
Setelah prosesi mencuci kaki selesai, Sesil meletakkan handuk kecil yang dia gunakan untuk membasuh kaki sisil, kemudian gadis kecil itu bangkit dan meraih tangan ayu.
Sesil mengecup punggung tangan sesil.
kemudian sesil berjinjit mengecup pipi sisil. Cukup lama mengecupnya, wajah sisil merona mendapat perlakuan manis dari sesil.
Ada perasaan yang tak bisa di jelaskan oleh sisil, kebahagian di palung hatinya tak bisa terlukis dengan kata kata.
Sisil menarik sesil duduk di pangkuannya, kemudian sisil mengecup pipi cuby sesil. Sesil nampak sangat sumringah. Entah mengapa sesil merasa dekat dengan sisil yang baru di kenalnya beberapa hari yang lalu.
Pemandangan itu tak luput dari pandangan mata swan, Ada perasaan yang tak bisa di jelaskan oleh swan, Segala jenis macam emosi bercampur menjadi satu, hati swan bergejolak hebat. Ingin rasanya swan ke arah mereka dan memeluk dua wanita yang sangat swan kasihi.
Sisil bangkit dari kursinya, kemudian dia menggendong sesil ke arah swan dan rara yang sedari tadi terus melihat ke arah mereka.
Bahkan rara juga terus memotret sepanjang proses pembasuhan kaki tadi dengan kamera sisil.
Sisil berjalan dan tersenyum ke arah swan dan rara.
Setelah cukup dekat, sisil menyerahkan sesil ke pelukan papinya
"Papi" sesil berteriak manja ke arah papinya
Tangan sesil melingkar di leher swan, kemudian sesil mengecup pipi swan dengan mesra.
"Putri papi sangat hebat" swan membalas kecupan putrinya.
"Papi sesil sangat tampan dan hebat" sesil mengedipkan matanya dengan lucu
Sementara Rara langsung merengkuh tubuh sisil. Meluapkan emosi yang sedari dia tahan, Dia sangat bahagia melihat sesil tersenyum. Setiap kali hari ibu, sesil selalu menanyakan dimana maminya. Selama ini Keluarga swan belum menjelaskan kondisi sebenarnya karena swan melarangnya.
"Kak terimakasih" hanya kata itu mampu rara ucapkan. Hatinya begitu bahagia hingga tak terasa bulir bulir air mata mulai menuruni pipinya yang mulus. Rara sudah tumbuh menjadi gadis dewasa yang cantik. Rar juga sedang merintis menjadi seorang pengacara.
Mendengar isakan dari nada bicara rara, sisil melepas pelukan mereka, dan benar saja rara sedang menangis.
"kenapa kau menangis? aku senang bisa melakukannya dengan sesil ! keponakanmu sangat lucu dan menggemaskan" Sisil membantu mengusap air mata rara.
"mungkin ini akan jadi pembelajaran kedepannya, tentu saja suatu saat aku akan menikah dan memiliki seorang anak, Anggap saja aku sedang belajar menjadi seorang ibu" lanjut sisil lagi sambil tersenyum lebar.
Rara speechless, Hati rara mengatakan kalo wanita di hadapannya adalah mendiang kakak iparnya. Dari caranya berbicara dan sikap lembut ketika memeluk rara. Tapi itu tidak mungkin. Mungkin hanya kebetulan saja hanya mirip saja.
Rara tersenyum simpul.
"Kak bolehkan aku meminta sesuatu"? Rara nampak hati hati dan melihat ekspresi sisil.
Sisil mengerutkan dahinya, dia mencoba mencerna arah pembicaraan rara. Kalo di hubungkan dengan kejadian yang baru terjadi tadi bisa di jadi rara akan meminta dirinya untuk menjadi istri swan, dan itu sama saja memposisikan sisil menjadi wanita kedua jelas sisil akan menolaknya.
"Aku terlalu banyak merepotkanmu ya kak?" rara nampak murung.
