
"bismillah.. Rai akan rujuk dengan mas Bram"
"tapi Rai...." sahut ibuku
"ma, jangan halangi dia, biarkan dia yang memutuskan" potong ayahku
"tapi pa...."
"anak kita sudah dewasa, dia punya pilihannya sendiri dalam hidupnya. kita hanya bisa mengarahkan bukan mengatur" ucap ayahku membuat kami menjadi terdiam.
"pa apa keputusan Rai sudah benar?" tanyaku pelan.
"anakku sayang, papa gak bisa menjawabnya karena yang merasakannya itu adalah kamu. kalaupun papa jawab itu pasti dari sudut pandang papa yang tidak menjalaninya. berbahagialah nak, doa kami selalu untukmu"
"papa.... hiks... pa.... Rai takut pa... hiks..... Rai takut keputusan Rai salah, tapi hiks tapi kasihan dengan anak-anak hiks "
"hapus air matamu, papa tidak suka itu."
****
Akhirnya aku dan mas Bram rujuk kembali, aku tak tahu keputusanku ini sudah benar atau salah, cinta memang membutakan ku bukan karena aku mencintai mas Bram, tapi karena cinta anak-anakku lah yang begitu tulus pada orang tuanya.
Kami kembali dengan sebuah perjanjian yaitu tidak ada pengkhianatan dan tidak ada kebohongan. Jika salah satunya melanggar maka hak asuh anak akan jatuh pada yang satunya lagi.
Namun itu semua bukan maksud untuk mempermainkan pernikahan tapi untuk hati yang harus di jaga, ada hati yang tak ingin terus-terusan sakit, ada sabar yang tak ingin selalu dikikis, dan ada hak yang wajib dijalani.
"mas hari ini gajian Rai" ucapnya
"Alhamdulillah" sahutku.
"pa, Ara mau mainan"
"Farhan juga ya pa, pengen mobilan"
"eumm beliin gak yaaa" goda mas Bram
"jangan mainan terus dong, belajarnya tingkatkan dulu ih" kesalku
"mama mah gak asik" celetuk Farhan .
Siang hari mas Bram pulang lebih awal daripada anak-anak, kemudian mas Bram duduk di sofa yang berada di depan tv , aku pun langsung mengantarkan secangkir kopi kedukaannya.
"minum dulu mas.." kataku
"iya sebentar lagi ya, ah iya sini duduk dulu" sambil menepuk ruang kosong disebelahnya.
Aku mengangguk pertanda setuju, lalu ia bercerita maksud dan tujuannya.
"mas berniat mau belikan anak-anak mobil mobilan listrik itu, apa kamu setuju?"
"what?!!!!! jangan bercanda mas, itu mahal"
"mas gak bercanda sayang, hmm begini... selama ini mas sudah sering sekali menyakiti mereka, mas hanya ingin menebus salah mas walaupun itu ga sebanding dengan derita yang mas kasih" lirihnya.
__ADS_1
Setelah perdebatan panjang akhirnya aku mengangguk setuju , dan aku harus menelan pil pahit yang harus ku dapatkan dikemudian hari.
Mas Bram termasuk orangtua yang lebih mengutamakan kebahagiaan anak daripada isi perutnya sendiri. Dia rela sebulan kekurangan makan asal anaknya bahagia dengan mainan yang dia beri. Sedikit konyol memang tapi ini nyata adanya.
"Jadi apa rencana kamu sekarang mas?" tanyaku
"menurut kamu lebih bagus mereka pilih sendiri atau kita belikan terus jadiin itu surprise?"
"jadiin surprise aja, biar bisa beli harga yang terjangkau. huh kamu ini ya mas, ada-ada aja. Bahkan setelah ini kita hanya mampu makan telur tahu tempe dan mungkin hanya bisa makan nasi pakai garam saja." ucapku sedikit kesal.
Beberapa jam kemudian aku dan mas Bram sudah berada di rumah dengan membawa hadiah untuk anak-anak, sementara kedua anak kami berada di rumah ayahku, kami langsung menjemputnya untuk kembali pulang ke rumah kontrakan kami .
