
Ayu masih tenggelam di dalam pikirannya sendiri, ayu tak menyangka arik akan pergi secepat ini dan dengan cara mengenaskan.
"Ay, aku haus bisakah kau buatkan aku minuman kesukaanku?" dyana menggaruk lehernya, seolah olah dyana memang benar haus.
Ayu seketika tersadar dari lamunannya, dia baru menyadari sedari tadi belum menyuguhkan apapun untuk dyana dan james.
"Maafkan aku, aku lupa" ayu menepuk jidatnya sendiri, kemudian ayu bangkit dari sofa menunju dapur.
Dyana menatap kepergian ayu, setelah yakin ayu sudah tak terlihat, pandangan dyana beralih ke arah swan.
Swan masih nampak tenang menikmati siaran berita di televisi, tidak ada raut sedih atau senang di wajahnya. Swan memang tipikal orang yang susah di tebak.
"Tak kusangka, di balik sikap diam mu menyimpan kekejaman yang luar biasa" dyana menatap tajam mata swan.
Swan masih nampak tenang dan hanya tersenyum ke arah dyana.
"Apa kau akan melakukan hal yang sama terhadap dalang utamanya?" dyana menajamkan matanya menatap swan
"Nona dyana bisa menjadi penonton yang baik" swan kembali memusatkan matanya ke layar televisi
"Bahkan aku yang sudah lama menyusun rencana kalah start denganmu, kau sungguh mengerikan ! Bagaimana bisa kau melakukannya? siapa orang dari pihak angkasa yang kau bayar?" Dyana tak bisa menahan rasa penasarannya lagi
Swan hanya tersenyum tanpa menjawab semua pertanyaan dyana.
Sedangkan james paham betul bagaimana sifat swan, mereka dulu satu universitas dan swan termasuk orang yang memiliki kemampuan di atas rata rata. Memiliki kemampuan bela diri karate, taekwondo dan wushu. Otak swan jangan di tanya lagi, dia bersekolah menggunakan jalur beasiswa, bahkan dia menyelesaikan gelar s2 hanya menempuh waktu 5 tahun.
Bahkan swan sukses menguasai pasar bisnis di usia yang masih sangat muda, bisnisnya merambah ke dunia entertainment dan berbagai bisnis besar swan pasti terlibat di dalamnya. Kehidupan pribadinya jauh dari kata gosip yang tak sedap.
"bagaimana...."
"Sudah sayang" james memegang lengan dyana dan menggelengkan kepala, melarang kekasihnya melanjutkan introgasinya.
"Kita tidak berhak ikut campur terlalu jauh" james melanjutkan kata katanya dan menatap kedua bola mata kekasihnya
Dyana memutar bola matanya malas, dyana ingin sekali bertanya lebih jauh tapi james kekeh melarangnya.
"Dyn ini jus apel kesukaanmu" ayu membawa nampan berisi 4 gelas minuman dingin, karena memang kota semarang selalu memiliki cuaca yang panas.
Ayu mendudukan dirinya tepat di samping swan, dan tangan swan merengkuh pinggang ayu memeluknya dengan erat, sontak rona merah di wajah ayu langsung menyembul keluar.
"Malu ih" ayu mencubit pinggang swan, tapi swan hanya tersenyum dan mencubit dagu istrinya
"Hei kalian, kalo mau pamer kemesraan di kamar jangan di depanku" james berdecak kesal, pasalnya dyana susah sekali di ajak mesra, dyana selalu saja menindas dirinya.
"Dyn, bersikap sedikit manis lah kepada kekasihmu" ayu menggoda dyana
Sontak dyana menyemburkan minuman yang baru saja dia minum
"aku"? dyana menunjuk dirinya sendiri
"Aku selalu bersikap manis, melayani dengan senang hati, ya kan sayang?" dyana memlototkan matanya dan menginjak kaki james
__ADS_1
"Ah kenapa kau selalu saja menindasku hah" james mengelus kakinya yang terasa panas akibat di injak dyana.
Ayu tertawa terbahak bahak melihat tingkah dua sejoli di hadapannya.
Namun tawa ayu seketika berhenti mendengar suara rara memasuki rumahnya
"Kakak dimana, rara sudah kembali" rara menarik kopernya, dia baru saja dari luar kota menyelesaikan kasus hukum. Rara sekarang sedang merintis menjadi seorang pengacara.
Swan bangkit dari sofa untuk menyambut adiknya, ayu mengikuti suaminya dari belakang
Sedangkan dyana dan james kompak menaikkan bahu mereka, kemudian mereka kembali meminum dan makan camilan yang di sediakan oleh ayu
"Bagaimana perkaranya sudah beres" swan memeluk adiknya
"Sukses kak" rara tersenyum ke arah kakaknya.
