KAU MENDUA

KAU MENDUA
Bab 9


__ADS_3

PLAKKKKKKK


Tamparan mendarat di pipi Bram.


si pemilik wajah langsung melihat siapa yang menamparnya "Aw!!!! r...r..rai.." lirihnya gelagapan.


"ya mas ini aku, kenapa? sakit ya? atau masih kurang?" sahutku sinis, lalu aku melihat ke seseorang yang tepat didepan suamiku itu, betapa kagetnya aku melihat wanita itu, orang yang tidak pernah kuduga-duga.


"Dan kau!!!!! dasar ja*ang, PLAKKKKKKK" teriakku sambil mendaratkan tamparan ke wajahnya .


"mbak, aku bisa jelasin mbak" sahut nya sambil memegang pipinya.


"diam!" ucapku dan meninggalkan mereka.


Suamiku terlihat malu, sepertinya ia sudah kehilangan muka saat ini. dan seketika ia ingin mengejarku tapi aku tak sebodoh yang ia fikir karena aku dengan secepatnya bersembunyi di balik toko yang sedang tutup.


Aku menangis sejadi-jadinya tanpa suara, sesak di dada ini rasanya tak terbendung lagi.


"jahat kamu mas.. hikss.... jahat..." lirihku.


flashback on


Aku Baru saja mengantar putriku sekolah dan kepikiran untuk membeli perlengkapan rumah yang sudah mulai habis.


Aku pun tiba di mall yang biasa aku datangi setiap bulannya, tiba-tiba langkahku berhenti ke dua pasang mata yang sedang berhadapan. Aku seperti mengenalinya bahkan sangat mengenalnya.


Degggggg


Hati wanita mana yang tidak sakit? bahkan jantungku saja rasanya mau copot hancur berantakan melihat mas Bram sedang jalan dengan wanita lain yang kebetulan adalah tetangga kami.


Amarah yang bertubi ini menuntunku untuk mendekati mereka, kaki ini tak terasa sudah tepat di depannya, dan Plakkkk... tamparan itu mendarat ke pipi masing-masing.


flashback off


rasanya aku tidak ingin ketemu mas Bram lagi, bolehkah tuhan? hiks.... lirihku dalam hati.


Aku kembali ke rumah dengan keadaan yang tidak memungkinkan, namun aku harus pulang untuk membersihkan diriku agar nanti putriku tak melihat ibunya sedang menangis.


****


"mamaaah" teriak putriku yang langsung memelukku setelah berlari dari kamarnya.


"hei sayang, jangan lari nanti terjatuh" tegurku.


Pelukan hangat dari sang buah hati memang paling ampuh membuatku sejenak lupa akan masalah yang aku hadapin, tak terasa air mataku jatuh begitu saja dan langsung menghapusnya agar Ara tidak tahu akan apa yang terjadi pada ibu bapaknya.


Ara melepaskan pelukanku, ia menatapku dengan dalam dan memegang pipiku "mamah kenapa? ayo cerita samaku..


Aku menggelengkan kepalaku pertanda akan baik-baik saja walaupun faktanya adalah kebalikan dari tandaku. "tidak apa-apa sayang, mama hanya capek saja" dustaku.


"mamah, kenapa ayah belum pulang? ini kan sudah malam?" tanya putriku yang membuatku tersadar akan waktu yang sudah lama berlalu.

__ADS_1


"emhhh.. anu... itu.... huekkkkkk"


belum sempat aku bercerita, tiba-tiba mual itu datang, entah apa yang terjadi dengan diriku saat ini..


Aku langsung masuk ke kamar mandi, entah apa yang terjadi padaku karena belakangan ini sering sekali merasa kelelahan dan itu mual nya juga tak jarang.


Putriku tentunya panik melihatku, namun anak sekecil itu bisa apa selain menangis melihat ibunya kesakitan.


"mamaaah, mama kenapa? mama... hikssss" ucapnya sambil menggedor kamar mandi


"mama tak apa sayang, jangan menangis, mama gak enak badan saja" teriakku dari dalam.


gak lama kemudian aku keluar dari kamar mandi, kepalaku sakit sekali , dan pandanganku perlahan menghitam...


brukkkkkk


"mamaaaaaaaaa" teriak Ara melihat tubuhku terjatuh ke lantai.


ceklek...


"ada apa nak? kenapa mama mu?" tanya seorang lelaki yang baru saja masuk ke rumah itu. Ya, dia adalah Bram ayahnya Ara .


