KAU MENDUA

KAU MENDUA
Bab 19


__ADS_3

Di dapur,


aku mencuci piring tiba-tiba ibu mertuaku menghampiriku...


"Raina..." panggilnya


"ah ibu, ngagetin saja" kataku


"apa kamu bahagia menikah dengan putra ibu?" tanyanya to the point.


Mataku terbelalak mendengarnya, mau jujur takut salah mau bohong takut dosa, apalah daya ku hanya manusia biasa.


"eng--ggak Bu, me-mamgnya ada app pa Bu?" sambil gelagapan.


"Raina, kamu sudah ibu anggap seperti anak ibu sendiri, kesedihanmu terpancar jelas dari sudut matamu" ucapnya.


"ibu, aku tidak apa-apa, dan lagi menantumu ini sangatlah kuat dan pemberani hahaha" sambil bercanda.


Ibu mertuaku hanya menggelengkan kepalanya seakan tahu ini hanya kiasan kata saja.


"nak, mundurlah jika kau sudah tak kuat dengan sikapnya. ibu tak ingin anak ibu yang bandel itu melukaimu, hatimu terlalu berharga untuk disakiti. Namun, jika bisa... sebelum mengakhiri setidaknya anak-anakmu tidak kehilangan kasih sayang"


Aku berhenti mencuci piring, ku tatap mata mertuaku dengan senyumku "ibu , jangan khawatir.. semua yang kulakukan demi anak-anak kami. doakanlah putrimu ini agar selalu kuat menghadapinya"


Sesaat kemudian kami berpelukan, aku memeluknya dengan sangat erat seakan tak ingin pelukan ini terlepas.


ekhemmm

__ADS_1


deheman itu membuat kami melepaskan pelukan kami.


"ganggu saja" kata mertuaku kepada anaknya yang berdehem, siapalagi kalau bukan mas Bram.


"ibu sebenarnya yang menjadi anaknya itu Bram atau Raina sih??" protesnya.


"jika aku boleh memilih, aku milih Raina sebagai anak kandungku, kalaupun aku harus tukar tambah untuk menukarkan mu denganya aku ikhlas lahir batin" ucap ibu mertuaku yang membuatku ingin tertawa tapi aku tahan.


"sadis banget" ucap mas Bram sambil pergi dari dapur.


***


Malam harinya, kami memutuskan untuk menginap dirumah ini. Satu hal yang membuatku mencurigainya, mas Bram duduk di teras rumah sendiri dengan ponselnya, sementara kami di dalam sambil menonton tv.


Ada apa ini? kenapa aku sakit hati dengan ponselnya? arghhh.


"nak, samperin suamimu" kata mertuaku tiba-tiba.


"tapi Bu?" ucapku yang menggantung karena mertuaku seperti memberi kode untuk bilang tidak ada penolakan.


Aku menghembuskan nafasku dengan kasar, lalu aku berjalan ke arah mas Bram.


"mas" panggilku


jlebbbbb


Sakit hatiku bertambah setelah melihat ia gelagapan mendengar dirinya ku panggil saat ini.

__ADS_1


"eh- rai?" katanya gelagapan.


"ck! biasa aja kali" sahutku.


Lalu aku duduk disebelahnya .


"ada apa?" tanyanya.


"mas lanjut saja selingkuhnya, aku gak apa. aku disini hanya perintah dari ibu mas" ucapku.


Seketika aku melihat wajahnya menjadi merah.


"Mas boleh saja selingkuh, tapi ingat tempat. ini rumah ibumu, setidaknya hargai dia" ucapku lagi lalu meninggalkannya.


Saat aku masuk ke dalam, ku lihat ibu dan anak-anak ku sedang asik bermain ,


"Bu, Raina tidur deluan ya" ucapku sambil pergi ke kamar.


Rasanya air mata ini sudah tak tahan lagi ingin mendarat ke pipi dan aku menangis sejadi-jadinya saat di dalam kamar.


Hubungan kami memang belum membaik sejak kejadian kemarin, tapi bertahan dalam keadaan adalah usahaku yang sia-sia sepertinya. Ingin menyerah namun masa depan anak-anak sangatlah penting, hanya itu alasan yang masih berdiri kokoh dihati ini.


Sampai kapan? entahlah.


*****


sorry semua, up nya dikit dulu, author benar-benar sibuk di dunia nyata, huhhh semangat buat kita semua (:

__ADS_1


__ADS_2