
"papi" Tangan mungil mengelus pipi swan. membuat swan terbangun dari tidurnya.
"Kenapa sayang"? Swan berusaha megumpulkan kesadarannya
"Sesil haus pi"
"Tunggu sayang, papi buatkan susu dulu ya" swan beranjak dari ranjangnya menuju dapur rumahnya. Swan mengambil susu dari lemari makanan, dia menuangkan beberapa sendok bubuk susu kemudian di tuangkan air panas setengah dan setengah lagi air dingin.
Tak terasa sudah Empat tahun sudah sepeninggal ayu, Sesil sudah tumbuh menjadi anak yang penurut. Dia tak pernah merepotkan swan sama sekali.
"Rasanya baru kemarin aku mengantikan pampers nya dan sekarang dia sudah besar dan tak lagi mengompol" gumam swan dalam hatinya, senyumnya mengembang seketika.
Swan bergegas kembali menuju kamarnya, Swan melihat putri kecilnya sedang duduk bersandar di ranjang
"sayang, ini susunya" swan menyodorkan segelas susu ke arah putrinya. Sesil memang sudah tidak menggunakan botol dot lagi.
"Papi, maafkan sesil merepotkan papi tengah malam"
"papi tidak merasa di repotkan sayang" swan mengelus kepala putri kecilnya.
Sesil meletakkan gelas kosong di meja samping tempat tidurnya.
"pi, ayo kita tidur" sesil merebahkan dirinya ke ranjang dan swan menyelimuti putri kecilnya.
Mata sesil terpejam, swan memperhatikan wajah kecil putrinya yang sangat mirip dengan mendiang istrinya.
Mata sesil terus bergerak gerak, tanda bahwa sesil belum tidur kembali.
"Sesil? kenapa tidak bisa tidur nak"?
mendengar pertanyaan papinya mata sesil perlahan terbuka.
sesil menyunggingkan senyum manisnya.
Lama sesil menatap wajah papinya. "pi.. apakah sesil sudah menjadi anak yang baik"?
swan tak mengerti apa yang putrinya katakan, swan hanya geleng geleng kepalanya saja.
"Jadi sesil masih nakal ya pi" raut wajah sesil berubah menjadi sedikit kecewa.
"bukan... bukan begitu sayang, sesil anak terbaik papi". Maksud swan menggelengkan kepalanya tadi adalah tak mengerti arah pertanyaan putrinya, tetapi putrinya salah mengartikan.
"jadi sesil sudah menjadi anak baik pi" senyum di bibir sesil mengembang kembali
"Tentu sayang" jawab swan pasti.
"Kata teman sesil, sesil nakal sewaktu kecil pi, jadi mami tak mau mengasuh sesil lagi" muka sesil berubah murung kembali.
"Kalo sesil sudah menjadi anak baik, mami akan pulang kan pi"? tanya sesil lagi.
Hati swan berdesir hebat, harus bagaimana dia menjawabnya. Sesil masih terlalu kecil untuk mengerti kondisi saat ini. Swan memilah kata kata yang tepat supaya putrinya tidak kecewa.
"Sayang, mami sedang terbang di langit, Nanti kalo sudah waktunya mami akan kembali bersama kita, jadi sekarang sesil tidur ya, kan besok harus sekolah"
mendengar janji papinya mata sesil berbinar kemudian dia menganggukan kepalanya dan memejamkan matanya kembali.
Setelah memastikan putrinya tidur, swan bangkit menuju arah balkon kamarnya. Swan menyalakan sebatang rokok, hisapannya terasa berat, hingga dalam beberapa detik saja sudah habis, dan swan menyalakan kembali rokoknya.
Tak butuh waktu lama beberapa puntung rokok sudah berserakan di bawah kakinya.
Setelah cukup lama, swan kembali ke kamarnya, tapi sebelum tidur swan berkumur hingga bau tembakau yang ada di mulutnya hilang.
