Kasih Terakhir

Kasih Terakhir
Bertemu Kembali 2


__ADS_3

Hari kedua dyana dan sisil di kota semarang,


Dyana terlihat mematut dirinya di depan cermin kamar hotel, Beberapa kali dyana memutarkan tubuhnya memastikan gaun yang dia kenakan cocok di tubuh, Dyana menambah riasan make up tipis di wajahnya, mengenakan lipstik cassual yang senada dengan gaunnya.


"Hmmm sudah cantik, jangan bercermin terus nanti cerminnya rusak" goda sisil yang masih bermalas malasan di atas tempat tidurnya.


"Hm, betul juga, kenapa aku harus repot repot berdandan hanya untuk menjemput dokter gadungan itu" dyana berusaha melepas gaun yang dia kenakan.


"eh kok di lepas si? sudah bagus itu ! aku kan hanya bercanda" Tukas ayu.


"Ah memang ini bukan gayaku, aku lebih suka terlihat santuy" dyana terbahak bahak ketika mengatakan "Santuy" berasa anak jaman sekarang. Ya memang dyana anak jaman sekarang, tetapi umurnya sudah tak muda lagi.


"dyn, aku lihat james orang yang cukup baik, dia banyak mengalah denganmu. Kenapa kau tidak menikah dengannya"


Dyana memutar bola matanya malas. Dyana enggan menanggapi pertanyaan sisil.


"dyn"? sisil memanggilnya kembali


"kenapa bengong aja?"


"aku masih menunggu seseorang" jawab dyana penuh misteri


"Maksudmu kau memiliki pria lain selain dokter james"? sisil nampak berpikir dan dahinya membentuk beberapa lipatan.


"Kasih tau nggak ya"? dyana menggoda sisil.


"Dyn"!!!! Sisil bangkit dari tidurnya, dia duduk di tengah ranjang sambil menyilangkan kakinya.


"Dokter james orang baik dyana, kau jangan bermain main dengannya"!! sisil nampak kesal melihat tingkah dyana


"uhhhh, nampaknya kau menyukai james?" dyana melirik ke arah sisil, dan dyana melanjutkan kembali menyisir rambutnya.


"Bukan seperti itu dyn, aku tidak suka jika kebaikan di balas sebuah penghianatan. Ya walaupun aksa selalu baik denganku dan aku belum pernah merasakan penghianatan"


Dyana nampak diam saja tak menanggapi celotehan sisil. "Bahkan kau pernah mendapat penghianatan yang bahkan jika kau mengingatnya kau akan membunuh pelakunya" gumam dyana dalam hati.


"dyn kau mendengarku kan"??? sisil nampak memiringkan wajahnya.


"Kau jangan kuatir, aku tidak akan menghianati james, ya palingan aku tendang dia kalo aku bosan" dyana cengengesan tidak jelas. Mana mungkin dyana akan melakukan hal itu, james banyak membantu dyana mengungkap kasus ayu, tidak mungkin dyana menyianyiakan orang sebaik james. Dyana hanya sedang menggoda sisil saja.


Sontak sisil melempar bantal ke arah dyana, namun secepat kilat dyana menghindar dan menjulurkan lidahnya ke arah sisil.


"dyn" panggil sisil lagi


"hm" kali ini dyana hanya berdehem saja, dia sibuk memasukan beberapa barang ke dalam tas jinjingnya.


"Sebelumnya aku mungkin pernah ke kota ini ya? aku merasa sangat familiar dengan keadaan di sini? dan lagi kemarin aku bertemu dengan seseorang yang yang ku rasa tak asing" sisil mengingat kembali moment pertemuannya dengan swan.


"Siapa"? tanya dyana pura pura tidak tau


"pemilik Carnal Properti"


"Whatttttsssssss" dyana pura pura kaget. Dyana memang pandai berakting, harusnya dyana jadi artis saja bukan perawat.


"Ya begitulah, tapi aku merasa tatapan matanya aku cukup mengenalnya, ya hanya perasaanku saja sepertinya sih," lanjut sisil lagi


"Dia orang yang tampan, mapan, aku sering melihatnya mondar mandir di layar kaca" jawab dyana mempromosikan swan


"Lelaki seperti dia sangat cocok untukmu" lanjut dyana lagi.

