KAU MENDUA

KAU MENDUA
Bab 35


__ADS_3

"ayo nak kita makan dulu" ucapku sambil berjalan menuju pondok dan disusul oleh kedua anakku.


Aku langsung menghidangkan makanan nya, tidak terlalu mewah memang, aku hanya membawa ayam goreng dan sambal belacan karena berhubung anak-anak tidak menyukai sayur.


Saat kami makan, lewat pula orang penjual sate kerang dihadapan kami .


"sate ..... sate kerang ... sateee..." ucapnya


Kedua anakku langsung melirik pedagang sate kerang tersebut, aku tersenyum karena sepertinya aku mengetahui apa yang dipikiran mereka, tanpa bertanya aku langsung memanggil pedagangnya.


"bang, satenya...." ucapku.


"kamu mau?" tanya mas Bram


Aku menggeleng "bukan aku, tapi mereka" sahutku sambil melirik kedua anakku.


"oke Bu, ini Bu ada sate kerang, sate jengkol, sate telur puyuh , sate udang dan sate tahu. mau yang mana?" tanya pedagangnya.


Mendengar itu kedua anakku langsung bingung "ma, satenya mana? itukan bukan sate tapi jenis makanan yang di tusuk" ujar Farhan yang masih polos


Aku ingin sekali tertawa sebenarnya tapi sebisa mungkin aku harus menahannya.


"lucu kali adek ini bah, ya satenya ini loh dek masa ga nampak kau dek" sahut pedagang itu yang sepertinya orang batak.


"anak mama sayang, sate itu maksudnya makanan yang ditusuk, gituloh nak" ujarku dan kedua anakku hanya ber oh riaaa


"maafin mereka ya bang"


"santai Bu macam di pantai"


"loh ini kan emang dipantai om" ketus Ara


"arghhh pintar-pintar kalipun anak ibu ini, ga bisa menang aku bah" sahut nya.


"udah udah, kalau gitu saya mau ambil semuanya masing-masing 2 sate ya bang"


"oke Bu, tunggu sebentar"


****


Pagi berganti sore, akhirnya kami memutuskan untuk pulang, aku tersentak saat tidak mendengar suara lagi dari belakang mobil, aku melihat ke belakang dan benar saja ternyata mereka sudah pada tidur.


Oh iya, mobilnya pinjam dari tetangga sebelah ya guys lebih tepat nya ngerental.


"pantesan diam" ucapku sambil tertawa kecil


"udah pada tidur ya?" sahut mas Bram dan aku hanya mengangguk.


"lihat deh mas mereka------" ucapku terpotong


"sayang gimana mas mau lihat kan mas lagi nyetir" ujarnya.


hmm benar juga sih? ah tapi gak gitu juga kali .


"iya maksudnya dengarin aja gitu mas huh menyebalkan" ketusku


Mas Bram tergelak mendengarnya, entah apa yang ada dipikiran laki-laki ini, lucu baginya tapi dimana yang lucu?.


"jadi kenapa anak-anak sayang?" tanyanya lembut. sok manis banget gak sih.

__ADS_1


"itu mas, anak-anak kalau tidur saling berpelukan seakan menandakan saling sayang dan saling melindungi. tapi kalau sudah bangun beuuuuh bisa akur lima menit aja udah syukur Alhamdulillah banget"


Mas Bram tersenyum "itulah kehebatannya anak kita Rai"


Jalanan kota saat ini begitu ramai, setiap terkena lampu merah banyak sekali anak-anak yang berjualan, ada yang menawarkan makanan minuman mainan bahkan hanya sekedar membersihkan mobil pakai kemoceng.


Hatiku terenyuh melihatnya, ada satu pertanyaanku "kemana orang tua mereka?".


Bicara orang tua, aku merasa tertampar saat ini. Tak dapat kubayangkan jika nanti anakku mengikuti jejak mereka, ah tidak... amit-amit.


****


Keesokan harinya aku pergi bersama Dion dan Vira untuk menemani Abel di persidangannya.


Aku telat hari ini, aku fikir aku tak dapat menyemangati Abel sebelum ia masuk ke persidangan nya.


"hoshhh hhahh hahhh" ucapku sambil lari.


Mereka terheran melihatku, mungkin ada satu dalam hati mereka 'ini anak kenapa'.


"habis di kejar anjing Lo?" tanya Vira


"gue buru-buru tau, gue kira gue telat makanya gue lari hoshhhhh huhhhh.. bagi minum dong " sambil mengatur napas.


