
Ayu dan swan cukup shock melihat putri kecilnya berdiri di hadapan mereka, sedangkan mereka tak mengenakan sehelai busana.
Swan dan ayu menutup badannya dengan selimut. Mereka cukup panik dan bingung harus bagaimana menjelaskan kepada gadis sekecil sesil.
Sedangkan sesil menatap aneh kepada kedua orang yang masih diam di atas ranjang dan menutup tubuhnya dengan selimut.
Swan memutar otak memilih kata kata yang pas untuk menjelaskan keadaan terhadap putrinya. Sedangkan ayu hanya diam saja, dia sangat malu tertangkap basah oleh putrinya tanpa busana. mukanya merah padam.
"Papi"!!! suara sesil meninggi
"Putri papi yang cantik, sesil mau tidak bertemu mami" swan melihat putrinya yang merajuk
Seketika mata sesil menjadi berbinar, dia tersenyum senang lalu menganggukan kepalanya.
"Kalo sesil mau bertemu mami, sesil sekarang keluar dulu sebentar ya"
"Papi tidak bohong"?
"Papi mana pernah bohong"? kata swan lagi
"nanti papi akan bawa mami untuk sesil oke sayang"? swan berusaha membujuk putrinya.
Sesil nampak berpikir sejenak, memang papinya tidak pernah berbohong, papinya selalu mengajarkan kejujuran dan tanggung jawab.
"Baiklah, sesil tunggu di depan pintu, jangan lama pih" sesil berlari secepat mungkin keluar kamar.
Dia sudah tak sabar ingin bertemu dengan maminya. Senyum di hati sesil mengembang sempurna.
Swan dan ayu bangkit dari ranjangnya, mereka mengambil pakaian dan mengenakannya kembali. Kemudian swan keluar terlebih dahulu untuk menemui putrinya.
Benar saja ketika swan keluar sesil berdiri di depan pintu sambil tersenyum ke arah papinya.
"Pi ayo, kita temui mami" sesil menarik tangan papinya.
"Sesil" swan berjongkok dan mensejajarkan tubuhnya dengan putri mungilnya
"Sayang papi mau bertanya dulu sebelum sesil menemui mami" swan nampak berhati hati memilih kata kata yang pas, dia takut putrinya akan menolak kehadiran ayu.
"Dengarkan papi sayang, mami kan sudah lama meninggalkan sesil, suatu saat ketika sesil sudah besar, papi akan menceritakan alasan kepergian mami, Tapi untuk sekarang yang papi tanyakan, sesil akan marah tidak kalo bertemu dengan mami" swan menatap mata putri kecilnya.
Dengan cepat sesil langsung menggelengkan kepala, bagaimana bisa sesil marah, dia sangat merindukan mami nya.
"Terus sesil mau menerima siapapun sosok mami sesil" lanjut swan lagi.
"Iya papi pokoknya yang penting mami bisa memeluk sesil"
Hati swan sedikit lega mendengar jawaban putrinya.
"Kalo begitu ayo kita masuk" swan menggandeng tangan sesil.
"Tidak mau"! sesil melepaskan pegangan tangan swan.
"Sesil kan mau bertemu mami bukan mau masuk ke kamar" Sesil mengerucutkan bibirnya.
"Ikut papi, mami ada di dalam" swan menggendong putri kecilnya.
Ayu sedang menunggu cemas di dalam kamar sambil mondar mandir kesana kemari, ayu takut sesil tak mau menerima dirinya.
Ketika melihat swan memasuki kamar dan menggendong sesil, Ayu seketika terdiam mematung, hatinya bergetar hebat ada rasa takut bila sesil menolaknya tapi ayu juga bahagia akhirnya dia bisa bertemu dengan sesil lagi.
Sesil menatap tajam ke arah papinya, pasalnya yang ada di kamar hanyalah kak sisil bukan maminya.