__ADS_1


"jangan mulai ngaco deh ! aku punya aksa din dan aku tidak mungkin menghianatinya, ya walaupun aksa tidak ada di memori ingatanku, tapi aku yakin suatu saat aku bisa mengingat aksa lagi, dan tentu saja saat itu aku akan menerima lamarannya lalu kami menikah" jawab sisil penuh penekanan.


Dyana memutar bola matanya malas


"Aksa aksa aksa !!! tunggu aku !! kita lihat siapa yang akan menjadi pemenang dalam permainan ini ! kau sedang memancing gamers sejati untuk menunjukan cara bermain game yang benar" dyana mengepalkan kedua tangannya, dia sangat geram.


"Aku pamit ya, mungkin hari ini aku akan berjalan jalan dengan james" dyana beranjak dari kursinya.


"Aku juga akan ke PBIS" sambung sisil


"Untuk apa"? dyana menolehkan kepalanya ke arah sisil


"ada janji dengan temanku" sisil beranjak dari ranjangnya menuju ke arah kamar mandi


"Kau punya teman disini"? tanya dyana heran


"Ya" jawab sisil singkat


"Siapa"? dahi dyana mengernyit


"Malaikat kecil di PBIS" teriak sisil dari dalam kamar mandi


Bibir dyana mengembang membentuk sebuah senyuman yang manis. Dyana tau siapa yang sisil maksudkan. "Baiklah, semoga kalian cepat akrab" jawab dyana sambil meninggalkan kamar hotel.


Dyana hari ini sengaja mengemudi mobil sendiri, mobil yang sudah james sewa lewat temannya. Bukan dyana tak mau mengajak sisil, tapi dyana memang memberi banyak waktu agar sisil bisa bersama dengan swan dan putri mereka. Semua pergerakan sisil selalu di bawah pengawasan dyana. Dyana tak mau kehilangan sahabatnya untuk kedua kalinya. Dan tentu saja si wanita jalan itu sudah di buat dyana sibuk lewat koneksi yang james punya. Sepanjang perjalanan menuju bandara senyum di wajah dyana terus mengembang. Dyana juga sangat merindukan james.


Sementara di kamar hotel, sisil nampak sedang berdandan dan mematut diri di depan cermin, Dia mengucir rambutnya. Memoles make up tipis dan mengalungkan kamera kesayangannya ke lehernya. Sisil membawa tas kecil yang senada dengan pakaian yang dia kenakan. Sangat terlihat fresh dan lebih muda dari umurnya.


Sisil kemudian memesan taxi online.


Taxi yang sisil pesan sudah menunggunya di lobi hotel, sisil segera turun dari kamarnya menuju lantai dasar. Kemudian dia mengecek plat nomor taxi yang dia pesan, setelah selesai mengecek dan ternyata sesuai aplikasi sisil menaiki taxi. Taxi melaju menuju PERMATA BANGSA INTERNATIONAL SCHOOL.


Pandangan mata sisil menyapu ke beberapa pojok koridor sekolah, dia mencari sosok sesil. Sisil berjalan menuju aula namun langkahnya berhenti ketika ada yang memanggil namanya "Kakak sisil" suara gadis kecil yang sedang sisil cari. Kemudian sisil menoleh ke arah sumber suara. Di sana dia melihat sesil berdiri mengenakan baju berwarna putih, bukan kebaya, bukan baju adat bukan pula gaun yang indah. Sesil nampak menggunakan baju khas pilot. Ayu bertanya tanya mengapa sesil memilih baju itu.


"Sayang" sisil tersenyum ke arah sesil.


Sesil berlari dan memeluk tubuh sisil "Kakak datang"?


"Tentu sayang, kau sangat cantik dan berbeda dengan temanmu yang lain" sisil mengusap pipi sesil lembut.


Sesil hanya menanggapinya dengan tersenyum.