"Tidak tidak, katakan jika aku bisa aku akan membantumu" tukas sisil
"Berfotolah dengan kakak dan juga sesil"
"Iya kakak, kemarilah sesil ingin berfoto dengan kakak" Sesil melambaikan tangannya.
Sisil menoleh dan melihat ekspresi swan. wajahnya terlihat datar.
"Papi mau kan" sesil menepuk wajah papinya.
kemudian swan hanya tersenyum sebagai jawaban dari pertanyaan sesil.
"Ayo kakak" panggil sesil lagi
Sisil berjalan mendekat ke arah swan dengan ragu ragu, rona wajahnya kembali memerah menahan malu.
Sisil berdiri kikuk di samping swan.
"Kak sisik lebih mendekat" rara mencoba mengarahkan posisi sisil.
Sisil masih diam tak bergeming, Melihat sisil diam saja tangan sebelah kanan swan menarik pinggang sisil mendekat ke arahnya sedangkan tangan kirinya mengendong sesil.
Sisil sangat terkejut, dia ingin menjauh tapi entah mengapa hatinya merasa nyaman sedekat ini dengan swan.
__ADS_1
1...2...3... jepret lampu flash menyala dengan terang, satu foto berhasil rara ambil.
"Kak sesil ingin di cium pipinya" sesil merajuk manja
Sisil tak bisa menolak keinginan dari sesil.
"kakak cium sebelah kanan, dan papi mencium sebelah kiri" sambung sesil sambil menunjuk ke arah pipinya yang cuby.
Akhirnya sisil menuruti apa yang sesil mau.
sisil menempelkan bibirnya di pipi sesil begitupun dengan swan, mata mereka saling bertemu, jantung sisil berdebar hebat.
1...2...3... Foto kedua berhasil di ambil.
Rara tersenyum puas melihat pandangan di hadapannya.
Hati swan berasa sedang berasa di musim semi, dengan berbagai bunga bermekaran. hatinya sangat bahagia semua jenis perasaan baradu menjadi satu membentuk perasaan yang tal bisa lagi swan lukiskan.
"Ahhhhh" ayu memekik kesakitan. Dia memegang kepalanya, sekelebat bayangan swan bermunculan di dalam kepalanya, walaupun samar tapi sisil yakin itu swan.
Kepalanya terasa berat, pandangan matanya mengabur. akhirnya tubuh sisil lemas dan dia tidak tau lagi kelanjutannya.
Ketika sisil membuka matanya, dia melihat swan dan sesil duduk di tepi ranjang.
Sesil mengelus pipi sisil. Sisil mencoba mengumpulkan kesadarannya. kepalanya masih terasa sakit.
"Kau sudah bangun"? swan melihat wajah pucat sisil kemudian swan mengambil air minum di nakas samping rajang.
Swan membantu meminumkan airnya kepada sisil.
setelah selesai,swan mengembalikan gelasnya ke tempat semula.
"lebih baik kau istirahat saja, Setelah kondisimu pulih aku akan mengantarkanmu" swan bangkit dari ranjang menggendong sesil.
Sisil nampak tidak asing dengan kamar ini, sisil merasa ada sesuatu antara dirinya dan swan di masa lalu. Sisik bertekad akan mencari tau nya sendiri.
Kepalanya masih terasa sakit, jadi dia memutuskan untuk memejamkan matanya.
Cukup lama sisil terpejam, akhirnya dia membuka matanya, kepalanya sudah tidak merasa pusing lagi.
tiba tiba pintu kamar terbuka, muncul rara dari balik pintu "Kakak sudah membaik"?
"ya begitulah" jawan ayu singkat
"Kakak lebih baik mandi terlebih dahulu"
"tidak usah" sisil merasa canggung.
Rara tak mendengar penolakan sisil, rara mendorong tubuh sisil ke arah kamar mandi.
lalu menutup pintunya kembali.
Rara menunggu sisil mandi di sofa. Tak lama kemudian ayu keluar mengenakan handuk kimono.
Rara bangkit dan menarik tangan ayu menuju ruang pakaian, kemudian rara membuka lemari tersebut.