"Papi bohong" mata sesil berkaca kaca
"Dengarkan papi sayang, kak sisil adalah mami sesil. Panggil dia mami Sayang" swan meyakinkan putrinya.
Sesil diam saja, dia mencerna apa yang di katakan oleh papinya, Memang sesil berharap maminya adalah sisil. Dan sekarang doanya di kabulkan oleh tuhan. Sesil menatap wajah ayu yang diam di sana.
Sesil menatapi wajah maminya yang di rindukan, yang selalu sesil sebut ketika menjelang tidur, kini sesil benar benar bertemu dengan maminya.
Melihat sesil tak ada respon, muka ayu seketika memucat,dia takut di tolak oleh putri kecilnya,karena ayu memang lama meninggalkan mereka,belum lagi saat pertama bertemu ayu tak mengingat sesil.
Harus bagaimana menjelaskan kondisi serumit ini kepada gadis sekecil sesil.
Tak berbeda dengan swan, swan menatapi wajah putrinya yang terdiam di dalam gendongannya, swan takut sesil akan menolak ayu.
__ADS_1
Lama dalam keheningan akhirnya sesil merentangkan tangannya "Mami tidak mau gendong sesil"
Sontak raut wajah ayu dan swan yang sejak tadi tegang berubah menjadi sumringah.
Ayu berjalan mendekat sesil dan mengambil sesil dari pelukan swan.
Air mata ayu mengalir begitu saja,dia bahagia bisa memeluk putri kecilnya.
Melihat maminya menangis, sesil mengulurkan jari kecilnya untuk mengusap air mata ayu.
"Mami kenapa menangis"
Ayu tak bisa berkata kata, dia hanya bisa memeluk tubuh sesil dan mengecup pipi mungilnya.
"Mami sayang sesil dan papi" hanya itu yang mampu ayu ucapkan.
Swan bergabung ke arah mereka, kemudian swan memeluk anak dan istrinya. Kebahagiaan yang lama swan dambakan, keluarganya menjadi utuh kembali.
"Mi, sesil lapar" sesil mengelus perutnya.
"Ayo kita makan sayang, mami sudah masak tadi" ayu dan swan berjalan menuruni tangga menuju ruang makan.
Ayu mendudukan sesil di bangku sebelahnya.
"Sesil mau makan sama apa sayang" ayu hari ini tidak masak yang spesial, ayu takut sesil menolak masakannya.
"Apa aja asal masakan mami pasti sesil makan" senyum sesil semakin mengembang di bibirnya.
Ayu mengambilkan makanan untuk swan terlebih dahulu, kemudian ayu mengambil makanan untuk sesil.
"Mami suapin ya sayang" ayu mengambil sendok dan menyuapi putrinya.
Sesil sangat senang di suapin oleh maminya. Swan tak mau kalah, dia juga ingin di perhatikan oleh istrinya.
"Sayang aaaaaa" swan membuka mulutnya minta di suapin
"Papi"!!!! sesil berteriak ke arah papinya dan menyilangkan kedua tangannya di atas perut.
Swan tertawa melihat tingkah putri kecilnya "Baiklah, baiklah papi kalah" Swan mengibaskan telapak tangannya.
"lagi mi" Sesil membuka mulutnya lagi.
Ketiganya makan di selingi dengan canda tawa. Dulu ketika makan swan tidak pernah berbicara, seiring berjalan waktu semua dalam diri swan perlahan berubah, gaya busananya pun terlihat lebih santai dan tentu saja itu membuatnya terlihat lebih tampan dan lebih muda dari umurnya yang seharusnya.
Selesai acara makan siang, swan menggendong sesil menuju kamarnya, sedangkan ayu mengandeng tangan swan mesra. Kecanggungan seperti saat pertama kali menikah sudah benar benar tidak ada.
Mereka sekarang sangat dekat dan terlihat bahagia.
Ayu mengambilkan pakaian di dalam lemari kamar sesil. Sedangkan swan sedang bercanda dengan sesil diatas ranjang.