"kenapa harus beli mainan semahal itu sih?" bisik ibuku
"entah tu ayahnya, gak mikir nasib kedepannya gimana huh ngeselin kan?" sahutku
"sudah, sudah. yang penting anak bahagia" ucap ibuku.
"mah, pa... kami pulang dulu ya..."
"iya sayang hati-hati"
"ma kenapa cepat banget sih pulangnya? Ara masih mau main sama opa" sahut Ara
"iya ma, Oma juga mau buat puding katanya buat Farhan"
"kita pulang dulu, pasti kalian senang, oke anak-anakku yang pintar?!"
****
"mah, pa, itu apa? kenapa ditutupin pakai kain gitu?"
"penasaran gak? penasaran gak?????" godaku
"penasaran lah , masa enggak" jawab Ara antusias
"buka yok kak" ucap Farhan sambil menarik tangan Ara
"satu... dua.... tiga...."
.
"yang ini untuk kakak ya, tapi ingat belajarnya ditingkatkan lagi, mengerti?" ucapku , sementara Ara langsung memelukku dengan mata berkaca-kaca.
"nah kalau yang ini untuk adek Farhan, gimana senang gak???" kata mas Bram. sementara Farhan langsung minta di gendong olehnya.
"sini papa tunjukin sisi belakangnya, tuh lihat, gimana? keren gak?" tanya mas Bram pada Farhan
__ADS_1
"iya pa , keren. Farhan suka.."
"eum kalau begitu anak-anak mama dan papa ini senang?" tanyaku
"senang!!!!!" teriak mereka
"bilang apa dooong?" godaku
"makasih mama papa yang baik hati, kakak sayang sama mama dan papa"
"makasih mama papa yang cantik dan ganteng, Farhan sayang sama mama dan papa"
"akhirnya aku bisa melihat kebahagiaan di wajah kalian nak, maafin mama papa atas kelalaian kami selama ini" ucapku dalam hati.
Sore hari, kami duduk di teras sambil melihat kedua anak kami bermain mobil dan motor barunya, mereka saling kejar mengejar satu sama lainnya, terkadang mereka juga main polisi-polisian yang sedang me Rajia.
Aku pergi masuk ke dalam untuk membuatkan roti bakar dan juice buah naga untuk mereka, saat aku keluar aku melihat pemandangan yang aneh. Hmmm ya, bagaimana tidak aneh saat melihat sang suami sedang mengirim pesan sambil tersenyum.
Hatiku langsung sakit, tapi aku memilih diam. bisa saja aku yang terlalu cemburu, tak mungkin aku menuduh tanpa bukti, ingin mencari tahu pun percuma .
"ekhemmm" dehemanku membuat mas Bram jadi salah tingkah.
"eh sayang" ucapnya
"kenapa mas?" tanyaku
"ke---kenapa apanya?" jawabnya gugup
"ah tidak apa, oh ya pesan dari siapa?" tanyaku sambil selidik.
"oh , itu, anu... teman kerja mas, besok dia ulang tahun jadi kami ingin memberikannya hadiah" ucap mas Bram.
"oh begitu, sekedar mengingatkan untuk tidak main api kalau gak mau terbakar" ucapku yang berhasil membuat mas Bram terdiam.
"ngomong soal bakar , ini nah makan , Rai buatin roti bakar. jangan tegang kali mas, rileks aja" sambil tertawa kecil.
"anak-anak, ini ada roti bakar, siapa yang mau?"
"AKU!!!!" Teriak mereka.
****
Malam harinya seperti biasa jika cuaca panas aku memakai pakaian mini dan karena merasa lelah aku memilih untuk tidur deluan.
Di tengah mimpiku yang indah, tiba-tiba di dunia nyatanya ada tangan kekar memeluk pinggangku dari arah belakang, tentu saja itu mengganggu mimpiku dan seketika aku terbangun karena itu, yaps benar itu adalah tangan mas Bram.
"eumh kamu jadi terbangun ya? maafin mas" ucapnya dengan suara berat.
deggggg!
suara berat? ah hatiku sudah mulai deg-degan mendengarnya .
"sayang, mas pengen" ucapnya , belum sempat aku menjawab dia sudah menyerangku dan terjadilah pergulatan panas.
__ADS_1
skip skip...