"disini ga ada yang bawa minum Rai, sebentar biar kubeli" ujar Dion dengan meninggalkan kami.


"tu anak plin plan gak sih, sebentar manggil gue elo sebentar lagi manggil aku kamu hahah" ucapku


"Lo yang aneh, dia emang biasa kan pakai aku kamu ke Lo, trus malah Lo suruh ubah. Menjadi diri orang lain itu ga enak kali Rai" sahut Abel


hmm benar juga kata Abel, apa aku keterlaluan?.


"Lo kira sekolah ada jam masuknya hahahaha" celetuk Vira


"issshhh auk ah, salah bae princess"


"idih sok cantik Lo"


"emang gue cantik wleee"


"sudah sudah, jangan berdebat lagi. ini minumnya" ucap Dion yang baru datang sambil menyodorkan satu botol minuman.


"kalian juga mau? ini" ucapnya lagi dengan memberikan minuman yang lain.


Suasana menjadi hening karena kami merasakan Jantung yang berdegup seperti apa yang dirasakan Abel saat ini.


"bel, anak Lo belum datang ya?" tanya Vira.


Iya, Tania memang disuruh datang karena dipersidangan kali ini walaupun peluang besar hak asuh anak ada di Abel tapi Tania berhak mengeluarkan suara dengan cara memilih untuk tinggal dengan ayahnya atau dengan ibunya.


"belum, mungkin sebentar lagi." ujarnya .


"jangan nervous, gue bantu loe . gue yakin Tania sepenuhnya milik loe." ujar Vira meyakinkan, karena Vira selain jadi sahabat dia pun disini juga sebagai pengacaranya Abel.


"loe yakinkan?" tanya Abel memastikan


"Tania itu ponakan gue, semaksimal mungkin gue harus perjuangin dia!" tegas Vira


tap tap tap

__ADS_1


"bundaaaaaa!!!!!" teriak Tania


"Tania sayang hiksss" sambil memeluk Tania


Sementara aku yang melihat nya juga ikut menangis, ada alasan sendiri bagiku kenapa aku menangis, tentunya memikirkan jika ini terjadi dalam rumah tanggaku.


"Tania , ayo kita masuk nak" ucap Asep


"enggak! Tania mau disini sama bunda. ayah jahat !" kata Tania yang membuat kami menjadi tercengang.


"tap-------" ucap ayahnya terpotong


"biar dia sama neng, aa masuk saja" ucap Abel lalu Asep pergi begitu saja.


Tak lama kemudian Abel juga masuk kedalam beserta Vira, sedangkan Tania bersama aku dan Dion diluar ruangan. Tania akan masuk ke dalam jika dia dipanggil , karena tak mungkin anak sekecil itu menyaksikan perseteruan ayah ibunya dari awal .


"are you okay, baby?" tanyaku pada anak kecil itu.


"yes aunty" ucapnya.


"Tania mau ice cream gak? om beliin ya" sahut Dion


"mau om! tapi Tania juga mau ikut milih" ujarnya


Aku dan Dion saling tatap , bukan karena tak memperbolehkan dia untuk ikut tapi bagaimana nanti jika dia dipanggil namun dia tak berada di tempat.


"eum Tania sayang, kita disini aja ya nunggu bunda, kan nanti Tania akan dipanggil kedalam" ucapku


"oh iya, hmmm ya udah deh . tapi ice cream nya yang coklat sama strawberry ya "


"siap princess"


*****


Beberapa jam kemudian semuanya keluar dan aku melihat Asep keluar begitu saja bahkan tanpa pamit, setelah itu Vira Abel keluar juga tapi mereka memasang wajah yang ditekuk. hah ada apa ini? terus dimana Tania?.


"ada apa? kalah ya? sabar ya bel" ucapku sambil memeluk Abel.


satu detik,


dua detik,


tiga detik,


...... sepuluh detik


"pfttttt hahahhahahahah" Tawa mereka pecah.


Aku melepas pelukan Abel dan langsung melirik Dion berharap menemukan jawaban disana namun yang dilirik pun sepertinya juga sama bingungnya kaya aku.


"Napa sih?" tanya Dion penasaran


"gue menang dooong" ucap Abel


"serius?" mereka mengangguk


"demi apa?" tanyaku lagi


"demi anakku , Tania . ah kalian ini" ucap Abel

__ADS_1


"terus Tania nya mana?" tanya Dion


__ADS_2