"Sayang sini mami ganti bajunya" Ayu mulai membuka baju seragam sesil satu persatu, namu tiba tiba ketukan dari luar pintu menganggu acara bahagia mereka.
Toktoktok
"Permisi tuan"
swan berjalan menuju pintu kamar dan membukanya. Nampak baby sitter sesil berdiri di ambang pintu kemudian mengatakan sesuatu.
Swan hanya menganggukan kepala "Saya akan segera turun"
kemudian baby sitter itu pamit undur diri.
"Siapa mas" Ayu nampak mengangkat satu alisnya
"Ada tamu sayang, aku akan menemui sebentar ya" swan mengecup kening istrinya dan di saksikan oleh putrinya.
kemudian swan berjalan meninggalkan ayu dan sesil
"Papiiiiii" sesil memanggil papinya. langkah swan seketika terhenti dan menoleh ke arah belakang. Terlihat sesil mengerucutkan bibirnya.
Swan kembali mendekati ranjang "Kenapa sayang" swan mengelus kepala putrinya, dan swan melirik ke arah ayu, namun di balas dengan mengangkat bahu oleh ayu.
"Papi hanya mencium mami? sesil tidak" sesil terlihat merajuk.
Swan tersenyum geli, putrinya sangat menggemaskan, akhirnya swan mengecup kening, pipi dan bibir putrinya. Senyum di wajah sesil seketika mengembang
__ADS_1
"Papi kebawa dulu sayang"
Swan menuruni anak tangga, dia melihat tasya menunggunya di sofa ruang tamu.
Melihat swan mendekat tasya berdiri dan menghambur ke dalam pelukan swan
"Maafkan aku beberapa hari terakhir aku sibuk, ada pemotretan di surabaya" tasya terlihat sangat menyesal.
Swan melepaskan pelukan tasya, dua takut ayu melihat dan akan salah paham terhadapnya
"Tidak apa apa,Silahkan duduk" swan mempersilahkan tasya duduk.
swan duduk bersebrangan dengan tasya.
"Tadi aku menyusul ke kantor, tapi kata sean kamu sudah pulang dari pagi" sambung tasya lagi.
"dimana sesil, aku membawa banyak oleh oleh untuknya" Tasya menaikkan beberapa paper bag ke atas meja.
"Sesil turun sayang sini" swan berteriak memanggil putrinya.
"Sayang sepertinya papi memanggilmu? Turunlah terlebih dahulu, nanti mami akan menyusul setelah selesai menyimpan seragam dan juga tasmu sayang" ayu mengelus kepala putrinya
"Iya mi" sesil beranjak dari ranjang dan menuju papinya.
"Papi" sesil berlari ke arah papinya, tapi langkah kakinya terhenti ketika melihat tasya duduk di sofa.
"Sini sayang, kenapa diam di situ" swan melambaikan tangannya
"Tante tasya membawa banyak oleh oleh" sambung swan lagi
Tasya Tersenyum ke arah sesil. Sesil berjalan mendekat dengan ragu ragu. Lalu duduk di sampingnya.
"Sesil sayang, tante bawakan kripik apel dari malang, baju juga boneka untuk sesil" tasya mendorong paper bag ke arah sesil. Sesil masih diam saja tidak merespon
"Sesil lupa apa yang papi ajarkan" swan melirik ke arah putrinya
"Terimakasih tante" sesil nampak malas mengucapkan kata terimakasih untuk tasya. Tasya hanya akan bersikap baik ketika ada papinya saja.
"Ada siapa mas" ayu berdiri di ambang pintu, sontak tasya menoleh ke arah belakang. Matanya terbuka lebar, Tasya cukup terkejut melihat ayu berdiri di ambang pintu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Terimakasih untuk support kalian semua.
Tinggalkan komentar biar aku tambah semangat💪
jangan lupa jempolnya😘
ID IG @novisetyaw
salam sayang _srayu
__ADS_1