"Pasti kalo besar ingin jadi pilot ya" sambung sisil lagi.


sesil menganggukan kepalanya " Tentu kak, jika mami belum kembali juga sampai sesil besar, sesil yang akan menyusul mama terbang ke langit"


Sisil nampak mengeryitkan dahinya tak memahami apa yang gadis kecil di hadapannya bicarakan


"Papi bilang mami sekarang terbang di langit kak" jawab sisil polos.


Ayu mencoba menelaah apa yang di maksud sesil, mungkin maksudnya adalah maminya seorang pramugari.


"Papi mu mana sayang"? sisil nampak celingak celinguk melihat ke arah sekitarnya.


"Papi belum datang kak, tapi ada tante Rara di sini, Tante rara sedang ke toilet sebentar"


Rara datang dari arah belakang ayu "sesil" Rara memanggil keponakannya.


Sontak sisil menoleh ke arah sumber suara. Tatapan mata rara bertemu dengan tatapan mata sisil. Bola mata Rara melebar dan hampir keluar dari tempatnya. Jantungnya berdegup kencang melihat sosok yang berdiri di hadapannya.

__ADS_1


"Tidak mungkin ada hantu di siang bolong begini" gumamnya dalam hati.


"Seandainya mirip, mengapa seperti fotokopi dari mendiang kak ayu? dan lagi dia terlibat sangat dekat dengan sesil" semua pertanyaan berputar di otak rara.


Sesil berlari menghampiri tantenya. sesil menggoyangkan lengan tantenya yang nampak bengong.


Sisil risih di tatap seperti itu oleh rara, dia merasa sedang tertangkap basah melakukan sebuah kesalahan.


"Tante rara" sesil memanggil tantenya


Sontak rara tersadar dari lamunannya "Ya sayang kenapa" rar berjongkok mensejajarkan dirinya dengan sesil.


"Tante, ayo aku kenalkan dengan kak sisil, dia teman baru sesil" sesil tersenyum ke arah sisil.


Sisil terlebih dulu mendekat ke arah mereka, sisil kemudian menjulurkan tangannya "Halo, namaku sisil"


Rara membalas jabat tangan sisil "Rara"


"Senang bertemu denganmu, dan maafkan atas kelancanganku datang menghadiri acara ini, Lebih baik aku pamit terlebih dulu" sisil berbalik badan dan hendak melangkahkan kakinya namun tangannya di cekal oleh rara "jangan kak, aku tidak merasa terganggu sama sekali"!


"kak ?" sisil mengulangi kata kata rara.


Rara nampak bingung, dia keceplosan. Mulutnya memang tak bisa di kondisikan.


"Ah anu itu... maafkan kelancanganku. Kau sangat mirip dengan kakakku. jadi bolehkan kalo aku memanggilmu kakak"? Rara mencoba mencari alasan yang logis.


Sisil nampak terdiam sejenak, dia memandang rara, nampaknya rara terlihat lebih muda dari dirinya jadi menurut etika yang rara katakan sudah benar. Kemudian sisil menganggukan kepalanya.


"Papi sesil akan sedikit terlambat, ada masalah di pekerjaannya jadi lebih baik masuk ke dalam dan mencari tempat duduk" Rara mengajak sisil dan sesil berjalan memasuki gedung aula.


Mereka mencari kursi kosong untuk di duduki, sedangkan sesil menuju ke belakang panggung dengan gurunya untuk melakukan gladi bersih. Hari ini sesil akan tampil membawakan puisi buatannya sendiri. Rara tak tau apa yang keponakannya buat, karena sesil melarang siapapun membaca puisinya.


Rara nampak berfikir, bagaimana reaksi kakaknya nanti ketika bertemu dengan sisil yang wajahnya sama seperti mendiang istrinya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


MAAF BARU UP 🙏 LAGI BADMOOD SEHARIAN JADI NGGAK NGETIK TAKUT HASILNYA TIDAK SESUAI YANG DI HARAPKAN.


SEMOGA PADA NGGAK BOSEN SAMA ALURNYA YA🙏


JANGAN LUPA TINGGALKAN LIKE DAN KOMENTARNYA😘😘😘 BIAR AKU SEMANGAT LAGI NGETIKNYA

__ADS_1


SALAM SAYANG _srayu


__ADS_2