
Satu tamparan mendarat ke pipi mas Bram
"baguuuus!!!!" ucapku sambil bertepuk tangan
"Rai, mas bisa jelasin, ini it------"
"sorry aku gak butuh penjelasan karena aku sudah melihat kenyataan. sini kamu mas..." sambil kutarik tangannya dan mendekat ke arah sebelah di mobil itu dimana ada seorang perempuan duduk dibalik pintu mobilnya.
ceklek
"oh, yaampun... ternyata mbaknya toh selingkuhannya mas ini? oh oh oh, suami mbak kurang apa emang kok sampai mau dengan laki-laki miskin ini? udah nyewa dirumah mbak, nunggak pula lagi. astaga, ganteng enggak, parah iya." sambil kutahan tangisku
"mbak itu salah sangka, saya bisa jelasin!"
"mau jelasin apa? salah paham? sengaja pergi untuk bahas uang sewa rumah? aduh, basi! saya melihat langsung kalau kepala anda menyandar di bahu suami saya, eh bukan.. bukan suami.. tapi calon mantan suami. dan lagi, saya juga melihat kalau anda tadi mencium keningnya. cihhhh!! menjijikkan!"
"dan buat kamu mas, aku minta cerai! aku udah gak sanggup mikul beban ini lagi. terserah kamu mau setuju atau tidak, tapi kita sudah buat perjanjian hitam diatas putih, aku masih simpan kertasnya. jangan pernah temui aku dan anak-anak lagi, kecuali kamu bawa uang!"
"jangan gitu dong sayang, mas bisa jelasin "
"diam kamu mas! masih ga tahu malu kamu ya, didepan orangtuaku, didepan anak-anakmu bahkan disaksikan oleh tuhan kamu masih saja mengelak! terserah kamu mas sekarang, terserah . terimakasih atas luka ini. mengenalmu adalah patah hati terbesarku. terimakasih!"
__ADS_1
Lalu aku meninggalkan mereka dan masuk dibangku sebelah kemudi, dan membiarkan ayahku yang membawa mobil karena ku tak sanggup.
Namun ternyata ayahku tak langsung masuk ke mobil, ia berjalan semakin dekat kearah mas Bram.
"pa, maafin Bram , tolong biarkan Bram bersama-sama lagi dengan Raina.." sambil mengangkat tangan untuk memohon.
"hei Bram! dengar, saya kecewa sama kamu. ternyata menyerahkan anak saya ke kamu itu adalah kesalahan terbesar saya. kini, saya bangga dengan anak saya karena sudah bukan milikmu lagi. cihhhh"
Kami pulang ke rumah ayahku, namun sebelum itu, kami singgah kerumah yang aku tempati itu, rumah yang awalnya aku bahagia menempatinya tapi sekarang ingin rasanya ku bakar segalanya.
***
tok tok tok...
suara palu bunyi, dan seperti apa yang aku inginkan kalau hak asuh ada di tanganku, setiap bulannya kedua anakku mendapatkan jatah bulanan walau aku juga gak tahu dia bisa menjalaninya atau semua itu akan hilang begitu saja.
"anak-anak" sapa mas Bram dengan kedua anakku.
"papaaaa" teriak mereka sambil memeluk ayahnya.
"papa jahat, papa udah nyakitin mama. Ara benci sama papa!" celetuk Ara di sela pelukannya lalu melepaskan pelukan itu begitu saja .
__ADS_1
"jika papa memilih dia, maka kami memilih ibu kami!" lanjut Ara lagi..
"Ara sayang......" ucapku lembut dengan memperingati
"maaf ma, tapi papa kelewatan." sahut Ara dengan menunduk
Aku berjongkok lalu menangkap pipi anakku itu agar melihatku "nak, dengar mama.. memang benar mama dan papa sudah berpisah, tapi hubungan ayah dan anaknya itu gak akan pernah bisa berhenti sampai kapanpun, mengerti?"
Ara mengangguk "maafin Ara ma..."
"iya sayang"
... ------------------------...
**maafya kakak reader, sedikit dulu.. gimana? udah senang kan Raina pisah? horeeeee❤️
dukung terus ya,
jangan lupa like komen dan favoritenya...
salam cinta, author❤️**
__ADS_1