KAU MENDUA

KAU MENDUA
Bab 33


__ADS_3

"emmhhh gue-----" ucapnya menggantung


" ya, elo?" sahut kami barengan lagi


"ha iya gimana kalau gue main gitar terus Rai nyanyi?" usul Dion


" enak aja, masa gue yang nyanyi" tolakku


"eh tapi boleh juga Rai, nanti kami ikut nyanyi deh , ya Rai?" sahut Vira


"hmm baiklah"


Lalu kami kembali ke kamarnya Abel, dimana kami melihat Abel masih saja mengaduk-aduk makanannya sambil menonton tv dengan tatapan kosong.


Hati ini rasanya seperti dicabik-cabik, sedih sekali melihatnya seperti itu.


"Haloo bebbbb" ucap kami serempak


"astaga, kaget gue" kata Abel sambil memegang dadanya.


"tunggu, ngapain bawa gitar?" tanya Abel


"mau ngamen mbak" sahutku dan Abel tertawa, senang ya lihatnya(?).


Lalu kami duduk didepan Abel, tapi tiba-tiba Dion mengangkat tangannya seperti anak murid yang ingin bertanya pada gurunya.


"ada apa anak murid?" celetuk Vira , dan kami tertawa


"gue dulu deh yang nyanyi, entar baru si Raina, boleh ya guys?"


"ya elo aja, dan gue gausah jadi, itu lebih baik" sahutku sambil tersenyum, sementara Abel memasangkan wajah herannya.


"oke, dengarin Abang ganteng ya...." sahut Dion.


jrenggg.... (eceknya lagi ngetes gitar)


Judika - bagaimana kalau aku tidak baik-baik saja


*andai aku bisa memutar waktu


aku tak ingin mengenalmu


mengapa ada pertemuan itu


yang membuat aku mencintaimu


bagaimana kalau aku tidak baik baik saja


terus mengingatmu


memikirkanmu


semua tentangmu*


(nyanyinya sambil melihatku, tiba-tiba jantungku berdegup kencang dan pikiranku melayang ke arah sekolah dulu dimana aku masih bersamanya)


*bagaimana kalau aku tidak baik baik saja


tak seperti kamu


yang mampu tanpaku


bagaimana


mungkin kini kau bersama yang lain

__ADS_1


walau hatimu untukku


adakah kesempatan untuk cintaku


bahagia walau kita berbeda


uuu oooooo uuuu


huuu ooooooo


mungkin kamu bukan untukku


tapi kau selalu dihatiku


huooooooo*


"STOPPPPPP!!!!" Teriakku


Seketika Dion menghentikan lagunya dan aku menjadi salah tingkah, kenapa aku berteriak? arghhhhh!


"emh aku, eh gue, emh itu, anu, iya gue gak suka sama lagunya" ucapku sambil menggaruk tengkukku yang tidak gatal


"gatel apa baper" celetuk Abel


"dih, ogah. yaudah ganti lagi lagunya Dion, gue gak suka lagu Judika" ucapku


"jadi loe maunya lagu apa markonah?" sahut Vira


"apa aja asal jangan lagu itu" sahutku.


*****


Keesokan harinya aku meminta mas Bram untuk menjemputku, alih alih dia menolaknya dengan alasanya rapat di kantor. Pertanyaanku cuma satu "apa iya ada rapat dihari Sabtu?"


Lagi-lagi aku curiga dengan mas Bram, dengan susah payah aku mengontrol emosi aku agar sahabat-sahabatku tidak memgetahuinya.


"ngagetin Mulu Lo" sahutku


"sorry, aku tadi lihat kamu kaya kesal gitu, ada apa Rai?


"biasain dong bambang jangan manggil aku kamu lagi" protesku


"astaga iya iya, gue lupa karena gue belum biasa hahaha sorry" sambil menepuk jidatnya.


"eh ion, gue nebeng ya" sahutku


"dengan senang hati tuan putri, memangnya suami loe mana?" tanyanya


"emh ada urusan" singkatku lalu aku pergi ke kamar Abel untuk pamitan.


Didalam kamar, aku melihat Abel sedang berada dipelukan Vira, sebegitu rapuh hatinya saat ini. Aku paham betul apa yang dirasakannya tapi apa yang bisa ku lakukan?.