"mamah tiba-tiba pingsan yah, tadi juga mamah muntah hiks... mama jangan tinggalin Ara mah.." jelas Ara .


"sayang, tenanglah.. kita bawa mama kerumah sakit ya, jangan nangis nak" ujar ayah Ara.


***


Aku menyesal telah menduakan istriku, mengkhianati cinta yang sudah kami bangun . Aku pulang kerumah dengan niat untuk meminta maaf, saat aku membuka pintu betapa kagetnya aku melihat istriku sudah terbaring dilantai juga Ara yang menangis dihadapan Raina.


Aku membawanya kerumah sakit, dan saat ini dokter sedang memeriksanya.


ceklek ..


"Apa disini ada keluarga nyonya Raina?" tanya suster tersebut .


aku langsung menghampiri suster itu "saya suaminya sus.."


"oh baiklah, mari masuk" ucap suster .


Aku masuk sambil menggendong Ara yang sedang tidur di pelukanku.


"Bagaimana istri saya dokter?" tanyaku.


"silahkan duduk pak" ucap dokter tersebut sambil tersenyum . Aku pun langsung duduk tepat didepannya.


"hmm begini pak, sebenarnya istri bapak hanya kelelahan saja dan sepertinya ia banyak pikiran. tolong dijaga ya pak soalnya janinnya masih terlalu lemah ." ucap dokter tersebut...


"oh... iya..." ucapku tanpa mencerna, lalu tiba-tiba aku tersadar dengan apa yang dikatakan dokter tersebut..


"apa dok? janin??? istri saya hamil, gitu?" tanyaku memastikan lagi.

__ADS_1


"benar sekali pak, apa bapak tidak mengetahui nya?" sahut dokter.


"tidak dok" sambil menggelengkan kepalaku.


"oh iya mungkin ibunya juga belum tahu, karena usia kehamilannya baru memasuki tiga Minggu.."


"Alhamdulillah, terima kasih banyak dokter..."


"sama-sama pak, mari pak... " ucap dokter itu sambil meninggalkanku diruangan itu..


Alhamdulillah Raina hamil, terimakasih ya Allah.. kau masih mempercayakan kami dengan satu buah hati lagi, ucapku dalam hati.


"dimana aku?" tiba-tiba suara perempuan terdengar dari ranjang pasien , ya syukurlah istriku sudah sadar dari pingsannya.


****


Raina POV_


"dimana aku?" tanyaku pada diriku sendiri dan berharap ada seseorang yang menyahut ku.


Tiba-tiba dari ruangan sebelah mas Bram menghampiriku, kaget senang dan sedih bercampur menjadi satu..


"mas Bram? ngapain kesini? trus ini dimana?" tanyaku keheranan


"sssttttttt" ucap mas Bram memberikanku kode agar diam sambil menunjuk ke arah putri kami.


Setelah membaringkan Ara di sofa, mas Bram berjalan mendekatiku yang terbaring lemah di kasur.


"sayang.." ucapnya


"hmm" sahutku sambil memalingkan wajah .


"kau masih marah?" tanyanya sambil memegang tanganku.


Dengan sigap aku menepis tangannya "aku minta pisah, ceraikan aku" jawabku dingin.


"apa kau tidak kasian dengan anak-anak kita?" tanyanya kembali yang membuatku bingung.


anak-anak? kenapa dia menyebutkan anak-anak? bahkan kami hanya mempunyai satu anak. ya itu lah pertanyaan yang mengisi otakku.


"apa maksudmu?" sambil berusaha duduk.


"kau sedang hamil sayang, kau mengandung anak kedua kita, ku mohon maafkan lah aku, demi Ara dan calon adiknya ini" mohonnya sambil memegang perutku.


Hatiku terenyuh mendengarnya, jika pacaran mungkin gampang sekali putus dengannya tapi ini tentang kehidupan, menikah bukan seindah di novel-novel. Apalagi saat ini kami sudah memiliki anak, ada hati yang harus dijaga, karena kehidupan anak adalah segalanya bagiku.


"baiklah, tapi aku tak janji akan memberikanmu kesempatan lagi atau tidak jika kau mengulanginya" ucapku.


"sayang, terimakasih ya.. terimakasih sudah memaafkan mas" sambil memelukku.


"tak perlu sebahagia ini, karena ini semua ku lakukan hanya demi anakku, kau dengar itu" sambil melepaskan pelukannya.

__ADS_1


__ADS_2