*****
Pagi ini dyana tergesa gesa memasuki Santosa Hospital , Dia hari ini ada janji bertemu dengan kepala rumah sakit yang tak lain adalah james kekasih yang baru di pacarinnya sebulan yang lalu.
Dyana berjalan tergesa gesa melewati loby rumah sakit, tak sengaja dia menabrak seseorang hingga obat yang dia bawa jatuh ke lantai. Dyana mencoba membantu mengambil obat obatan yang jatuh berantakan "Maafkan saya, Saya tidak sengaja" tangan dyana memasukkan obat obatan ke dalam plastik dan menyerahkannya. Mata dyana terbuka lebar menatap seseorang yang di hadapannya, dia sangat terkejut sekali hampir bola matanya keluar dari tempatnya.
"Terimakasih, tidak apa apa" kemudian sang pemilik obat mengambil plastik dan berjalan menjauh.
__ADS_1
Dyana masih bengong di tempat," Aku pasti mimpi" gumamnya. Kemudian dia menampar pipinya sendiri "Ah sakit gila". Seketika dyana sadar dan berlari mengejar gadis tersebut. Dia sudah berada di area parkir rumah sakit dan tangannya sudah membuka pintu mobil yang dia bawa.
"Tungguuuuuuuu"..... dyana berteriak memanggilnya.
Sontak dia menoleh "ya ada apa"?
Dyana sudah berdiri tepat di hadapannya, dia menatap dari ujung kaki hingga kepalanya "Mataku tak mungkin salah" gumam dyana dalam hati. Dyana masih mengatur nafasnya yang tersengal sengal akibat berlari tadi. Setelah nafasnya teratur dyana mulai melancarkan aksinya.
"nona maafkan saya, saya hanya ingin tau nama anda, sepertinya saya baru melihat anda di rumah sakit ini" Dyana beralasan, padahal dyana memang jarang datang ke sini.
"oh ya? saya sudah menjadi pasien di sini cukup lama" dahinya tampak mengeryit menanggapi orang yang baru pertama kali bertemu dengannya.
"Kenalkan saya Dyana, saya seorang perawat di IMANUEUL HOSPITAL" dyana mengulurkan tangannya.
Gadis di hadapan dyana nampak bengong memperhatikan dyana dari atas ke bawah, dia selalu mengingat pesan kekasihnya yang selalu melarangnya berkenalan dengan orang asing. Tapi entah kenapa kali ini dia merasa dyana orang yang baik dan cukup familiar. Tapi entah dimana pernah melihatnya. Akhirnya dia mengulurkan tangannya juga "aku Sisil Prakasa"
Mereka saling menjabat tangannya.
"yan..." panggil aku dyn, dyana memotong perkataan sisil.
"Ah baik dyn, sepertinya aku harus kembali, aku takut kekasihku kawatir"
"baiklah, hatihati di jalan" mereka saling berpisah menuju tujuan masing masing.
Sepanjang jalan menuju ruangan james, dyana memikirkan nama belakang sesil.
Sepertinya tidak asing untuk dyana. Tapi siapa?
Dyana berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju ruangan james.
Dyana nyelonong masuk tak mengetuk pintu dulu. James nampak terkejut melihat kedatangan dyana.
James memutar bola matanya malas, kekasihnya selalu saja terlambat.
"jams" dyana mengecup bibir kekasihnya.
James terlihat kesal " Jadi aku tak cukup penting untukmu?"
"Ah jika kau mau marah padaku lebih baik aku pergi saja" dyana beranjak bangun dari kursinya.
"James terlihat kesal, harusnya disini dia yang marah, kenapa malah jadi kebalikannya? wanita memang selalu benar" gerutu james dalam hatinya.
James akhirnya mengalah, menghampiri dyana yang hendak membuka pintu, james memeluk dyana dari belakang.