Aku mengambil pena dan buku didalam tasku lalu aku menghampiri kedua sahabatku itu.


"guys, hai" ucapku


"eh Rai" sahut mereka dengan melepaskan pelukannya.


"bel, gue mau kasih loe ini. apa yang lo rasain jangan Lo pendam, tapi tulis disini. karena dengan menulis itu akan mengurangi sedikit beban dihati loe, percaya sama gue" ucapku


"makasih Rai" sahutnya sambil memelukku.


"ingat, loe harus kuat. gue aja yang manja bisa kuat masa lo kalah sih?" ucapku


"iya gue paham."

__ADS_1


"janji ya sama kami untuk tetap menjalani hidup? loe jangan pernah berpikir untuk bunuh diri lagi, ngerti?" ucap Vira


"kita pamit ya bel, besok kita kesini lagi. sebenarnya kita pengen nemenin Lo tapi anak-anak ga ada yang urus, kasian bel" ucapku


"iya makasih ya udah nemenin gue ." kami mengangguk.


*****


Diperjalanan tiba-tiba aku ingin sekali makan gorengan. aku melihat kedepan ternyata lampu merah, dan aku melihat ke kiri, dan ada yang jual gorengan.


"Dion" panggil ku


"Hmm"


"gue mau itu" sambil nunjuk gerobak gorengan.


"tapi ini dijalan Rai, bentar deh nanti gue tepi in dulu mobilnya, jangan nekat keluar ya, awas Lo" sahut Dion.


Tak lama kemudian , Dion pun memarkirkan mobilnya kami turun dan membeli gorengan.


Saat membeli gorengan, aku melihat mas Bram sedang berdua dengan seorang wanita. hatiku semakin ber api-api.


aku mengambil minuman Dion yang kebetulan dia membeli Thai tea , lalu.....


byuuurrrrrr


Aku menuangkannya ke arah mereka berdua, tentu saja mas Bram yang awalnya mau marah eh malah diam terpaku sangkin malunya.


"upsss basah" ucapku dan mas Bram hanya diam


"****! loe siapa sih" ucap wanita itu.


"emh gue gak sengaja sorry" ucapku sambil pergi meninggalkan mereka.


Dion yang baru saja datang tentunya kaget melihat itu


"ba*Ingan Lo" ucap Dion dan ikut menyusulku.


"menangis lah" ucap Dion saat dimobil


"gue heran kenapa cowo doyan banget selingkuh hikss " ucapku


"sorry nih mbak, gue juga laki" ketus Dion


"ya kecuali loe lah haha" sambil tertawa kecil.


"aku ga tahu ya Rai apa yang ada di otak suami Lo tapi jujur dia bodoh banget udah sia-siain berlian demi mencari kerikil" sahut Dion.


Sesampai dirumah, aku hanya bisa menangis. Mungkin aku bisa memberikan semangat kepada orang lain, tapi untuk menyemangati diri sendiri aku tak mampu.


Pikiranku kalut, benar-benar kalut. Aku menggigit tanganku , sampai aku pingsan.


Tak ada yang tahu aku pingsan, aku hanya sendiri di rumah sampai akhirnya mas Bram pulang dan melihat ku terkapar dilantai.


Mas Bram membawaku kerumah sakit, dan aku dirawat selama beberapa hari.


Beribu maaf sudah dilakukannya, sampai bersimpuh dikaki ku. Huh, padahal hati aku baru saja sembuh, kenapa harus sakit lagi?


mungkin ini sudah menjadi takdirku dan aku lagi-lagi memaafkannya karena ia sudah bersumpah kalau wanita itu hanyalah teman. bohong tidaknya dia, hanya Tuhanlah yang tahu.


"papa kecewa samamu Bram" ucap ayahku.


Hatiku kembali sakit melihat cinta pertamaku yaitu ayahku kecewa dengan cinta pilihanku selanjutnya .


Mas Bram bersujud di bawah kaki ayahku "maafin Bram pa, tapi ini semua hanya salah faham"

__ADS_1


"sebelum menikah, Raina adalah anak yang manja. Jangankan untuk melukai dirinya dengan sengaja, untuk terluka tidak sengaja saja dia tak pernah. sedangkan saat bersamamu? bahkan dia lupa cara untuk bahagia , Bram Wijaya". ucap ayahku.


__ADS_2