
"Plakkk" tamparan kedua mendarat dengan sempurna di pipi dyana dan ayu nampak sangat acuh, menatap sinis ke arah dyana
"Kamu kenapa sil? aku salah apa?" dyana menatap tajam ke arah ayu
Ayu memutar bola matanya malas, Beraninya sahabatnya sendiri membiarkan ayu hidup dengan orang yang ayu sangat benci.
Ayu menggertakkan giginya, rasanya dia ingin menghajar dyana sampai babak belur.
Kali ini ayu mengangkat tangan dan langsung menarik rambut dyana
Sontak dyana memekik kesakitan
"Sil kau gila !!! lepasin aku !!! dasar gila" dyana mengerang kesakitan
james berjalan mendekat ke arah mereka, james ingin melerai dua wanita yang sedang bertikai entah karena masalah apa
"Berhenti ! Jangan ikut campur"! suara ayu membuat langkah james terhenti.
"Gadis sial, berani sekali kau tak mengatakan yang sebenarnya saat kita bertemu"
Sontak mata dyana terbuka lebar, dyana tak menyangka ingatan ayu sudah kembali
Kali ini dyana ikut meladeni ayu, dyana ikut menjambak rambut ayu, mereka berkelahi seperti anak kecil, keduanya terlibat saling tarik menarik rambut hingga keduanya merasa pusing dan melepas tangan kemudian mereka berpelukan erat, melepaskan rindu satu sama lain.
Ayu dan dyana sama sama tertawa "Dyn kamu ingat nggak dulu kita suka berantem gini pas TK"
"ah kamu yang memulai" balas dyana kemudian mereka saling tertawa mengenang masa kecil mereka.
"Ahhh aku ikut dong" James merentangkan tangannya dan berjalan ke arah dyana dan ay
Sontak dyana melepas pelukan ayu dan
"Bukkk" pukulan di keras mendarat di perut james
"Sayang kenapa kau selalu menindasku hah" james memegang perutnya yang tak sakit
"Jangan macam macam, sahabatku punya suami, mau kau di cincang suaminya?" dyana berkacak pinggang di depan james
"ahh aku lupa" gumam ayu, ayu meraih ponsel di saku celananya, ayu mengirim pesan singkat untuk swan.
"Kau dari pagi kemana aja ay, maaf beberapa hari ini aku sibuk jadi tidak bisa menemanimu" sambung dyana terlihat sangat menyesal
"Tidak apa apa dyn, aku juga risih bila di dekatmu terus" Ayu menggoda dyana
Tak lama kemudian pintu kamar di ketuk dari luar
"Biar aku yang buka" ayu bergegas menuju pintu, kemudian membukanya
"Mamiiii" sesil menghambur ke pelukan maminya
"Anak mami"ayu mencium pipi cuby sesil kemudian menggendongnya, tangan sebelahnya menggandeng tangan lengan swan
"whatttttssssssss" Suara dyana memekik sangat terkejut melihat swan dan sesil ada di hadapannya
"Tak kusangka aku tertinggal pertunjukan seru" sambung dyana lagi
"Lio" james melihat swan dari ujung kepala hingga kakinya
"Iya benar kau lio" sambung james lagi
Swan menautkan kedua alisnya melihat wajah james
"James alexsander" swan berpelukan dengan james
"apa kabar? ku kira kau berkarier di australi, tak kusangka kau di sini, lalu bagaimana kabar pacar pacarmu di sana" swan bertanya panjang lebar
"Apa ? pacar pacar?" dia memlototkan matanya ke arah james
Sedangkan james hanya tersenyum pelik, james menoleh ke arah swan dan di balas angkat bahu oleh swan
"Nona dyana, apa kabar"? swan balik menyapa dyana
"Kau mengenal james"? bukan menjawab pertanyaan swan, dyana malah bertanya balik
"Ya kami satu universitas dulu, beda fakultas" sambung swan lagi
"Bisa kau ceritakan orang seperti apa james di masa lalu" sambung dyana lagi
Mata swan melirik ke arah james, sedangkan james hanya bisa menggelengkan kepala lemah memelas ke arah swan
__ADS_1
"james itu...." sudah sudah, lebih baik kita duduk dulu, ayu mencoba menengahi situasi, dia hafal betul karakter dyana
"Mami sesil haus" sesil memegang tenggorokannya
Sontak dyana menoleh ke arah ayu dan melihat sesil yang nampak sangat lucu dan menggemaskan
"Ahhh anak bibi, sini ikut bibi" dyana mengambil alih sesil dari gendongan ayu
"Sesil sama bibi dyana dulu sayang, mami ambilkan minum ya" ayu melangkah menuju lemari pendingin yang ada di kamar itu
"ahhh cantik sekali" dyana mencium pipi sesil yang cuby
"siapa namanya sayang" sambung dyana lagi
"Liswa sesilia cornelio bibi" sesil tersenyum manis ke arah dyana
"Nama yang cantik, cantik seperti pemiliknya"
"Mari kita duduk dulu" dyana mengajak james dan swan duduk di sofa
Mereka berbincang bincang cukup lama.
Tanpa sepengetahuan siapapun, dyana menghubungi seseorang, membuat janji untuk bertemu.
****
"Habis dari sini kalian mau kemana" dyana melirik ke arah ayu
"Pulang lah" Jawab ayu singkat
"Apa kalian tidak ingin merayakan hari pertemuan kalian" dyana menaikkan satu alisnya
"Benar juga kata nona dyana, kita dinner di luar sayang" swan ikut menimpali
"Tapi mas, aku tidak memakai gaun" Ayu nampak melihat pakaiannya yang hanya mengenakan celana jeans dan kaos oblong biasa
"Dasar gadis bodoh, di kota ini siapa yang berani menolak kekuasaan suamimu" dyana menoyor kepala ayu
"Kau selalu saja seenaknya dyn" ayu berkacak pinggang sangat kesal kepalanya di toyor dyana
"Restoran lyly, aku sudah memesankan tempat di sana" sambung dyana lagi
Dyana hanya cengengesan saja.