Mata sisil terbuka lebar, di lemari terdapat semua pakaian wanita lengkap dengan tas sepatu juga aksesoris "Pasti ini milik maminya sesil" gumam sisil.
"disini ada beberapa pakaian yang masih baru yang belum sempat kakak iparku pakai, kakak pilihlah salah satu"
"Tidak terimakasih, aku akan mengenakan baju yang tadi saja"
"Ayolah kak" muka rara terlihat memelas.
Sisil masih diam tak bergeming. Akhirnya Rara mengambil salah satu gaun berwarna navy dan menyerahkannya ke sisil.
"kakak aku tunggu di depan pintu ya" rara berlalu meninggalkan sisil yang bengong di depan lemari pakaian.
"Sebenarnya istri swan seperti apa? dia sangat beruntung memiliki suami seperti swan. Sangat baik dan perhatian, bahkan sekian lama di tinggalkan swan masih menyimpan semua barang milik istrinya" sisil berbicara dengan bayangannya sendiri yang di dalam cermin.
Sisil mengenakan gaunnya. dia melihat label nama desainer di sana, nama salah satu desainer terbaik di indonesia. "pasti ini mahal" gumamnya lagi.
__ADS_1
"mengapa ukurannya sangat pas di tubuhku?" sisil keheranan
"Dan ini juga sesuai dengan seleraku"
Sisil membuka pintu kamar dan benar saja rara masih menunggunya di sana, Mereka berjalan menuruni anak tangga.Terdengar suara ketukan langkah sepatu lalu Swan menoleh menuju arah sumber suara.
Dia terpesona melihat kecantikan sisil.
"Nyonya rumah ini sudah kembali" gumamnya dalam hati.
"bagaimana keadaanmu"? swan mencoba memecah kebisuan yang ada di antara mereka.
"lebih baik" tukas sisil.
"Baiklah, lebih baik kita makan malam bersama terlebih dahulu" swan berjalan menuju meja makan. Di sana sudah ada sesil yang baru datang dari arah kamarnya.
"Kakak" sesil memanggil sisil
Sisil hanya tersenyum dan duduk di samping sesil.
"Malam ini kakak ingin menyuapi kamu makan, boleh ya" sambung sisil
sesil tersenyum bahagia.
Sisil terlihat sangat telaten mengurus sesil.
Swan dan rara terus memperhatikan mereka berdua.
Setelah acara makan malam selesai swan mengantarkan sisil menuju hotel.
Setelah bertanya sisil menginap dimana, swan langsung mengarahkan mobilnya memecah kemacetan kota semarang.
Swan sebenarnya ingin sekali mengatakan semuanya, tapi swan takut itu akan membuat sisil tak nyaman dan menjauh darinya.
Swan akan menunggu hingga waktu bisa mengembalikan ingatan ayu kembali.
.
.
.
.
.
.
.
.
mimpi apa semalam, file satu episode nggak ke save, di tambah salam up lagiðŸ˜
Harus ngetik ulang part 45ðŸ˜Syedih eyke sisðŸ˜
1300 kata lagi itu nggak sedikit belum lagi harus nyusun ulang kata katanyðŸ˜
nano nano deh paginya
SEBEL BANGET ASLI, AKU UDAH NGETIK SEMALAM EH PAS AKU UP PALAH SALAH COPY FILE NYA. KAN JADI DOUBLE PART NYA.
AKU HARUS NGETIK DAN NYUSUN ULANG KATA KATANYA, SOALNYA PAS AKU CARI FILE NYA NGGAK AKU SAVE.
AH HARUSNYA UDAH BUAT NGETIK EPISODE KELANJUTAN EH INI PALAH STAK DI EPS INI
SYEDIH EHðŸ˜
MAAF YA UNTUK KETELEDORAN SRAYU.
AH UDAH DEH KOK AKU JADU CURHAT YA🤣
__ADS_1
TINGGALKAN KOMENTARNYA DONG SAMA LIKENYA.
SALAM SAYANG _srayu