Kasih Terakhir

Kasih Terakhir
Kabar Baik


__ADS_3

Swan berdiri mondar mandir di depan ruang rawat ayahnya, sedangkan anne duduk dan mengelap bulir bulir air mata yang terus mengalir. Sedangkan sesil masih memeluk maminya dengan erat, sesil sangat takut jika terjadi sesuatu terhadap opahnya.


Semua menunggu dengan tegang, dan ayu sudah memberi kabar rara mengenai kondisi ayahnya


Tak selang lama dokter dan perawat keluar dari ruangan, swan adalah orang pertama yang menanyakan kondisi ayahnya.


"Masa kritis pasien sudah lewat, dan syukurnya sekarang pasien sudah siuman dari komanya"


"Dok, bolehkan kami masuk" anne berdiri dari duduknya, kabar seperti ini yang selalu anne nanti selama satu bulan terakhir ini, anne berharap bisa bercakap lagi dengan suaminya.


"Boleh, tapi satu satu ya ! kami permisi dulu" dokter dan para suster pergi meninggalkan swan dan keluarganya.


"Bu masuklah terlebih dahulu" swan paham betul, ibunya sangat ingin bertemu dengan ayahnya. Jadi swan akan mengalah dulu.


Anne melangkahkan kakinya dengan ragu ragu, tangannya terulur menyentuh knop pintu, tapi seketika gerakan tangannya terhenti, hati anne berdesir hebat, anne takut kinos akan menolak dirinya. Seketika anne menoleh ke arah putra dan menantunya, Swan dan ayu kompak menganggukan kepalanya. Sesil tersenyum manis ke arah oma nya, membuat anne menguatkan hatinya, jika anne tidak menemui kinos, lalu bagaimana anne bisa tau keputusan yang akan kinos sampaikan.


Perlahan anne membuka pintu rawat inap, terlihat di sana kinos sedang menatapi langit langit atap rumah sakit.


Mendengar pintu terbuka, kinos menoleh ke arah pintu, tatapan matanya bertemu dengan mata anne.


Anne melangkah ragu ragu mendekati suaminya, sedangkan kinos masih terus memandang mata istrinya yang terlihat sembab dan merah.


Anne berdiri kaku di samping suaminya, dia meneguk air liurnya dengan susah payah. Cukup lama anne menenangkan diri akhirnya dia buka suara


"Mas bagaimana keadaannya" Anne menatap suaminya yang masih terlihat pucat.


Kinos masih diam saja, kinos yakin swan pasti sudah mengatakan semuanya kepada ibunya. Kinos takut anne akan marah dan meninggalkan dirinya sama seperti swan yang pergi dengan kebencian.


"Mas haus ya" anne berinisiatif mengambil air minum di meja samping ranjang. Namun kinos mencekal tangan anne.

__ADS_1


"Maafkan aku yang sudah membohongi dan berbuat jahat selama ini" mata kinos kembali berkaca kaca mengingat semua perbuatannya.


Anne hanya diam saja, bulir bulir air mata mulai turun di pipinya.


"Maafkan mas" suara kinos terdengar parau.


"Tidak mas, aku harusnya berterimakasih padamu, kamu sudah menjadi ayah yang baik untuk anak anak kita, meskipun mereka bukan anak anakmu, bahkan kau rela menukar kebahagiaanmu demi kami" anne menundukan kepalanya. Hatinya terasa perih sekali.


Kinos tiba tiba mencium mesra tangan istrinya, diam diam kinos juga sudah menaruh hati kepada anne yang sudah menemaninya selama kurang lebih 28tahun terakhir.


"Kita mulai dari awal ya" kinos menatap istrinya dengan sendu, ada sedikit rasa kuatir jika anne akan menolaknya.


Anne diam saja, dia masih mencerna maksud dari kinos. Cukup lama anne terdiam akhirnya anne menganggukan kepalanya.


Sudut bibir kinos terangkat membetuk sebuah senyuman yang indah.


Tak berselang lama swan, ayu dan sesil memasuki ruang rawat inap, sesil adalah orang pertama yang menyapa kinos.


"Opah" Sesil berlari menghampiri opahnya yang masih tertidur di atas ranjang, sesil mengecup pipi opahnya.


"Opah, sesil sangat rindu ingin bermain dengan opah"


"Cucu opah semakin cantik saja ya" kinos mengusap kepala sesil dengan lembut.


Sesil tersenyum senang, akhirnya opahnya bangun dan mengobrol lagi dengannya.


Swan dan ayu berdiri kaku dibelakang sesil. Kinos dan swan beradu pandang cukup lama, tidak ada salah satu dari mereka yang memulai obrolan.


"Ayah bagaimana keadaannya"? ayu mencoba mencari topik pembicaraan memecah kecanggungan.

__ADS_1


"Cukup baik nak" suara kinos masih terdengar lemah.


"Ayah beristirahatlah, kami akan menunggu di luar" swan ikut menimpali.


Seketika mata kinos berkaca kaca, kinos tak menyangka swan akan memanggilnya dengan sebutan "ayah".


Swan mengajak sesil dan ayu meninggalkan ruang inap, namu sebelum sampai di pintu swan mendengar ucapan terimakasih dari bibir kinos, sontak swan berbalik badan menuju ayahnya kembali, swan memeluk lelaki paruh baya yang terbaring lemah di pembaringan. Cukup lama swan memeluk ayahnya, akhirnya swan melepaskan pelukannya dan keluar menuju kursi ruang tunggu yang berada tepat di depan ruangan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Maaf ya kemarin nggak up🙏

__ADS_1


__ADS_2