Yaudah ini sudah jam 06.30pm lebih baik kalian segera berangkat sesil pasti sudah lapar
Dyana melirik ke arah sesil dan di balas anggukan oleh sesil.
"Baiklah kami permisi dulu" swan menarik tangan ayu bangkit dari sofa
Tak butuh waktu lama mobil swan sudah berada di parkiran restoran lyly. Swan, ayu dan sisil berjalan memasuki restoran.
Dyana memesankan meja vvip untuk ayu dan swan.
Tak lama kemudian aksa juga nampak memasuki restoran, matanya terbelalak melihat ayu sedang duduk di ruang vvip restoran dengan swan
"Bagaimana bisa" aksa nampak mengepalkan kedua tangannya.
anak buahnya yang di bandung tidaka ada yang memberi tau dirinya kalo ayu pergi dari rumah, dan parahnya ayu berada di semarang.
aksa ingin sekali mendatangi meja ayu, namun baru beberapa langkah tangannya di tarik seseorang
"Aksa... aksa.... aksa... " dyana tersenyum sinis ke arah aksa
"Aku harus memanggilmu siapa? Aksa atau arik ?
Dyana nampak memegang dagunya
"apa maumu" aksa nampak tidak sabar melihat tingkah dyana
"Kita duduk dulu, santai, ngopi ngopi atau ngeteh ngeteh" Dyana nampak sangat enjoy berbicara dengan arik
Dyana berjalan ke arah kursi kosong, lalu mendaratkan pantatnya di sofa yang empuk. Sedangkan arik hanya bisa mengikuti kemauan dyana
"mbakk" dyana memanggil salah satu pelayan restoran
"Coklat dingin dan emmmm..." dyana nampak berpikir sejenak seperti sedang mengingat sesuatu
"Baygon panas... upsss salah" dyana menutup mulutnya dengan telapak tangannya
__ADS_1
Pelayang menatap aneh ke arah dyana
"maksud saya mbak, latte panas satu" sambung dyana lagi, dan pelayan mencatat dan segera mengambil pesanan
"Benar kan kau masih suka latte"? dyana melirik ke arah arik
"Tidak usah basa basi, katakan apa tujuanmu mengajakku kemari" Arik nampak geram melihat tingkah dyana
"Santuy aksa, eh arik" sambung dyana sambil terkikik pelan
"Harus aku panggil apa ? arik teman satu SMA ku atau Aksa penilik angkasa entertaiment?" Dyana meniup niup ujung kukunya
"Bagaimana, kalo Carnal entertaiment tau kau adalah salah satu pemain dalam hilangnya nyonya carnal group? emmmm...."???? dyana nampak memutar bola matanya dan menggaruk dagunya seakan sedang memikirkan sesuatu.
"Bukankah selama ini, swan tidak mengetahui kau pemilik angkasa intertaiment? selama ini hanya asistenmu yang menemui swan" dyana nampak sangat mengintimidasi arik
Arik merasa geram, dia ingin menghabisi dyana saat ini juga, tapi itu tidak mungkin karena ini tempat umum
"Kau sedang berpikir bagaimana cara menghabisiku hah? Dasar bodoh, itu tidak akan pernah terjadi" Dyana menatap tajam ke arah arik
"lalu bagaimana dengan gita dan tasya yang juga ikut membantu kau menghabisi ayu" sambung dyana lagi kemudian dyana melempar amplop cokelat ke arah arik
"apa ini" Arik mengambil amplop coklat yang di lempar oleh dyana
"Hadiah" dyana memainkan kuku di tangannya
"Ini pesannya nona" seorang pelayan mengantar 2 gelas minuman yang di pesan oleh dyana
Arik membuka amplop coklat, sontak matanya terbuka lebar di dalamnya berisi bukti bukti kejahatan arik dan juga tasya
Dan di lembar terakhir arik lebih terkejut lagi, identitas yang selama ini tertutup bahkan dyana bisa menemukannya.
"cih, jangan pura pura terkejut, hanya seperti ini itu sangat mudah untukku !! kau lupa dalam darahku mengalir darah intel hah?" dyana menyeruput coklat panasnya
Memang benar, otak dyana menurun dari ayahnya yang seorang intel negara. Arik menatap tajam dyana
"Jika terjadi sesuatu terhadapku tentu saja bukti itu akan langsung masuk tangan polisi"
"Oke, jadi mau kau apa hah?" arik nampak tak sabar melihat tingkah dyana
"Katakan dimana tua bangka itu" sambung dyana lagi
"hahahhahahahah" Arik tertawa sarkas
"aku kira kau cukup pintar dyn, kau tak mungkin menyakiti tua bangka itu, walaupun dia dalang utamanya, tapi satu langkah saja kau menyentuhnya sama saja kau menghancurkan swan" Kali ini arik mencoba menyerang balik dyana
"Cih, aku tidak sebodoh itu" terdengar nada ejekan dari gaya bicara dyana
Arik menautkan kedua alisnya, arik tak mengerti apa rencana wanita yang ada di hadapannya.
"Kalo kau mengatakan dimana tua bangka itu, aku bisa mempertimbangkan soal nasib perusahaanmu" dyana beranjak dari sofa tempat dia duduk
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
jangan lupa komentarnya dong ih, biar aku semangat nulisnya
Suka males nulis kalo yang like sama komen cuma sedikit😭
__ADS_1
salam sayang _srayu