"Oiya kak, apa semua berita yang menjadi Hot news hari ini itu benar? scandal antara arik dan tasya ? dan tasya yang membunuh arik karena jiwanya terguncang paska banyak klien memutus kontrak secara sepihak"? rara mengernyitkan dahinya menunggu jawaban dari kakaknya.
Tapi pandangan rara beralih menuju ayu yang baru menghampiri mereka "Kak sisil ada di sini" rara tersenyum ke arah ayu.
"Dia istriku ra, kakak iparmu"
Rara melebarkan matanya dan mulutnya menganga lebar, rara shock mendengar penjelasan dari kakaknya
Nanti akan aku ceritakan semuanya, ayo masuk kebetulan di dalam ada dokter james dan dyana.
"Kak, ayah katanya sedang berkunjung di indonesia, apa ayah sudah kemari"?
"Sudah tadi pagi, tapi sepertinya ayah ingin menginap di vila kita yang di ungaran" swan berjalan mendahului rara. Swan malas membahas soal ayahnya. Swan masih belum bisa menerima kalo ayahnya lah yang menyebabkan dirinya dan ayu terpisah sekian lama.
"Masih perlu banyak belajar kak, kakak bagaimana kabarnya? baik ?
"Seperti yang kau lihat" ayu tersenyum ke arah adiknya
"Ayo masuk" Ayu membantu menarik koper yang dibawa oleh rara
Waktu sudah menjelang sore,akhirnya dyana dan james pamit kembali ke rumah, dan ayu meminta dyana untuk tinggal di apartemennya saja, ketimbang harus terus menerus menginap di hotel,awalnya dyana menolak tapi ayu terus memaksa jadi mau tak mau dyana pasrah dan menurut.
****
Seusai makan malam, swan pamit pergi keluar rumah sebentar "Ra, ada klien yang memint bertemu dengan kakak, sepertinya ada masalah di dalam proyek, kakak titip kak ayu dan sesil, jaga mereka baik baik ! Kali ada apa apa langsung telepon kakak ya ! Dan satu lagi jangan pergi dari rumah"
"Sayang, aku keluar sebentar ya" swan mengecup kening ayu
"Sil jagain mami ya sayang" swan juga mengecup pipi putrinya
"Siap pi" sesil mengacungkan ibu jarinya
Swan berjalan meninggalkan ruang tamu, di depan sean sudah menunggunya di mobil, terlihat seperti benar benar urusan pekerjaan mendesak, padahal bukan urusan pekerjaan melainkan swan ingin menemui ayahnya, swan ingin mendapat jawaban dari ayahnya
Sean mengemudikan mobil sedangkan swan duduk di samping sean
__ADS_1
Sean tak berani memulai percakapan, sean tau bosnya mod nya sedang buruk.
Mobil melaju menuju kawasan pegunungan di ungaran sana, mobil swan berhenti di salah satu vila bergaya minimalis tapi sangat cantik dan elegan.
Sean turun dan berlari mengitari mobil untuk membuka pintu mobil dan mempersilahkan swan turun.
Swan berjalan memasuki pelataran villa itu, tidak banyak penjaga, hanya ada dua bodyguard ayahnya yang berjaga di depan pintu.
Melihat swan sontak kedua bodyguard itu membungkuk memberi hormat dan mempersilahkan swan masuk.
Swan berjalan memasuki villanya, ketika pintu terbuka swan melihat ayahnya sedang duduk menikmati secangkir teh panas dan membaca majalah fotografi.
Mendengar langkah kaki sontak Tuan vino menoleh "Ah rupanya kau" tuan vino kembali memfokuskan matanya membaca majalah
"Langsung saja, apa sebenarnya tujuan anda" swan menatap tajam lelaki paruh baya yang ada di depannya.
Sedangkan sean berdiri mematung di belakang sofa.
Vino masih tak bergeming, dia nampak acuh seolah tak ada swan di hadapannya
"Anda adalah idolaku, panutanku ,orang yang sangat aku hormati, tapi tak ku sangka anda bisa membuat putra anda menderita selama kurun waktu yang cukup lama" suara swan terdengar putus asa, swan bingung harus bagaimana dia bersikap, di satu sisi swan harus melindungi istrinya tapi di satu sisi swan juga menghormati ayahnya, swan tidak mungkin mencelakai ayah yang sudah membesarkan dirinya.
Vino tertawa terbahak bahak mendengar penuturan swan, mungkin sudah saatnya swan mengetahui semua kenyataan yang selama puluhan tahun vino simpan dengan rapih.
Swan bingung melihat ekspresi dari ayahnya. Swan tak mengerti pola pikir ayahnya, jelas jelas swan sedang berbicara perihal serius tapi di tanggapi dengan bercanda oleh ayahnya
"Kau bukan putraku" Vino menatap tajam ke arah swan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.