"Sayang come on, masa ngambek" rayu james.
dyana membuang nafas kesal. Dia masih shock tadi bertemu dengan sisil, dan kini di tambah kelakuan james lengkap sudah. ingin rasanya dyana menghajar james hingga babak belur meluapkan emosinya tapi itu hanya di bayangannya saja.
"jams, bolehkan aku meminta sesuatu, ya itu sih kalo kamu pingin aku nggak pergi" ancam dyana
"katakan sayang" mau tak mau james harus menuruti apa kata dyana.
"Aku minta informasi lengkap tentang salah satu pasien di rumah sakit ini"
"Sayang kita berasal dari profesi yang sama, harusnya kau faham itu melanggar kode etik" swan menghela nafas panjang.
Dyana melepas pelukan james "aku ini siapamu hah? minta hal kecil saja kau tak mampu? Aku tidak akan membocorkan kepada siapapun!!!
james bingung menghadapi emosi dyana yang selalu meledak ledak. James selalu kalah di depan kekasihnya. Entah kenapa dyana selalu membuatnya takluk
"Kau masih diam saja? Kau ini kepala rumah sakit begitu saja tidak bisa !!!" bentak dyana kesal
"Karena aku kepala rumah sakit makannya aku harus taat peraturan" gerutu james.
"jams"!!!! dyana berteriak kembali.
"Baiklah.. baiklahhh.. kau jangan berteriak kepadaku" james nampak kesal melihat tingkah kekasihnya.
"Kau tunggu sebentar" james menuju meja kerjanya, memencet beberapa digit nomor.
__ADS_1
Setelah terhubung "bawakan aku..." james menepuk jidatnya sendiri, dia sampai lupa kekasihnya meminta data siapa. James menutup gagang teleponnya "Sayang kau ingin data siapa?"
"Sisil Prakasa" dyana tersenyum lebar. Mulai ada titik terang untuk usahanya. Dyana berjalan duduk di sofa ruang kerja james. setelah menutup telepon James menghampiri kekasihnya "Apa kau puas"? james merasa jadi laki laki terlemah yang selalu menuruti apapun yang kekasihnya katakan.
Dyana tersenyum lebar.
"Kiss me" pinta james sambil menunjuk ke arah bibirnya.
"Jadi kau minta upah hah" dyana berkacak pinggang.
James gemas di buatnya, james langsung meraup bibir ranum dyana, dia melumatnya hingga habis hingga dyana kehabisan nafas.
Aksi james terhenti saat ketukan pintu terdengar.
Toktoktok..
james melepaskan ciumannya, merapihkan pakaiannya kemudian berpindah menuju kursi kerjanya baru mempersilahkan perawat itu masuk.
"permisi dok ini berkas yang dokter minta" perawat tersebut meletakkan map cokelat di hadapan james.
"Terimakasih, kau bisa lanjutkan pekerjaanmu"
"baik dok" perawat tersebut undur diri dan meninggalkan ruangan james.
James sedang berusaha membuka amplop cokelat tapi langsung di rebut oleh dyana.
Dyana tak sabaran hingga langsung merobeknya.
Dyana membaca dengan seksama berkas tersebut. Matanya seketika melebar mulutnya menganga.
Jari tangannya mengetuk ngetuk meja kerja james.
Otaknya nampak sedang memikirkan sesuatu.
"Ahhhh aku tau" dyana berteriak dan membuat james terkejut
"bisakah kau tak berteriak? lama lama jantungku bisa lepas karena terkejut!!" Gerutu james kesal
"Pantas saja nama Prakasa tidak asing, sekarang aku sudah tau" gurat wajah dyana sangat bahagia, bibirnya tersenyum manis.
"Tau apa"? james penasaran dengan apa yang ada di otak kekasihnya.
"Terimakasih sayang" dyana memeluk james erat.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
JANGAN LUPA LIKE KOMENT DAN SHARE YA JANGAN LUPA TANDA ♥️
SALAM SAYANG _srayu
__ADS_1