
Sebulan sudah sejak kecelakaan yang menimpa kinos.
Anne masih setia menunggu suaminya di rumah sakit, awalnya anne tidak bisa menerima kinos sebagai pengganti vino, tapi berkat swan dan rara yang berusaha menyakinkan ibunya, akhirnya anne perlahan bisa menerima kinos sebagai suaminya.
Anne mengingat semua kebaikan kinos mengurus swan seperti putra kandungnya sendiri, sedari kecil kinos mendidik swan menjadi lelaki mandiri berdiri dengan kakinya sendiri dan memberi kebebasan swan untuk menentukan jalan hidupnya. Kinos tidak memaksa swan harus mengikuti jejaknya di dunia fotografi atau mengikuti ibunya di dunia politik.
Maka dari itu, swan bisa sesukses sekarang semua berkat dorongan dan support dari kinos.
Anne menggenggam tangan suaminya dengan erat, yang anne sayangi adalah suaminya yang sudah membesarkan putranya.
Kepala anne menunduk, hatinya terasa perih, anne menunggu setiap hari di dekat kinos, berharap kinos bisa membuka matanya.
"Mas bangun, aku dan anak anak merindukan mas" bulir air mata membasahi pipi anne.
Tiba tiba, swan muncul dari balik pintu, saat break makan siang swan selalu menyempatkan diri menjenguk ayahnya.
Swan sudah memaafkan semua kesalahan ayahnya.
Anne yang larut dalam kesedihan tak menyadari kehadiran putranya. Swan berjalan mendekat ke arah ibunya yang sedang terisak menangis.
Swan menyentuh pundak ibunya, sontak saja anne langsung mengangkat kepalanya lalu melihat ke arah swan.
Dengan cepat, anne menghapus air mata yang masih membasahi pipinya.
"Bu, tenanglah, swan yakin ayah akan segera sadar dan berkumpul dengan kita" swan menatap bola mata ibunya yang terlihat memerah akibat menangis.
Anne hanya tersenyum lalu mengalihkan pandangan matanya ke arah suaminya yang sedang terbaring koma.
Swan menarik kursi dan ikut duduk di samping ibunya.
"Sebentar lagi ayu dan sesil akan datang kemari bu" swan juga ikut menatapi wajah ayahnya yang memucat, alat bantu kesehatan menempel hampir di sekujur tubuhnya.
Suara layar fentilator terdengar jelas di ruangan itu.
__ADS_1
"adikmu dimana nak" anne mengalihkan wajahnya menatap putra sulungnya.
"Rara sedang mengurus sidang di luar kota bu, lusa dia baru kembali" sambung swan lagi
Anne hanya menganggukan kepala dan kembali menatap wajah suaminya.
"Papi, oma" suara sesil mengejutkan swan dan juga anne.
"Sayang, jangan berisik" ayu meletakkan jari telunjuknya di depan bibir memberi kode kepada putri kecilnya.
Sesil mengangguk patuh dan berjalan dengan hati hati mendekati oma dan papinya.
"Sini sayang" swan memangku putri kecilnya.
"pi, opah kenapa tidurnya lama sekali" sesil menatap wajah papinya mencari jawaban
Swan diam saja, dia bingung harus bagaimana menjelaskan keadaan ini kepada putrinya.
Meskipun opahnya masih diam sesil tak putus asa "Opah cepat bangun, oma selalu menunggu opah disini"
mendengar penuturan cucunya, air mata yang sudah sempat kering kini mengalir lagi di pelupuk mata anne.
Bahkan kinos juga sangat mencintai cucu satu satunya.
"Oma jangan sedih, nanti opa marah sama sesil, sesil minta maaf" sesil menghapus air mata oma nya dengan jari jari kecilnya.
Tiba tiba Ventilator berbunyi nyaring, garis di layar yang tadinya bergelombang kini menunjukan garis lurus. Semua yang ada di ruangan itu panik seketika.
Ayu menggendong sesil keluar ruangan, sedangkan swan memencet tombol untuk memanggil dokter.
Dokter dan beberapa suster datang dan menyuruh swan dan ibunya untuk meninggalkan ruangan.
Swan membimbing ibunya keluar dan membawanya duduk di bangku tunggu depan kamar.
__ADS_1
Sesil merasa takut dan memeluk maminya "mi, maafin sesil mi, sesil sudah nakal"
"Tidak sayang, sesil berdoa saja semoga opah baik baik aja sayang ya" ayu mengelus puncak kepala putrinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Maaf srayu kakak, mungkin nggak bisa up cepet seperti kemarin kemarin, srayu lagi banyak beban.
Tapi srayu usahakan up setiap hari๐๐
salam sayang _srayu
__ADS_1