejut mendengar suara kakaknya sontak dia menoleh ke arah kakaknya.
"Kakak"
"Tuan" sisil nampak terkejut melihat keberadaan swan di hadapannya.
Swan hanya tersenyum simpul.
"Kalian sudah saling mengenal" rara nampak terkejut
"Apa dia kakakmu" sisil melirik ke arah rara
Rara hanya tersenyum.
"Berarti tuan swan adalah..."
"papi"..... teriakan anak kecil membuyarkan obrolan mereka
Sesil berlari ke arah papinya. Swan berjongkok dan merentangkan tangannya. Swan memeluk putri kecilnya. Lalu mengangkat dan menggendongnya.
"Putri papi cantik sekali" swan mengecup pipi sesil
"sesil jadi ini papimu" sisil nampak terkejut. Dia tak menyangka swan memiliki seorang putri, dan artinya dia seorang yang sudah memiliki istri. Entah mengapa hati ayu seakan tidak terima.
"Ah bodoh, kenapa aku berpikir seperti itu" gumam ayu dalam hati.
"Putri papi juga sangat sangat cantik"
"duduk sini kak, kita lanjutkan ngobrolnya sambil melihat pertunjukan selanjutnya" perintah rara.
kemudian mereka duduk berjejer, swan duduk di tengah antara sisil dan sesil.
Hat swan sangat bahagia, dia tak menyangka sesil sudah bertemu dengan maminya.
"kak, pih, bagaimana puisiku bagus tidak"?
"Bagus sayang" swan dan sisil hampir berbarengan menjawabnya.
sesil tersenyum senang, kemudian dia mengecup pipi kiri papinya dan mengecup pipi kanan ayu secara bergantian.
Rara yang melihat adegan itu sangat terharu.
Pembawa acara mempersilahkan para ibu dari siswa siswi untuk menuju ke depan panggung, disana sudah tersedia kursi yang di bawahnya terdapat baskom air dan juga handuk kecil.
Sesil nampak murung, pasalnya dia tak memiliki ibu. Dia hanya memiliki papinya.
"Sesil kenapa" ayu melirik ke arah sesil yang murung.
"Sesik tidak punya mami kakak, jadi sesil ke depan dengan siapa"?
"Kan ada tante rara, atau papi sesil" sisil mengelus pipi sesil.
__ADS_1
"Kakak saja yang menemani sesil" Timpal rara
"Iya benar kakak, kalo mami tidak kembali lagi atau mami memang benar sudah meninggal seperti kata teman teman sesil, sesil mau kakak jadi mami sesil" mata sesil mulai berkaca kaca, sesil takut mami nya benar benar sudah pergi dari dunia.
Sisil tak sampai hati menolak keinginan sesil, di tambah melihat mata sesil yang sebentar lagi pasti akan menangis, sisil semakin tak tega.
Sisil menoleh ke arah swan, dia tak mau di anggap lancang karena menggantikan posisi Nyonya Swan. Swan menatap dalam ke arah mata sisil, seakan ada beribu kesedihan tersimpan di sorot wajah swan.
Sisil menaikkan satu alisnya, meminta jawaban dari swan.
Lama swan terdiam, mengendalikan emosinya sendiri. Menenangkan hatinya yang bergejolak hebat.
Setelah cukup tenang akhirnya swan menganggukan kepala.
Sisil tersenyum dan ikut menganggukan kepalanya "Sayang ayo kakak temani" sisil menggendong sesil maju ke arah depan.
Kameranya dia titipkan ke rara.
Rara tak mau ketinggalan satu moment berharga ini.
Rara terus mengambil gambar selama proses membasuh kaki itu berlangsung.
Swan juga untuk pertama kalinya memotret adegan antara ibu dan anak yang ada di depan sama dengan kamera ponselnya.
Setelah proses membasuh kaki selesai, sesil berdiri dan mengecup pipi sisil lama. Kemudian sisil mengecup kening sesil lembut.
Hatinya terasa menghangat. Ada perasaan bahagian yang tak terlukis didalam hatinya. Entah mengapa hatinya sangat menyukai gadis kecil yang sedang memeluknya saat ini.
"Terimakasih Tuhan, telah mempertemukan putriku dengan maminya" swan berdoa di dalam hatinya. Sudut bibirnya terangkat ke atas membentuk sebuah senyum.
"Kalaupun dia bukan kak ayu, aku ingin kakak memperjuangkan sisil kak! aku lihat dia sangat tulus menyayangi sesil. Tidak seperti Tasya, aku yakin dia punya maksud terselubung" Nada provokosi terdengar di setiap kata kata yang rara ucapkan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
MOHON MAAF APABILA PUISINYA KURANG MENYENTUH.
AUTHORNYA MASIH BELAJAR😁
SEMOGA KALIAN SUKA YA DAN TETAP DUKUNG SAYA😘
JANGAN LUPA TINGGALKAN LIKE DAN KOMENTARNYA😘 BIAR AKU SEMANGAT NULISNYA🤞
__ADS_1
SALAM SAYANG _srayu